Wednesday, December 24, 2008

Apakah kedele menyehatkan?


Akhir-akhir ini produk kedele mulai banyak diperbincangkan khalayak ramai. Bahkan salah satu produsen mengatakan bahwa produk kedele tersebut diyakini sebagai solusi sehat selain obat. Memang kita semua tahu bahwa banyak publikasi dan penelitian yang menyatakan efek positif kedele bagi kesehatan, tapi apakah benar kedele sebagai makanan sehat seperti yang anda pikir?

Saya mempunyai beberapa customer yang diduga mengalami masalah hormonal seperti benjolan payudara , kista , endometriois ataupun myoma. Dari hasil wawancara mendalam terhadap mereka, ternyata beberapa diantara mereka antara lain terbiasa mengkonsumsi susu kedele. Saya tidak menuduh kedele sebagai salah satu factor penyebab dari masalah tersebut, tapi kepada mereka saya anjurkan beberapa hal termasuk membatasi atau menghindari produk kedele yang belum mengalami fermentasi , dan hasilnya terjadi peningkatan kesehatan yang berarti.

Mungkin anda bertanya , landasan apa sehingga saya menerapkan hal tersebut diatas. Mudah-mudahan tulisan berikut ini membantu menjawab pertanyaan anda.

Kedele bukanlah makanan sehat seperti yang anda pikir.


Dari tahu, susu kedele hingga formula bayi, produk kedele dikenal luas sebagai sumber protein yang menyehatkan, alami dan sangat baik untuk anda. Dibalik kesuksesan tersebut ternyata ada beberapa studi yang memperlihatkan efek negatif pemberian kedele terhadap manusia.

Fakta 1 : Kedele mengandung ”asam fitat ” -penghambat penyerapan mineral

Kedele mengandung asam fitat dalam jumlah paling tinggi dibanding kacang-kacangan lainnya. Asam fitat dapat menghambat penyerapan mineral tertentu seperti magnesium, kalsium, besi dan seng. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa di negara berkembang yang banyak mengkonsumsi biji-bijain dan kedele umumnya kekurangan mineral.

Fakta 2 : Kedele mengandung penghambat ezim

Kedele mengandung penghambat enzim tripsin yang dibutuhkan untuk pencernaan protein. Pemasakan secara normal tidak dapat mengnon-aktifkan zat anti nutrisi ini, yang bila tidak ditangani bisa menyebabkan kekurangan asam amino untuk pembentukan atau perbaikan sel tubuh.

Proses pembuatan produk kedele dengan maksud untuk tujuan tertentu yang antara lain dapat mengurangi anti nutrisi tersebut juga dapat beresiko bagi sistem pencernaan kita, karena untuk membuat produk kedele seperti formulasi susu kedele, tepung protein kedele, daging vegetarian berbahan kedele, melalui proses pemanasan kedele dan mencucinya dengan air basa, yang justru menurut ilmuwan membuat kedele susah dicerna, dan kadang senyawa seperti MSG juga ditambahkan .


Fakta 3 : Kedele mengandung hemaglutin

Diduga kedele mengandung zat yang dapat memicu sel darah merah saling menggumpal sehingga darah tidak dapat mengalirkan oksigen dan nutris dengan baik.

Fakta 4 : Kedele mengandung goitrogen yang dapat mengganggu fungsi tiroid tubuh

Terlalu banyak mengkonsumsi isoflavon yang terdapat pada kedelai per hari dapat melemahkan fungsi tiroid. Hubungan antara kedelai dan tiroid telah dijumpai pada pengobatan. Konsumsi kedelai dalam jumlah yang banyak mungkin akan mempengaruhi efektifitas pengobatan tiroid. Ada bukti besar bahwa isoflavon yang terkandung didalam produk susu kedele adalah penghambat peroksidase tiroid yang membuat T3 dan T4.

Untuk menerangkan apakah kacang kedelai akan menekan fungsi kelenjar tiroid (gondok) pada orang dewasa yang sehat, dilakukan sebuah penelitian terhadap 37 orang yang belum pernah memiliki masalah tiroid. Mereka diberikan 30 g kedele setiap hari dan dibagi dalam 3 kelompok menurut umur dan dan periode pemberian kedele.

Pada kelompok 1, 20 orang diberikan kedele untuk satu bulan. Kelompok 2 dan 3 yang terdiri dari 7 orang muda (rata-rata berumur 29 tahun) dan 10 orang tua (rata-rata berumur 61 tahun, diberikan kedele dalam jumlah 30 gram untuk 3 bulan. Hasilnya pada semua kelompok didapatkan serum hormon tiroid tetap tidak berubah, namun TSH meningkat secara nyata walaupun masih dalam batas normal.

Gejala hipometabolik (rasa tidak enak badan, susah buang besar, gangguan tidur) dan goiter (gejala adanya gangguan tiroid) nampak pada separuh dari kelompok 2 dan 3 setelah mengkonsumsi kedele selama 3 bulan, dan gejala itu hilang setelah penghentian konsumsi kedele selama 1 bulan. Temuan dari studi ini menyimpulkan bahwa pemberian kedele yang berlebih untuk periode tertentu dapat menggangu fungsi tiroid dan menyebabkan goiter pada orang sehat, terutama bagi mereka yang sudah tua.

Pada tahun 1997, peneliti dari “National Center for Toxicological Research FDA “ menemukan bahwa komponen yang bersifat goitrogenik pada kedele itu adalah sama dengan isoflavon .

Menurut hasil penelitian yang dipublikasikan oleh American Journal of Clinical Nutrition (1994) 60:333-340 memperlihakan 25 mg isolat protein kedele, jumlah minimum yang diklaim mempunyai efek menurunkan kolesterol , mengandung 50-70 mg isoflavon, Dan hanya membutuhkan 45 mg isoflavon pada wanita premenapause untuk dapat menimbulkan perubahan hormon, termasuk penurunan fungsi tiroid. Efek ini dapat berlangsung 3 bulan setelah konsumsi dihentikan.

Fakta 5 : Kedele mengandung zat yang dapat menggangu keseimbangan hormon wanita.

Kedele mengandung isoflavon yang pada satu sisi dikatakan sangat baik bagi kesehatan seperti banyak publikasi yang mungkin sudah anda ketahui, namun disisi lain isoflavon juga mempunyai efek negative bagi keseimbangan hormone pada wanita.

Sejak tahun 1950, peneliti telah mengidentifikasi bahwa isoflavon kedele sebagai sumber fitoestrogen. Efek estrogenic dari kedele potensinya 1/500 dari estrogen yang secara alami mengalir didalam tubuh kita.
Kedele dapat bersaing sebagai estrogen didalam tubuh, sehingga mengurangi efek estrogen alami tubuh dan dalam waktu bersamaan kelebihan konsumsi kedele dapat menimbulkan menumpuknya hormone mirip estrogen, yang mengakibatkan kelebihan hormon.

Dominasi estrogen (kelebihan estrogen) dibanding progesteron menurut Dr. Jonh R. Lee M. D, pengarang buku What Your Doctor May Not Tell You About Premenopause, dapat menyebabkan penyakit seperti menstruasi tidak teratur, ketidaksuburan , kista, endometriosis, dan myoma.

Studi pada hamster menunjukkan isoflavon yang terdapat pada kedele dapat mempercepat waktu puber pada binatang pengerat tersebut.

Studi lain memperlihatkan 45 mg isoflavon yang dikonsumsi selama 1 bulan dari isolat protein kedele menyebabkan perubahan hormonal pada wanita. Dan tahun 1992, pelayanan kesehatan di Swiss memperkirakan 100 mg protein kedele bersifat estrogenik yang sama dengan pil kontrasepsi.

Studi secara in vitro memperlihatkan bahwa isoflavon dapat menghambat sintesa estradiol dan hormon streoid lainnya, dan masalah reproduksi, kemandulan, penyakit tioroid dan penyakit liver yang terkait dengan konsumsi isoflavon telah diselidiki pada beberapa hewan meliputi tikus, harimau cheetah, babi dan domba.

Fakta 6 : Kedele sebagai pil kontrasepsi pada bayi.

Bayi –bayi yang memperoleh formula hanya dari susu kedele dapat juga memperoleh isoflavon, dan diperkirakan tingkat serum estrogennya 13.000-22.0000 kali lebih besar dari pada bayi yang memperoleh susu dari formula susu biasa.

Menurut Irvine dalam New Zealand Medical Journal, diperikirakan 25 % anak di USA menerima formula kedele, lebih tinggi dibandingkan negara barat lainnya. Dan diperkirakan bayi yang diberi hanya dari formulasi kedele memperoleh estrogen (berdasar berat badan) sekurang-kurangnya setara dengan 5 pil kontrasepsi sehari.

Pada Juli 1996, Departemen Kesehatan Inggris memberi peringatan bahwa fitoestrogen yang ditemukan pada formula bayi berbahan dasar kedele berpengaruh tidak baik bagi kesehatan bayi. Bila hal tersebut dibiarkan maka dapat menganggu keseimbangan hormon nantinya, makanya formulasi kedele diberikan kepada bayi seharusnya hanya oleh ahli kesehatan setelah mempertimbangkan berbagai hal.

Fakta 7 : Kedele merusak Sperma

Penelitian yang dilakukan oleh Profesor Lynn Fraser dari King's College London, menyatakan bahwa kedele mengandung senyawa genistein yang dapat merusak gerakan sel sperma yang tengah berenang menuju sel telur. Keberadaan genistein dalam jumlah kecil sekalipun tetap berbahaya. Senyawa ini memiliki kemampuan membakar sperma.

Dari hasil penelitian tesebut Fraser menyarankan agar wanita yang menginginkan kehamilan untuk tidak makan kedele pada hari-hari suburnya. Genistein dijelaskan Fraser terdapat dalam setiap produk makanan dari kedele. ''Termasuk susu kedele dan sejumlah makanan kemasan untuk vegetarian.

Fraser melakukan penelitian tersebut di laboratorium terhadap sperma manusia. Senyawa genistein dipaparkannya pada sperma dalam piringan sediaan. Senyawa tersebut dengan cepat memicu reaksi sperma dalam jumlah besar.

''Sperma terlihat memiliki kekuatan untuk membuahi sel telur.'' Namun dalam kehidupan nyata, kekuatan itu baru muncul saat sperma sudah berada di dalam sel telur selama beberapa jam. Itu pun setelah sperma merampungkan perjalanan jauhnya berenang menuju sel telur. ''Keberadaan genistein di sekitar dan di dalam rahim akan membuat sperma matang terlampau cepat hingga akhirnya menggagalkan pembuahan.

Kecepatan reaksi genistein terlihat berbeda pada tikus. Diperlukan konsentrasi genistein dalam dosis yang lebih tinggi untuk memicu reaksi pada tikus. ''Sementara, pada manusia, dosis yang sangat kecil saja sudah berbahaya.

Fraser sendiri terkejut dengan temuannya. Ia tidak menyangka manusia begitu sensitif terhadap senyawa kedele itu. ''Sayangnya, sampai sekarang belum diketahui level amannya bagi manusia.

Fraser mengungkapkan penelitiannya ini tidak ditujukan untuk membuat orang berhenti mengonsumsi kedele. Namun, wanita yang tengah berusaha memiliki keturunan dianjurkannya tidak memakan pangan dari kedele di masa ovulasinya. ''Menghindari kedele mungkin tidak akan menambah kesuburan tetapi langkah ini menyediakan sedikit peluang tambahan untuk bisa hamil.

Fakta 7 : Kedele juga ada yang merupakan produk transgenik

Dari laporan SIGI di liputan 6 SCTV (23.10.2006) , bahwa data resmi menyebutkan Indonesia setiap tahun mengonsumsi kedelai transgenik asal AS sebanyak 1,2 juta ton atau mencapai lebih dari 75 persen total konsumsi kedelai nasional. Bahkan, ada saat seluruh konsumsi kedelai impor Indonesia didatangkan dari AS. Ironisnya, Departemen Pertanian AS menyatakan tak bertanggung jawab terhadap produk transgenik yang beredar ke pasar.

Tanaman transgenik adalah tanaman yang telah direkayasa bentuk maupun kualitasnya melalui penyisipan gen atau DNA binatang, bakteri, mikroba, atau virus untuk tujuan tertentu. Misal, tomat yang disisipi gen ikan agar tahan beku atau kedelai yang disuntik gen bakteri dalam tanah. Transgenik menjadi alternatif agar hasil panen tahan dingin, melimpah, dan tak mempan hama. Bahkan, tanaman direkayasa agar mampu membunuh hama yang menyerang tumbuhan tersebut.

Para aktivis pembela konsumen dan lingkungan mengecam rekayasa genetika seperti itu karena dinilai kebablasan dan melawan kodrat alam. Selain tentu saja tak aman bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Tak heran jika di sejumlah negara termasuk Indonesia, produk transgenik kerap menuai protes.

Penulis sendiri tidak melarang anda mengkonsumsi produk kedele karena kedele mengandung banyak manfaat, tapi penulis lebih menyarankan anda mengkonsumsi produk kedele yang telah mengalami proses fermentasi seperti miso, tempe dan dikombinasikan dengan makanan lainnya. Khusus bagi mereka yang mempunyai masalah terkait hipotiroid, kemandulan, atau gangguan hormonal alangkah baiknya membatasi produk kedele yang belum mengalami fermentasi seperti tahu, tofu, isolat protein kedele, formula kedele atau susu kedele.Dan akan lebih baik kalau produk tersebut bukan berasal dari produk tansgenik.

Penulis : Hendri Priadi , praktisi nutrisi , Jakarta

Daftar bacaan :

1. Van Rensburg et al., "Nutritional status of African populations predisposed to esophageal cancer", Nutrition and Cancer, vol. 4, 1983, pp. 206-216; Moser, P.B. et al., "Copper, iron, zinc and selenium dietary intake and status of Nepalese lactating women and their breastfed infants", American Journal of Clinical Nutrition 47:729-734, April 1988; Harland, B.F. et al., "Nutritional status and phytate: zinc and phytate X calcium: zinc dietary molar ratios of lacto-ovovegetarian Trappist monks: 10 years later", Journal of the American Dietetic Association 88:1562-1566, December 1988.

2. El Tiney, A.H., "Proximate Composition and Mineral and Phytate Contents of Legumes Grown in Sudan", Journal of Food Composition and Analysis (1989) 2:6778.

3. Ologhobo, A.D. et al., "Distribution of phosphorus and phytate in some Nigerian varieties of legumes and some effects of processing", Journal of Food Science 49(1):199-201, January/February 1984.

4. Sandstrom, B. et al., "Effect of protein level and protein source on zinc absorption in humans", Journal of Nutrition 119(1):48-53, January 1989; Tait, Susan et al., "The availability of minerals in food, with particular reference to iron", Journal of Research in Society and Health 103(2):74-77, April 1983.

5. Phytate reduction of zinc absorption has been demonstrated in numerous studies. These results are summarised in Leviton, Richard, Tofu, Tempeh, Miso and Other Soyfoods: The 'Food of the Future' - How to Enjoy Its Spectacular Health Benefits, Keats Publishing, Inc., New Canaan, CT, USA, 1982, p. 1415.

6. Mellanby, Edward, "Experimental rickets: The effect of cereals and their interaction with other factors of diet and environment in producing rickets", Journal of the Medical Research Council 93:265, March 1925; Wills, M.R. et al., "Phytic Acid and Nutritional Rickets in Immigrants", The Lancet, April 8,1972, pp. 771-773.

7. Ishizuki Y, Hirooka Y, Murata Y, Togashi K., “The effects on the thyroid gland of soybeans administered experimentally in healthy subjects” Nippon Naibunpi Gakkai Zasshi 1991 May 20 67:5 622-9

8. Divi, R.L. et al., "Anti-thyroid isoflavones from the soybean", Biochemical Pharmacology (1997) 54:1087-1096.

9. Cassidy, A. et al., "Biological Effects of a Diet of Soy Protein Rich in Isoflavones on the Menstrual Cycle of Premenopausal Women", American Journal of Clinical Nutrition (1994) 60:333-340.

10. Setchell, K.D. et al., "Isoflavone content of infant formulas and the metabolic fate of these early phytoestrogens in early life", American Journal of Clinical Nutrition, December 1998 Supplement, 1453S-1461S.

11. Irvine, C. et al., "The Potential Adverse Effects of Soybean Phytoestrogens in Infant Feeding", New Zealand Medical Journal May 24, 1995, p. 318.

12. Keung, W.M., "Dietary oestrogenic isoflavones are potent inhibitors of B-hydroxysteroid dehydrogenase of P. testosteronii", Biochemical and Biophysical Research Committee (1995) 215:1137-1144; Makela, S.I. et al., "Estrogen-specific 12 B-hydroxysteroid oxidoreductase type 1 (E.C. 1.1.1.62) as a possible target for the action of phytoestrogens", PSEBM (1995) 208:51-59.

13. Setchell, K.D.R. et al., "Dietary oestrogens - a probable cause of infertility and liver disease in captive cheetahs", Gastroenterology (1987) 93:225-233; Leopald, A.S., "Phytoestrogens: Adverse effects on reproduction in California Quail," Science (1976) 191:98-100; Drane, H.M. et al., "Oestrogenic activity of soya-bean products", Food, Cosmetics and Technology (1980) 18:425-427; Kimura, S. et al.,

14. Setchell, K.D. et al., "Isoflavone content of infant formulas and the metabolic fate of these early phytoestrogens in early life", American Journal of Clinical Nutrition, December 1998 Supplement, 1453S-1461S.

15. Lynn R. Fraser et al - Effects of estrogenic xenobiotics on human and mouse spermatozoa, Hum. Reprod. Advance Access published online on February 3, 2006

16. Sigi-Liputan 6 SCTV, Bahaya Tidak Unsur Transgenik, www.liputan6.com



No comments:

Post a Comment