Showing posts with label Seputar obat farmasi. Show all posts
Showing posts with label Seputar obat farmasi. Show all posts

Tuesday, September 1, 2009

Bijak Memakai Antibiotik

Entah berapa kali Bobi, 28 tahun, harus terjaga dari tidurnya karena serangan batuk yang membuat tenggorokannya gatal bukan main. Sudah sepekan lebih ia ditemani penyakit yang kerap mampir ketika terjadi perubahan cuaca. Ia sudah meneguk obat batuk generik, tetapi derita itu tak kunjung berakhir. Biasanya, bila berlarut-larut seperti itu, Bobi mengkonsumsi antibiotik yang bisa dibelinya tanpa resep dokter di apotek. Dengan cara itu, kerongkongannya dengan cepat menjadi plong dan batuknya sirna. Bila sudah membaik seperti itu, ia pun berhenti menelan antibiotik.


Kasus di atas, menurut Ketua Indonesian Antimicrobial Resistance Watch (IARW), Profesor Robert Utji, sudah sejak lama dijalani masyarakat Indonesia. "Tanpa resep dokter, kemungkinan sembuh memang ada, tetapi tidak tuntas," katanya saat jumpa media Simposium ke-5 Indonesian Antimicrobials Resistance Watch (IARW), di Departemen Mikrobiologi Universitas Indonesia, pekan silam.


Pada penyakit batuk, antibiotik sebetulnya berperan bukan sebagai obat untuk batuk ataupun gejalanya. Antibiotik bekerja untuk meredakan infeksi yang menyebabkan atau disebabkan batuk. "Masalahnya, apakah dosisnya kurang atau lebih, mereka kurang tahu," ujar Utji. Patut dicamkan pula, antibiotik hanya mujarab meredakan infeksi akibat bakteri. Bukan virus, jamur, atau nonbakteri lain.

Lebih lanjut ia mengingatkan, kendati sudah merasa sehat, pemakaian antibiotik jangan dihentikan di tengah jalan. Aksi seperti itu bisa menyebabkan tidak semua kuman musnah dan membuat peluang bakteri resistan terhadap antibiotik tersebut. Di lain pihak, konsumsi berlebihan juga bakal menyebabkan kuman yang tidak terbunuh, bermutasi, dan menjadi kebal. "Kuman ini disebut super bug. Contohnya, stafilokokus aureus," ujar ahli mikrobiologi Universitas Indonesia Profesor Usman Chatib Warsa, dalam kesempatan yang sama.

Terdapat pula kecenderungan kuman tidak cuma kebal terhadap satu jenis antibiotik. Kuman ini dikategorikan sebagai multidrug-resistant organisms. Jika sudah ke tahap itu, kuman kerap lolos dari penetrasi sistem imunitas karena telah teralienasi dari tubuh sehingga sulit dikenali. Artinya, saat tubuh terinfeksi, baru dapat diobati dengan generasi antibiotik yang lebih kuat. "Kini pemakaian antibiotik generasi dua dan tiga telah marak walau pasien sakitnya ringan," ucap Usman.

Dahulu, penyakit infeksi mudah teratasi cuma dengan minum penisilin. Tetapi, dengan kehadiran ragam antibiotik generasi baru, seperti cephalosporin, dapat membunuh semua jenis bakteri di dalam tubuh, tetapi membuat kuman semakin kebal pula. "Jangan memakai antibiotik untuk penyakit batuk, flu, diare, bahkan demam berdarah," Usman menegaskan. Masalahnya, penemuan antibiotik baru tidaklah secepat meluasnya kejadian resistensinya.

Belum lagi, efek berantai ini berlanjut saat para peternak memakai antibiotik sebagai campuran pakan ternak mereka. Feses sapi atau ayam, yang mengandung kuman tertentu, akan meluas ke mana-mana. Bahkan, peternak ikan memakai antibiotik buat membunuh kuman dalam kolam. Di lain sisi, euforia antibiotik yang melibatkan pasien, rumah sakit, apotek, perusahaan farmasi, juga warung pinggir jalan, terus merebak. Tidak jarang resep antibiotik diminta si pasien sendiri.

Karena itu, dalam siaran persnya, Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menyebutkan bahwa penyakit infeksi merupakan salah satu penyebab kematian utama di Indonesia. Dijelaskan Usman, banyak pasien meninggal diakibatkan kuman rumah sakit yang telah menyebar ke khalayak. "Pasien sudah kebal dengan antibiotik yang ada."

Profesor Utji mengutarakan, ada kasus anak meninggal disebabkan masalah resistensi kuman. Di salah satu rumah sakit swasta Jakarta pada 1990-an, terdapat pasien anak yang menderita infeksi darah. Setelah diperiksa darahnya, ditemukan kuman gram negatif. Lalu, diuji dengan antibiotik, hasilnya sebagian besar tidak bisa membunuh kuman yang bersarang itu.

Untuk menolong nyawa si anak, cuma ada tiga macam antibiotik, yaitu kinolon, aminoglikosida, dan beta-laktam. Namun, pertimbangannya begitu berat. Obat itu tidak boleh dipakai di bawah usia 18 tahun. Sebab, bisa menyerang tulang rawan dan ginjal. Belum lagi harganya yang selangit. "Asuransi kalau sudah begitu tidak mau bayar," ujar Utji.

Contoh semacam ini bukan tidak muskil merebak luas. Di Negeri Abang Sam, pada 1999 hingga 2004, kematian akibat infeksi mencapai 280 ribu jiwa. "Angka ini lebih tinggi dari angka kematian kasus flu burung dan HIV/AIDS," Usman mengungkapkan. Saking bahayanya, Australia menerapkan kebijakan, orang dengan multi-resistant tidak boleh masuk bangsal rumah sakit.

Di Indonesia sendiri, mantan Rektor UI ini mencatat, ada ratusan ribu kasus hingga saat ini. Perbandingannya, jika 120-an orang dengan flu burung, 80 persennya berakhir dengan kematian. Maka, dalam kasus infeksi oleh Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA), 50 persen berakhir pada kematian.

Ke depan, jika kondisi ini berlarut, bakal tercipta zaman saat antibiotik tidak berfungsi lagi. Penyakit ringan seperti koreng atau bisul menjadi kronis karena tidak dapat diobati. Yang pasti, ongkos berobat bakal menjulang tinggi. Inilah saatnya generasi obat antibiotik terus memperbarui diri. Sesungguhnya obat antibiotik tetap diperlukan, tetapi di bawah pengawasan dokter. Masalah besarnya ada pada penertiban penjualan obat antibiotik liar yang harus dilakukan Departemen Kesehatan dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan.

5 Cara Tepat

1. Minum antibiotik di bawah pengawasan dokter.
2. Minum resep antibiotik sampai habis, sesuai yang diresepkan.
3. Jangan minum resep antibiotik orang lain.
4. Jangan minta antibiotik jika dokter mendiagnosis Anda terserang penyakit yang disebabkan virus.
5. Tanya kepada dokter alasan pemberian antibiotik bila diberi resep obat jenis ini.(tempointeraktif)

Antibiotik : Bila Kawan Menjadi Lawan

Hartono tak habis pikir. Sepulang dari rumah sakit sehabis perawatan sepekan, ia dijejali 12 jenis obat—sebagian besar jenis antibiotik. Pria 40 tahunan ini dirawat karena ”tumbang” akibat komplikasi penyakit maag akut dan demam berdarah. Hartono—bukan nama sebenarnya—serba salah: obat tak diminum, takut penyakit kambuh. Tapi, kalau ditelan semua, ”Takut ada efek samping,” keluhnya.

Masih banyak pasien lain yang dilanda kebingungan serupa. Ada juga yang mandek minum antibiotik, menganggap tak perlu lagi karena penyakitnya sudah sembuh. Padahal problemnya sebetulnya lebih dari itu. Selain bisa menimbulkan dampak samping, antibiotik bisa menyebabkan kuman jadi kebal. Walhasil, muncullah mikroba baru yang menyebabkan penyakit lain.


Soal antibiotik yang bisa menjadi bumerang bagi kesehatan tubuh bila tidak dikonsumsi secara tepat benar itu menjadi topik penelitian Prijambodo. Dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Solo, Senin pekan lalu, dia menyampaikan tema ”Peran Laboratorium Mikrobiologi Klinik dalam Upaya Pengendalian Resistensi Mikroba terhadap Antibiotika di Rumah Sakit”.


Ahli mikrobiologi ini menyatakan jenis penyakit yang disebabkan infeksi memang berkurang dari tahun ke tahun. Penyakit yang banyak menyerang di negara berkembang ini belakangan kian tergusur oleh penyakit lain seperti stroke, jantung koroner, dan diabetes.

Jumlah penyakit infeksi menyusut, namun kualitasnya justru meningkat alias lebih berbahaya. Biang keladinya apa lagi jika bukan konsumsi antibiotik yang keliru. Menurut Prijambodo, belakangan sering muncul penyakit baru dengan mikroba yang belum diketahui jelas jenisnya. Banyak juga kasus yang diletupkan oleh mikroba yang sebenarnya pernah dinyatakan hilang namun muncul kembali. ”Misalnya polio yang tiba-tiba merebak lagi,” kata Prijambodo.

Bahkan ada beberapa mikroorganisme yang biasanya menyerang binatang kini juga mulai menjangkiti manusia. Juga banyak ditemukan bakteri yang kebal terhadap antibiotik. Penyebabnya, ya, penggunaan antibiotik tak tepat itu tadi.

Antibiotik sendiri, menurut dokter spesialis anak Purnamawati S. Pudjiarto, adalah suatu zat yang bisa membunuh atau melemahkan suatu makhluk hidup, yaitu mikroorganisme (jasad renik) seperti bakteri, parasit, atau jamur. Ada antibiotik spektrum sempit yang digunakan membantai bakteri yang sudah diketahui atau dikenal; ada yang spektrum luas untuk membunuh bakteri yang belum diketahui.

Menurut dokter pendiri Yayasan Orang Tua Peduli ini, pemahaman seperti itu seharusnya menjadi patokan bagi para dokter maupun pasien dalam pemilihan antibiotik. Lagi pula, tak semua keluhan mesti diatasi dengan antibiotik. Sebab, sejak lahir manusia sudah dibekali sistem imunitas yang canggih.

Ketika infeksi menyerang, sistem kekebalan tubuh terlecut untuk bekerja lebih keras. Infeksi karena virus hanya bisa diatasi dengan meningkatkan sistem imunitas tubuh, antara lain dengan makan baik dan istirahat cukup, serta diberi obat penurun panas jika suhu tubuh di atas 38,5 derajat Celsius. ”Kecuali kalau kita punya gangguan sistem imun seperti pengidap HIV dan AIDS,” ujar dokter yang juga pengelola mailing list kesehatan itu.

Adapun Prijambodo menyebut bakteri sebagai makhluk cerdas. Maksudnya, setiap kali diserang antibiotik, si bakteri akan mengeluarkan semacam enzim perlindungan diri yang juga dibagikan kepada sesamanya. Konsumsi antibiotik dalam dosis tepat akan membuat bakteri gagal mengeluarkan enzim, apalagi menyebarkan ke teman-temannya. Namun, jika antibiotiknya salah jenis, kelebihan atau kekurangan dosis, bakteri akan makin ”dermawan” menyebarkan enzim sehingga makin tak mempan dihajar antibiotik.

Penyakit yang ditimbulkan bakteri ini sangat mudah menular dalam lingkungan masyarakat. Lebih gawat lagi, infeksi juga mudah menyebar di rumah sakit. Pasien rawat inap kerap diserang penyakit lain, yang disebut infeksi nosokomial.

Masyarakat sebagai konsumen kesehatan juga ikut memberikan andil dalam permasalahan besar ini. Sering mereka menggunakan antibiotik tanpa mempedulikan dosisnya. ”Banyak yang langsung menghentikan pemakaian antibiotik begitu gejala infeksinya hilang,” kata Prijambodo. Walhasil, bukannya musnah, kuman malah jadi resisten terhadap antibiotik. Padahal penggunaan antibiotik idealnya dilakukan selama tiga hari, untuk memastikan semua bakteri musnah.

Prijambodo mencontohkan orang yang sering ke tempat pelacuran kerap menenggak super-tetra saat tertular gonorrhea. Pengidap penyakit kelamin itu sering berhenti di tengah jalan sebelum obat ini habis. Yang lebih konyol, katanya, ada yang minum super-tetra tiap kali bertandang ke kompleks pelacuran. Akibatnya, kini penyakit gonorrhea tak lagi mempan diberangus dengan super-tetra.

Masalah lunturnya kedigdayaan antibiotik ini sebetulnya telah lama jadi keprihatinan dunia. Pada 1995, The American Medical Association mempersoalkan hadirnya kuman yang kebal terhadap semua antibiotik. Dan tidak semuanya salah si pasien penenggak antibiotik. Dokter pemberinya juga turut memberikan andil.

Banyak tenaga medis yang menyimpulkan pasiennya terkena infeksi hanya berdasarkan pada diagnosis klinis, tanpa disertai diagnosis penyebab atau aspek mikrobiologis. Selain itu, kata Prijambodo, pengobatan dengan penggunaan antibiotik hanya berpegang pada informasi dari perusahaan farmasi. Semua kekeliruan ini berakibat pada penggunaan antibiotik yang tidak tepat sasaran dan justru mengubah pola kuman penyebab infeksi.

Hal serupa dikumandangkan Purnamawati. Selama ini, banyak pasien yang datang ke dokter identik dengan meminta obat. Nah, demi memenuhi tuntutan adanya obat manjur, banyak dokter yang dengan mudah meresepkan antibiotik. Maka antibiotik pun seolah jadi ”obat dewa” yang mujarab. Apalagi bagi pasien kanak-kanak.

Para bocah sangat mudah tertular selesma, batuk, diare, dan gangguan tenggorokan. Umumnya penyakit itu disebabkan virus atau makanan yang banyak mengandung zat sintetis. ”Hanya 15 persen radang tenggorokan yang disebabkan bakteri,” kata Prijambodo. Namun, dalam prakteknya, banyak dokter yang meresepkan antibiotik untuk penyakit anak yang sebenarnya disebabkan virus.

Jalan keluarnya hanya satu: pencegahan resistensi bakteri terhadap antibiotik. Prijambodo menyarankan lembaga medis perlu memiliki laboratorium mikrobiologi klinis yang bermutu dengan standar baku dan jaminan mutu. Selain itu, rumah sakit sebaiknya melakukan pengawasan ketat terhadap perputaran antibiotik di lingkungannya. ”Idealnya, jenis obat antibiotik perlu dibatasi,” kata Prijambodo.

Masyarakat pun harus kritis dalam mengkonsumsi antibiotik. Selain tak boleh ditenggak tanpa pengawasan dokter, antibiotik tak boleh dianggap sebagai ”obat dewa” yang mujarab bagi semua penyakit. Dengan perilaku keliru dalam mengkonsumsi antibiotik, Prijambodo khawatir, makin banyak antibiotik jadi tak berguna, dan makin banyak pula muncul penyakit baru.(tempointeraktif)

Thursday, March 5, 2009

Obat Serbu : Obat Asma


Komposisi
Tiap tablet mengandung :
Theophyline anhydrous……………… 130 mg
Ephedrine HCl…………………………12.5 mg

Cara Kerja
Theophyline merupakan turunan metal xantin yang mempunyai efek antara lain merangsang susunan saraf pusat dan melemaskan otot polos, terutama bronkus. Ephedrine bekerja mempengaruhi system saraf adrenergic secara langsung maupun tidak langsung. Theophyline dan ephedrine merupakan bronkodilator.

Indikasi
Untuk meringankan dan mengatasi serangan asma bronchial.

Dosis
Dewasa : 1 tablet, 3 kali sehari
Anak-anak 6 – 12 tahun : ½ tablet, 3 kali sehari sesudah makan
Atau menurut petunjuk dokter

Efek Samping
Gastrointestinal : mual, muntah, diare
Susunan saraf pusat : sakit kepala, insomnia
Kardiovaskuler : palpitasi, takikardia, aritmia ventrikuler
Pernafasan : Tachypnea
Lain-lain : ruam kulit, hiperglikemi.

Kontraindikasi
Penderita yang hipersensitif terhadap theophyline dan ephedrine
Penderita tukak lambung hipertiroid, penyakit jantung, diabetes dan hipertensi.

Interaksi Obat
Penggunaan bersama dengan Phenobarbital dan rokok akan mengurangi keampuhan theophyline, sementara itu troleandomycin, lincomycin, erythromycin, clindamycin, cimetidine, vaksin influenza, allopurinol dan tiabendazole, kontrasepsi oral akan meningkatkan efek dari theophylline. Rifampicin menurunkan serum theophylline. Penggunaan bersama dengan furosemide, digitalis dan turunan xantin yang lain, phenytoin dan beta adrenergic blocking harus dihindari.

Penggunaan bersama dengan ephedrine dan simpatomimetik yang lain mungkin dapat menimbulkan efek tambahan dan meningkatkan toksisitas. Penghambat Monoamine Oksidase (MAO), antiderpesi trisiklik, guanethidine, dan reserpine jangan digunakan bersamaan dengan ephedrine.

Cara Penyimpanan
Simpan di bawah 30oC

Perhatian
Hati-hati pemberian pada penderita hipoksemia, penderita gangguan fungsi hati dan ginjal, penderita di atas 55 tahun terutama pria dan penderita penyakit paru-paru kronik.

Hati-hati pemberian pada wanita hamil, menyusui dan anak-anak.

Jangan melampaui dosis yang dianjurkan dan bila dalam 1 (satu) jam gejala-gejalanya masih tetap atau bertambah buruk, agar menghubungi dokter atau Rumah Sakit terdekat.

Dapat terjadi retensi urine pada penderita hipertrofi prostate dan dapat mengiritasi saluran gastrointestinal.

Bila belum pernah menggunakan obat ini agar konsultasikan dahulu ke dokter untuk memastikan bahwa anda menderita asma.

Hentikan penggunaan obat ini jika terjadi jantung berdebar-debar.

Kemasan : 1 Strip @ 6 Tablet
No. Registrasi : DTS0720933710A1
(indofarma)

Obat Serbu : Obat Cacing


Komposisi
Tiap tablet kunyah mengandung :
Mebendazole ………….. 500 mg

Indikasi
Mebendazole digunakan untuk pengobatan penyakit kecacingan seperti ; Ascariasis (cacing gelang), Trichuriasis (cacing cambuk), Enterobiasis (cacing kremi), Ancylostomiasis (cacing tambang), Necatoriasis (cacing tambang), infeksi campuran cacing tersebut di atas.

Dosis
Dosis anak di atas 5 tahun sama dengan dewasa, untuk jenis cacing sebagai berikut :
Ascariasis (cacing gelang) : 1 tablet kunyah 500 mg dosis tunggal, cukup 1 tablet sekali sehari
Trichuriasis (cacing cambuk) : 1 tablet kunyah 500 mg dosis tunggal, cukup 1 tablet sekali sehari
Enterobiasis (cacing kremi) : 1 tablet kunyah 500 mg dosis tunggal, cukup 1 tablet sekali sehari
Ancylostomiasis / Necatoriasis (cacing tambang) : 1 tablet kunyah 500 mg dosis tunggal, cukup 1 tablet sekali sehari
Infeksi campuran : 1 tablet kunyah 500 mg dosis tunggal, cukup 1 tablet sekali sehari

Efek Samping
Kadang-kadang terjadi nyeri perut, diare, sakit kepala, demam, gatal-gatal, ruam kulit.

Interaksi Obat
Meningkatkan kerja insulin yang diberikan secara eksogen dan obat-obat hipoglikemik oral.

Interaksi Obat
Meningkatkan kerja insulin yang diberikan secara eksogen dan obat-obat hipoglikemik oral.

Cara Penyimpanan
Simpan di bawah 30oC

Perhatian
Tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan
Ibu yang menyusui agar menghentikan pemberian ASI kepada anaknya selama menggunakan obat ini.

Mebedazole kadang-kadang dapat meningkatkan sekresi insulin dalam tubuh, sehingga pada penderita diabetes mellitus harus hati-hati apabila diberikan bersama-sama dengan insulin atau obat-obat antidiabetik oral.

Pada pemakaian jangka lama dan dosis besar akan timbul kemungkinan terjadinya neutropenia (penurunan salah satu jenis sel-sel darah putih), yang akan kembali normal bila pengobatan dihentikan (reversible).

Karena pada percobaan binatang terbukti mempunyai efek teratogenik dan embriotoksik (dapat menimbulkan kelainan pada janin), mebendazole tidak boleh digunakan pada wanita hamil.
Belum banyak penelitian pemakaian pada anak umur di bawah lima tahun sehingga keamanan obat ini belum diketahui dengan pasti, oleh karena itu mebendazole tidak boleh diberikan pada anak umur di bawah lima tahun.

Pada infeksi cacing gelang berat bisa terjadi penyumbatan usus oleh cacing gelang dewasa bahkan cacing tersebut bisa melakukan migrasi ke mulut atau keluar dengan tinja.
Kemasan : 1 Blister @ 1 Tablet Kunyah
No. Registrasi : DTS0720933263A1

Obat Serbu : Obat Cacing Anak


Komposisi
Tiap sachet (7ml) mengandung :
Mebendazole ………….. 100 mg

Indikasi
Mebendazole digunakan untuk pengobatan penyakit kecacingan seperti di bawah ini:
Ascariasis (cacing gelang),
Trichuriasis (cacing cambuk),
Enterobiasis (cacing kremi),
Ancylostomiasis (cacing tambang),
Necatoriasis (cacing tambang),
infeksi campuran cacing tersebut di atas.

Dosis
Anak di atas 5 tahun :
Ascariasis : 1 sachet, 2 kali sehari selama 3 hari
Trichuriasis : 1 sachet, 2 kali sehari selama 3 hari
Enterobiasis : 1 sachet, 1 kali sehari
Ancylostomiasis/ Necatoriasis : 1 sachet, 2 kali sehari selama 3 hari
Infeksi campuran : 1 sachet, 2 kali sehari selama 3 hari

Efek Samping
Kadang-kadang terjadi nyeri perut, diare, sakit kepala, demam, gatal-gatal, ruam kulit.

Interaksi Obat
Meningkatkan kerja insulin yang diberikan secara eksogen dan obat-obat hipoglikemik oral.

Cara Penyimpanan
Simpan di tempat sejuk (15-25oC)
Perhatian
Tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan.

Ibu yang menyusui agar menghentikan pemberian ASI kepada anaknya selama menggunakan obat ini.

Mebedazole kadang-kadang dapat meningkatkan sekresi insulin dalam tubuh, sehingga pada penderita diabetes mellitus harus hati-hati apabila diberikan bersama-sama dengan insulin atau obat-obat antidiabetik oral

Pada pemakaian jangka lama dan dosis besar akan timbul kemungkinan terjadinya neutropenia (penurunan salah satu jenis sel-sel darah putih), yang akan kembali normal bila pengobatan dihentikan (reversible).

Karena pada percobaan binatang terbukti mempunyai efek teratogenik dan embriotoksik (dapat menimbulkan kelainan pada janin), mebendazole tidak boleh digunakan pada wanita hamil.
Belum banyak penelitian pemakaian pada anak umur di bawah lima tahun sehingga keamanan obat ini belum diketahui dengan pasti, oleh karena itu mebendazole tidak boleh diberikan pada anak umur di bawah lima tahun.

Pada infeksi cacing gelang berat bisa terjadi penyumbatan usus oleh cacing gelang dewasa bahkan cacing tersebut bisa melakukan migrasi ke mulut atau keluar dengan tinja.

KOCOK TERLEBIH DAHULU

Kemasan : 1 Sachet
No. Registrasi : DTS0720933133A1
(indofarma)

Obat Serbu : Obat Batuk Berdahak


Komposisi
Tiap tablet mengandung :
Bromhexine HCl……………….……….… 8 mg
Glyceril guaiacolate…………………….100 mg
Cara Kerja
Bekerja sebagai mukolitik dan ekspektoran

Indikasi
Mengencerkan dahak dan meredakan batuk berdahak.
Dosis
Dewasa dan anak>12 tahun : 1 tablet, 3 kali sehari
Anak 6 – 12 tahun : ½ tablet, 3 kali sehari
Anak 2 – 6 tahun : ¼ tablet, 3 kali sehari
Atau sesuai petunjuk dokter

Efek Samping
Dapat terjadi efek samping sebagai berikut : mual, diare, gangguan pencernaan, perasaan penuh di perut, tetapi biasanya ringan.

Pernah dilaporkan efek samping : sakit kepala, vertigo, berkeringat banyak dan ruam kulit, juga dapat terjadi kenaikan transaminase.

Kontraindikasi
Penderita yang hipersensitif terhadap Bromhexine HCl dan komponen lain obat ini.

Interaksi Obat
Pemberian bersama-sama dengan antibiotika (amoxicillin, cefuroxim, doxycycline) akan menimbulkan konsentrasi antibiotika

Cara Penyimpanan
Simpan di bawah 30oC
Perhatian
Hindari penggunaan obat ini pada masa tiga bulan pertama kehamilan dan pada masa menyusui.
Hati-hati penggunaan pada penderita tukak lambung
Kemasan : 1 Strip @ 6 Tablet
No. Registrasi : DTS0720933410A1
(indofarma)

Obat Serbu : Obat Batuk Cair

Komposisi
Tiap sachet (7 ml) mengandung :
Glyceryl guaiacolate ……………. 100 mg
Dextromethorphane HBr…………..15 mg
Chlorpheniramine maleate…….....…2 mg

Cara Kerja
Bekerja sebagai antitusif, ekspektoran, antihistamin.

Indikasi
Untuk meredakan batuk
Dosis
Dewasa : 1 sachet, 3 kali sehari

Efek Samping
Mengantuk, gangguan percernaan, mulut kering, retensi urine.

Kontraindikasi
Hipersensitifitas terhadap salah satu komponen obat ini.

Cara Penyimpanan
Simpan di bawah 30oC
Perhatian
Hati-hati penggunaan pada penderita dengan gangguan fungsi hati dan ginjal, glaucoma, hipertrofi prostate, hipertiroid dan retensi urine.

Tidak dianjurkan penggunaan pada anak-anak usia di bawah 6 tahun, wanita hamil dan menyusui, kecuali atas petunjuk dokter.

Hati-hati penggunaan bersamaan dengan obat-obat lain yang menekan susunan saraf pusat.

Selama minum obat ini tidak boleh mengendarai kendaraan bermotor atau menjalankan mesin.

Hati-hati pada penderita debil dan hipoksia (kekurangan oksigen).

Dapat menyebabkan depresi pernafasan dan susunan saraf pusat pada penggunaan dengan dosis besar atau pada pasien dengan gangguan fungsi pernafasan (missal : asma, emfisema).

Dapat menyebabkan kantuk

Kemasan : 1 amplop @ 3 Sachet
No. Registrasi : DTS0720932537A1

Obat Serbu : Obat Batuk dan Flu


Komposisi
Tiap kaptab mengandung :
Paracetamol ……………..… 500 mg
Pseudoephedrine HCl…………30 mg
Dextromethorphan HBr…...……15 mg

Cara Kerja
Bekerja sebagai analgesik-antipiretik, antitusif dan dekongestan hidung.

Indikasi
Untuk meredakan gejala hidung tersumbat, batuk yang tidak berdahak dan demam yang menyertai influenza.

Dosis
Dewasa : 1 kaptab, 3 kali sehari
Jangan diberikan kepada anak-anak di bawah 12 tahun, kecuali atas petunjuk dokter.

Efek Samping
Kadang-kadang dapat menyebabkan takikardia (jantung berdebar), dyspepsia, kemerahan pada kulit, depresi pernafasan dan susunan saraf pusat, mengantuk, konstipasi, mual, pusing.
Insomnia, gelisah, eksitasi, tremor, aritmia, mulut kering, palpitasi, retensi urine. Penggunaan dosis besar dalam jangka panjang menyebabkan kerusakan hati.

Kontraindikasi
Lihat kotak peringatan
Penderita hipersensitif terhadap komponen obat ini.
Penderita dengan gangguan fungsi hati yang berat.

Interaksi Obat
Penggunaan bersama antidepressant tipe penghambat MAO dapat mengakibatkan krisis hipertensi.

Cara Penyimpanan
Simpan di bawah 30oC

Perhatian
Tidak boleh diberikan pada penderita yang peka terhadap obat simpatomimetik lain (misal : phedrine, propanolamine, phenylephrine), penderita tekanan darah tinggi berat dan yang mendapat terapi obat antidepresan tipe penghambat Monoamin Oksidase (MAO).

Tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan.
Hati-hati penggunaan pada penderita tekanan darah tinggi atau yang mempunyai potensi tekanan darah tinggi atau stroke seperti pada penderitan dengan berat badan berlebih (overweight) atau penderita usia lanjut.

Bila dalam 3 hari gejala flu tidak berkurang, segera hubungi dokter atau Unit Pelayanan Kesehatan

Hentikan penggunaan obat ini jika terjadi susah tidur, jantung berdebar dan pusing.

Hati-hati penggunaan pada penderita dengan gangguan fungsi hati dan ginjal, glaukoma, hipertrofi prostate, hipertiroid, dan retensi urine.

Tidak dianjurkan untuk anak-anak di bawah 2 tahun, wanita hamil dan menyusui kecuali atas petunjuk dokter.

Penggunaan pada penderita yang mengkonsumsi alkohol dapat meningkatkan resiko kerusakan fungsi hati.

Hati-hati pada penderita debil dan hipoksia (kekurangan oksigen).

Dapat menyebabkan depresi pernafasan dan susunan saraf pusat pada penggunaan dengan dosis besar atau pada pasien dengan gangguan fungsi pernafasan (misal asma, emfisema)

Kemasan : 1 Blister @ 6 Kaptab
No. Registrasi : DTS0720933504A1
(indofarma)

Obat Serbu : Obat Flu

Komposisi
Tiap tablet mengandung :
Paracetamol ……………… 500 mg
Pseudoefedrin………..……...30 mg
Chlorpheniramin maleat……12 mg

Cara Kerja
Bekerja sebagai analgesic-antipiretik, antihistamin dan dekongestan hidung
Indikasi
Untuk meringankan gejala flu seperti demam, sakit kepala, hidung tersumbat dan bersin-bersin.
Dosis
Dewasa : 1 kaptab, 3 kali sehari
Anak-anak : 6-12 tahun : ½ kaptab, 3 kali sehari

Efek Samping
Mengantuk, gangguan pencernaan, sakit kepala, insomnia, gelisah, eksitasi, tremor, takikardi, aritmia ventrikel, mulut kering, palpitasi, sulit berkemih.
Penggunaan dosis besar dan jangka panjang menyebabkan kerusakan hati.

Kontraindikasi

Lihat kotak peringatan
Penderita yang hipersensitif terhadap komponen obat
Penderita dengan gangguan fungsi hati yang berat
Penderita dengan gangguan jantung dan diabetes mellitus

Interaksi Obat
Penggunaan bersama antidepresan tipe penghambat MAO dapat mengakibatkan krisis hipertensi.

Cara penyimpanan
Simpan di bawah 30oC

Perhatian
Tidak boleh diberikan pada penderita yang peka terhadap obat simpatomimetik lain (misal : ephedrine, propanolamine, phenylephrine), penderita tekanan darah tinggi berat dan yang mendapat terapi obat antidepresan tipe penghambat Monoamin Oksidase (MAO).

Tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan.

Hati-hati penggunaan pada penderita tekanan darah tinggi atau yang mempunyai potensi tekanan darah tinggi atau stroke seperti pada penderitan dengan berat badan berlebih (overweight) atau penderita usia lanjut.

Bila dalam 3 hari gejala flu tidak berkurang, segera hubungi dokter atau Unit Pelayanan Kesehatan.

Hentikan penggunaan obat ini jika terjadi susah tidur, jantung berdebar dan pusing.

Lihat kotak peringatan.

Hati-hati penggunaan pada penderita dengan gangguan fungsi hati dan ginjal, glaucoma, hipertrofi prostate, hipertiroid, gangguan jantung dan diabetes mellitus.

Tidak dianjurkan untuk anak-anak di bawah 6 tahun, wanita hamil dan menyusui kecuali atas petunjuk dokter.

Penggunaan pda penderita yang mengkonsumsi alkohol dapat meningkatkan resiko kerusakan hati.

Selama minum obat ini tidak boleh mengendarai kendaraan bermotor atau menjalankan mesin.

Hati-hati penggunaan bersamaan dengan obat-obat lain yang menekan susunan saraf pusat.

DAPAT MENYEBABKAN KANTUK

Kemasan : 1 Blister @ 6 Kaplet
No. Registrasi : DTS0720932804A1
(indofarma)

Obat Serbu : Obat Maag


Komposisi
Tiap tablet kunyah mengandung :
Magnesium hydroxide …………….. 200 mg
Aluminium hydroxide ………...…….200 mg
Simethicone …………………………. 20 mg

Cara Kerja
Kombinasi aluminium hydroxide dan magnesium hydroxide merupakan antasida yang bekerja menetralkan asam lambung dan menginaktifkan pepsin, sehingga rasa nyeri ulu hati akibat iritasi oleh asam lambung dan pepsin berkurang. Di samping itu, efek laksatif dari magnesium hydroxide akan mengurangi gelembung-gelembung gas dalam saluran cerna yang menyebabkan rasa kembung berkurang.

Indikasi
Untuk mengurangi gejala-gejala yang berhubungan dengan
kelebihan asam lambung, gastritis, tukak lambung, tukak usus dua
belas jari, dengan gejala-gejala seperti mual, nyeri lambung, nyeri ulu
hati, kembung dan perasaan penuh pada lambung.

Dosis
Dewasa : 1 – 2 tablet, 3 – 4 kali sehari
Anak 6 – 12 tahun : ½ - 1 tablet, 3 – 4 kali sehari

Diminum 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan dan menjelang tidur, sebaiknya tablet dikunyah dulu.

Efek Samping

Efek Samping yang umum adalah sembelit, diare, mual, muntah dan gejala-gejala tersebut akan hilang bila pemakaian obat dihentikan.

Kontraindikasi

Penderita gangguan fungsi ginjal

Interaksi Obat

Pemberian bersama-sama dengan cimetidine atau tetracycline dapat mengurangi absorpsi obat tersebut.

Cara Penyimpanan

Simpan di bawah 30oC

Perhatian
Jangan diberikan pada penderita gangguan fungsi ginjal yang berat, karena dapat menimbulkan hipermagnesemia (kadar magnesium dalam darah meningkat).

Tidak dianjurkan digunakan terus-menerus lebih dari 2 minggu kecuali atas petunjuk dokter.

Bila sedang menggunakan obat tukak lambung lain seperti : cimetidine atau antibiotika tetracycline, harap diberikan dengan selang waktu 1 – 2 jam.

Tidak dianjurkan pemberian pada anak-anak di bawah 6 tahun, kecuali atas petunjuk dokter, karena biasanya kurang jelas penyebabnya.

Hati-hati pemberian pada penderita diet fosfor rendah dan pemakaian lama, karena dapat mengurangi kadar fosfor dalam darah.

Kemasan : 1 Blister @ 6 Table Kunyah
No. Registrasi : DBS0720933663A1

Obat Serbu : Obat Penurun Panas

Komposisi
Tiap tablet mengandung :
Paracetamol …………….. 500 mg

Cara Kerja
Paracetamol sebagai analgesik bekerja dengan meningkatkan ambang rangsang rasa sakit dan sebagai antipiretik diduga bekerja langsung pada pusat pengatur panas di hipotalamus.

Indikasi
Meringankan rasa sakit pada keadaan sakit kepala, sakit gigi dan menurunkan demam.

Dosis
6 – 12 tahun : ½ - 1 tablet 3 – 4 kali sehari
Dewasa dan anak di atas usia 12 tahun : 1 – 2 tablet, 3 – 4 kali sehari, maksimum 8 tablet sehari

Efek samping
Dosis besar menyebabkan kerusakan fungsi hati

Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap paracetamol
Tidak boleh diberikan pada penderita dengan gangguan fungsi hati berat

Cara penyimpanan
Simpan di bawah 30oC

Perhatian
Pemberian harus hati-hati pada pasien dengan gangguan ginjal serta penggunaan jangka lama pada pasien gangguan fungsi hati.

Jangan melampaui dosis yang disarankan

Harap ke dokter atau Unit Pelayanan Kesehatan bila gejala demam belum sembuh dalam 2 hari atau rasa sakit tidak berkurang selama 5 hari.

Penggunaan obat ini pada penderita yang mengkonsumsi alkohol, dapat meningkatkan resiko kerusakan fungsi hati.

Kemasan : 1 Blister @ 8 tablet
No. Registrasi : DBS0720932610A1

Wednesday, March 4, 2009

Obat Serbu : Obat Penurun Panas Anak

Komposisi
Tiap sachet (7 ml) mengandung :
Paracetamol……………………………. 250 mg

Cara Kerja

Paracetamol sebagai analgesic bekerja dengan meningkatkan ambang rangsang rasa sakit dan sebagai antipiretik diduga bekeja langsung pada pusat pengatur panas di hipotalamus.

Indikasi

Menurunkan demam pada influenza dan setelah vaksinasi
Meringankan rasa sakit pada keadaan sakit kepala, sakit gigi dan menurunkan demam

Dosis

Aturan Pakai :
1 – 2 tahun : ¼ sachet (1.75 ml), 3 – 4 kali sehari
2 – 6 tahun : ½ sachet (3.5 ml), 3 – 4 kali sehari
6 – 9 tahun : 1 sachet (7 ml), 3 – 4 kali sehari
9 – 12 tahun : 2 sachet (14 ml), 3 – 4 kali sehari

Atau sesuai petunjuk dokter.

Efek Samping

Dosis besar menyebabkan kerusakan fungsi hati

Kontraindikasi

Hipersensitif terhadap paracetamol
Tidak boleh diberikan pada penderita dengan gangguan fungsi hati

Cara Penyimpanan

Simpan di tempat sejuk (15 – 25oC).
Perhatian

Pemberian harus hati-hati pada pasien dengan gangguan ginjal.

Jangan melampaui dosis yang disarankan.

Harap ke dokter atau Unit Pelayanan Kesehatan bila gejala demam belum sembuh dalam 2 hari atau rasa sakit tidak berkurang selama 5 hari.

Penggunaan obat ini pada penderita yang mengkonsumsi alkohol, dapat meningkatkan resiko kerusakan fungsi hati.

Kemasan : 1 Amplop @ 3 Sachet
No. Registrasi : DBS0720932737A1

Wednesday, May 28, 2008

Parasetamol, untuk demam & nyeri anak

Di seluruh dunia, tak ada obat bebas yang sedemikian banyak dikonsumsi untuk mengatasi nyeri dan demam si kecil selain parasetamol

"Divinum est opus sedare dolorum". Mengalahkan nyeri adalah urusan para dewa. Itu kata Hipocrates, bapak ilmu kedokteran. Tapi mengatasi nyeri atau demam di kalangan anak-anak bukan hal mudah. Rasa nyeri itu mempengaruhi kondisi mental penderita, seperti rewel, cemas, dan tegang. Jika seseorang yang ingin mengurangi rasa nyeri diharapkan juga berada pada situasi rileks dan tenang.
.
Repotnya, rasa nyeri atau demam justru banyak terjadi pada usia anak-anak. Ini terutama karena anak mudah terkena demam akibat vaksinasi atau kena infeksi virus seperti selesma, influenza atau cacar air. Parasetamol atau sering disebut asetaminofen memiliki peran unik pada anak-anak. Obat ini merupakan terapi lini pertama untuk demam dan nyeri. Tentunya dengan penggunaan sesuai dosis yang dianjurkan.
.
Parasetamol digolongkan sebagai golongan obat bebas lini pertama untuk penghilang nyeri dan penurun panas pada anak-anak, yang digunakan secara oral atau ditelan. Bahkan seorang dokter kerap menanyakan pada orangtua si kecil sebelum meresepkan obat penurun panas, "Punya parasetamol di rumah?" Padahal, secara alamiah, demam tidak memerlukan pengobatan. Obat diberikan untuk memberi sedikit kelegaan karena dilanda nyeri dan tak enak itu. Parasetamol sendiri sifatnya simptomatis, bukan menghilangkan sumber penyakit. Apabila nyeri tak kunjung hilang dalam waktu 3 hari atau sifatnya hanya sesaat dan timbul kembali, berarti tidak bisa diatasi dengan pengobatan sendiri (swa medikasi). Penggunaan harus dihentikan dan konsultasi ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.
.
Menurut Noel Cranswick dari Klinik Pharmakologi Royal Children's Hospital di Victoria, Australia, kemajuan dan tingkat keamanan parasetamol sudah teruji selama 40 tahun lebih. Menurut David Coghlan dari Fellow Center Community Child Health & Ambulatory Paediatrics Research di rumah sakit Royal Children di Australia, parasetamol merupakan obat kedua terbanyak yang diresepkan di Australia, untuk penggunaan secara meluas pengobatan demam akibat infeksi pada anak-anak. Jumlahnya tak kurang sebanyak 4,75 juta unit yang pernah dikeluarkan pada 1996. Parasetamol memang digunakan untuk semua golongan umur. Namun pada golongan obat bebas ia dinyatakan paling aman untuk anak-anak.
.
Bahkan parasetamol telah direkomendasikan sebagai pengobatan lini pertama untuk demam dan nyeri oleh organisasi-organisasi nasional dan internasional, termasuk Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO) dan Akademi Pediatrik (Dokter anak) Amerika. Batas aman parasetamol juga amat lebar. Parasetamol memiliki sifat-sifat kemanjuran, tingkat aman, dan tolerabilitas yang baik pada anak-anak seperti pada orang dewasa. Lewat penelitian baru-baru ini oleh Klinik Farmakologi Australia, parasetamol dijuluki sebagai analgesik atau pereda nyeri paling sederhana dan ampuh.
.
Seringkali nyeri pada anak-anak dianggap remeh karena kurangnya pengertian dan pengetahuan tentang nyeri pada anak kecil. Para dokter sering menganggap remeh nyeri pada anak-anak, khususnya pada anak-anak yang pendiam yang tidak dapat mengungkapkan sensasi nyeri yang mereka rasakan. Padahal itu bisa menentukan persepsi anak terhadap nyeri nantinya, contohnya selama masa vaksinasi. Obat ini juga memberi kelegaan di kala anak-anak menghadapi kondisi nyeri pada faringitis (radang tenggorokan) dan otitis media (radang telinga tengah). Selain itu juga dipakai sebagai pereda nyeri setelah operasi. Untuk anak-anak yang mengalami operasi pengambilan tonsil atau amandel diberi pereda nyeri dengan dosis 40 mg/kg per oral sebelum operasi. Atau harus diberikan 1 sampai 2 jam sebelum prosedur bedah untuk memperoleh efek analgesik (pereda nyeri).

Pemberian dosis untuk anak memang bervariasi di banyak negara, namun umumnya 10 sampai 15 mg/kg. Ini dianggap efektif. Namun tak jarang anak-anak menerima dosis 90 mg/kg/hari bila dirawat di rumah sakit. Ini dosis tinggi yang tidak berlaku untuk pemakaian biasa.
Berdasarkan tingkatan usia masa kanak-kanak, pemberian dosis adalah bayi 1 bulan - 2 tahun dalam bentuk beberapa tetes, masa prasekolah (1- 5 tahun) dalam bentuk larutan alkohol/suspensi, masa sekolah (5 - 12 tahun) untuk larutan alkohol dan suspensi jernih dan (7 - 12 tahun) untuk tablet kunyah).

Kendati ada beberapa laporan ke pusat studi keracunan, efek samping parasetamol lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan luas dan jumlah dosis yang digunakan setiap harinya di seluruh dunia. Hanya saja, masyarakat sering melakukan cara salah dalam mengurangi sakit dan demam, dengan mengkonsumsinya secara berlebihan. Padahal, dosis yang berlebihan akan merusakkan hati dan ginjal. Karena digunakan tanpa resep dokter, parasetamol sebaiknya tak diberikan berkepanjangan dan berlebihan.

Tips Pemberian Obat pada Anak.
  • Jauhkan segala obat dari jangkauan anak-anak. Beberapa obat, seperti suplemen zat besi, sangat beracun untuk anak-anak.
  • Gunakan tempat obat yang tertutup, dan jangan pernah meninggalkan kotak obat dalam keadaan terbuka.
  • Tiap kali hendak menggunakan obat tersebut, periksa kembali dosisnya. Ikuti petunjuk label. Jangan pernah menggunakan sendok obat yang sama untuk dua jenis obat yang berbeda.
  • Jangan pernah memberikan obat dengan mengira-ngira ukuran dosisnya. Tanya ahli farmasi untuk meyakinkan bahwa obat yang Anda berikan untuk anak Anda memang sesuai yang dianjurkan.
  • Jangan pernah mengandalkan ingatan akan dosis yang digunakan pada sakit sebelumnya.
  • Bacalah label tiap kali memberikan obat. Tanya dokter atau ahli farmasi sebelum memberikan anak lebih dari satu jenis obat pada saat yang bersamaan.
  • Jangan pernah memberikan obat pada anak-anak kecuali memang dianjurkan untuk mereka seperti yang tertulis dalam label atau atas saran dokter.
  • Jangan menggunakan obat untuk tujuan yang tidak disebutkan dalam label, kecuali dengan petunjuk dokter.
  • Periksakan dulu anak Anda ke dokter sebelum memutuskan memberi mereka aspirin

OBAT ANALGESIK ANTIPIRETIK

Obat saraf dan otot golongan analgesik atau obat yang dapat menghilangkan rasa sakit/ obat nyeri sedangkan obat antipiretik adalah obat yang dapat menurunkan suhu tubuh.
.
Analgesik sendiri dibagi dua yaitu :

1. Analgesik opioid / analgesik narkotika Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat-sifat seperti opium atau morfin. Golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri.

Tetap semua analgesik opioid menimbulkan adiksi/ketergantungan, maka usaha untuk mendapatkan suatu analgesik yang ideal masih tetap diteruskan dengan tujuan mendapatkan analgesik yang sama kuat dengan morfin tanpa bahaya adiksi.
.
Ada 3 golongan obat ini yaitu :
  • Obat yang berasal dari opium-morfin,
  • Senyawa semisintetik morfin, dan
  • Senyawa sintetik yang berefek seperti morfin.

2. Analgesik lainnya, Seperti golongan salisilat seperti aspirin, golongan para amino fenol seperti paracetamol, dan golongan lainnya seperti ibuprofen, asam mefenamat, naproksen/naproxen dan banyak lagi. Berikut contoh obat-obat analgesik antipiretik yang beredar di Indonesia :

  • Paracetamol/acetaminophen

Merupakan derivat para amino fenol. Di Indonesia penggunaan parasetamol sebagai analgesik dan antipiretik, telah menggantikan penggunaan salisilat. Sebagai analgesik, parasetamol sebaiknya tidak digunakan terlalu lama karena dapat menimbulkan nefropati analgesik. Jika dosis terapi tidak memberi manfaat, biasanya dosis lebih besar tidak menolong. Dalam sediaannya sering dikombinasi dengan cofein yang berfungsi meningkatkan efektivitasnya tanpa perlu meningkatkan dosisnya.

  • Ibuprofen

Ibuprofen merupakan derivat asam propionat yang diperkenalkan banyak negara. Obat ini bersifat analgesik dengan daya antiinflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama dengan aspirin. Ibuprofen tidak dianjurkan diminum oleh wanita hamil dan menyusui.

  • Asam mefenamat

Asam mefenamat digunakan sebagai analgesik. Asam mefenamat sangat kuat terikat pada protein plasma, sehingga interaksi dengan obat antikoagulan harus diperhatikan. Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dispepsia dan gejala iritasi lain terhadap mukosa lambung.

  • Tramadol

Tramadol adalah senyawa sintetik yang berefek seperti morfin. Tramadol digunakan untuk sakit nyeri menengah hingga parah. Sediaan tramadol pelepasan lambat digunakan untuk menangani nyeri menengah hingga parah yang memerlukan waktu yang lama. Minumlah tramadol sesuai dosis yang diberikan, jangan minum dengan dosis lebih besar atau lebih lama dari yang diresepkan dokter. Jangan minum tramadol lebih dari 300 mg sehari.

  • Benorylate

Benorylate adalah kombinasi dari parasetamol dan ester aspirin. Obat ini digunakan sebagai obat antiinflamasi dan antipiretik. Untuk pengobatan demam pada anak obat ini bekerja lebih baik dibanding dengan parasetamol dan aspirin dalam penggunaan yang terpisah. Karena obat ini derivat dari aspirin maka obat ini tidak boleh digunakan untuk anak yang mengidap Sindrom Reye.

  • Fentanyl

Fentanyl termasuk obat golongan analgesik narkotika. Analgesik narkotika digunakan sebagai penghilang nyeri. Dalam bentuk sediaan injeksi IM (intramuskular) Fentanyl digunakan untuk menghilangkan sakit yang disebabkan kanker.

Menghilangkan periode sakit pada kanker adalah dengan menghilangkan rasa sakit secara menyeluruh dengan obat untuk mengontrol rasa sakit yang persisten/menetap. Obat Fentanyl digunakan hanya untuk pasien yang siap menggunakan analgesik narkotika.

Fentanyl bekerja di dalam sistem syaraf pusat untuk menghilangkan rasa sakit. Beberapa efek samping juga disebabkan oleh aksinya di dalam sistem syaraf pusat. Pada pemakaian yang lama dapat menyebabkan ketergantungan tetapi tidak sering terjadi bila pemakaiannya sesuai dengan aturan.

Ketergantungan biasa terjadi jika pengobatan dihentikan secara mendadak. Sehingga untuk mencegah efek samping tersebut perlu dilakukan penurunan dosis secara bertahap dengan periode tertentu sebelum pengobatan dihentikan.

  • Naproxen
Naproxen termasuk dalam golongan antiinflamasi nonsteroid. Naproxen bekerja dengan cara menurunkan hormon yang menyebabkan pembengkakan dan rasa nyeri di tubuh.
  • Obat lainnya
Metamizol, Aspirin (Asetosal/ Asam asetil salisilat), Dypirone/Methampiron, Floctafenine, Novaminsulfonicum, dan Sufentanil.

Parasetamol membahayakan ginjal

Parasetamol atau yang disebut juga Asetaminofen, sering digunakan sebagai obat penghilang rasa nyeri atau penurun demam. Ternyata obat ini berbahaya bagi ginjal bila digunakan dalam waktu yang lama. Kebiasaan menggunakan Parasetamol, terutama bagi kaum wanita untuk menghilangkan nyeri seperti pada saat haid, dapat berbahaya, karena akan menurunkan fungsi ginjalnya.

Penelitian ini dilakukan terhadap 1.700 wanita yang diteliti selama lebih dari 11 tahun, yang mengalami penurunan fungsi filtrasi ginjal sebesar 30 persen. Dari penelitian terlihat bahwa wanita yang mengkonsumsi Parasetamol sebanyak 1.500 - 9.000 butir selama hidupnya, berisiko untuk mengalami gangguan ginjal sebesar 64 persen.

Sedang untuk mereka yang mengkonsumsi lebih dari 9.000 tablet, risiko ini meningkat hingga dua kali lipat. Tapi penelitian ini tidak menunjukkan adanya hubungan antara gangguan fungsi ginjal dengan Aspirin atau obat pereda nyeri/inflamasi lainnya seperti golongan anti inflamasi non steroid.

Penelitian ini bukan untuk menghentikan penggunaan Parasetamol. Tapi untuk berhati-hati dalam menggunakannya untuk jangka panjang. Selain itu bagi para peneliti, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan pengobatan lain dalam mengatasi rasa nyeri, yang tidak berbahaya bila digunakan untuk waktu yang lama.

Sumber: The Archives of Internal Medicine

Paracetamol (acetaminophen)

Acetaminophen atau paracetamol merupakan obat yang paling laku dan paling banyak dikonsumsi orang selain Amoxicillin. Setiap kali menderita demam, paracetamol sudah pasti akan menjadi obat yang paling dicari untuk menurunkan panas badan. Kalau di dunia blog kita sering mendengar istilah seleb blog maka di dunia obat, paracetamol bisa kita masukan ke dalam seleb drug alias seleb obat.

Obat yang mempunyai nama generik acetaminophen ini, dijual di pasaran dengan ratusan nama dagang. Beberapa diantaranya adalah Sanmol, Pamol, Fasidol, Panadol, Itramol dan lain lain. Cukup banyak pilihan bukan? Namun tidak usah khawatir walaupun dengan nama dagang, harga obat ini termasuk terjangkau bagi semua kalangan.

Paracetamol utamanya digunakan untuk menurunkan panas badan yang disebabkan oleh karena infeksi atau sebab yang lainnya. Disamping itu, paracetamol juga dapat digunakan untuk meringankan gejala nyeri dengan intensitas ringan sampai sedang. Jadi tidak perlu heran bila suatu saat diberikan paracetamol oleh dokter untuk mengatasi sakit kepala atau sakit gigi.

Walaupun sebenarnya obat ini bisa dibeli dengan bebas di warung warung, tetapi dalam penggunaanya tentu saja harus tetap memperhatikan pakem atau dosis yang dianjurkan. Jangan pernah coba coba minum obat ini melebihi dari dosis yang dianjurkan bila ingin selamat. Jangan pula meminum obat ini selama lebih dari 10 hari berturut turut tanpa berkonsultasi dengan dokter. Obat ini juga jangan sembarangan diberikan pada anak dibawah 3 tahun tanpa terlebih dahulu meminta saran dari dokter.

Peringatan diatas bukannya tanpa alasan sebab walaupun paracetamol kelihatan seperti obat yang jinak, namun dibalik semua itu terdapat banyak efek samping yang perlu diwaspadai.
Tetapi hal tersebut tidak usah terlalu dikhawatirkan, asal diminum sesuai dengan anjuran maka efek samping tidak akan pernah muncul dan walaupun muncul, derajatnya sangat ringan.

Segera ke dokter bila salah satu dari tanda berikut muncul setelah anda minum paracetamol. Tanda tanda itu antara lain : terjadi perdarahan ringan sampai berat, keluhan demam dan nyeri tenggorokan tidak berkurang yang kemungkinan disebabkan oleh karena infeksi sehingga perlu penanganan lebih lanjut.

Jika tidak ada masalah di organ hati, dosis maksimum paracetamol untuk orang dewasa adalah 4 gram (4000mg) per hari atau 8 tablet paracetamol 500mg. Bila karena suatu sebab yang tidak jelas pasien bandel minum obat ini melebih dosis maksimum tadi maka jangan heran bila kelak terjadi kerusakan hati yang fatal. Gejala kerusakan hati yang perlu mendapatkan perhatian dan harus segera ke dokter antara lain : mual sampai muntah, kulit dan mata berwarna kekuningan, warna air seni yang pekat seperti teh, nyeri di perut kanan atas, dan rasa lelah dan lemas.

Beberapa reaksi alergi yang dilaporkan sering muncul antara lain : kemerahan pada kulit, gatal, bengkak, dan kesulitan bernafas/sesak. Seperti biasa, bila mengalami tanda tanda diatas setelah minum paracetamol, segera ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menjalani pengobatan dengan paracetamol antara lain, sebelum minum paracetamol, sampaikan ke dokter anda kalau anda sebelumnya pernah mengalami alergi setelah mengkonsumsi paracetamol atau alergi yang disebabkan oleh sebab lain. Selain itu, informasikan pula ke dokter bila anda mempunyai riwayat penyakit khronis seperti penyakit hati, ketergantungan alkohol, dan lain lain. Paracetmol dapat merusak hati, maka bila ditambah dengan mengkonsumsi alkohol secara berlebihan maka akan mempercepat terjadinya kerusakan hati.

Paracetamol sering dikombinasikan dengan aspirin untuk mengatasi rasa nyeri pada rematik sebab paracetamol tidak mempunyai efek anti inflamasi seperti aspirin sehingga bila kedua obat ini digabung maka akan didapatkan sinergi pengobatan yang bagus pada penyakit rematik. Paracetamol aman diberikan pada wanita hamil dan menyusui namun tetap dianjurkan pada wanita hamil untuk meminum obat ini bila benar benar membutuhkan dan dalam pengawasan dokter.

Saturday, May 24, 2008

Cermat Memilih Obat Penurun Demam Dengue

Masih banyak orangtua yang menganggap demam sebagai hal yang lumrah, begitupun dengan upaya penanganannya. Terkait dengan demam berdarah dengue (DBD) yang kini masih mengancam, para orangtua semestinya mengetahui tidak semua demam pada DBD bisa diatasi dengan semua jenis obat penurun demam.

Menurut dokter Hendrawan Nadesul, pada kasus DBD sebaiknya hindari memilih obat anti demam golongan asam salisilat (acetylsalicylate) dan ibuprofen. Kendati obat golongan ini mampu meredakan demam lebih kuat namun efek sampingnya malah memperburuk penyakit DBD. "Efek buruk obat golongan ini berpotensi menimbulkan perdarahan dan sindroma Reye. Itu berarti memperburuk penyakit DBD," katanya.

Pada kasus dengue, sebaiknya ditangani dengan obat penurun demam yang aman. "Obat yang aman untuk menurunkan demam dengue adalah parasetamol yang diikuti dengan asupan cairan yang cukup seperti oralit, jus buah, susu, dan sebagainya," papar dr.Hindra Irawan Satari, Sp.A(K), M.Trop Paed, dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FKUI.

Ditambahkan oleh Hindra, demam adalah suatu tanda adanya infeksi di dalam tubuh. "Demam diperlukan tubuh untuk menetralisir kuman atau virus," katanya. Pemberian obat penurun demam pun menurut Hindra hanya diperlukan pada fase demam yakni hari kedua dan ketiga dalam perjalanan penyakit DBD.

"Jika suhu tubuh anak sudah di atas 38 derajat, berikan segera obat penurun demam golongan parasetamol dengan dosis 10 mg selang empat jam," jelas Hindra. Pada anak, suhu tubuh normal berkisar antara 36 - 37,5 derajat Celcius. "Jika suhu tubuhnya mencapai 39 derajat, segera kompres dengan air hangat," imbuhnya.

Berdasarkan survei yang dilakukan AC Nielsen di tahun 2006, terungkap 78 persen konsumsi obat penurun demam anak di wilayah perkotaan di Indonesia adalah produk yang mengandung asam salisilat, sedangkan yang mengonsumsi paracetamol 19 persen dan ibuprofen 2 persen. Sebenarnya konsumsi obat penurun demam golongan asal salisilat dan ibuprofen aman, namun tidak dianjurkan pada anak dengan demam dengue.

Menurut standar organisasi kesehatan dunia (WHO), obat anti demam dengue yang aman adalah paracetamol. "Ibuprofen tidak dianjurkan karena dapat menurunkan trombosit dan menyebabkan perdarahan organ dalam. Sedangkan asam salisilat diduga akan menimbulkan sindroma Reye (gangguan fungsi hati) dan merangsang lambung," jelas Hindra.

Saat ini obat antidemam (antypyreticum) memang dijual bebas, para orangtua pun cenderung memilih obat secara acak berdasarkan khasiatnya bukan segi keamanannya. Menurut data AC Nielsen, 88 persen para ibu memang membaca label namun yang lebih diperhatikan adalah dosis dan tanggal kadaluarsa, bukan golongan obatnya.

sumber : Kompas

Monday, May 19, 2008

Aspirin

Aspirin atau asam asetilsalisilat (asetosal) adalah suatu jenis obat dari keluarga salisilat yang sering digunakan sebagai analgesik (terhadap rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (terhadap demam), dan anti-inflamasi. Aspirin juga memiliki efek antikoagulan dan digunakan dalam dosis rendah dalam tempo lama untuk mencegah serangan jantung.

Asal dari obat yang dikenal dengan "Aspirin" - ternyata dari jaman Yunani kuno, dan diperkenalkan oleh Bapak Para Dokter se-dunia - yaitu Hippocrates. Tentu saja Hippocrates tidak menyebut Aspirin, melainkan menyebut tumbuhan bernama willow yang bila batangnya dikeringkan dan dijadikan bubuk, dapat menghilangkan rasa sakit.

Ribuan tahun berlalu, hingga di tahun 1829, para ilmuwan berhasil mengisolasi bahan dalam tumbuhan willow yang berfungsi meredakan rasa sakit. Bahan tersebut bernama salicin. Bahan ini dapat menghilangkan sakit, tapi memiliki efek samping terhadap perut - manfaat dan mudaratnya sama besar. Tentu saja harus ada jalan keluar. Di tahun 1853, seorang ahli kimia Perancis bernama Charles Frederic Gerhardt berhasil menetralkan salicin alami menjadi asam salisilat (salicylic acid) lewat penyanggaan (buffering) dengan natrium dan asam asetat. Asam salisilat ini lebih "ramah" terhadap perut.

Di tahun 1899, seorang ahli kimia Jerman, bernama Felix Hoffmann, yang bekerja bagi Bayer, menemukan kembali formula Gerhardt. Hoffmann membujuk Bayer untuk memasarkan obat itu, yang selanjutnya muncul di pasar dengan nama pasaran "Aspirin".

Aspirin adalah obat pertama yang dipasarkan dalam bentuk tablet. Sebelumnya, obat diperdagangkan dalam bentuk bubuk (puyer). Dalam menyambut Piala Dunia FIFA 2006 di Jerman, replika tablet aspirin raksasa dipajang di Berlin sebagai bagian dari pameran terbuka Deutschland, Land der Ideen ("Jerman, negeri berbagai ide").

Aspirin

Aspirin atau asam asetilsalisilat (asetosal) adalah suatu jenis obat dari keluarga salisilat yang sering digunakan sebagai analgesik (terhadap rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (terhadap demam), dan anti-inflamasi. Aspirin juga memiliki efek antikoagulan dan digunakan dalam dosis rendah dalam tempo lama untuk mencegah serangan jantung.

Asal dari obat yang dikenal dengan "Aspirin" - ternyata dari jaman Yunani kuno, dan diperkenalkan oleh Bapak Para Dokter se-dunia - yaitu Hippocrates. Tentu saja Hippocrates tidak menyebut Aspirin, melainkan menyebut tumbuhan bernama willow yang bila batangnya dikeringkan dan dijadikan bubuk, dapat menghilangkan rasa sakit.

Ribuan tahun berlalu, hingga di tahun 1829, para ilmuwan berhasil mengisolasi bahan dalam tumbuhan willow yang berfungsi meredakan rasa sakit. Bahan tersebut bernama salicin. Bahan ini dapat menghilangkan sakit, tapi memiliki efek samping terhadap perut - manfaat dan mudaratnya sama besar. Tentu saja harus ada jalan keluar. Di tahun 1853, seorang ahli kimia Perancis bernama Charles Frederic Gerhardt berhasil menetralkan salicin alami menjadi asam salisilat (salicylic acid) lewat penyanggaan (buffering) dengan natrium dan asam asetat. Asam salisilat ini lebih "ramah" terhadap perut.

Di tahun 1899, seorang ahli kimia Jerman, bernama Felix Hoffmann, yang bekerja bagi Bayer, menemukan kembali formula Gerhardt. Hoffmann membujuk Bayer untuk memasarkan obat itu, yang selanjutnya muncul di pasar dengan nama pasaran "Aspirin".

Aspirin adalah obat pertama yang dipasarkan dalam bentuk tablet. Sebelumnya, obat diperdagangkan dalam bentuk bubuk (puyer). Dalam menyambut Piala Dunia FIFA 2006 di Jerman, replika tablet aspirin raksasa dipajang di Berlin sebagai bagian dari pameran terbuka Deutschland, Land der Ideen ("Jerman, negeri berbagai ide").