Thursday, December 11, 2008

Makin Gemuk, Nafas Makin Bau

Nafas tak sedap ternyata tidak hanya berkaitan dengan kesehatan gigi dan mulut semata. Tetapi bisa jadi berhubungan dengan berat badan Anda.
Kaitan antara kegemukan (obesitas) dan bau mulut terungkap dalam sebuah riset yang dilakukan para ahli da­ri Universitas Tel Aviv, Israel, belum lama ini.

Riset yang dipubliksikan dalam Journal of Dental Research itu.di­pim­pin oleh pakar kesehatan mulut, Prof Mel. Ro­senberg, Department of Human Microbiology and The Maurice and Gabriela Goldschleger School of Dental Medicine, Sackler Faculty of Medicine di Universitas Tel Aviv.
Salah satu kesimpulan penting dalam riset itu adalah semakin berat tubuh Anda, ma­ka semakin bau pula nafas Anda. Studi yang sama juga berhasil me­ngungkap bukti ilmiah pertama mengenai kaitan antara bau mulut dengan tingkat konsumsi alkohol.

"Penemuan mengenai alkohol dan nafas bau tidaklah mengejutkan sebab bukti yang bersifat anekdot sudah lama ada. Walau begitu penemuan mengenai korelasi antara obesitas dan nafas tak sedap belum terantisipasi,” ungkap Prof. Rosenberg.

Dalam risetnya, Prof. Rosenberg melibatkan 88 orang dewasa dengan ukuran be­rat dan ting­gi badan bervariasi. Responden diundang ke se­buah klinik untuk melakukan check-up, di mana mereka juga mendapat pemeriksaan nafas serta kebiasaan sehari-hari.

Para peneliti menemukan, responden yang mengalami kegemukan (obesitas) cenderung me­miliki napas tidak sedap atau hal­itosis. "Penelitian ini dimaksudkan untuk masyarakat umum. Namun kami belum mengetahui pasti pe­nyebabnya secara ilmiah. Ini akan menjadi tahap selajutnya ” ungkap Prof. Rosenberg

Untuk sementara, Prof. Rosenberg menduga bahwa hubungan antara obesitas dan bau mulut dapat disebabkan oleh be­berapa faktor. Misalnya, orang yang obes mungkin saja melakukan program diet yang menyebabkan mu­lut menjadi kering. Kemung­ki­nan lain, orang gemuk cenderung malas menjaga kesehatan mulut mere­ka.

Obesitas sendiri merupakan masalah yang banyak ditemukan di kehidupan modern sekarang. Sementara bau mulut adalah fenomena masyarakat yang sudah terjadi ribuan tahun silam.
"Saya sudah membaca laporan tentang bau mulut dalam sejarah Mesir Kuno. Dalam sejarah Roma pun ada seorang bernama Cosmos yang menjual obat penyegar mulut. Nafas tak sedap seringkali disebut dalam kitab suci Yahudi," ujar Prof. Rosenberg.

Masalah bau mulut atau nafas tak sedap ini pun masih menjadi masalah di zaman ini. Bau mulut — dan kekhawatian orang mengalaminya — melanda jutaan orang di dunia karena memang tidak mudah untuk menyadari bau nafas sendiri. Dalam riset pun ada sembilan orang responden yang mengaku tidak sadar jika na­pas mereka bau. Ini sebuah hal yang lumrah karena orang terkadang malas me­nge­cek bau mulutnya sendiri. (ScienceDaily/AC)/Kompas

Ancaman Disfungsi Seksual Buat Si Berat


Jangan coba-coba menjadi gemuk. Soalnya, dengan kondisi badan yang gembrot, pengaruhnya bisa ke mana-mana, termasuk urusan ranjang. Jarak dengan penyakit disfungsi seksual semakin dekat. Hubungan seksual juga jadi relatif lebih sulit di lakukan.

Susahnya jadi anggota gerombolan ‘si Berat” (baca: kegemukan). Selain tempat tidur bisa ambrol lantaran kelebihan beban, mengatur posisi dan variasi saat berhubungan intim pun jadi merepotkan. “Kalau suami-istri sama-sama overweight, bukan tak mungkin tidak akan pernah terjadi hubungan badan,” cetus konsultan seks dan rehabilitasi, dr. Ferryal Loetan, ASC&T, Sp.RM, MKes-MMR.

Meski begitu, buat Ferryal Loetan, persoalan posisi dan variasi di atas ranjang hanyalah satu dari sekian banyak masalah serius yang bakal mendera mereka yang berat badannya jauh melebihi batas normal. Khususnya dalam melakukan aktivitas seksual bersama pasangan.

Ancaman paling nyata adalah disfungsi seksual yang disebabkan oleh penyakit-penyakit yang diturunkan obesitas, semisal diabetes dan tekanan darah tinggi. Pada pria penderita diabetes, dapat terjadi disfungsi ereksi dan ejakulasi terbalik. Yang dimaksud ejakulasi terbalik adalah ejakulasi yang terjadi ke arah kandung kencing. Sperma tidak keluar sebagaimana mestinya, sebaliknya malah masuk ke dalam kandung kencing. Sedangkan pada wanita, diabetes menyebabkan rasa sakit saat melakukan hubungan seksual, bahkan menggagalkan orgasme.

Pada penderita tekanan darah tinggi, gangguan fungsi seksual biasanya terjadi akibat terganggunya aliran darah, selain karena efek sampingan penggunaan obat obatan tertentu yang tujuan aslinya dimaksudkan untuk menurunkan tekanan darah. Makanya dianjurkan, orang gemuk berpenyakit darah tinggi berhati-hati dalam mengonsumsi obat. Tanyakan dampak jangka pendek dan jangka panjangnya pada dokter.

PERSAINGAN ANTAR HORMON

Selain fisik, disfungsi ereksi pada si gemuk juga datang dari faktor psikis. “Orang yang punya badan terlalu gemuk biasanya tidak terlalu pede dengan penampilannya. Ketidak-pede-an itu dapat menular pada aktivitas seksual mereka,” jelas Ferryal. Apalagi jika (untuk pria) terlalu memikirkan ukuran “torpedo” yang berukuran agak mungil. Saking tidak pede-nya, banyak di antara mereka kemudian terserang stres, bahkan depresi, sehingga menjauhi urusan seks.
Berdasarkan pengalaman Ferryal, ukuran “torpedo” orang overweight biasanya memang relatif kecil. “Kalau kecilnya masih dalam batas ukuran normal tidak masalah, yang penting fungsinya masih berjalan dengan baik, seperti dapat ereksi dalam waktu yang lama. Tapi banyak di antara mereka yang ukuran penisnya betul-betul kecil Ukurannya di bawah standar,” sambung Ferryal.

Ukuran penis tidak normal itu terjadi akibat banyaknya lemak yang menumpuk di perut, khususnya di sekitar alat kelamin itu, membuat alat “vital” seperti tertarik ke dalam. Pada sebagian besar kasus kegemukan, “tarikan ke dalam” itulah yang menyebabkan mereka gagal ereksi atau mengalami disfungsi seksual. “Penis laki-laki berdiri di dasar tulang. Ketika lemak yang ada di depannya makin lama makin menumpuk, penis pun menjadi makin pendek,” Ferryal menambahkan.

Ferryal juga melihat adanya kecenderungan menurunnya minat berhubungan intim pada orang kegemukan. Penyebabnya antara lain terganggunya komposisi hormon laki-laki dan hormon perempuan di dalam tubuh. Padahal, hormon-hormon itulah yang mempengaruhi libido. Jika keseimbangannya terganggu, bisa dipastikan keinginan menghangatkan ranjang bersama istri atau suami akan terganggu. Jika masalah tadi masih ditambah agi dengan rasa frustrasi akibat terbatasnya posisi dan variasi dalam berhubungan seks, hasrat menikmati madu hubungan intim lama-lama kian redup, sampai akhirnya mati sama sekali.

Pada wanita, terganggunya keseimbangan hormon ini bahkan berharga sangat mahal, yakni terganggunya kesuburan. Dalam sebuah seminar, dr. Hendro Pramono Sp.OG dari RSU Dr. Soetomo, Surabaya, menyebut sebuah penelitian, yang memberitakan adanya bahan pada lemak yang berpotensi memicu tumbuhnya beberapa kista di indung telur. “Inilah yang disebut Policystic Ovarium (PCO). Kelainan itu biasanya terjadi pada wanita usia subur,” tulis Hendro dalam makalahnya.

Kelainan itu muncul akibat kecenderungan meningkatnya jumlah hormon androgen (hormon pria) pada wanita gemuk. Jika jumlah hormon androgen mulai menyaingi hormon wanita, banyak hal bisa terjadi. Salah satunya, menghambat proses pematangan sel telur dalam indung telur. Alhasil, sel telur gagal matang dan tidak keluar dari indung telur. Sel-sel telur yang tidak matang itulah yang membentuk kista di dalam indung telur.

MIKRO JADI MAKRO

Pada lelaki, selain mempengaruhi libido, ketidakseimbangan hormon besar kemungkinan ikut menentukan perilaku seseorang. Seperti diketahui, setiap manusia ditakdirkan memiliki hormon laki-laki dan perempuan. Menjadi seperti apa seseorang kelak, tergantung hormon mana yang berkembang lebih dominan. Kalau hormon pria dan hormon wanitanya seimbang, bisa saja yang bersangkutan berkembang menjadi penganut biseksual atau transeksual.

Ferryal memperingatkan, problem keseimbangan hormon pada orang kegemukan harus dilihat dari akar masalahnya. Dia mensinyalir, mulai banyaknya jumlah pasien disfungsi seksual yang masih berusia muda (usia 30- an tahun) berawal dari sesuatu yang tidak beres pada pola pikir masyarakat. “Anak-anak yang overweight dianggap sehat, sehingga selalu dibangga-banggakan orangtuanya,” tegas Ferryal.

Padahal, anak-anak kelebihan gizi itu justru dapat menjadi pelopor lahirnya generasi berdisfungsi seksual kelak. Karena dengan memelihara berat badan berlebihan, berarti mengundang terjadinya degradasi hormon laki-laki. Dengan pola pikir salah yang kian tertanam itu, Loetan tidak kaget, “Belakangan mulai banyak orangtua yang membawa anaknya ke klinik saya. Mereka mengeluh, karena penis anaknya sangat kecil.”

Logikanya, jika hormon laki-laki mulai mengalami degradasi (berkurang), perkembangan penis memang tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Makanya orangtua harus jeli, jika tidak mau menyesal di kemudian hari. Kelebihan berat badan harus diperangi sebelum anak mencapai usia dewasa (17 atau 18 tahun). Karena begitu lewat masa puber atau lewat usia dewasa, penis yang telanjur terhambat perkembangannya akan susah dikembalikan ke ukuran normal.

Setelah dewasa, ketidakseimbangan jumlah harmon laki-laki dan perempuan yang telah dirintis sejak masa kanak-kanak mencapai puncaknya. Jika harmon perempuan yang lebih dominan, si lelaki akan tumbuh menyerupai wanita. Puting suSunya membesar, sementara penis mengecil secara permanen. “Omong kosong kalau ada yang mengaku bisa membesarkan penis orang dewasa,” tegas dokter pemilik klinik “Kamar Sutera” di RS Harapan Bunda ini.

Pada tahap ini, yang bisa dilakukan dokter atau terapis hanyalah berusaha menjaga atau mempertahankan agar penis berukuran di bawah normal itu tetap menjalankan fungsinya dengan baik. Yakni masih bisa “tegang” dan “menembak sasaran” dengan jitu. Vakum bisa saja digunakan, tapi tidak untuk membesarkan penis, hanya untuk memperbaiki pembuluh darah dan saraf-saraf terjepit.

Pengaturan gizi menjadi faktor kunci sebelum pasien disfungsi seksual menjalani terapi untuk mengembalikan hasrat dan kemampuan berhubungan intim. Dengan kata lain, penderita biasanya dianjurkan mengunjungi dokter gizi dulu untuk mengurangi lemak di tubuhnya.
Yang paling ideal, penderita kegemukan dibawa ke klinik sebelum berusia 17 tahun. Ferryal menjamin anak dan remaja overweight itu masih bisa dibantu. “Anak anak dengan mikro penis biasanya diberi terapi hormonal terkontnol, untuk memperbaiki hormon di dalam tubuhnya agar lebih dominan hormon laki-laki. Sehingga penisnya akan berkembang maksimal,” bilang Ferryal.
Setelah terapi itu, berdasarkan pengalaman Fernyal, biasanya penis mikro tidak hanya membesar, tapi juga berkembang lebih besar dari ukuran normal.

5 Petunjuk Penting Buat Si Berat

1. Nasihat paling enak didengar tapi sangat sulit dilaksanakan adalah “berolahraga secara teratur. Tapi hanya inilah cara paling murah untuk memerangi obesitas. Olahraga tak hanya membakar lemak, tapi juga melancarkan peredaran darah. Dengan berolahraga, tubuh menghasilkan hormon endorfin yang menimbulkan rasa nyaman. Olahraga apa yang paling tepat, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.

2. Rajin-rajinlah memeriksakan diri ke dokter, kalau-kalau ada penyakit atau kelainan fisik yang berhubungan dengan bobot badan Anda. Agar penyakit atau kelainan itu bisa segera diantisipasi sebelum telanjur menyebabkan disfungsi seksual.

3. Jalin komunikasi yang baik dengan pasangan di atas ranjang. Penyesuaian-penyesuaian perlu dilakukan, agar sama-sama senang.

4. Hindari makanan-makanan junk food, fast food semacam fried chicken. Besar kemungkinan, ayam-ayam yang disajikan sebelumnya telah diberi suntikan hormon (agar cepat besar). Jika hormon itu masuk ke dalam tubuh manusia, jelas bisa mengganggu keseimbangan hormon yang telah ada.

5. Jangan mudah percaya dengan latihan-latihan atau apa pun yang bersifat fisik untuk memperbesar penis. Jika mengecilnya penis berhubungan dengan ketidakseimbangan hormon, ya hormonnya yang harus diperbaiki. (Intisari)/Kompas

Wanita Obesitas : Beresiko melahirkan bayi rentan penyakit

Satu lagi bukti mengapa wanita hamil perlu melakukan olahraga dan menjaga asupan kalori, karena sebuah studi menunjukkan kalau bayi yang dilahirkan oleh wanita yang kegemukan (obesitas) memerlukan perawatan intensif. Bayi-bayi ini juga lebih rentan terhadap kerusakan tabung syaraf. Demikian menurut the Public Affairs Committe of the Teratology Society yang dimuat dalam situs kesehatan news-medical.net.

Hasil penelitian tersebut membandingkan wanita dengan berat tubuh normal dengan wanita yang memiliki body mass index (BMI) lebih tinggi, bayi yang dilahirkan wanita dengan BMI tinggi beresiko lebih besar terganggu pertumbuhannya. Meskipun operasi penghilangan lemak ternyata bisa meningkatkan kesehatan dan kesuburan wanita gemuk, tetapi tidak dianjurkan untuk melakukan operasi tersebut.

Komite ini merekomendasikan para wanita agar menjaga berat badannya dengan cara memperhatikan jumlah kalori yang dikonsumsi sebelum mereka hamil. Wanita yang kegemukan berpeluang terkena berbagai penyakit, termasuk resiko tidak subur (infertil) dan masalah selama kehamilan, darah tinggi dan diabetes. Pada saat melahirkan, wanita yang obesitas lebih membutuhkan operasi caesar. Sebuah studi di Prancis menemukan bahwa wanita yang kegemukan mengeluarkan biaya lebih besar selama kehamilan dan membutuhkan banyak waktu untuk pemulihan di rumah sakit pasca melahirkan./Kompas

Sindrom Metabolik : Waspadai Kegemukan

Kongres Ke-10 Masyarakat Kesehatan Seksual Eropa di Lisabon, Portugal, 25-28 November 2007 membahas soal disfungsi ereksi.

Organisasi Kesehatan Dunia, Program Edukasi Kolesterol Nasional Amerika Serikat, dan Federasi Kencing Manis Internasional (IDF) telah mendefinisikan sindrom metabolik tersebut.
Seseorang dikatakan mempunyai sindrom metabolik jika mengalami kegemukan di perut atau obesitas sentral, meningkatnya kadar trigliserida di atas 150 mg/dL, turunnya kadar kolesterol HDL (high density lipoprotein) di bawah 40 mg/dL pada laki-laki dan di bawah 50 mg/dL pada perempuan, meningkatnya tekanan darah di atas 130 mm Hg sistolik dan di atas 85 mm Hg diastolik, serta meningkatnya glukosa plasma di atas 100 mg/dL atau telah didiagnosis terkena kencing manis tipe 2.

Apabila sindrom metabolik tidak tertangani secara signifikan, penderita dapat terserang kencing manis tipe 2 serta penyakit jantung dan pembuluh darah atau kardiovaskular. Studi IDF menyebutkan, diperkirakan 20-25 persen dari penduduk dewasa dunia mengalami sindrom metabolik.

Diketahui juga bahwa sindrom metabolik ini berkaitan dengan rendahnya kadar testosteron yang menyebabkan hipogonadisme dan disfungsi ereksi. Hipogonadisme sendiri juga bisa menyebabkan disfungsi ereksi.

Riset AL Burnett tahun 2005 menyebutkan, laki-laki gemuk yang mengalami sindrom metabolik rata-rata kadar testosteronnya 150 mg/dL lebih rendah daripada laki-laki yang tidak mengalami sindrom metabolik. Sindrom metabolik ini berkaitan dengan disfungsi ereksi karena terjadi disfungsi endotel. Jaringan endotel di pembuluh darah ini penting untuk terjadinya proses ereksi.

Riset Raymond C Rosen dan kawan-kawan tahun 2004 menyebutkan bahwa disfungsi ereksi dikenal sebagai indikator sindrom metabolik pada laki-laki di atas 40 tahun. Sebanyak 64 persen laki-laki yang mengalami disfungsi ereksi dilaporkan paling tidak memiliki satu atau lebih sindrom tekanan darah tinggi, penyakit jantung kronis, kolesterol tinggi, kencing manis, atau depresi.

"Jadi disfungsi ereksi ini sekarang menjadi indikator penting masalah kesehatan laki-laki," kata Rosen, guru besar psikiatri dan kesehatan di Robert Wood Johnson Medical School, New Jersey, Amerika Serikat.

Oleh karena itu, disfungsi tidak bisa dianggap enteng. Selain penting untuk kehidupan keluarga yang lebih baik, disfungsi ereksi menjadi petunjuk penting penyakit-penyakit ikutannya. "Pengobatannya dapat berjalan dua-duanya, antara disfungsi ereksi dan kencing manis yang menyebabkannya, seperti di klinik ini," kata Rudi Yuwana.

Khusus untuk disfungsi ereksi, kini telah dikenal tiga obat yang berfungsi sebagai phosphodiesterase type 5 (PDE-5) inhibitor atau penghambat PDE-5.

Menurut L Gooren MD PhD dari Departemen Endokrinologi/Andrologi Universitas VU Amsterdam, Belanda, sesuai namanya, PDE-5 inhibitor itu menghambat enzim phosphodiesterase type 5, yang memperkuat jalan nitrat oksida ke corpora cavernosa, struktur penting yang membentuk ereksi di penis. Jalur ini penting untuk relaksasi otot polos di corpus cavernosum tersebut, yang penting untuk mekanisme ereksi penis.

Salah satu PDE-5 inhibitor adalah sildenafil yang diproduksi Pfizer dengan nama Viagra telah lebih dulu dikenal. Namun, seperti disebut di awal tulisan, sekarang juga dikenal vardenafil yang diproduksi Bayer Schering Pharma dengan nama Levitra dan tadalafil yang diproduksi ICOS dengan nama Cialis. Setiap obat punya kelebihan dan kekurangan. /Kompas

Kegemukan Berisiko Rematik



Obesitas (kegemukan) merupakan salah satu pendorong terjadinya osteoartritis (pengapuran sendi) yang bisa memunculkan rematik. Itu terjadi karena timbunan lemak di tubuh bisa membebani persendian panggul, pinggang, dan (terutama) lutut. Untuk itu, mereka yang kegemukan disarankan untuk lebih sering berolahraga agar mengurangi risiko terjadinya rematik.
Demikian dikatakan dr Yoga Iwanoff Kashmirj, spesialis penyakit dalam dan konsulen rematik pada Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, seusai simposium "Rheumatic Diseases and the New Evidence on Cox 2 Selective Inhibitors" di Balikpapan, Minggu (30/9).

"Pada orang gemuk, persendian panggul, pinggang dan-terutama-lutut terbebani berat badan yang dapat merusak sendi serta menimbulkan osteoartritis," papar Yoga.

Osteoartritis, lanjutnya, merupakan satu dari empat jenis rematik-dari 140-an jenis rematik yang dikenal dunia kedokteran-yang umum diderita orang Indonesia. Tiga yang lainnya adalah Rheumatoid Artritis, Artritis Gout, dan Spondilitis Ankilosing.

Tampil juga sebagai pembicara dalam simposium tersebut adalah dr Riardi Pramudiyo Sp PD KR dari RS Hasan Sadikin Bandung dan dr Shahril Shahibu SpB dari RS Pertamina Balikpapan. Simposium yang disponsori oleh sebuah perusahaan farmasi itu diikuti 204 dokter umum dan spesialis dari seluruh Kaltim.

Masalah kesehatan

Berdasarkan penelitian, kata dr Shahril Shahibu, rematik merupakan masalah kesehatan masyarakat yang bisa mengurangi produktivitasnya. Sebab, 75 persen penduduk pedesaan dan 78 persen penduduk perkotaan berpotensi mengidap rematik.

"Rematik merupakan suatu sindroma dengan tiga keluhan utama, yaitu nyeri, kaku, dan kelemahan sendi. Terdapat tiga gejala rematik, yakni pembengkakan sendi, kelemahan otot, dan gangguan gerak sendi," tambah Shahril.

Yoga dalam kesempatan itu juga membantah anggapan masyarakat tentang penyebab rematik yang-menurut dia- tidak berdasar. Mandi dengan air dingin pada malam hari misalnya, ucap Yoga, bukanlah menjadi penyebab rematik. "Kalau sudah terkena rematik, kemudian mandi dengan air dingin, ya tambah nyeri," katanya.

Tentang kebiasaan makan, Yoga menjelaskan, hanya ada satu jenis rematik yang disebabkan oleh pola makan, yaitu Artritis Gout (rematik pada persendian kaki). "Itu pun tidak serta-merta disebabkan oleh kebiasaan mengonsumsi makanan tertentu. Akan tetapi, sebaiknya menghindari, makan jeroan, kembang kol, brokoli, asparagus, melinjo, dan sea food," ucapnya.

Untuk mengatasi rematik, Yoga menyarankan penggunaan obat yang mengandung Cox 2, karena tidak memiliki efek samping seperti gangguan lambung dan ginjal. "Dengan Cox 2 yang memiliki efek terapi, nyeri pencernaan dan ginjal berkurang," demikian Yoga./Kompas

Awas, Gula Buah Picu Kegemukan

Fruktosa atau gula yang banyak ditemukan dalam buah-buahan, madu, dan pemanis dari sari jagung memiliki efek yang merugikan bagi tubuh manusia. Zat yang sering disebut gula buah mungkin menipu tubuh sehingga seolah merasa lebih lapar dari kondisi sesungguhnya, demikian hasil penelitian. Temuan ini dapat menjelaskan mengapa pemanis makanan dapat memicu kegemukan di berbagai wilayah dunia.

Dalam penelitian yang dilakukan terhadap tikus, para peneliti dari University of Florida memastikan peran fruktosa dalam reaksi tubuh. Zat tersebut berperan dalam reaksi rantai biokimia yang menyebabkan peningkatan berat tubuh dan berbagai karakteristik sindrom metabolisme yang merupakan tanda-tanda awal diabetes tipe 2.

Para peneliti juga menemukan bahwa fruktosa juga dapat menyebabkan peningkatan kandungan asam urat dalam darah. peningkatan yang terjadi sewaktu-waktu akan menghentikan kerja insulin, hormon yang mengatur fungsi sel tubuh dalam menggunakan dan menyimpan gula sebagai sumber energi.

Jika peningkatan kandungan asam urat terjadi terus-menerus, pengaruh buruk sindrom metabolisme akan semakin bertambah. Dampaknya antara lain kegemukan, peningkatan kolesterol darah, dan tekanan darah tinggi.

"Ketika kita menekan atau menurunkan kandungan asam urat, kita akan mampu mencegah atau mengurangi sindrom metabolisme ini," kata Dr. Richard Johnson, profesor ilmu ginjal dan penyekit dalam dari College of Medicine, University of Florida. Dengan cara menyuntikkan insulin, mereka mampu menurunkan berat badan dan menurunkan kenaikan kandungan trigliserida (lemak) di darah. Tubuh tikus juga tidak memperlihatkan penolakan terhadap insulin tambahan dan tekanan darahnya normal.

Hasil peneltiian ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Clinical Practice Nephrology edisi Desember. /Kompas

Awas, Gula Buah Picu Kegemukan

Fruktosa atau gula yang banyak ditemukan dalam buah-buahan, madu, dan pemanis dari sari jagung memiliki efek yang merugikan bagi tubuh manusia. Zat yang sering disebut gula buah mungkin menipu tubuh sehingga seolah merasa lebih lapar dari kondisi sesungguhnya, demikian hasil penelitian. Temuan ini dapat menjelaskan mengapa pemanis makanan dapat memicu kegemukan di berbagai wilayah dunia.

Dalam penelitian yang dilakukan terhadap tikus, para peneliti dari University of Florida memastikan peran fruktosa dalam reaksi tubuh. Zat tersebut berperan dalam reaksi rantai biokimia yang menyebabkan peningkatan berat tubuh dan berbagai karakteristik sindrom metabolisme yang merupakan tanda-tanda awal diabetes tipe 2.

Para peneliti juga menemukan bahwa fruktosa juga dapat menyebabkan peningkatan kandungan asam urat dalam darah. peningkatan yang terjadi sewaktu-waktu akan menghentikan kerja insulin, hormon yang mengatur fungsi sel tubuh dalam menggunakan dan menyimpan gula sebagai sumber energi.

Jika peningkatan kandungan asam urat terjadi terus-menerus, pengaruh buruk sindrom metabolisme akan semakin bertambah. Dampaknya antara lain kegemukan, peningkatan kolesterol darah, dan tekanan darah tinggi.

"Ketika kita menekan atau menurunkan kandungan asam urat, kita akan mampu mencegah atau mengurangi sindrom metabolisme ini," kata Dr. Richard Johnson, profesor ilmu ginjal dan penyekit dalam dari College of Medicine, University of Florida. Dengan cara menyuntikkan insulin, mereka mampu menurunkan berat badan dan menurunkan kenaikan kandungan trigliserida (lemak) di darah. Tubuh tikus juga tidak memperlihatkan penolakan terhadap insulin tambahan dan tekanan darahnya normal.

Hasil peneltiian ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Clinical Practice Nephrology edisi Desember. /Kompas