Monday, April 28, 2008

Mengoptimalkan Bakteri Probiotik

Mutasi gen dalam tubuh makhluk hidup bisa saja terjadi. Kalau sudah begini, yang timbul antara lain penyakit kanker. Melawan penyakit kanker pada umumnya bukan pekerjaan mudah karena yang dirusak penyakit ini adalah sel-sel jaringan yang notabene tidak bisa diperbarui kecuali dengan sistem klona dan hanya bisa dicegah penyebarannya.

Banyak faktor yang bisa memengaruhi dan menyebab-kan timbulnya mutasi gen. Radiasi tinggi dan proses kimiawi ikut andil dalam hal terjadinya mutasi gen.

Tetapi, upaya pencegahan mutasi gen sebetulnya ada. Caranya antara lain dengan mengaktifkan bakteri probiotik yang ada di tubuh. Bakteri probiotik ini ada dalam tubuh makhluk hidup, masuk dalam kategori bakteri baik (tidak merugikan) dan bila diaktifkan akan mampu melawan bakteri jahat.

Bakteri probiotik juga membantu mengatasi intoleransi pada laktosa, mencegah diare, sembelit, kanker, hipertensi, dan menurunkan kolesterol. Probiotik juga mampu menormalkan komposisi bakteri saluran pencernaan setelah pengobatan antibiotik. Probiotik pun mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Ada berbagai macam bakteri probiotik. Bakteri probiotik yang sudah melalui uji klinis di antaranya yakni Lactobacillus casei, Shirota strain, Bifidobacterium, dan Lactobacillus acidophilus. Efek bakteri probiotik bagi tubuh yaitu menjaga keseimbangan mikroflora usus serta membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Untuk mengaktifkan kinerja bakteri probiotik dalam usus tubuh maka ada baiknya kita mengonsumsi makanan yang mengandung nutrisi yang dikonsumsi bakteri ini. Untuk itu, kita sebaiknya memakan makanan yang mengandung prebiotik.

Dengan prebiotik ini, bakteri probiotik akan berkembang pesat sehingga lebih bisa berpeluang melawan bakteri jahat atau bakteri patogen yang juga ada dalam usus tubuh. Hal ini karena bakteri-bakteri tersebut bercokol dalam usus tubuh akibat dari makanan yang kita konsumsi sehari-hari.

Selain terdapat dalam makanan, prebiotik terkandung pula dalam air susu ibu (ASI). ASI mengandung colostrum dan N-acetyl glucosamine yang berperan sebagai prebiotik. Dua bahan itu mendukung perkembangan bakteri Bifidobacterium. Demikian hasil paparan Dr Ir Ingrid S Surono MSc dari Balai Pengkajian Bioteknologi (BPB) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) baru-baru ini di Jakarta. Dia berbicara dalam simposium Biotechnology of Probiotic for Human Health.

Menurutnya, bakteri kategori baik akan menghasilkan berbagai jenis enzim yang berguna bagi tubuh. Enzim itu yakni lactase yang membantu mengatasi intoleransi terhadap laktosa. Kemudian enzim bile salt hydrolase yang membantu menurunkan kolesterol.

Sedangkan senyawa dinding sel bakteri probiotik yang disebut sebagai peptidoglycan, mampu menyerap senyawa karsinogenik daging panggang yang kita konsumsi. Di samping itu asam laktat yang dihasilkan bakteri kategori baik bagi tubuh, juga merangsang gerak peristaltik usus. Hal ini dapat mencegah sembelit dan meningkatkan penyerapan kalsium yang lebih mudah diserap dalam kondisi asam sehingga mencegah osteoporosis.

Di alam, bakteri laktat menempati dua sistem ekologi yakni saluran pencernaan hewan dan manusia serta produk makanan. Mengenai produk makanan ini ada yang karena terkontaminasi dan memang disengaja terkontaminasi dengan cara fermentasi.

Bakteri yang menghasilkan asam laktat merupakan kontaminasi alami pada susu karena adanya kandungan laktosa dalam susu. Produk susu hasil kontaminasi atau fermentasi ini sudah kita kenal di pasaran misalnya, yogurt, susu asam, keju dan mentega.

BPB BPPT sudah melakukan penelitian dan pengkajian pada produk probiotik hasil fermentasi yang menghasilkan susu asam. Dari penelitian yang dilakukan itu, dapat dihasilkan susu asam yang tidak saja mengaktifkan kinerja Lactobacillus casei strain Shirota, tetapi juga mampu menurunkan kolesterol. "Syaratnya, bakteri probiotik itu harus dalam keadaan hidup. Bakteri ini ada pada dadih susu," kata Ingrid.

Bakteri probiotik memang harus dikonsumsi dalam keadaan hidup untuk menjaga keseimbangan bakteri saluran pencernaan. Dalam hal itu, bakteri ini menghadapi berbagai rintangan antara lain adanya enzim lisozim di air liur, juga harus tahan asam dan asam empedu untuk sampai di usus dalam keadaan hidup. Bakteri itu juga harus mampu melekat pada sel epitel sehingga menjaga keharmonisan komposisi bakteri saluran pencernaan.

Sementara itu, menurut Kepala BPB BPPT, Dr Ir Koesnandar M Eng, hasil penelitian susu asam nonkolesterol tersebut nantinya akan segera dipatenkan. "Selanjutnya kita tinggal berbagi royalti dengan produsen pembuat susu fermentasi yang mau menggunakan teknologi kita," katanya menjawab Pembaruan.
Sumber: Suara Pembaharuan

No comments:

Post a Comment

Post a Comment