Showing posts with label Kegemukan pada anak. Show all posts
Showing posts with label Kegemukan pada anak. Show all posts

Sunday, December 14, 2008

Kegemukan Tak Identik dengan Menggemaskan

SETIAP kali bercerita tentang putranya yang gemuk, Yuyun (45) selalu tertawa tetapi dengan nada kesal. Ditya (13), putranya, selalu merasa lapar, dan dia punya berbagai macam cara dan alasan agar bisa makan. Ketika masih berusia lima tahun, Ditya senang sekali makan mi bakso. Dia bisa menghabiskan tiga mangkuk mi bakso.

YUYUN berusaha membatasi porsi makan Ditya, dan dia hanya membolehkan anak itu memesan satu porsi saja. Namun saat membayar, Yuyun kaget karena penjualnya meminta uang setara dengan tiga mangkuk bakso. Ternyata, Ditya memang hanya memesan satu mangkuk, namun dia minta baksonya ditambah hingga berjumlah 10 buah.

"Nafsu makan Ditya yang besar, bisa jadi karena saya selalu mendorong dia makan sewaktu masih balita. Saya seperti balas dendam, karena sejak lahir hingga umur 17 bulan, Ditya sama sekali tidak mau makan. Bahkan, minum susu pun dia tidak berselera. Badannya jadi tampak lemas, dan dia tidak bisa melakukan apa-apa," ungkap Yuyun yang tinggal di kawasan Matraman, Jakarta Timur.

Selera makan dan perkembangan Ditya baru tumbuh pesat ketika ari-arinya yang selama ini ditaruh di toples dan ditanam, dikeluarkan dari toplesnya dan ditanam kembali tanpa toples. "Hari ini wadah ari-arinya diganti dan ditanam, esok harinya Ditya langsung bisa jalan. Sebenarnya saya juga tidak percaya, tetapi itulah yang terjadi pada Ditya," cerita Yuyun.

Sejak mau makan dan minum susu, perkembangan tubuh Ditya amat pesat. Usia lima tahun berat badannya sekitar 25 kilogram. "Kami memang suka makan ayam goreng cepat saji. Setiap minggu pasti kami pergi ke restoran ayam itu. Tetapi setelah tahu kalau masakan itu tidak mengandung gizi seimbang, kami tidak lagi ke restoran itu," kata Yuyun.

Dia lalu membiasakan Ditya makan masakan rumah yang lebih terkontrol kandungan gizi dan porsinya. Namun tetap saja porsi makannya lebih banyak dari kebutuhan tubuhnya. "Saya bilang nasinya sedikit saja, sayurnya diperbanyak. Eh, dia memang mengurangi porsi nasinya, tetapi sayur semuanya dimakan, orang lain enggak kebagian," tutur Yuyun tentang putranya yang suka menyatukan dua porsi bubur ayam dalam satu piring itu.

Yuyun pun sudah membawa Ditya berkonsultasi ke dokter. Hasilnya, sekitar empat hari sepulang dari dokter, Ditya akan mengikuti anjuran dokter. Namun setelah itu dia akan mengeluh kelaparan dan tidak bisa berkonsentrasi dalam belajar karena perutnya merasa lapar. Sulit bagi Yuyun untuk mengurangi secara drastis porsi makan Ditya, hingga dia memilih menambah aktivitas fisik anaknya. Kini, dengan tinggi badan 1,65 meter, berat badan Ditya sekitar 76 kilogram.

HAL serupa dialami banyak orangtua lain yang mempunyai anak kegemukan. Masalah itu biasanya muncul sejak anak berusia balita hingga sekolah dasar. Indra (53) bercerita, tubuh anaknya, Iman-kini 22 tahun dengan berat badan 110 kilogram dan tinggi 1,70 meter-mulai "berisi" ketika dia mulai mengenal acara makan bersama sewaktu taman kanak-kanak.
"Tadinya Iman adalah anak yang susah makan, dia hanya mau minum susu. Tetapi melihat teman-temannya makan, dia terpengaruh dan mau makan," ujar Indra. Menurut dia, porsi makan Iman tak berlebih, makanya dia heran mengapa tubuh Iman jadi gendut. Ketika diperiksa dokter, ternyata kegemukannya disebabkan oleh hormon.

Selama perkembangan Iman, Indra selalu mendorongnya melakukan banyak aktivitas fisik agar tercapai berat badan ideal. "Saya harus menjahit baju sendiri untuknya karena tak ada ukuran yang pas. Saya juga harus membuatnya percaya diri karena dia sensitif, cepat tersinggung, kalau ada yang membicarakan soal bobot tubuhnya," kata Indra yang juga khawatir suatu hari nanti Iman akan terkena "penyakit kegemukan" seperti jantung, diabetes, atau kolesterol.

Kegemukan atau sering kali disebut obesitas, menurut Zakiudin Munasir, dokter spesialis anak, faktornya bisa karena genetika atau keturunan, endokrin atau kelainan hormonal, dan faktor eksternal, yaitu pola makan yang tinggi kadar lemak dan kalorinya.

"Kelainan hormon misalnya karena seseorang punya tumor di kelenjar adrenalnya hingga mengakibatkan gemuk air. Ada juga kelainan hormon yang menyebabkan kelainan metabolisme. Misalnya, produksi enzim pemecah lemak untuk menjadi energi terhambat," katanya.
Sedangkan faktor eksternalnya adalah pengaruh makanan-makanan yang mengandung hormon. Misalnya junk food yang menggunakan ayam broiler dengan suntikan hormon stilbestrol supaya gemuk.

Orangtua sebaiknya mulai waspada bila anaknya tak suka banyak bergerak, suka mengemil makanan yang manis, berlemak dan berkalori tinggi. Sedangkan tanda-tanda pada badannya mulai menunjukkan adanya lipatan kulit pada paha, leher, dada, dan perut.

Anak yang telanjur kegemukan pada masa kecilnya memiliki kecenderungan gemuk pada saat dia dewasa nanti. Alasannya, banyaknya sel-sel lemak yang sudah terbentuk dalam tubuh, walaupun ukurannya sempat mengecil saat anak menjadi kurus, akan mudah dipicu berbagai sebab hingga mudah membesar kembali.

"Kalau sudah begini, orang itu akan rentan terkena berbagai penyakit, seperti jantung, diabetes, dan sebagainya. Meskipun penelitian juga menunjukkan tidak selalu anak yang gendut, pasti akan tumbuh menjadi orang dewasa yang gendut pula," kata Zakiudin.

DI Indonesia, kegemukan belum menjadi masalah nasional. Namun, di Amerika Serikat (AS), kegemukan sudah menjadi epidemi yang mengakibatkan berbagai masalah kesehatan serius. Tiga dari lima orang AS bisa dikatakan kelebihan berat badan, dan para peneliti di Negeri Paman Sam itu memperkirakan anak-anak AS kini akan menjadi generasi dengan tingkat harapan hidup lebih singkat dibandingkan orangtua mereka.

Penyebab obesitas pada orang AS antara lain pengaruh perusahaan makanan dalam memperbesar porsi produknya, dan kebiasaan mereka makan fast food atau makanan cepat saji. Sejak tahun 1977, kalori yang dikonsumsi orang AS naik sekitar 10 persen atau sekitar 200 kalori lebih setiap hari. Kalau sebelumnya AS disebut sebagai "Republik Alkohol" karena mereka mengonsumsi minuman beralkohol untuk sarapan, makan siang, dan makan malam, maka sekarang julukan itu mestinya berubah menjadi "Republik Kegemukan".

Semakin banyak dan murahnya makanan dituding pula sebagai penyebab obesitas. Ketika panen para petani membeludak, pasar pun dibanjiri makanan yang berharga murah. Orang pun cenderung menambah porsi makannya. Di samping itu, demi mempertahankan harga, maka para petani dan produsen makanan melakukan penganekaragaman produk. Jagung dan ayam misalnya, ditambah berbagai unsur hingga menjadi produk makanan yang tak lagi alamiah.
Orang pun tertarik mengonsumsinya sebab produk makanan semacam itu disertai dengan "kampanye" perubahan gaya hidup dan kepraktisan. Kalau semula bahan mentah dimasak dengan berbagai bumbu segar, kini orang bisa makan ayam nan gurih hanya dengan menggorengnya saja.

Kalau gaya hidup orang Indonesia semakin terpengaruh dengan AS, maka amat mungkin suatu hari nanti kita pun bakal menghadapi masalah kegemukan nasional. Salah satu cara menghindarinya adalah dengan memberlakukan pola makan yang seimbang dengan kebutuhan kalori seseorang.

Namun, bila anak Anda telanjur kegemukan, salah satu cara mengatasinya, menurut Zakiudin, adalah dengan diet gizi seimbang. Biasanya anak akan diperiksa oleh dokter gizi dan dokter endokrin. Dokter gizi memberi nasihat mengenai diet dan gizi seimbang, serta melihat metabolisme untuk mencari penyebab obesitas, sementara dokter endokrin akan memeriksa kondisi hormonal anak dan memberinya terapi bila diperlukan.

Diet bagi anak kegemukan bisa berarti pedang bermata dua. Di satu sisi dia perlu diet, namun sisi tubuhnya yang lain memerlukan asupan yang cukup agar perkembangan tubuhnya tidak terganggu. Apalagi disiplin diet pada anak-anak relatif lebih sulit diterapkan. Oleh karena itulah, selain gaya hidup dan pola makan yang sehat, sebaiknya orangtua lebih menitikberatkan pada porsi olahraga. Usahakan agar porsi olahraganya diperbanyak, hingga kalori yang masuk dan keluar dari tubuhnya bisa seimbang.

Iman misalnya, dia rajin berolahraga namun sulit sekali untuk menerapkan disiplin diri dalam jangka panjang. Dia pernah mengikuti program pelangsingan tubuh yang berbiaya jutaan rupiah. Selama beberapa lama berat badannya sempat turun sampai sekitar 15 kilogram. Namun karena dia tak telaten, maka dia enggan meneruskan program tersebut.

Bagaimanapun, ketelatenan, disiplin, dan motivasi kuat amat penting bagi mereka yang ingin mendapatkan berat badan ideal. Apalagi mengingat berbagai penyakit bakal mengikuti tumpukan lemak dalam tubuh kita. Selain penyakit diabetes, stroke, jantung, hormon yang abnormal, orang gemuk juga terancam menderita sakit pada tulang kakinya. Sebab, selama bertahun-tahun kaki harus menyangga kelebihan berat tubuhnya/Kompas

Waspadai Kegemukan Anak


Orangtua sebaiknya mewaspadai kegemukan (obesitas) pada anak-anak mereka. Jika pola konsumsi makanan anak tidak dikontrol, saat memasuki usia 30-40 tahun kemungkinan besar anak-anak tersebut akan menderita penyakit jantung koroner. Pola mengonsumsi makanan cepat saji (junk food) yang disukai anak-anak justru memicu kegemukan pada anak. Selain menimbun lemak, makanan tersebut juga bisa mengganggu metabolisme dan meningkatkan kadar kolesterol.

Peringatan ini dilontarkan dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan kardiovaskuler Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Prof dr Nurhay Abdurahman SpPD KKV, Kepala Subbagian Kardiologi dan Penyakit Dalam dr H R Miftah Suryadipraja SpPd KKV, dan dokter spesialis penyakit jantung dan kardiovaskuler dr Lukman Hakim Makmun SpPD KKV KGer SpJP, dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (26/9).

Secara khusus, persoalan penyakit jantung koroner akan dibahas dalam dua simposium internasional, The Fifth National Brain and Heart Symposium dengan tema "Integrated Approach in Managing Cerebrocardiovascular Diseases" pada 3 Oktober dan Post International Atherosclerosis Society XIII Symposium dengan tema "New Frontiers in The Management of Atherosclerosis: Focus in Infection and Inflammation", 4-5 Oktober. Kedua simposium ini hasil kerja sama Ikatan Keseminatan Kardioserebrovaskuler Indonesia (IKKI) dan Persatuan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi). Para dokter yang sedang mengambil pendidikan spesialis neurologi dan penyakit dalam tidak dipungut biaya.

Menurut Nurhay, saat ini banyak anak-anak yang obesitas. Maka, orangtua harus berhati-hati, terutama jika anak mereka mengalami central obesitas (kegemukan yang terjadi pada daerah perut sekitarnya, sementara kakinya kecil). Anak-anak dengan kegemukan terpusat inilah yang berisiko tinggi menderita penyakit jantung koroner. "Selain kadar lemak dan kolesterolnya tinggi, kadar gula darahnya juga meningkat," kata Nurhay.

Sebuah penelitian di Inggris tahun 2003 menyebutkan, dari seluruh negara Eropa yang paling banyak jumlah anak obesitasnya adalah Inggris. Anak-anak tersebut berusia 11-14 tahun. Dari hasil penelitian, 26 persen anak-anak obesitas sudah menunjukkan beberapa faktor yang menjadi penyebab munculnya jantung koroner, seperti hipertensi, meningkatnya kadar LDL kolesterol, dan kadar gula darah. Mayoritas anak-anak di Inggris kini mengonsumsi makanan cepat saji.

"Di Indonesia belum ada penelitiannya, namun bisa dilihat sekarang ini banyak anak Indonesia yang kegemukan," ujarnya.

Lukman menambahkan, saat ini beberapa dokter spesialis anak dan jantung menaruh perhatian besar pada anak-anak obesitas ini. Sebab, selain dapat memicu penyakit jantung koroner, obesitas juga dapat mengganggu pertumbuhan anak.

Kalau selama ini kolesterol diyakini sebagai penyebab utama munculnya penyakit jantung koroner, kini diketahui ada kecenderungan baru, yakni penyakit jantung koroner yang disebabkan oleh infeksi dan inflamasi (peradangan).

Lukman menegaskan, selama ini memang diyakini beberapa faktor pemicu penyakit jantung koroner, seperti kolesterol, hipertensi, diabetes, asam urat, usia, stres, dan kurang berolahraga. Namun, ternyata pada banyak pasien penyakit jantung koroner tidak ditemukan faktor-faktor tersebut.

"Setelah diperiksa detail, pasien itu pernah muntah darah, C reaktif proteinnya tinggi (protein yang dibuat oleh hati), dan C reaktif protein sangat sensitif. Dari gejala tersebut diketahui ia mengalami infeksi dan peradangan, yang rupanya menjadi penyebab penyakit jantung koroner," kata Lukman/Kompas

TV Picu Darah Tinggi pada Anak Gemuk

Televisi memang sudah menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Tapi Anda sebagai orangtua perlu waspada jika si kecil sering menonton TV, terlebih jika ia tergolong kegemukan. Pasalnya menonton TV akan memicu tekanan darah tinggi pada anak obesitas.

Peneliti dari Amerika Serikat menemukan bahwa anak obesitas yang menonton TV selama 4-5 jam per hari beresiko hingga tiga kali lebih tinggi mengalami darah tinggi jika dibandingkan dengan anak yang hanya menonton TV kurang dari dua jam sehari.

"Ada kaitan yang signifikan antara waktu menonton TV dengan kegemukan serta kemungkinan darah tinggi pada anak-anak," kata Dr Jeffrey Schwimmer dari Universitas California, seperti dilaporkan dalam jurnal kesehatan Journal of Preventive Medicine.

Telah banyak penelitian yang menemukan kaitan kuat antara menonton TV dan kegemukan, tetapi studi yang dibuat oleh Schwimmer ini merupakan yang pertama menunjukkan kaitan antara TV dan tekanan darah tinggi pada anak dan remaja. Angka anak obesitas di AS kian hari memang terus meningkat yang diikuti dengan angka tekanan darah tinggi.

Dalam studinya, Schwimmer dan timnya melakukan penelitian terhadap 546 anak dan remaja berusia 4-17 tahun dari klinik penanganan obesitas dari tahun 2003-2006. Tinggi dan berat badan serta tekanan darah responden lalu diukur. Responden dan orangtuanya juga ditanyai tentang pola kebiasaan menonton TV.

Hasilnya, anak-anak yang menonton TV selama 2-4 jam per hari memiliki tekanan darah tinggi 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang menonton kurang dari dua jam. Sedangkan yang menonton lebih dari empat jam per hari 3,3 kali lebih tinggi untuk mengalami hipertensi.

Orang yang kegemukan memang cenderung memiliki tekanan darah tinggi dibanding orang yang kurus, hal ini karena tubuh orang yang kegemukan harus bekerja lebih keras untuk membakar kelebihan kalori yang mereka konsumsi. Selain itu orang yang gemuk cenderung resisten terhadap hormon insulin yang mengatur tingkat glukosa dalam darah/Kompas

Tips Mencegah Anak Gemuk

Memiliki anak gemuk dan montok merupakan idaman tiap orang tua. Masih banyak anggapan yang beredar di masyarakat kalau anak yang sehat ditandai dengan bertambahnya berat badan. Sayangnya bila pertambahan berat badan terlalu drastis akan menimbulkan masalah baru bagi anak tersebut.

Anak akan merasa rendah diri di lingkungannya karena terus diejek oleh temannya. Anak akan kesulitan melakukan aktifitas yang mengutamakan fisik. Anak juga akan mudah terserang beberapa penyakit seperti sesak nafas dan lain lain. Semua itu tentu akan menganggu prestasi anak tersebut di sekolah.

Berikut beberapa tips untuk mencegah anak menjadi terlalu gemuk :

1. Berilah anak contoh bagaimana gaya hidup yang sehat. Anda tidak akan dapat mengajari anak anda kebiasaan hidup sehat sementara kebiasaan hidup anda sendiri acak acakan. Sebagai orang tua, anda harus bisa menjadi teladan. Beberapa orang tua ada yang berperilaku sehat saat berada di depan anak anak, padahal bisa jadi sang anak tahu trik yang dilakukan oleh orang tua mereka tersebut. Dengan berperilaku sehat, anda tidak hanya mengajari anak anda bagaimana hidup sehat, namun perilaku itu juga berguna untuk kesehatan anda sendiri.

2. Mulailah sejak dini. Mulailah mengajari anak hidup sehat sedini mungkin. Kebiasaan ini akan lebih mudah diajari pada usia dini karena anak anak belum terlalu banyak pilihan. Sayangnya banyak orang tua belum menyadari hal ini sehingga beberapa diantara mereka telat mengajari anak makan sayuran misalnya.

3. Biasakan makan dengan anak anak. Akhir akhir ini banyak keluarga yang sudah meninggalkan kebiasaan makan bersama. Mereka lebih memilih makan sendiri sendiri pada tempat yang berbeda beda. Bagaimana para orang tua bisa memberi contoh makanan yang sehat sementara mereka makan terpisah dari anak mereka. Dengan makan bersama, anda sebagai orang tua bisa memonitor apa yang dimakan oleh anak anda dan bisa menjelaskan kegunaan dari makanan itu. Anda juga bisa mengajari mereka bagaimana cara makan yang benar.

4. Doronglah anak untuk beraktifitas. Banyak orang tua yang melarang anaknya terlalu banyak beraktifitas dengan berbagai alasan. Terkadang alasan tersebut hanya berdasarkan kepentingan orang tua, padahal anak membutuhkan banyak gerak untuk membakar energi yang tersimpan dalam tubuhnya. Menumpuknya energi dalam tubuh akan menyebabkan anak menjadi gemuk. Ajaklah anak berolah raga, bermain dan beraktifitas yang menggerakan tubuh lainnya.

5. Bantulah anak untuk mencari teman. Pertemanan akan membuat anak lebih banyak
menghabiskan waktunya untuk bermain. Dengan banyak bermain akan terbakar lebih banyak energi sehingga anak tidak menjadi gemuk. Pertemanan juga akan meningkatkan sosialisasi anak kita.

6. Berikan penghargaan. Jika anak anda telah melakukan gaya hidup yang sehat, perlihatkan pada mereka kalau anda merasa senang dan bangga. Sebaliknya, berikanlah hukuman bila anak anda melakukan kebiasaan yang buruk. Hal ini akan mendorong perilaku yang sehat pada diri anak anda.

7. Belajarlah untuk berkata tidak. Ingatlah kalau anda mengajari anak anda untuk hidup sehat adalah karena anda mencintai mereka. Beranilah mengatakan tidak jika anda merasa apa yang diminta anak anda tidak sesuai dengan tujuan anda untuk mengajari mereka cara hidup sehat. Jangan terlalu mengikuti kemauan anak anda.

8. Tambahan vitamin. Harap diingat bahwa makanan yang dikonsumsi anak anda tidak selalu mengandung cukup nutrisi yang mereka butuhkan. Oleh karena itu, berikanlah mereka tambahan vitamin dan mineral. Berikanlah sediaan vitamin yang mereka sukai baik dari segi rasa maupun kemasan guna menjamin kedisiplinan mereka mengkonsumsinya.

9. Pemeriksaan kesehatan. Anda harus selalu yakin kalau anak anda dalam kondisi yang sehat. Bila tidak, segeralah ke dokter untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Lebih bagus lagi bila anda memeriksakan kesehatan anak anda secara teratur ke dokter keluarga dan dokter gigi. Dengan pemeriksaan teratur, anda juga bisa mendapatkan nasihat bagaimana membesarkan anak yang benar agar anak anda tumbuh sehat.

10. Berikan tantangan. Bila ada kesempatan berikanlah anak anda makanan sehat yang belum pernah mereka konsumsi sebelumnya. Anak sangat menyukai tantangan. Dengan demikian anak anda akan memiliki banyak pilihan makanan sehat dalam hidupnya. /blogdokter

Tidur Cegah Kegemukan pada Anak

Rutin olahraga dan pola makan yang sehat selama ini dikenal sebagai cara untuk menjaga berat badan tetap normal, tapi sebuah riset mutakhir menyebutkan ada "senjata" baru untuk melawan kegemukan pada anak-anak, yakni dengan tidur.

Lewat riset yang dilakukan ilmuwan di Universitas Northwestern, Inggris, diketahui bahwa anak-anak yang cukup tidur memiliki indeks masa tubuh (BMI) lebih rendah dan risiko kegemukan dalam lima tahun ke depan akan berkurang, dibanding dengan anak yang kurang tidur.

Menambah waktu tidur di malam hari mengurangi kemungkinan kegemukan 30-36 persen pada anak-anak, dan 34 persen pada anak usia pra remaja. Begitulah kesimpulan para peneliti seperti dimuat dalam jurnal Child Development.

Tim peneliti melakukan pengumpulan data secara nasional terhadap 2.281 anak berusia 3-12 tahun. Orangtua anak-anak tersebut diberikan semacam jadwal harian untuk mencatat informasi seperti waktu mulai tidur, berapa lama, dan waktu bangun tidur. Pencatatan tersebut dilakukan selama lima tahun.

Dari jadwal harian tersebut diketahui anak-anak yang kurang tidur, terbiasa tidur larut malam, atau bangun terlalu pagi, setelah lima tahun cenderung menjadi gemuk. Penelitian tersebut juga menunjukan bahwa tidur larut malam memiliki dampak yang besar terhadap kegemukan, terutama pada anak berusia 3-8 tahun. Sedangkan dampak kegemukan karena bangun terlalu pagi lebih banyak terjadi pada anak berusia 8-13 tahun.

The National Sleep Foundation, Inggris, merekomendasikan agar anak berusia 5-12 tahun sebaiknya tidur selama 10-11 jam setiap malam, sedangkan anak remaja cukup tidur 8-9 jam.
"Kurang tidur tidak hanya berdampak pada berat badan anak, tapi juga berakibat pada hal lain, misalnya berkurangnya kemampuan akademis, kecanduan alkohol, lemahnya sistem pertahanan tubuh, hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung," kata Dr Shahrad Taheri, pengajar di Universitas Bristol, Inggris.

Tim peneliti belum mengetahui kaitan antara tidur dan kegemukan pada anak, tetapi mereka menduga kurang tidur membuat anak gampang lelah sehingga akhirnya tidak punya energi untuk berolahraga. Selain itu, bangun tidur awal membuat anak lebih banyak makan. Kurang tidur juga dipercaya mengganggu hormon yang mempengaruhi metabolisme dan rasa lapar.
Meski belum diketaui dengan pasti kaitan antara tidur dengan kegemukan, namun tim peneliti mengingatkan para orangtua agar memperhatikan waktu tidur anak-anaknya. /Kompas

Terlalu Disiplin Berpotensi Membuat Anak Obesitas


Anak-anak yang memiliki ibu terlalu keras (strict) lebih berpotensi mengalami kegemukan, demikian menurut penelitian terbaru. Penelitian ini menemukan bahwa ibu yang terlalu disiplin, kemungkinannya lima kali lebih besar membuat anaknya obesitas dibandingkan dengan anak yang diasuh oleh ibu yang bersikap lebih fleksibel terhadap peraturan.

Menurut para ahli, anak-anak yang ibunya terlalu keras mengalami stres dan mencari hiburan lewat makanan. Anak-anak yang ibunya kurang perhatian dan terlalu memanjakan juga dua kali berpeluang kegemukan.

Penelitian ini dilakukan oleh Boston University School of Medicine, Amerika, dengan melibatkan 872 keluarga yang memiliki anak berusia empat tahun. Ketika mereka mengukur body mass index, mereka menemukan bahwa 17 persen anak-anak yang ibunya terlalu disiplin memiliki berat badan berlebih.

Sementara anak yang orangtuanya kurang perhatian hanya 9,9 persen yang obesitas, sedangkan yang orangtuanya terlalu memanjakan 9,8 persen dan hanya 3,9 persen anak dari orangtua yang bersikap fleksibel mengalami kegemukan.

"Terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara kelompok orangtua tersebut," kata Dr.Kay Rhee, seorang penggagas penelitian "Cara Mengasuh dan Efeknya." Penjelasan lain yang muncul adalah kemungkinan para orangtua yang memiliki pola asuh demokratis membuat anak-anaknya belajar memilih makanan mana yang sehat dan membuat mereka rajin berolah raga.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Paediatrics menyebutkan : "Hasil ini menunjukkan bukti bahwa lingkungan yang terlalu disiplin mengurangi kemampuan emosional pada anak yang mengakibatkan meningkatnya resiko obesitas." /Kompas

Si GENDUT vs Gangguan Seksual!

Jangan biarkan anak endut! Memang anak kecil yang montok tampak lucu dan menggemaskan, tapi ingat, gendut tidak selalu berarti sehat. Berat tak terkontrol dapat memicu penyakit. Dan kegemukan juga diduga berkaitan dengan gangguan perkembangan fungsi seksual. Mengapa?
Restu merasa senang dengan pertumbuhan Andra, anak keduanya. Si buyung itu gemuk dan menggemaskan. "Aduh endut-nya, sehat ya. Berapa kilo beratnya?" begitu sapa orang yang biasanya baru bertemu Andra. Mulanya Restu merasa bangga dengan tanggapan serupa itu. Ia merasa telah berhasil merawat anak. Namun, ia mulai gelisah ketika kian hari perkembangan tubuh buah hatinya itu makin mengarah ke kegemukan (obesitas). Terlebih saat memperhatikan perkembangan penis Andra tidak sesuai anak seusianya. Alat kelaminnya tampak lebih kecil dibandingkan dengan milik adiknya yang berjarak usia 4 tahun lebih muda.
Rata-Rata Gemuk

Adakah hubungan antara kegemukan dengan gangguan perkembangan organ reproduksi dan fungsi seksualnya? Tidak selalu! Penegasan dokter itu membuat Restu merasa lega. Namun, ia juga mendengar pendapat tentang masalah gangguan fungsi seksual yang rata-rata ditemukan pada anak gemuk.

Diungkapkan Dr. Nugroho Setiawan, Sp.And., obesitas pada anak mungkin saja mempengaruhi perkembangan fungsi seksualnya, terutama pada penis dan kantong buah zakar. Anak yang memiliki masalah berat badan cenderung berisiko terhadap gangguan produksi hormon untuk fungsi seksualnya, yaitu spermatozoa dan androgen.

Jika hal ini terlambat diketahui dan ditangani secara medis, dapat mengganggu kesuburannya di masa dewasa kelak. "Kecenderungan ini tampak dari rata-rata kasus yang dikonsultasikan ke klinik. Tapi, banyak juga yang penisnya terlihat kecil karena tidak sesuai proporsi tubuhnya atau berat badan si anak. Jadi tidak selalu penis anak yang gemuk lebih kecil dari anak yang berbobot normal," kata dokter ahli andrologi dari Klinik Grasia, Jakarta ini.

Guna memastikan ukuran penis normal atau tidak, harus melalui pemeriksaan lengkap oleh dokter ahli. Ada dua kelainan yang membuat ukuran penis kelihatan kecil. Pertama, webbed penis, yaitu keadaan kulit kantung buah zakar memanjang dan menggantung di sepanjang sisi bawah penis. Kedua, concealed (buried) penis atau penis tertutup lapisan lemak yang berlebihan di bawah kulit, biasanya terjadi pada anak yang sangat gemuk.

Satu hal yang diduga turut mengganggu perkembangan fungsi seksual anak adalah konsumsi hormon estrogen melalui produk makanan cepat saji jenis junk food (makanan sampah). Contohnya ayam goreng (fried chicken) dan beberapa jenis makanan ringan (snack).

Pendapat ini memang masih menjadi kontroversi. "Kalau begitu banyak orang AS yang mengalami gangguan fungsi seksual, dong," komentar beberapa orang. Pasalnya, produk makanan semacam itu yang beredar di Indonesia kebanyakan berasal dari Amerika Serikat (AS).

Asumsi tersebut pernah berkembang setelah di AS ditemukan beberapa kasus ketidakseimbangan hormon akibat tingginya konsumsi estrogen melalui produk makanan cepat saji. Keluhan itu terutama ditemukan pada anak laki-laki, berupa gangguan pertumbuhan penis tidak normal. Namun, belakangan asumsi itu dibantah oleh seorang dokter di AS.

Terlepas dari benar tidaknya pendapat itu, Dr. Nugroho mengingatkan orangtua agar memperhatikan perkembangan fungsi seksual anaknya. Lebih utama lagi memperhatikan pola makan anak sejak dini untuk menjaga berat badan tetap ideal.

Harapan Hidup Singkat

Obesitas pada anak secara umum dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan secara keseluruhan. Obesitas adalah suatu gangguan status gizi lebih dengan berbagai derajat, mulai dari ringan, sedang, sampai berat. Berat badan umumnya berada di atas normal. Sebagai patokan kasar, berat badan normal diukur dari umur anak dikali dua, lalu ditambah delapan (ukuran kg).

Di Indonesia, kegemukan belum menjadi masalah nasional. Namun, di AS, kegemukan sudah menjadi epidemi yang mengakibatkan berbagai masalah kesehatan serius.

Tiga dari lima orang AS mengalami kelebihan berat badan. Para peneliti di Negeri Paman Sam itu memperkirakan, anak-anak di AS kini akan menjadi generasi dengan tingkat harapan hidup lebih singkat, daripada orangtua mereka. Penyebab obesitas pada orang AS antara lain dikarenakan perusahaan makanan memperbesar porsi produknya dan kebiasaan masyarakat mengonsumsi fast food atau makanan cepat saji.

Sejak tahun 1977, kalori yang dikonsumsi orang AS naik sekitar 10 persen atau sekitar 200 kalori lebih setiap hari. Sebelumnya AS disebut "Republik Alkohol" karena mereka gemar minuman beralkohol untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Sekarang julukan itu mestinya berubah menjadi "Republik Kegemukan".

Semakin banyak dan murahnya makanan dituding pula sebagai penyebab obesitas. Ketika hasil panen membeludak, pasar pun dibanjiri makanan yang berharga murah. Orang lalu cenderung menambah porsi makannya.

Di samping itu, demi mempertahankan harga, para petani dan produsen makanan melakukan penganekaragaman produk. Jagung dan ayam misalnya, ditambah berbagai unsur hingga menjadi produk makanan yang tak lagi alamiah.

Orang pun tertarik mengonsumsinya, sebab pemasaran makanan semacam itu selalu disertai "kampanye" perubahan gaya hidup dan kepraktisan. Kalau semula bahan mentah dimasak dengan berbagai bumbu segar, kini orang bisa makan ayam nan gurih hanya dengan menggorengnya.

Melihat kecenderungan itu bukan tidak mungkin gaya hidup orang Indonesia sudah mulai terpengaruh. Karena itu pula suatu hari nanti, kita sangat mungkin bakal menghadapi masalah kegemukan nasional, terutama pada anak-anak.

Tulang Cepat Matang

Menurut Yusnalaini Y. Mukawi, ahli gizi RSAD Gatot Soebroto, Jakarta, penyebab obesitas adalah asupan makanan yang melebihi kebutuhan tubuh dan berlangsung dalam waktu lama. Penyebab lain yang secara tidak langsung berpengaruh, yakni keturunan atau genetik, endokrin (kelainan hormonal), dan eksternal atau pola makan yang tinggi kadar lemak dan kalorinya.
Obesitas yang disebabkan faktor genetik, biasanya pada usia dini sudah banyak terbentuk sel lemak adipocytes. Sel lemak ini terbentuk karena asupan tinggi kalori sejak dalam kandungan sampai usia satu tahun.

Secara umum angka kejadian obesitas lebih banyak di kota, dan pada keluarga dengan sosial ekonomi tinggi. Kalangan inilah yang biasanya sering mengonsumsi makanan tinggi kalori dan kaya lemak, misalnya makanan cepat saji itu tadi.

Sebenarnya obesitas bukan penyakit. Namun, anak yang menderita obesitas dapat mengalami komplikasi gangguan jantung dan pembuluh darah pada usia dewasa. Akibat gesekan-gesekan pada tubuhnya, dapat terjadi lecet terutama di sekitar paha. Mereka juga dapat mengalami gangguan psikologis karena memiliki tubuh yang berbeda dengan bentuk tubuh teman-temannya.

Yang penting diketahui juga, obesitas pada anak akan mempengaruhi kematangan tulang. Tulang anak-anak ini akan lebih cepat matang, sehingga tidak berkembang lagi. Akibatnya, dibanding anak lainnya, dia akan lebih pendek.

Kondisi obesitas yang terjadi semasa kanak-kanak tidak selalu menetap hingga ia tumbuh dewasa. Kegemukan cenderung terbawa sampai dewasa bila dikarenakan faktor genetik, derajat obesitas yang berat, serta obesitas yang terjadi menjelang dewasa./Kompas

Rahasia Anak Langsing? Cukup Sedikit Berlari


Anak Anda kelebihan berat badan? Jangan khawatir. Ajaklah mereka bermain-main agar kegemukan tidak hinggap di tubuhnya. Menurut para peneliti Inggris dan AS, cukup dengan bermain bola selama atau berenang selama 15 menit, bisa menghindarkan anak-anak dari kegemukan.

Penelitian terhadap 5.500 anak yang dipasangi piranti sensor gerakan menunjukkan bahwa mereka yang lebih banyak bergerak, cenderung tidak mengalami kegemukan. Aktivitas yang paling membantu mencegah kelebihan berat badan adalah gerakan penuh semangat dalam jangka waktu pendek. Anak-anak yang melakukan kegiatan fisik selama 15 menit saja dalam sehari, memiliki kecenderungan 50 persen terhindar dari obesitas dibanding mereka yang tidak aktif. Begitu diungkapkan para peneliti dalam jurnal PLoS Medicine.

"Data menunjukkan bahwa aktivitas fisik dengan intensitas lebih tinggi sepertinya lebih penting daripada aktivitas secara keseluruhan," tulis Andy Ness dari University of Bristol. "Artinya cukup dengan aktivitas bersemangat dalam jangka pendek, anak akan terhindar dari kegemukan."

"Kami tahu bahwa pengaturan pola makan juga penting. Namun riset ini menekankan bahwa kita tidak boleh melupakan olahraga," lanjutnya. "Uniknya, cukup dengan sedikit saja aktivitas, kita bisa mendapatkan hasil yang sangat berbeda."

Seperti diketahui, kegemukan semakin banyak dijumpai pada anak-anak dan remaja di banyak negara. Penyebabnya adalah karena orang lebih banyak asupan kalorinya dibanding yang dibakar. Pada anak-anak, masalah kegemukan ini cenderung lebih mudah diatasi dibanding pada orang dewasa. Bila aktivitas 15 menit saja bisa mencegah anak-anak dari kegemukan, maka pada orang dewasa aktivitas ini sepertinya harus ditambah./Kompas

Orangtua Baru Resah Ketika Penis Anaknya Kecil

"Bagaimana, ya, agar anak saya bisa gemuk agar terlihat segar, sehat, dan lucu?"

Kalimat ini biasanya muncul di kalangan para ibu. Mitos bahwa anak gemuk adalah anak sehat, segar, dan lucu seharusnya mulai diperbarui demi mendapatkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas di masa depan.

Mengapa demikian? Guru besar Ilmu Kesehatan Anak dari Universitas Padjadjaran Dedi Subardja mengatakan, obesitas pada anak sangat akrab dengan penyakit degeneratif, seperti kardiovaskular, kolesterol tinggi, darah tinggi, diabetes melitus, dan penyakit degeneratif lainnya. Secara psikologis, kegemukan akan mengganggu anak-anak karena biasanya mereka menjadi bahan olok-olokan di lingkungannya.

"Saat ini ada sekitar 10 anak obesitas atau kegemukan yang berobat pada saya dan beberapa di antaranya sudah ada yang menderita penyakit diabetes dan penyakit degeneratif lainnya," ujar Dedi.

Sayangnya, tak banyak orangtua yang menyadari bahaya yang mengancam di balik kegemukan yang dialami anaknya. Yang lucu, ujar Dedi, banyak orangtua yang baru terhenyak ketika anak laki-lakinya yang gemuk memiliki penis kecil. "Jadi, mereka datang mengobati anaknya yang gemuk bukan karena masalah konsumsi makanan yang berlebihan, tetapi karena penis yang kecil," katanya.

Pada anak laki-laki, komplikasi dari kegemukan adalah ukuran penis menjadi kecil. Hormon laki-laki pada anak-anak yang gemuk biasanya lebih sedikit. Itu sebabnya biasanya selain mengatur pola makan yang seimbang dengan aktivitas anak, pada laki-laki yang mengalami kegemukan dan telah melewati masa praremaja (sekitar 10-12 tahun) akan ditambahkan hormon laki-laki. Sementara pada perempuan, obesitas justru akan meningkatkan jumlah hormon perempuan yang ada dalam dirinya sehingga mereka menjadi lebih cepat puber dan mendapatkan menstruasi. Mengukur obesitas

Menentukan obesitas ada berbagai cara, antara lain bisa dengan mengukur indeks massa tubuh (IMT), yaitu berat badan (kg) dibagi tinggi badan (m) kuadrat.

Jika anak berberat badan 30 kg dan bertinggi badan 120 cm, indeks tubuhnya dihitung dengan cara 30 : (1,20 x 1,20) = 20,8. Jika IMT antara 20-24,9, anak dianggap normal. Pada 25- 29,99, anak dianggap memiliki berat badan lebih. Sementara jika lebih dari 30, anak mengalami obesitas.
Obesitas juga bisa diukur dengan cara menghitung perbandingan berat badan terhadap tinggi badan. Anak yang berat badannya melebihi 120 persen baku tinggi badannya dikatakan mengalami obesitas. Tingkatannya ada obes ringan sama dengan berat badan (BB) terhadap tinggi badan (TB) lebih besar dari 120- 170 persen. Obes sedang, BB terhadap TB lebih besar dari 170- 240 persen. Obes berat, BB terhadap TB lebih besar dari 240 persen.

"Merawat anak adalah seni. Bagaimana mendisiplinkan anak untuk mendapatkan berat badan yang ideal juga merupakan seni bagi orangtua. Diperlukan seni dan penerapan disiplin dari orangtua agar anak memiliki pola hidup yang sehat," ujar Dedi./Kompas

Obesitas Mengancam Anak-anak


Anak bertubuh gemuk mungkin menggemaskan. Tetapi, dari sisi medis anak-anak dengan kelebihan berat badan (overweight) apalagi sampai kegemukan (obesitas) harus diwaspadai.
Kegemukan pada anak bisa memicu penyakit terutama jantung, diabetes, fungsi paru, peningkatan kadar kolesterol, gangguan ortopedik (kaki pengkar) sampai rentan terhadap kelainan kulit.

Tak hanya itu, dokter ahli anak pada Subbagian Nutrisi dan Metabolik Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM) Jakarta Dr Damayanti Rusli Sjarif mengingatkan, bentuk tubuh anak kegemukan bisa membuat ia malu sehingga tersingkir dari berbagai kegiatan di sekolah atau lingkungannya.
Menurut berbagai studi yang dikutip Damayanti, kegemukan pada anak-anak, jika dibiarkan akan menetap hingga dewasa. Akibatnya, orang bersangkutan berpotensi menderita banyak penyakit.

Kisah Reno (bukan nama sebenarnya) bisa menjadi acuan. Anak lelaki berusia tujuh tahun yang tinggal di Jakarta Barat itu kini berberat tubuh 55 kilogram. Akibatnya, kaki Reno tak berkembang optimal. Kakinya melengkung berbentuk O. Setahun terakhir, kakinya tak kuat lagi membawa tubuhnya berjalan jauh. "Kalau jalan 100 meter-an masih kuat, tapi setelah itu ia kecapekan lalu minta gendong," tutur Lies, ibunda Reno.

MENURUT Damayanti, obesitas ialah kelainan atau penyakit yang ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan. Sedang overweight ialah kelebihan berat badan dibandingkan dengan berat ideal. Ini bisa terjadi karena penimbunan jaringan lemak atau nonlemak.

Sekarang, jumlah anak penderita obesitas makin banyak. Menurut Damayanti, prevalensi obesitas pada anak usia 6-17 tahun di Amerika Serikat dalam tiga dekade terakhir naik dari 7,6-10,8 persen menjadi 13-14 persen. Sedangkan anak sekolah di Singapura naik dari 9 persen menjadi 19 persen.

Mengutip Survey Kesehatan Nasional, di Indonesia prevalensi obesitas pada balita juga naik. Prevalensi obesitas 1989 di perkotaan 4,6 persen lelaki dan 5,9 persen anak perempuan. Empat tahun kemudian naik menjadi 6,3 persen (lelaki) dan 8 persen (perempuan).

Penelitian oleh Djer (1998) menunjukkan prevalensi obesitas anak di sebuah SD negeri Jakarta Pusat 9,6 persen. Penelitian oleh Meilany (2002), prevalensi obesitas anak di tiga SD swasta di kawasan Jakarta Timur 27,5 persen. Data rekam medik mengenai kasus baru obesitas di Poliklinik Gizi Anak Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Jakarta periode 1995-2000 ada 100 pasien, 35 persennya balita.

"Kasus obesitas terjadi karena asupan energi tinggi, sementara keluaran energinya rendah. Pola makan anak yang kerap mengonsumsi makanan siap saji-kadar lemak dan garam tinggi-memperburuk keadaan," kata Damayanti.

Tak mengherankan jika penelitian Himpunan Obesitas Indonesia (Hisobi) di sejumlah SD favorit di Jakarta Selatan baru-baru ini menunjukkan prevalensi obesitas pada anak mencapai 20 persen.

Penelitian di Semarang menunjukkan, dari 1.730 anak usia 6-7 tahun, diketahui 12 persen menderita obesitas dan 9 persen kelebihan berat badan. Kini, penelitian serupa diadakan di sekolah-sekolah di Padang, Semarang, Yogyakarta, Manado, dan Bandung.

SECARA terpisah, dr HR R Rachmad Soegih, Sp GM dari Bagian Ilmu Gizi FK UI-RSCM mengingatkan perlu memeriksa berat badan secara rutin. Cara sederhana yang bisa dilakukan adalah memeriksa lingkar pinggang tepat di bawah titik tulang pinggul.

Cara lain, dengan mengetahui lewat indeks massa tubuh (IMT) yakni berat badan dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat.

Misalnya seseorang memiliki berat badan 70 kg:1,7 m² (karena tingginya 170 sentimeter) maka hasilnya 24,22 kg/m². Hasil itu kemudian dilihat pada tabel klasifikasi nilai IMT. Menurut klasifikasi IMT, yang bersangkutan termasuk obesitas tingkat pertama.

Mereka yang obesitas, kata Ketua Umum Hisobi Prof Dr dr Askandar Tjokroprawiro, harus mengurangi konsumsi makanan hingga separuh porsi dan mengimbanginya dengan berolahraga teratur.

Bagi anak penderita obesitas, Damayanti menyarankan pengaturan diet, peningkatan kegiatan fisik, mengubah pola hidup, dan melibatkan keluarga dalam terapi.

Ia juga menyarankan anak harus punya kegiatan fisik di luar sekolah 20-30 menit per hari. "Kegiatan fisik akan meningkatkan laju metabolisme, sementara latihan aerobik secara teratur bisa menurunkan berat badan," jelas Damayanti/Kompas

Mengapa Anak Tidak Boleh Gemuk?

Dulu, mungkin banyak orangtua yang menginginkan anaknya gemuk. Selain lucu, gemuk juga merupakan lambang kemakmuran. Padahal gemuk sejak kecil itu tidak sehat. Mengapa?

Mengapa banyak anak gemuk sekarang?Pola makan berlebih menjadikan tubuh cenderung kelebihan kalori. Apalagi semakin populernya junk food yang kaya lemak, boros gula, dan garam serta sangat tinggi kalori di kalangan anak zaman sekarang. Selain itu, anak sekarang cenderung jarang bergerak. Padahal, banyak gerak akan membakar kelebihan kalori dari makanan.

Anak gemuk bolehkah berdiet atau minum obat antilemak?Dalam masa pertumbuhan, tubuh anak tidak boleh sampai kekurangan zat gizi. Diet menguruskan badan tidak tepat, karena mengurangi semua zat yang dibutuhkan anak untuk pertumbuhan. Begitu pula obat antilemak.

Yang dapat dilakukan mungkin dengan cara akupunktur yang bisa menekan nafsu makan, sambil tetap mengatur kecukupan gizi agar pertumbuhan anak tetap baik.

Bagaimana supaya tidak telanjur menjadi gemuk?Bayi dan anak menjadi gemuk jika porsi yang dimakan melebihi kebutuhan tubuh. Jika bayi diberikan makanan sesuai dengan umur dan tahapan perkembangan usianya, kecil kemungkinan anak bakal gemuk. Buat anak di atas setahun, pilihlah susu sapi nonfat karena anak hanya membutuhkan kandungan protein susunya. Namun, yang terbaik tetap ASI.

Gemuk juga bisa berarti penyakitAnak yang gemuk, bisa juga karena kasus penyakit. Ada beberapa jenis penyakit (kelainan hormon dan gen) yang membuat tubuh anak gemuk abnormal, dan gemuknya kelihatan tidak sehat.

Bagaimana mengatasi anak gemuk?Baru-baru ini, sekolah di AS membuat 'kartu rapor berat badan'. Anak yang dinyatakan kelebihan berat badan memerlukan konsultasi dokter untuk diet khusus, dan latihan jasmani ekstra agar berat badan ideal bisa tercapai.

Dengan 'kartu rapor berat badan', anak dipantau terus oleh sekolah sampai batas tidak gemuknya tercapai.

Anak gemuk apakah berarti profil lemak dalam darahnya juga tinggi?Ya, hal itulah yang paling kita takuti. Kebanyakan remaja Amerika yang pola makan dan pilihan menunya serba junk food itu, rata-rata sudah kelebihan kadar lemak dalam darahnya dan kolesterol serta trigliseride-nya. Itu berarti, risiko terkena serangan jantung, stroke, dan kanker muncul sejak usia pubertas./Nova

Kegemukan Bikin Bengkak Kelamin Anak!

Obesitas atau penyakit kegemukan yang menimpa kalangan anak-anak dapat memicu pertumbuhan segala penyakit, terutama pada bagian organ reproduksi. Pakar andrologi Rumah Sakit (RS) Baptis Kediri, Dr. dr. Hudi Winarso, M.Kes, Sp.And, Sabtu, mengemukakan, obesitas pada anak terjadi akibat adanya asupan secara berlebihan berbagai jenis makanan yang tidak sehat. "Sehingga, hal ini menjadikan si anak kurang aktif," katanya saat menyampaikan paparannya dalam seminar kesehatan mengenai "Dampak Obesitas Pada Anak" di RS Baptis Kediri, Jatim.

Lebih lanjut Hudi mengatakan, organ reproduksi anak laki-laki dapat terkena "Hipospadia" atau adanya kelainan saluran kencing dengan pembengkakan alat kelamin, sehingga pembuangan air kencing tidak normal.

"Selain itu, si anak yang menderita obesitas akan mengalami gangguan ’Mikro Penis’, karena perkembangan organ laki-laki menjadi kecil," katanya mengungkapkan.

Gangguan lain yang biasanya terjadi pada anak-anak yang menderita obesitas, adalah "Undesensus Testis" atau biji pelir yang posisinya berada di dalam perut.

Selain obesitas, bahan kimia yang mengakibatkan kerusakan alat reproduksi adalah bahan yang mengandung Dioxin yang biasanya digunakan sebagai pemutih kertas, DDT, dan Metanol Ethanol yang banyak terdapat dalam plastik, botol, dan kaleng.

Sementara itu pembicara lainnya dalam seminar itu, dr. Sebastianus Jobul menambahkan, hingga kini di Indonesia masih belum ada penelitian mengenai epidemiologi baku tentang obesitas.

"Tapi berdasarkan penelitian epidemiologi di sub urban Jakarta terjadi peningkatan. Tahun 1992 jumlahnya mencapai17,1 persen, padahal pada 1982 hanya 4,2 persen,"
katanya.Peningkatan itu, lanjut Sebastian, dikarenakan perubahan gaya hidup yang cenderung konsumtif dan menyukai makanan serba instan. "Besar kemungkinan angka pencetus obesitas, karena sindroma metabolik akan terus meningkat. Ini karena adanya perubahan gaya hidup yang lebih menyukai makanan instan," katanya menegaskan.

Sedang pemerhati kesehatan anak, dr. Rihi Here Wila mengatakan, terjadinya obesitas pada anak, 90 persen dipengaruhi nutrisi, sedang 10 persen sisanya faktor keturunan. Namun dia menyatakan, penggunaan obat-obatan pencegah obesitas justru berdampak buruk pada kesehatan anak. "Sebenarnya obesitas dapat dicegah, salah satunya dengan memberikan air susu ibu (ASI) secara eksklusif dan memberikan makanan yang sehat dan seimbang," katanya. Ia menyarankan, para ibu untuk memperbanyak porsi makanan pada anak berupa buah-buahan dan sayur-sayuran. Menurut dia, dengan pola makan yang lebih teratur dapat mencegah anak terkena obesitas, sehingga dapat menghindari risiko terkena penyakit sejak dini./Antara

Ibu Stres, Anak Tumbuh Kegemukan?

Tekanan hidup dan masalah yang datang silih berganti memang kerap membuat kita stres dan depresi. Namun, berhati-hatilah bila Anda seorang ibu. Menurut penelitian, ibu yang stres bisa memicu kegemukan pada anak.

"Orang biasanya merespon stres dengan makan. Demikian juga dengan anak-anak yang bisa jadi makan lebih banyak karena merasa stres dengan keadaan di rumah," kata Craig Gundersen dari University of Illinois.

Gundersen dan tim peneliti dari Iowa State University dan Michigan State University melakukan penelusuran data terhadap 841 anak yang hidup dalam keluarga miskin. Pengumpulan data dilakukan mulai tahun 1999-2002. "Kami menemukan bahwa akumulasi stres yang dialami oleh sang ibu menentukan tingkat kegemukan anak," tulis peneliti dalam laporan yang dimuat dalam jurnal Pediatiric.

Seperti diketahui, 90 persen kegemukan adalah akibat makan berlebihan. Karena itulah, peran orangtua sangat dibutuhkan dalam pengaturan pola makan Si Kecil. "Anak-anak bisa terpengaruh oleh tekanan yang dialami orangtuanya. Mereka juga akan mencari pelarian dengan mengonsumsi makanan yang biasanya," demikian laporan tim peneliti.

Selain pengaturan pola makan, aktivitas fisik juga akan mencegah anak dari kegemukan karena energi yang dikeluarkan diharapkan seimbang dengan makanan yang masuk. /Kompas

Batasi Garam Bikin Anak Langsing

JIKA anak Anda kegemukan atau kelebihan berat badan, kini ada solusi mudah untuk mengatasinya. Menurut hasil sebuah penelitian, mengurangi kandungan garam dalam setiap makanan yang dikonsumsi anak-anak akan membuat badan mereka tetap langsing.
Para peneliti dari St. George's University of London baru-baru ini melaporkan bahwa anak-anak yang mengonsumsi sedikit garam cenderung meminum sedikit soft drink atau minuman ringan yang dikenal kaya akan gula. Dengan begitu, secara tidak langsung mereka juga terhindar dari masalah tekanan darah tinggi dan obesitas.

Seperti yang dipubliksikan dalam journal Hypertension, peneliti mengatakan bahwa penurunan risiko ini juga dapat menekan kasus serangan jantung dan stroke di kemudian hari.
"Softdrink yang kaya pemanis adalah sumber asupan yang signifikan dari kalori pada anak-anak,¨ ungkap salah satu peneliti Dr. Feng He .

"Ini menunjukkan bahwa konsumsi minuman ringan yang memakai pemanis gula berhubungan dengan obesitas pada orang muda ," tambahnya dalam sebuah pernyataan.

"jika anak-anak berusia 4 hingga 18 tahun mengurangi asupan garam hingga setengahnya, akan ada penurunan sekitar dua kaleng minuman ringan per minggu pada setiap anak, oleh karena itu setiap anak ini akan mengalami pengurangan asupan kalori hampir 250 kilokalori per minggu," ujarnya.

Dr Fang He dan rekannya menganalisis data dari survei nasional yang dilakukan pada 1997 yang melibatkan sekitar 2.000 anak berusia 4 hingga 18 tahun di wilayah Inggris Raya. Lebih dari 1.600 anak lelaki dan wanita tercatat selalu mengonsumsi garam. Semua jenis minuman dan makanan yang mereka konsumsi ditimbang dan juga ditulis dalam sebuah catatan harian.
"Kami menemukan bahwa anak-anak yang mengonsumsi sedikit garam meneguk sedikit minuman. Dari riset kami, diperkirakan bahwa pengurangan 1 gram garam dari makanan sehari-hari dapat menurunkan asupan cairan hingga 100 gram per hari ," terang peneliti.
Anak-anak yang memakan sedikit garam juga meminum lebih sedikit soft drink. Feng He memprediksikan, pengurangan 1 gram garam dapat menurunkan konsumsi minuman ringan hingga 27 gram per hari. Perhitungunan ini keluar setelah mempertimbangkan berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, berat badan serta tingkat aktivitas fisik .

He mengatakan, para orang tua sebaiknya memeriksa terlebih dulu label atau merek makanan. Pilihkan poduk-produk yang rendah garam dan jangan menambahkan garam ketika memasak dan menikmati hidangan di meja makan.

"Pengurangan sedikit garam antara persen hingga 20 persen tidak akan terasa oleh reseptor perasa asin ," ujarnya.

Menurut American Heart Association,orang dewasa seharusnya mengurangi asupan sodium hingga mencapai 2.300 miligram atau 2,3 perhari. Ini sekitar satu sendok teh. Orang Amerika dan Inggris rata-rata mengonsumsi 75 persen sodium dari makanan olahan seperti saus tomat, sambal, sup, makanan kaleng atau jenis makanan lainnya. /Kompas

Anak Gemuk, Awas Penyakit Liver!

KEGEMUKAN atau obesitas adalah problem kesehatan yang sedang ngetren di negara-negara maju. Bahkan problem kegemukan sekarang ini bukan hanya melanda kaum dewasa, tetapi juga anak-anak dan remaja usia belasan tahun.

Yang mencemaskan, sejumlah laporan penelitian dan kasus terbaru mengindikasikan problem obesitas pada anak-anak makin nyata terutama di negara-negara maju. Laporan dan hasil wawancara Associated Press, Senin (8/9) misalnya mengindikasikan, anak-anak pengidap obesitas cenderung rentan mengalami kerusakan pada organ hati (lever) akibat tumpukan lemak pada tubuhnya.

Akibat kerusakan tersebut, beberapa di antarnya membutuhkan transplantasi lever untuk menyambung hidup. Dan yang mencengangkan, banyak di antara mereka kemungkinan harus menjalani transplantasi organ hati saat memasuki usia 30 hingga 40-an. Fenomena ini, kata para ahli, menuntut dokter anak untuk lebih mewaspadai ekses dari obesitas.

Penelitian mencatat, kasus penyakit lever yang dapat menyebabkan sirosis, gagal lever atau kanker hati, kini mulai banyak ditemukan pada anak-anak di negara-negara maju seperti AS, Eropa, Australia dan bahkan di beberapa negara berkembang.

American Liver Foundation dan data riset lainnya mencatat sekitar 2 hingga 5 persen anak di Amerika Serikat di atas usia 5 tahun hampir semuanya mengalami obesitas. Mereka mengidap kondisi yang disebut penyakit lever kegemukan non-alkoholik (nonalcoholic fatty liver disease/NAFLD).

“Itu adalah kondisi yang seringkali menyebabkan penyakit lever,” kata Dr. Ronald Sokol, direktur kebijakan publik American Liver Foundation dan ahli penyakit hati dari Children’s Hospital dan Universitas Colorado Denver.

Para ahli memperkirakan sekitar 10 persen anak-anak dan 50 persen anak obes mengalami mengidap NAFLD. Namun, hanya sedikit saja dari mereka yang terdeteksi melalui tes darah sederhana di laboratorium, karena hanya dengan tindakan biopsi para dokter dapat memastikan diagnosa penyakit ini.

Merusak leverKetika lemak mulai menumpuk dalam tubuh, liver bisa mengalami peradangan dan terluka seiring dengan waktu. Ini bisa menimbulkan sirosis, atau kondisi serius yang dalam beberapa tahun terakhir paling banyak disebabkan hepatitis atau kebiasaan meminum terlalu banyak alkohol. Kegagalan lever atau kanker hati juga bisa muncul setelahnya, tetapi bila sirosis belum terjadi, penyakit NAFLD dapat diatasi melalui penurunan berat badan.

NAFLD adalah kondisi yang banyak ditemukan pada anak-anak obes dengan perut buncit disertai gejala peringatan tertentu seperti diabetes, kolesterol atau penyakit jantung. Namun begitu, NAFLD juga dapat muncul pada beberapa anak dengan berat badan normal.

Faktor genetika, diet dan kebiasaan olahraga juga memberi peran penting bagi tercetusnya kondisi ini. Prevalensi NAFLD tercatat lebih tinggi di kalangan anak laki-laki ketimbang perempuan. Kaum hispanik juga tercatat paling tinggi prevalensinya, dan relatif jarang di kalangan Afro-Amerika.

Para ahli menilai obesitas adalah masalah sangat serius yang harus segera diatasi. Dengan penyakit lever kegemukan yang semakin banyak ditemukan di kalangan dewasa, mereka diperkirakan problem obesitas akan menjadi penyebab utama transplantasi liver pada 2020 mendatang.

“Ada pasien yang pada usia 30 atau awal 40-an membutukan transplantasi lever akibat mengidap penyakit NAFLD sejak anak," ungkap Dr. Jose Derdoy, kepala transplantasi liver Cardinal Glennon Children’s Medical Center di St. Louis memprediksi fenomena penyakit lever akibat obesitas.

Ia sendiri pernah menangani transplantasi lever seorang anak oberitas berusia 15 tahun asal Texas yang telah divonis mengalami sirosis. (8/9/08 , Kompas)

Obesitas ancam nak-anak di Erofa


SEMENTARA anak-anak di Indonesia teracam pertumbuhannya akibat kekurangan gizi, anak-anak di Eropa juga terancam kesehatannya tetapi dengan penyebab berbeda. Dengan kesejahteraan yang lebih baik, anak-anak Eropa tengah dilanda wabah obesitas atau kegemukan yang memicu risiko beragam penyakit berat.

Seperti dilaporkan oleh Komite Keselamatan Makanan, Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Hidup di Parlemen Eropa, Selasa (27/5), hampir 22 juta anak di Eropa mengalami kelebihan berat badan dan sebanyak 1,3 juta anak lagi akan mengalami kegemukan atau obesitas pada 2010 mendatang. Laporan itu menyerukan segera diterapkannya upaya mencegah kegemukan pada anak-anak. Beragam langkah konkret telah disiapkan seperti pencantuman label yang lebih jelas pada setiap kemasan, perbaikan kualitas makanan di sekolah dan taman kanak-kanak, serta pembatasan iklan makan tidak sehat untuk anak-anak.

Parlemen dalam laporannya itu juga menyarankan pendekatan bertahap dan komprehensif untuk memerangi kegemukan yang mengakibatkan seseorang menjadi rentan terhadap penyakit.

Problem obesitas telah menyebabkan pemerintah menghabiskan 6 persen dari biaya kesehatan secara langsung , namun tapi biaya yang tidak dikeluarkan langsung (indirect cost) jauh lebih tinggi.

"Kegemukan adalah salah satu masalah kesehatan masyarakat paling serius di Eropa karena secara signifikan meningkatkan risiko penyakit kronis seperti jantung, pembuluh darah, diabetes tipe 2 dan beberapa jenis kanker," ungkap laporan parlemen itu.

Karena kegemukan pada masa kanak-kanak sangat berkaitan dengan kegemukan pada saat dewasa, komisi tersebut dan pemegang saham lain harus menjadikan upaya untuk memeranginya sebagai prioritas mereka. "Semua kurikulum sekolah harus dirancang gua menjamin bahwa pelatihan fisik dan makanan yang seimbang menjadi bagian dari prilaku anak-anak setiap hari," isi siaran pers tersebut.

Komite itu juga menyerukan tindakan lain guna mencegah anak-anak menjadi kegemukan, termasuk larangan di seluruh Eropa atas penggunaan asam lemak buatan, dan menyatakan konsumsi terus-menerus asam lemak (lebih 2 persen dari jumlah seluruh asupan energi) berkaitan dengan peningkatan besar resiko penyakit jantung dan pembuluh darah. (Mei 2008, Kompas)

Friday, December 12, 2008

Kapan Perlu Mewaspadai Anak Kegemukan?

Dibanding dengan dua dasawarsa lalu, kini semakin mudah menemukan anak-anak yang gemuk dan kegemukan. Melihat bayi yang montok memang menggemaskan, namun jika hal itu terus berlanjut sampai ia berumur lima tahun, orangtua sebaiknya perlu waspada.

Kegemukan atau sering kali disebut obesitas, disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain genetika atau keturunan, kelainan hormon (endoktrin), serta faktor pola makan yang tinggi lemak dan kalori. Risiko kegemukan juga bisa terjadi sejak usia bayi, terutama bayi yang terlalu dini diberikan makanan padat.

Normalnya, bayi berumur lima bulan berat badannya tidak lebih dari dua kali berat badan saat lahir dan ketika berusia setahun, tiga kali berat lahir. Pada usia anak-anak, orangtua sebaiknya mulai waspada bila anaknya tak suka banyak bergerak, suka mengemil makanan yang manis, berlemak dan berkalori tinggi. Sedangkan tanda-tanda pada badannya mulai menunjukkan adanya lipatan kulit pada paha, leher, dada, dan perut.

Berbagai penelitian telah menunjukkan anak obesitas lebih rentan mengalami berbagai penyakit seperti gangguan jantung dan pembuluh darah pada usia dewasa. Masalah lain yang mungkin timbul adalah gangguan psikologis karena memiliki bentuk tubuh lebih besar dari teman-teman sebayanya.

Untuk mengatasinya, pengaturan pola makan perlu dilakukan namun dengan memperhatikan asupan gizi yang seimbang. Makanan yang perlu dibatasi adalah diet rendah lemak yang dilakukan secara bertahap. Penurunan berat badan pada anak yang dianjurkan tidak lebih dari 1kg setiap bulan. Selain mengatur makanan, doronglah anak untuk lebih banyak melakukan kegiatan bermain yang bergerak, seperti bersepeda, main bola, dan sebagainya. /Kompas

Hiperlipidemia pada Anak

KITA sudah sering mendengar bahwa kelebihan kadar lemak dalam darah atau hiperlipidemia merupakan salah satu faktor utama bagi terjadinya kelainan kardiovaskuler pada orang dewasa. Namun, apakah kita sudah mengetahui bahwa hiperlipidemia juga merupakan suatu faktor risiko-risiko bagi terjadinya kelainan-kelainan kardiovaskuler pada anak?

HIPERLIPIDEMIA anak didefinisikan sebagai kelainan atau gangguan kadar lemak darah yang terjadi pada anak berusia antara 2-19 tahun. Gangguan ini berupa peningkatan kadar kolesterol total, low-density lipoprotein (LDL) dan very low- density lipoprotein (VLDL).

Secara praktis, kriteria yang digunakan untuk penentuan adanya hiperlipidemia adalah terdapatnya peningkatan kadar kolesterol total melebihi 200 mg/dl dan atau peningkatan kadar kolesterol LDL melebihi 130 mg/dl.

Digunakannya batasan usia 2-19 tahun adalah berdasar pertimbangan bahwa anak-anak yang berada di bawah usia 2 tahun kadar lemaknya masih belum menetap akibat kebutuhan kolesterol yang relatif tinggi; sedangkan anak yang berada di atas usia 19 tahun telah dikategorikan sebagai dewasa.

Berbagai penelitian yang ada, terutama Bogalusa Heart Study dan PDAY research group, menunjukkan bahwa proses plaque (penimbunan lemak) dalam pembuluh darah (atherosclerotic) telah dimulai sejak masa anak-anak dan dipercepat oleh adanya gangguan hiperlipidemia.

Lemak dalam darah akan menimbulkan suatu proses kompleks pada pembuluh darah meliputi perlekatan monosit, agregasi platelet, dan pembentukan trombus. Berbagai proses kompleks ini pada akhirnya akan memperberat atherosclerotic (accelerated atherosclerotic) yang ada serta menimbulkan penyumbatan pembuluh darah. Akibat penyumbatan ini, organ-organ yang disuplai oleh pembuluh darah akan mengalami kekurangan atau bahkan penghentian suplai darah. Kondisi inilah yang pada akhirnya akan bermanifestasi sebagai penyakit jantung koroner, stroke, dan penyakit-penyakit vaskuler lainnya. Hiperlipidemia pada anak dapat disebabkan oleh adanya kelainan-kelainan yang didapat (acquired) serta kelainan bawaan (genetis).
.
Kelainan yang didapat terdiri atas kelainan-kelainan organik dan fungsional yang secara langsung ataupun tidak langsung menimbulkan terjadinya gangguan metabolisme lemak, seperti terdapatnya penyakit diabetes mellitus, kelainan hati, kelainan ginjal, serta penggunaan obat-obatan tertentu oleh anak semisal anti-epilepsi.
.
Apabila kelainan-kelainan organik dan fungsional ini tidak ditemukan pada anak, barulah dapat dipertimbangkan kemungkinan faktor keturunan sebagai penyebab hiperlipidemia. Anak-anak dengan hiperlipidemia dapat memiliki spektrum manifestasi klinis yang luas. Mereka bisa saja tidak memperlihatkan suatu keluhan atau tanda klinis tertentu (asymptomatik) atau bisa saja datang dengan tanda-tanda klinis yang khas seperti xanthoma (penumpukan lemak kekuningan) pada telapak tangan dan kelopak mata, arcus cornea (lingkaran putih pada kornea mata), xanthoma tuberosum (penonjolan lemak pada pergelangan tangan), obesitas (kegemukan) atau bahkan mereka dapat muncul dengan keluhan klinis penyakit-penyakit kardiovaskuler. Pemeriksaan kadar kolesterol darah mutlak dilakukan pada anak-anak yang memperlihatkan adanya manifestasi klinis hiperlipidemia.
.
Pemeriksaan ini hendaknya dilakukan pula pada anak-anak yang tidak menunjukkan manifestasi klinis hiperlipidemia, tetapi mempunyai keluarga yang berada pada kelompok risiko tinggi. Misalnya, memiliki orangtua atau kakek/nenek yang menderita penyakit jantung koroner sebelum usia 55 tahun, memiliki orangtua dengan kadar kolesterol total melebihi 240 mg/dl atau menderita kelainan kadar lemak darah serta memiliki keluarga yang berada dalam kondisi yang mengarah kepada kemungkinan menderita penyakit jantung, seperti kegemukan, merokok, serta menderita tekanan darah tinggi. Berdasarkan pemeriksaan kadar kolesterol, anak dapat dikategorikan atas kelompok normal (acceptable), intermediate (borderline) dan berisiko (high). Mereka yang memiliki kadar kolesterol total kurang dari 170 mg/dl dan atau kadar LDL kolesterol kurang dari 110 mg/dl dikategorikan sebagai normal, sedangkan mereka dengan kadar kolesterol lebih 200 mg/dl dan atau kadar LDL kolesterol melebihi 130 mg/dl dikategorikan sebagai berisiko. Kadar lemak darah yang berada di antara nilai normal dan berisiko dianggap intermediate.
.
Bagi anak-anak yang kadar kolesterolnya dikategorikan sebagai normal, tidak ada tindakan khusus yang dianjurkan kecuali merencanakan melakukan pemeriksaan kadar kolesterol total setiap 5 tahun. Sedangkan bagi mereka yang kadar kolesterolnya tergolong intermediate dan berisiko perlu dilakukan pemeriksaan kadar lipid darah yang hasilnya kemudian ditindaklanjuti sesuai analisa. Kadar total kolesterol dan LDL merupakan faktor yang paling menentukan dalam penatalaksanaan hiperlipidemia.
.
Anak-anak dengan kadar kolesterol normal hendaknya diberikan pendidikan atau pemahaman mengenai nutrisi dan pola makan yang baik dengan harapan bahwa mereka dapat mengaplikasikan pendidikan dan pemahaman tersebut dalam pengaturan makanan bagi anaknya. Pendidikan dan pemahaman tentang nutrisi yang baik dan sehat ini juga diberikan kepada anak-anak yang kadar kolesterolnya berada dalam kategori intermediate.
.
Namun, selain edukasi, kepada kelompok ini perlu pula dimulai tindakan diet dan penatalaksanaan terhadap faktor- faktor risiko lain yang mungkin diidap sang anak. Bagi mereka yang memiliki kadar kolesterol-LDL yang berisiko, penatalaksanaan yang dilakukan adalah diet, pemberian obat-obatan, pemeriksaan terhadap kemungkinan penyakit lain (seperti kelainan tiroid, ginjal dan hati), serta skrining terhadap anggota keluarga. Di antara semua jenis penatalaksanaan hiperlipidemia anak, diet merupakan salah satu penatalaksanaan yang amat esensial. Tindakan ini dilakukan guna mengurangi asupan kolesterol dan asam lemak jenuh.
.
Tahap pertama tindakan ini adalah proporsi dan pemberian makanan anak berupa asam lemak jenuh harus diatur sehingga kurang 1 persen dari total kalori, total lemak tidak boleh melebihi 30 persen dari total kalori dan kadar kolesterol harus kurang dari 300 mg per hari. Karena dengan diet ini anak akan memperoleh sedikit kalori dari lemak, mereka harus memperoleh kalori yang cukup dengan mengonsumsi buah-buahan, sayur-sayuran, susu rendah lemak, dan makanan kaya kalsium. Anak juga harus diberikan makanan yang bervariasi luas untuk menjamin tercukupinya zat gizi yang diperlukan bagi proses pertumbuhan dan perkembangan.
.
Apabila dalam waktu tiga bulan diet tahap pertama tidak memberikan hasil, diet tahap kedua harus dilakukan. Diet ini terdiri atas pengurangan kadar asam lemak jenuh hingga kurang 7 persen dari total kalori dan pengurangan asupan kolesterol hingga kurang dari 200 mg per hari. Secara bersamaan, zat gizi, vitamin, dan mineral harus ditambahkan dalam jumlah yang cukup guna memperbaiki proses metabolisme dan pertumbuhan tubuh.
.
Tercapainya tujuan optimal dari tindakan diet ini, orangtua anak dianjurkan melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan ahli gizi atau dokter anak guna menentukan hal- hal spesifik yang berkaitan dengan tindakan diet ini. Apabila telah dilakukan tindakan diet selama 6-12 bulan dan kadar LDL anak tidak turun di bawah level 190 mg/dl, pemberian obat-obatan pun mulai dapat dilakukan. Pemberian obat-obatan ini juga diindikasikan pada mereka yang kadar LDL-nya berkisar 160mg/dl tetapi memiliki faktor risiko kelainan kardiovaskuler, seperti diabetes, obesitas, dan hipertensi. Jenis obat antihiperlipidemia yang diberikan dapat berupa cholestyramine dan colestipol, yaitu jenis preparat yang berfungsi meningkatkan ekskresi asam empedu dan membantu metabolisme lemak tubuh.
.
Selain itu, dapat pula digunakan preparat statin (lovastatin) selama beberapa minggu. Dengan penggunaan preparat-preparat ini, dilaporkan terdapatnya penurunan kadar LDL hingga 20-25 persen. Perlu diingat bahwa obat- obatan antihiperlipidemia yang biasa digunakan pada orang dewasa, seperti gemfibrozil, probucol, dan clofibrate, tidak direkomendasikan bagi anak- anak. Selain itu, para ahli juga menganjurkan agar pemberian obat-obatan ini baru dimulai setelah anak berusia 10 tahun. Apabila anak juga menderita hipertensi dan diabetes mellitus, hendaknya dilakukan tindakan untuk mengontrol penyakit ini.
.
Bila mereka merokok, konseling perlu dilakukan untuk mengurangi/menghentikan kebiasaan merokok. Dan, apabila berat badan mereka berlebih atau obesitas, hendaknya dilakukan upaya penurunan berat badan. Selain itu, anak juga perlu diarahkan untuk berolahraga secara teratur. Jenis olahraga yang dianjurkan adalah bersepeda, berjalan kaki, atau berenang. Selain menurunkan kadar kolesterol, jenis olahraga ini juga dapat menurunkan berat badan anak yang berlebih dan sekaligus mengurangi risiko kemungkinan menderita kelainan kardiovaskuler.
.
Agar kelangsungan penatalaksanaan ini dapat terjaga dan optimal, anak sebaiknya diikutsertakan pada klub-klub olahraga atau kegiatan-kegiatan olahraga yang ada disekolahnya.
oleh : Dr Iqbal Mochtar, MPH, DipCard. PPDS Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah RS Dr Soetomo/ Universitas Airlangga, Surabaya/Kompas

Diabetes Mengancam Anak-Anak


Rasanya semakin banyak saja penderita diabetes melitus di Indonesia. Penyakit gula ini kini tak lagi monopoli orang tua atau dewasa, tapi juga anak-anak yang umumnya berupa diabetes tipe I. Faktor penyebabnya bukan lagi keturunan tapi kegemukan yang dipicu gaya hidup.
Menurut Prof.Dr.Sidartawan Soegondo, SpPD, diabetes pada anak-anak dan remaja lebih banyak disebabkan karena faktor kegemukan dan keturunan. "Kalau orangtuanya atau ada salah seorang anggota keluarga ada yang kena diabetes maka risiko anak itu untuk kena penyakit gula juga besar," papar dokter yang menjadi ketua Divisi Endokrinologi dan Metabolisme Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Diabetes melitus (DM) tipe 1 yang sering diderita anak-anak merupakan keadaan dimana tubuh memerlukan pasokan insulin dari luar. Akibatnya penderita harus menyuntikkan insulin secara teratur seumur hidupnya.

Sedangkan diabetes tipe II terjadi jika pasokan insulin dari pankreas tidak mencukupi. Obesitas dan malas berolahraga merupakan penyebab utama diabetes yang banyak diderita orang dewasa ini.

Teori terbaru menyebutkan penderita diabetes tipe I memiliki gen bakat dan dicetuskan oleh virus Coxsackie tipe B-14. Ketika virus itu menyerang, tubuh akan membuat antibodi. Antibodi akan menyerang unsur yang kodenya sama, termasuk pankreas. Akibatnya, pankreas ikut rusak. Setelah 80 persen pankreas sebagai penghasil insulin rusak, baru muncul gejala diabetes. Jika terjangkit virus ini seringkali anak dirujuk ke rumah sakit dalam keadaan kejang dan kesadaran menurun. Setelah diperiksa laboratorium baru ketahuan gula darahnya tinggi.

Namun diabetes seringkali muncul tanpa gejala. Meski begitu orangtua perlu mewaspadai jika anaknya sering haus, sering kencing, dan sering merasa lapar. DM tipe I biasanya muncul tiba-tiba karena itu orangtua perlu memperhatikan adakah kebiasaan anak yang berubah, misalnya jika anak jadi sering ngompol.

Walaupun jarang, kini makin banyak remaja dan anak-anak yang terkena DM tipe II. Pola makan yang tidak sehat dan kegemukan membuat obesitas mudah datang . Untuk mengetahui apakah seseorang menderita diabetes perlu dilakukan tes gula darah. "Sebaiknya kalau ada riwayat keturunan, tidak harus dari orangtua, tapi keluarga besar, periksa saja kadar gula darahnya. Makin dini dideteksi makin baik," kata Sidartawan.
Bahaya komplikasi

Diabetes merupakan penyakit keempat terbesar yang menyebabkan kematian di seluruh dunia. Badan kesehatan dunia (WHO) bahkan menggolongkan penyakit diabetes sebagai penyakit degenaratif yang bahayanya mendekati HIV/AIDS.

Yang perlu diwaspadai dari DM adalah komplikasi jangka panjang terhadap pembuluh darah. Penyakit yang sering ditimbulkan oleh diabetes antara lain penyakit jantung, ginjal, kebutaan, dan pada stadium lanjut bisa menyebabkan amputasi akibat infeksi pada bagian kaki.

Meski menderita diabetes, bukan berarti hidup akan sengsara. Kuncinya adalah pengendalian risiko. Untuk menurunkan risiko akan terjadinya komplikasi, sejak dini anak perlu diajarkan untuk mengenali penurunan gula darah, kapan dan bagaimana menyuntikkan insulin, serta yang tak kalah penting kedisiplinan untuk menjalankan pola hidup sehat. /Kompas

Anak Pengidap Obesitas Tak Sehat Pembuluh Darahnya

Anda yang punya anak kelebihan berat badan perlu waspada. Para periset dari Perancis menyimpulkan, anak-anak pengidap obesitas memperlihatkan perubahan pembuluh darah yang tidak sehat.

Perubahan itu mencakup hilangnya elastisitas dan fungsi normal pembuluh darah lainnya yang membuat risiko mereka mengalami gangguan kesehatan di kemudian hari semakin besar.

Dalam pengkajiannya, Dr. Damien Bonnet dan sejawatnya dari Necker Enfants-Malades Teaching Hospital di Paris, menggunakan ultrasound untuk meneliti pembuluh-pembuluh darah 48 anak yang mengalami kelebihan berat badan serta 27 anak dengan berat normal.

Secara garis besar peneliti melihat, anak-anak yang mengalami kelebihan berat memperlihatkan tanda-tanda buruknya kesehatan pembuluh darah. Misalnya, dinding-dinding pembuluh darah anak yang kelebihan berat badan itu ternyata lebih mengalami pengerasan dibanding anak yang beratnya normal. Lalu secara umum, juga terlihat penurunan fungsi susunan pembuluh darah itu.

Seperti dilaporkan oleh sebuah jurnal kesehatan, The Lancet, menurut peneliti disfungsi jaringan pembuluh darah pada anak itu merupakan tahap awal bertambahnya risiko serangan jantung dan stroke. Jadi, perlu segera dipikirkan cara mencegah kegemukan sejak usia dini.