Showing posts with label Seputar kanker. Show all posts
Showing posts with label Seputar kanker. Show all posts

Friday, July 11, 2008

Plastik bakar sebabkan kanker

Meski manfaatnya sangatlah besar, kantung plastik ternyata sangat membahayakan lingkungan. Residu atau limbahnya bahkan dapat mengancam kesehatan. Masyarakat perlu mengurangi penggunaan kantung plastik atau lebih baik mengolahnya.

”Sampah di Kota Bandung tiap harinya 6.000 – 7.000 meter kubik. Setara dengan berat 1.000 ekor gajah. Dari situ, lembaran plastiknya bisa menutupi 50 lapangan sepak-bola. Padahal, plastik ini sulit diurai oleh alam. Menghambat drainase dan mengakibatkan banjir,” ujar angggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda Sobirin, Senin (4/2).

Sobirin menyampaikan hal itu dalam jumpa pers Kegiatan Gerakan Antikantung Plastik yang digagas Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung. Turut hadir novelis Dewi Lestari, akademisi Muhammad Chairul, dan pihak panitia. Acara ini akan digelar Selasa (5/2) hingga Sabtu (9/2) di kampus ITB dan sejumlah titik di Kota Bandung.
Muhammad Chairul, dosen Teknik Lingkungan ITB mengatakan, sampah plastik di Bandung memiliki porsi sekitar 10 persen dari total volume sampah (7.000 m3). Dari jumlah itu, sangat sedikit yang didaur ulang. ”Paling-paling di TPA Sarimukti. Lainnya dibiarkan begitu saja,” ucapnya.

Di Indonesia, plastik mayoritas masih terbuat dari bahan polimer kimia yang tidak dapat diurai mikroorganisme. Di negara lain, misalnya China, lazim digunakan bahan lain yang lebih ramah lingkungan dan dapat didekomposisi, yaitu polylaktida berbahan dasar selulosa macam bakteri, kitosan, kitin, dan tepung tumbuhan. Bersama suatu lembaga, Sobirin tengah meneliti plastik dari bahan kulit singkong.

Menyebabkan kankerMenurut Chairul, plastik tidak berbahaya selama itu belum berupa limbah. Jika itu sudah berupa limbah, apalagi dibakar, polutannya dapat mengancam kesehatan. ” Pembakaran plastik yang tidak sempurna, di bawah 800 derajat celcius, akan membentuk dioksin. Senyawa inilah yang berbahaya,” ujarnya. Berdasarkan penelitian, senyawa dioksin dapat menimbulkan penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf, dan memicu depresi.

Atas dasar persoalan itu, ungkap Ketua Panitia Kampanye Antikantung Plastik Cinta Azwiendasari, kampanye tersebut penting dilakukan. Masyarakat perlu disadarkan bahayanya kantung plastik bagi lingkungan hidup. ”Segmen kegiatan ini sebetulnya lebih kepada segmen usia 15-25 tahun. Anak muda dan remaja. Kami berharap gerakan ini bisa menjadi tren. Sehingga efektif hasilnya,” ujarnya.

Mewakili kaum selebritis, Dewi Lestari menekankan pentingnya kesadaran moral individu dan keluarga untuk mendukung kampanye lingkungan macam ini. Perubahan kecil dari diri sendiri atau keluarga harus mulai dibangun. ”Mengubah kebiasaan adalah kuncinya. Seperti orang diet, awalnya memang tidak mudah menahan diri,” ucapnya.

Di rumahnya, Dewi sudah memberlakukan pemilahan sampah antara organik dan nonorganik. Sampah kertas dan plastik dikumpulkan dan diberi ke pemulung. Sementara, sampah organik dijadikan kompos. Lingkungan hidup, ungkapnya, hendaknya menjadi perhatian lebih. Khususnya, pemerintah. Sebab, lingkungan hidup-lah satu-satunya hal di dunia yang tidak mengenal persoalan gender, agama, suku, apalagi politik.

Agar menjadi kegiatan yang populer, Kampanye Antikantung Plastik ini menurut rencana akan dimeriahkan pula oleh kehadiran artis lainnya d’Cinnamons dan Yuki ”Pas Band” serta aktivis lingkungan hidup lainnya. Ada pula lomba desain tas anti-plastik, pembacaan 1.000 puisi sampah, dan roadshow (KCM, 4/2/08)

Plastik bakar sebabkan kanker

Meski manfaatnya sangatlah besar, kantung plastik ternyata sangat membahayakan lingkungan. Residu atau limbahnya bahkan dapat mengancam kesehatan. Masyarakat perlu mengurangi penggunaan kantung plastik atau lebih baik mengolahnya.

”Sampah di Kota Bandung tiap harinya 6.000 – 7.000 meter kubik. Setara dengan berat 1.000 ekor gajah. Dari situ, lembaran plastiknya bisa menutupi 50 lapangan sepak-bola. Padahal, plastik ini sulit diurai oleh alam. Menghambat drainase dan mengakibatkan banjir,” ujar angggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda Sobirin, Senin (4/2).

Sobirin menyampaikan hal itu dalam jumpa pers Kegiatan Gerakan Antikantung Plastik yang digagas Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung. Turut hadir novelis Dewi Lestari, akademisi Muhammad Chairul, dan pihak panitia. Acara ini akan digelar Selasa (5/2) hingga Sabtu (9/2) di kampus ITB dan sejumlah titik di Kota Bandung.
Muhammad Chairul, dosen Teknik Lingkungan ITB mengatakan, sampah plastik di Bandung memiliki porsi sekitar 10 persen dari total volume sampah (7.000 m3). Dari jumlah itu, sangat sedikit yang didaur ulang. ”Paling-paling di TPA Sarimukti. Lainnya dibiarkan begitu saja,” ucapnya.

Di Indonesia, plastik mayoritas masih terbuat dari bahan polimer kimia yang tidak dapat diurai mikroorganisme. Di negara lain, misalnya China, lazim digunakan bahan lain yang lebih ramah lingkungan dan dapat didekomposisi, yaitu polylaktida berbahan dasar selulosa macam bakteri, kitosan, kitin, dan tepung tumbuhan. Bersama suatu lembaga, Sobirin tengah meneliti plastik dari bahan kulit singkong.

Menyebabkan kankerMenurut Chairul, plastik tidak berbahaya selama itu belum berupa limbah. Jika itu sudah berupa limbah, apalagi dibakar, polutannya dapat mengancam kesehatan. ” Pembakaran plastik yang tidak sempurna, di bawah 800 derajat celcius, akan membentuk dioksin. Senyawa inilah yang berbahaya,” ujarnya. Berdasarkan penelitian, senyawa dioksin dapat menimbulkan penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf, dan memicu depresi.

Atas dasar persoalan itu, ungkap Ketua Panitia Kampanye Antikantung Plastik Cinta Azwiendasari, kampanye tersebut penting dilakukan. Masyarakat perlu disadarkan bahayanya kantung plastik bagi lingkungan hidup. ”Segmen kegiatan ini sebetulnya lebih kepada segmen usia 15-25 tahun. Anak muda dan remaja. Kami berharap gerakan ini bisa menjadi tren. Sehingga efektif hasilnya,” ujarnya.

Mewakili kaum selebritis, Dewi Lestari menekankan pentingnya kesadaran moral individu dan keluarga untuk mendukung kampanye lingkungan macam ini. Perubahan kecil dari diri sendiri atau keluarga harus mulai dibangun. ”Mengubah kebiasaan adalah kuncinya. Seperti orang diet, awalnya memang tidak mudah menahan diri,” ucapnya.

Di rumahnya, Dewi sudah memberlakukan pemilahan sampah antara organik dan nonorganik. Sampah kertas dan plastik dikumpulkan dan diberi ke pemulung. Sementara, sampah organik dijadikan kompos. Lingkungan hidup, ungkapnya, hendaknya menjadi perhatian lebih. Khususnya, pemerintah. Sebab, lingkungan hidup-lah satu-satunya hal di dunia yang tidak mengenal persoalan gender, agama, suku, apalagi politik.

Agar menjadi kegiatan yang populer, Kampanye Antikantung Plastik ini menurut rencana akan dimeriahkan pula oleh kehadiran artis lainnya d’Cinnamons dan Yuki ”Pas Band” serta aktivis lingkungan hidup lainnya. Ada pula lomba desain tas anti-plastik, pembacaan 1.000 puisi sampah, dan roadshow (KCM, 4/2/08)

Cegah kanker payudara, SADARI sekarang!

Bolehlah bila kanker payudara disebut sebagai momok bagi kaum wanita karena kanker ini akan terus menghantui sepanjang hidupnya. Apa yang bisa kita lakukan? Lakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI).

Di Indonesia, jumlah penderita kanker payudara masih menduduki tingkat kedua setelah kanker mulut rahim. Namun, data di Rumah Sakit Kanker Dharmais tahun 2003 menemukan bahwa kasus kanker payudara sudah melebihi jumlah kanker mulut rahim (serviks).

Menurut dr Noorwati Sutandyo, SpPD, kanker payudara adalah tumbuhnya sel abnormal di payudara yang tidak mengenal batas volume serta bisa menyebar. "Benjolan di payudara disebut jinak jika tetap di situ, dan ganas jika menjalar ke tempat lain, seperti ke paru-paru, hati, tulang, atau otak," kata dokter yang menjadi staf pengajar di Subbagian Hematologi-Onkologi Klinik FKUI/RSCM.

Ada beberapa penyebab kanker payudara, yakni faktor genetik atau keturunan, faktor hormon, pola makan yang tinggi lemak dan rendah serat, alkohol dan rokok, serta faktor lain seperti kegemukan, usia yang semakin tua, serta riwayat mempunyai tumor jinak. "Biasanya seorang perempuan tidak merasakan gejala apa pun. Namun ketika tumor semakin besar, barulah muncul gejala-gejala," papar Noorwati.

Gejala paling umum adalah:1. Muncul benjolan di payudara yang permanen, terdapat perubahan bentuk dan ukuran payudara, benjolan di sekitar ketiak.

2. Kelainan kulit berupa ruam pada kulit di sekitar payudara, areola atau puting terlihat bersisik, memerah, dan bengkak. "Tanda ini terkadang sering disangka sebagai eksim," kata Noorwati.

3. Kelainan puting, yakni keluar cairan dari puting susu, puting susu menjadi lunak. Oleh karena itu Noorwati mengingatkan agar kita perlu mewaspadai jika menemukan bercak di pakaian dalam.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya? "Agak sulit mencegahnya. Santai saja, hiduplah dengan tenang, seimbang antara kerja, olahraga, dan rekreasi. Juga jaga pola makan yang sehat," ujar Noorwati.

Deteksi, DeteksiMenurut Noorwati, kanker payudara yang diketahui baru pada stadium satu kemungkinan sembuhnya lebih tinggi dan tidak perlu dilakukan operasi pengangkatan payudara. Itu sebabnya, deteksi sedini mungkin sangat penting. Cara paling mudah dan murah untuk mendeteksi kanker ini adalah melakukan pemeriksaan payudara sendiri (Sadari).

Sadari dilakukan pada 7-10 hari seusai menstruasi karena pada saat itu payudara terasa lunak. Dalam posisi berbaring atau berdiri, kita bisa meraba dengan tiga jari (telunjuk, tengah, dan jari manis) secara lembut ke payudara.

Jika menemukan benjolan atau kerutan, bentuk payudara tidak simetris, kulit berubah seperti kulit jeruk, dan pembesaran kelenjar getah bening di ketiak, segera periksakan ke dokter.
"Tujuan dari Sadari secara rutin adalah untuk merasakan dan mengenal lekuk-lekuk payudara sehingga jika terjadi perubahan dapat diketahui segera," kata Noorwati.(KCM,4/7/08)

Cegah kanker payudara, SADARI sekarang!

Bolehlah bila kanker payudara disebut sebagai momok bagi kaum wanita karena kanker ini akan terus menghantui sepanjang hidupnya. Apa yang bisa kita lakukan? Lakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI).

Di Indonesia, jumlah penderita kanker payudara masih menduduki tingkat kedua setelah kanker mulut rahim. Namun, data di Rumah Sakit Kanker Dharmais tahun 2003 menemukan bahwa kasus kanker payudara sudah melebihi jumlah kanker mulut rahim (serviks).

Menurut dr Noorwati Sutandyo, SpPD, kanker payudara adalah tumbuhnya sel abnormal di payudara yang tidak mengenal batas volume serta bisa menyebar. "Benjolan di payudara disebut jinak jika tetap di situ, dan ganas jika menjalar ke tempat lain, seperti ke paru-paru, hati, tulang, atau otak," kata dokter yang menjadi staf pengajar di Subbagian Hematologi-Onkologi Klinik FKUI/RSCM.

Ada beberapa penyebab kanker payudara, yakni faktor genetik atau keturunan, faktor hormon, pola makan yang tinggi lemak dan rendah serat, alkohol dan rokok, serta faktor lain seperti kegemukan, usia yang semakin tua, serta riwayat mempunyai tumor jinak. "Biasanya seorang perempuan tidak merasakan gejala apa pun. Namun ketika tumor semakin besar, barulah muncul gejala-gejala," papar Noorwati.

Gejala paling umum adalah:1. Muncul benjolan di payudara yang permanen, terdapat perubahan bentuk dan ukuran payudara, benjolan di sekitar ketiak.

2. Kelainan kulit berupa ruam pada kulit di sekitar payudara, areola atau puting terlihat bersisik, memerah, dan bengkak. "Tanda ini terkadang sering disangka sebagai eksim," kata Noorwati.

3. Kelainan puting, yakni keluar cairan dari puting susu, puting susu menjadi lunak. Oleh karena itu Noorwati mengingatkan agar kita perlu mewaspadai jika menemukan bercak di pakaian dalam.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya? "Agak sulit mencegahnya. Santai saja, hiduplah dengan tenang, seimbang antara kerja, olahraga, dan rekreasi. Juga jaga pola makan yang sehat," ujar Noorwati.

Deteksi, DeteksiMenurut Noorwati, kanker payudara yang diketahui baru pada stadium satu kemungkinan sembuhnya lebih tinggi dan tidak perlu dilakukan operasi pengangkatan payudara. Itu sebabnya, deteksi sedini mungkin sangat penting. Cara paling mudah dan murah untuk mendeteksi kanker ini adalah melakukan pemeriksaan payudara sendiri (Sadari).

Sadari dilakukan pada 7-10 hari seusai menstruasi karena pada saat itu payudara terasa lunak. Dalam posisi berbaring atau berdiri, kita bisa meraba dengan tiga jari (telunjuk, tengah, dan jari manis) secara lembut ke payudara.

Jika menemukan benjolan atau kerutan, bentuk payudara tidak simetris, kulit berubah seperti kulit jeruk, dan pembesaran kelenjar getah bening di ketiak, segera periksakan ke dokter.
"Tujuan dari Sadari secara rutin adalah untuk merasakan dan mengenal lekuk-lekuk payudara sehingga jika terjadi perubahan dapat diketahui segera," kata Noorwati.(KCM,4/7/08)

Makanan siap saji tingkatkan resiko kanker wanita Asia


Pola makan serba cepat, siap saji, ala barat yang kini menjadi bagian dari gaya hidup orang perkotaan, khususnya di Asia, telah membuat cemas para pakar kesehatan. Pasalnya, pola makan ala barat tersebut mengundang berbagai penyakit.

Berbagai penelitian telah membuktikan makanan siap saji yang memang kaya lemak dan tinggi karbohidrat tersebut memicu penyakit kardiovaskular seperti stroke dan jantung. Baru-baru ini sebuah studi yang dilakukan oleh Chinese Anti Cancer Association (CACA), membeberkan hasil yang mengejutkan, wanita yang sering mengonsumsi junk food beresiko dua kali lipat terkena kanker payudara.

Penelitian yang melibatkan 1500 perempuan di China itu menunjukkan meski angka kejadian kanker payudara di Asia lebih rendah dibanding di Amerika, namun angkanya tiap tahun terus meningkat. Jika di Amerika dan Eropa penderita kanker payudara terbanyak adalah mereka yang memiliki berat badan lebih dan telah menopause, maka di Asia kanker payudara banyak disebabkan karena pola makan tidak sehat.

Berdasarkan data CACA, angka kejadian dan kematian akibat kanker payudara di sejumlah kota besar di China meningkat hingga 38 persen pada tahun 1990-an. Diagnosis para dokter yang lebih jelas diduga menjadi penyebab tingginya angka kenaikan, namun faktor lain yang cukup berperan adalah perubahan pola makan perempuan di sana yang menyukai makanan siap saji.
Di negara barat, para ahli mengkaitkan obesitas dengan kejadian kanker payudara. Lebih dari seratus penelitian menunjukkan perempuan yang telah menopause dan berat badannya berlebih atau obesitas, risiko kanker payudaranya meningkat. Meski sebenarnya banyak faktor lain yang berperan, seperti melahirkan di usia di atas 35 tahun, kurang berolahraga, genetik, dan sebagainya.

Makanan siap saji tingkatkan resiko kanker wanita Asia


Pola makan serba cepat, siap saji, ala barat yang kini menjadi bagian dari gaya hidup orang perkotaan, khususnya di Asia, telah membuat cemas para pakar kesehatan. Pasalnya, pola makan ala barat tersebut mengundang berbagai penyakit.

Berbagai penelitian telah membuktikan makanan siap saji yang memang kaya lemak dan tinggi karbohidrat tersebut memicu penyakit kardiovaskular seperti stroke dan jantung. Baru-baru ini sebuah studi yang dilakukan oleh Chinese Anti Cancer Association (CACA), membeberkan hasil yang mengejutkan, wanita yang sering mengonsumsi junk food beresiko dua kali lipat terkena kanker payudara.

Penelitian yang melibatkan 1500 perempuan di China itu menunjukkan meski angka kejadian kanker payudara di Asia lebih rendah dibanding di Amerika, namun angkanya tiap tahun terus meningkat. Jika di Amerika dan Eropa penderita kanker payudara terbanyak adalah mereka yang memiliki berat badan lebih dan telah menopause, maka di Asia kanker payudara banyak disebabkan karena pola makan tidak sehat.

Berdasarkan data CACA, angka kejadian dan kematian akibat kanker payudara di sejumlah kota besar di China meningkat hingga 38 persen pada tahun 1990-an. Diagnosis para dokter yang lebih jelas diduga menjadi penyebab tingginya angka kenaikan, namun faktor lain yang cukup berperan adalah perubahan pola makan perempuan di sana yang menyukai makanan siap saji.
Di negara barat, para ahli mengkaitkan obesitas dengan kejadian kanker payudara. Lebih dari seratus penelitian menunjukkan perempuan yang telah menopause dan berat badannya berlebih atau obesitas, risiko kanker payudaranya meningkat. Meski sebenarnya banyak faktor lain yang berperan, seperti melahirkan di usia di atas 35 tahun, kurang berolahraga, genetik, dan sebagainya.

Pengobatan kanker dari sirkulasi darah

Dalam beberapa dekade terakhir, riset penggunaan teknologi nano dalam diagnosis dan terapi kanker terus dikembangkan. Dengan teknologi ini, gen penghambat sel kanker dalam liposomal partikel nano dimasukkan langsung ke dalam sistem sirkulasi darah manusia.

Hal itu bertujuan agar sel kanker serta tumor dengan segala bentuk dan ukuran bisa langsung dihancurkan. Demikian diungkapkan Ester H Chang dari Lombardi Comprehensive Cancer Center Pusat Kedokteran Universitas Georgetown, Amerika Serikat, Sabtu (10/5) di Universitas Pelita Harapan (UPH), Karawaci, Tangerang.

Ester menyatakan, penggunaan teknologi nano ini bisa meningkatkan efektivitas terapi dan meminimalisasi efek samping karena hanya menghancurkan jaringan tubuh yang terkena kanker dan tidak merusak jaringan sehat. Sejauh ini uji klinik penggunaan partikel nano dalam terapi kanker masih dilakukan untuk meneliti dosis yang tepat.

Direktur Bidang Hubungan Internasional Institut Kanker Nasional Amerika Serikat Joe B Harford menambahkan, potensi teknologi nano dalam pengobatan secara umum sudah terwujud. Sejauh ini penggunaan teknologi nano untuk pengobatan umum masih terbatas, tetapi banyak riset telah dilakukan. Pengembangan riset ini diperlukan untuk mengetahui tingkat keamanan dan efikasi pengobatan kanker dengan teknologi nano.

Teknologi nano ini perlu segera dikembangkan karena, "Pada sebagian pasien, sel-sel kanker resisten terhadap radiasi dan kemoterapi," kata Ester.

Penderita kanker umumnya menjalani pengobatan standar, yaitu terapi radiasi dan kemoterapi. Obat kemoterapi tak hanya menyerang sel kanker, tetapi juga sel sehat yang kemudian tumbuh cepat.

Saat ini banyak negara di dunia tengah mengembangkan teknologi ini, di antaranya Amerika Serikat, Jepang, Korea, dan beberapa negara di Eropa. National Nanotechnology Initiative Amerika Serikat, yang didirikan tahun 2000, pada tahun ini mengalokasikan anggaran lebih dari 1 miliar dollar AS. "Beberapa obat dengan teknologi nano sedang diuji klinik, dan ada yang telah dipasarkan," ujarnya.

Resistensi sel kanker

Sementara itu juga dibahas situasi sekarang, seiring perubahan lingkungan dan gaya hidup, situasi epidemi penyakit kanker di dunia kian mencemaskan.

Hal ini diperparah oleh meningkatnya resistensi sel-sel kanker pada terapi radiasi dan kemoterapi. Teknologi nano untuk terapi kanker dikembangkan untuk mengatasi persoalan itu.
Menurut Harford dalam makalahnya pada simposium "Frontier of Cancer Research", Minggu, di UPH, jumlah kematian akibat kanker melebihi jumlah angka kematian akibat AIDS, tuberkulosis, dan malaria. Masalah kependudukan dan perubahan gaya hidup meningkatkan penyakit kanker, terutama di negara-negara berpendapatan menengah ke bawah.

Pada tahun 2030, sekitar 70 persen kematian akibat kanker terjadi di negara-negara berkembang karena kurangnya kemampuan dan akses terhadap sistem pelayanan kesehatan.
Kepala Laboratorium Human Carcinogenesis Institut Kanker Nasional Amerika Serikat Curtis Harris menambahkan, pengendalian faktor risiko kanker perlu dilakukan sebagai tindakan pencegahan disertai deteksi dini. Sejumlah faktor risiko yang perlu diwaspadai antara lain genetik atau keturunan, lingkungan, dan gaya hidup. "Jangan mengonsumsi satu jenis makanan secara berlebihan,"ujarnya.

Menurut hasil studi mengenai faktor gaya hidup dan kanker di Shanghai, China, seperti dipaparkan Yong Bing Xiang dari Departemen Epidemiologi Institut Kanker Shanghai, China, kebiasaan merokok terkait dengan kematian akibat kanker pada paru, perut, dan pankreas.
Konsumsi teh kemungkinan bisa mencegah perkembangan kanker. Pada perempuan, paparan asap rokok (perokok pasif) di lingkungan kerja dan keluarga meningkatkan risiko kanker dan penyakit kardiovaskular.(KCM)

Pengobatan kanker dari sirkulasi darah

Dalam beberapa dekade terakhir, riset penggunaan teknologi nano dalam diagnosis dan terapi kanker terus dikembangkan. Dengan teknologi ini, gen penghambat sel kanker dalam liposomal partikel nano dimasukkan langsung ke dalam sistem sirkulasi darah manusia.

Hal itu bertujuan agar sel kanker serta tumor dengan segala bentuk dan ukuran bisa langsung dihancurkan. Demikian diungkapkan Ester H Chang dari Lombardi Comprehensive Cancer Center Pusat Kedokteran Universitas Georgetown, Amerika Serikat, Sabtu (10/5) di Universitas Pelita Harapan (UPH), Karawaci, Tangerang.

Ester menyatakan, penggunaan teknologi nano ini bisa meningkatkan efektivitas terapi dan meminimalisasi efek samping karena hanya menghancurkan jaringan tubuh yang terkena kanker dan tidak merusak jaringan sehat. Sejauh ini uji klinik penggunaan partikel nano dalam terapi kanker masih dilakukan untuk meneliti dosis yang tepat.

Direktur Bidang Hubungan Internasional Institut Kanker Nasional Amerika Serikat Joe B Harford menambahkan, potensi teknologi nano dalam pengobatan secara umum sudah terwujud. Sejauh ini penggunaan teknologi nano untuk pengobatan umum masih terbatas, tetapi banyak riset telah dilakukan. Pengembangan riset ini diperlukan untuk mengetahui tingkat keamanan dan efikasi pengobatan kanker dengan teknologi nano.

Teknologi nano ini perlu segera dikembangkan karena, "Pada sebagian pasien, sel-sel kanker resisten terhadap radiasi dan kemoterapi," kata Ester.

Penderita kanker umumnya menjalani pengobatan standar, yaitu terapi radiasi dan kemoterapi. Obat kemoterapi tak hanya menyerang sel kanker, tetapi juga sel sehat yang kemudian tumbuh cepat.

Saat ini banyak negara di dunia tengah mengembangkan teknologi ini, di antaranya Amerika Serikat, Jepang, Korea, dan beberapa negara di Eropa. National Nanotechnology Initiative Amerika Serikat, yang didirikan tahun 2000, pada tahun ini mengalokasikan anggaran lebih dari 1 miliar dollar AS. "Beberapa obat dengan teknologi nano sedang diuji klinik, dan ada yang telah dipasarkan," ujarnya.

Resistensi sel kanker

Sementara itu juga dibahas situasi sekarang, seiring perubahan lingkungan dan gaya hidup, situasi epidemi penyakit kanker di dunia kian mencemaskan.

Hal ini diperparah oleh meningkatnya resistensi sel-sel kanker pada terapi radiasi dan kemoterapi. Teknologi nano untuk terapi kanker dikembangkan untuk mengatasi persoalan itu.
Menurut Harford dalam makalahnya pada simposium "Frontier of Cancer Research", Minggu, di UPH, jumlah kematian akibat kanker melebihi jumlah angka kematian akibat AIDS, tuberkulosis, dan malaria. Masalah kependudukan dan perubahan gaya hidup meningkatkan penyakit kanker, terutama di negara-negara berpendapatan menengah ke bawah.

Pada tahun 2030, sekitar 70 persen kematian akibat kanker terjadi di negara-negara berkembang karena kurangnya kemampuan dan akses terhadap sistem pelayanan kesehatan.
Kepala Laboratorium Human Carcinogenesis Institut Kanker Nasional Amerika Serikat Curtis Harris menambahkan, pengendalian faktor risiko kanker perlu dilakukan sebagai tindakan pencegahan disertai deteksi dini. Sejumlah faktor risiko yang perlu diwaspadai antara lain genetik atau keturunan, lingkungan, dan gaya hidup. "Jangan mengonsumsi satu jenis makanan secara berlebihan,"ujarnya.

Menurut hasil studi mengenai faktor gaya hidup dan kanker di Shanghai, China, seperti dipaparkan Yong Bing Xiang dari Departemen Epidemiologi Institut Kanker Shanghai, China, kebiasaan merokok terkait dengan kematian akibat kanker pada paru, perut, dan pankreas.
Konsumsi teh kemungkinan bisa mencegah perkembangan kanker. Pada perempuan, paparan asap rokok (perokok pasif) di lingkungan kerja dan keluarga meningkatkan risiko kanker dan penyakit kardiovaskular.(KCM)

Kanker leher rahim

Kanker leher rahim (serviks) belakangan ini makin kerap dibicarakan,terlebih karena kanker ini menelan korban meninggal cukup banyak diIndonesia. Masuknya vaksin untuk mencegah kanker ini membuat kitasedikit bernapas lega, apalagi kesadaran untuk deteksi dini kanker,pap smear, makin tinggi. Meski begitu, pendidikan untuk pencegahantetap yang utama.

Kanker leher rahim, menurut catatan Kompas, menempati peringkatpertama kanker pada perempuan di Indonesia. Ada 15.000 kasus baru pertahun dengan kematian 8.000 orang per tahun. Angka harapan hidup limatahun jika kanker ini diketahui dan diobati pada stadium 1 adalah70-75 persen, pada stadium 2 adalah 60 persen, pada stadium 3 tinggal25 persen, dan pada stadium empat penderita sulit diharapkan bertahan(Kompas, 19/4).

Ivan R Sini, Direktur Teknologi dan Pengembangan Produk serta dokterahli obstetri ginekologi dari Rumah Sakit Bunda, mengatakan, 490.000perempuan di dunia setiap tahun didiagnosis terkena kanker yangdisebabkan oleh human papillomavirus (HPV) ini. Sebanyak 240.000 orangdi antaranya meninggal dunia.

"Di Australia, kanker ini jadi pembunuh nomor satu bagi perempuansejak 40 tahun terakhir," ujar Ivan dalam seminar "Women and CervicalCancer" yang diselenggarakan SOS International pekan lalu di Jakarta.

Ada banyak tipe HPV, yang berisiko rendah maupun tinggi. Sampai saatini telah teridentifikasi lebih dari 120 tipe HPV. HPV dengan risikorendah, misalnya HPV tipe 6 dan 11, sedangkan HPV risiko tinggimisalnya HPV tipe 16 dan 18. HPV risiko rendah "hanya" menyebabkankutil-kutil di sekitar kemaluan, termasuk anus. HPV risiko tinggilahyang menyebabkan kanker serviks.
Gejala kanker ini, yang pasti adalah pendarahan setelah intercourse,di antara jeda haid, atau setelah menopouse. Namun, Ivan menekankan,keberadaan HPV ini kerap tidak disertai gejala. "Kanker ini silentkiller, sebab sebagian besar justru enggak mengalami berbagai gejalaitu," ujar Ivan.

Perubahan sel

Lebih jauh soal kanker ini, Ivan menjelaskan, ada dua tipe sel dalamserviks, squamous dan glandular. Pertemuan dua sel di squamo-columnarjunction, bagian antara bibir luar dan dalam leher rahim, bisamengubah sel menjadi abnormal.

"Ini adalah bagian yang selalu berubah jika terjadi haid, mengandung,atau menopause. Di bagian ini, sel-sel berubah cepat dan bisa jadiabnormal. Sel-sel yang rusak itu berubah bentuk dan warna, danakhirnya menjadi tumor dan selanjutnya kanker yang mematikan," paparnya.
Kanker serviks makin ganas dari bulan ke bulan dan tahun ke tahun.Pada masa pra-kanker (setelah sel berubah menjadi abnormal), ada tigatahapan perubahan sel, cervical intraepithelial neoplasia (CIN) 1, CIN2, dan CIN 3. Setelah CIN 3, sel yang abnormal itu menjadi sangattebal dan akhirnya menjadi kanker.

"Jangan khawatir, kanker ini tidak serta-merta, dari terindikasi adavirus HPV hingga mencapai CIN 2 atau 3 jarak waktunya lima tahun.Maka, deteksi dini sangat penting," papar Ivan.

Pencegahan

HPV yang mengidapi seseorang sebenarnya 70 persen dapat dibersihkanmelalui sistem imunisasi alami dalam tubuh, namun 30 persennya punyakesempatan untuk terinfeksi. Seyogianya, mulailah mencegah sebelumkanker telanjur menggerogoti.

Yang terpenting adalah pendidikan. Didik diri sendiri untuk selaluberperilaku hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan yang kaya nutrisidan tidak merokok. Jagalah kebersihan diri dan lingkungan, misalnyabersihkan organ vital setiap saat dengan tisu atau mengganti celanadalam minimal dua kali sehari.

Pendidikan ini bisa diartikan lebih luas, misalnya pendidikan sekskepada remaja, baik laki-laki maupun perempuan. Mengutip penelitianFakultas Kedokteran Universitas Indonesia beberapa waktu lalu, Ivanmenyebut 80 persen remaja di Jakarta (75 persen di Yogyakarta)melakukan aktivitas seksual sebelum menikah. Pendidikan mengenaikanker serviks untuk para remaja juga penting dilakukan.

"Perpindahan HPV melalui aktivitas seksual tidak hanya melalui sexualintercourse, namun juga genital-genital, manual-genital, danoral-genital," kata Ivan.

Sebaiknya memakai kondom sebelum berhubungan. Selain sebagai alatkontrasepsi, kondom juga untuk menjaga diri kalau-kalau alat vitaltidak benar-benar bersih. Langkah terbaru untuk pencegahan adalahvaksinasi. Saat ini, vaksin kanker serviks sudah tersedia di Indonesiameski belum semua rumah sakit atau klinik menyediakan.

Setelah pencegahan, langkah selanjutnya adalah deteksi dini melaluiberbagai cara, antara lain pap smear, tes DNA HPV. Pap smear yaknimengambil sel dari serviks, lalu diteliti dengan mikroskop untukdideteksi apakah sel masih normal atau sudah abnormal. Bagi yangmempunyai kegiatan seksual dan tidak menikah, pap smear sangat dianjurkan.

Langkah-langkah pencegahan dan deteksi dini sebaiknya dilakukansebelum memasuki tahap penyembuhan, seperti kemoterapi, radioterapi,hingga pembedahan. Berkonsultasilah ke dokter, baik untuk pencegahanmaupun deteksi dini.

Kanker leher rahim

Kanker leher rahim (serviks) belakangan ini makin kerap dibicarakan,terlebih karena kanker ini menelan korban meninggal cukup banyak diIndonesia. Masuknya vaksin untuk mencegah kanker ini membuat kitasedikit bernapas lega, apalagi kesadaran untuk deteksi dini kanker,pap smear, makin tinggi. Meski begitu, pendidikan untuk pencegahantetap yang utama.

Kanker leher rahim, menurut catatan Kompas, menempati peringkatpertama kanker pada perempuan di Indonesia. Ada 15.000 kasus baru pertahun dengan kematian 8.000 orang per tahun. Angka harapan hidup limatahun jika kanker ini diketahui dan diobati pada stadium 1 adalah70-75 persen, pada stadium 2 adalah 60 persen, pada stadium 3 tinggal25 persen, dan pada stadium empat penderita sulit diharapkan bertahan(Kompas, 19/4).

Ivan R Sini, Direktur Teknologi dan Pengembangan Produk serta dokterahli obstetri ginekologi dari Rumah Sakit Bunda, mengatakan, 490.000perempuan di dunia setiap tahun didiagnosis terkena kanker yangdisebabkan oleh human papillomavirus (HPV) ini. Sebanyak 240.000 orangdi antaranya meninggal dunia.

"Di Australia, kanker ini jadi pembunuh nomor satu bagi perempuansejak 40 tahun terakhir," ujar Ivan dalam seminar "Women and CervicalCancer" yang diselenggarakan SOS International pekan lalu di Jakarta.

Ada banyak tipe HPV, yang berisiko rendah maupun tinggi. Sampai saatini telah teridentifikasi lebih dari 120 tipe HPV. HPV dengan risikorendah, misalnya HPV tipe 6 dan 11, sedangkan HPV risiko tinggimisalnya HPV tipe 16 dan 18. HPV risiko rendah "hanya" menyebabkankutil-kutil di sekitar kemaluan, termasuk anus. HPV risiko tinggilahyang menyebabkan kanker serviks.
Gejala kanker ini, yang pasti adalah pendarahan setelah intercourse,di antara jeda haid, atau setelah menopouse. Namun, Ivan menekankan,keberadaan HPV ini kerap tidak disertai gejala. "Kanker ini silentkiller, sebab sebagian besar justru enggak mengalami berbagai gejalaitu," ujar Ivan.

Perubahan sel

Lebih jauh soal kanker ini, Ivan menjelaskan, ada dua tipe sel dalamserviks, squamous dan glandular. Pertemuan dua sel di squamo-columnarjunction, bagian antara bibir luar dan dalam leher rahim, bisamengubah sel menjadi abnormal.

"Ini adalah bagian yang selalu berubah jika terjadi haid, mengandung,atau menopause. Di bagian ini, sel-sel berubah cepat dan bisa jadiabnormal. Sel-sel yang rusak itu berubah bentuk dan warna, danakhirnya menjadi tumor dan selanjutnya kanker yang mematikan," paparnya.
Kanker serviks makin ganas dari bulan ke bulan dan tahun ke tahun.Pada masa pra-kanker (setelah sel berubah menjadi abnormal), ada tigatahapan perubahan sel, cervical intraepithelial neoplasia (CIN) 1, CIN2, dan CIN 3. Setelah CIN 3, sel yang abnormal itu menjadi sangattebal dan akhirnya menjadi kanker.

"Jangan khawatir, kanker ini tidak serta-merta, dari terindikasi adavirus HPV hingga mencapai CIN 2 atau 3 jarak waktunya lima tahun.Maka, deteksi dini sangat penting," papar Ivan.

Pencegahan

HPV yang mengidapi seseorang sebenarnya 70 persen dapat dibersihkanmelalui sistem imunisasi alami dalam tubuh, namun 30 persennya punyakesempatan untuk terinfeksi. Seyogianya, mulailah mencegah sebelumkanker telanjur menggerogoti.

Yang terpenting adalah pendidikan. Didik diri sendiri untuk selaluberperilaku hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan yang kaya nutrisidan tidak merokok. Jagalah kebersihan diri dan lingkungan, misalnyabersihkan organ vital setiap saat dengan tisu atau mengganti celanadalam minimal dua kali sehari.

Pendidikan ini bisa diartikan lebih luas, misalnya pendidikan sekskepada remaja, baik laki-laki maupun perempuan. Mengutip penelitianFakultas Kedokteran Universitas Indonesia beberapa waktu lalu, Ivanmenyebut 80 persen remaja di Jakarta (75 persen di Yogyakarta)melakukan aktivitas seksual sebelum menikah. Pendidikan mengenaikanker serviks untuk para remaja juga penting dilakukan.

"Perpindahan HPV melalui aktivitas seksual tidak hanya melalui sexualintercourse, namun juga genital-genital, manual-genital, danoral-genital," kata Ivan.

Sebaiknya memakai kondom sebelum berhubungan. Selain sebagai alatkontrasepsi, kondom juga untuk menjaga diri kalau-kalau alat vitaltidak benar-benar bersih. Langkah terbaru untuk pencegahan adalahvaksinasi. Saat ini, vaksin kanker serviks sudah tersedia di Indonesiameski belum semua rumah sakit atau klinik menyediakan.

Setelah pencegahan, langkah selanjutnya adalah deteksi dini melaluiberbagai cara, antara lain pap smear, tes DNA HPV. Pap smear yaknimengambil sel dari serviks, lalu diteliti dengan mikroskop untukdideteksi apakah sel masih normal atau sudah abnormal. Bagi yangmempunyai kegiatan seksual dan tidak menikah, pap smear sangat dianjurkan.

Langkah-langkah pencegahan dan deteksi dini sebaiknya dilakukansebelum memasuki tahap penyembuhan, seperti kemoterapi, radioterapi,hingga pembedahan. Berkonsultasilah ke dokter, baik untuk pencegahanmaupun deteksi dini.

Halau kanker dengan sesendok madu

SESENDOK gula mungkin bakal menolong Anda menggelontorkan obat yang Anda makan namun tidak memberi apa-apa selain kalori. Sebaliknya, madu akan meningkatkan kadar antioksidan endogen dalam tubuh Anda.

Antioksidan endogen merupakan unsur yang diproduksi tubuh untuk menghalau radikal bebas penyebab munculnya penyakit jantung, kanker dan penyakit lainnya lagi.

Dalam sebuah penelitian kecil, setelah sebulan empat sendok makan madu setiap hari—yng cukup untuk memaniskan secangkir teh—25 relawan mengalami peningkatan kadar antioksidan hingga 5 sampai 12 persen dalam darah mereka.

Jadi, pastikan agar Anda menggunakan madu sebagai pengganti gula. Jangan gunakan dua-duanya, karena Anda hanya akan melipatgandakan asupan kalori. (KCM)

Halau kanker dengan sesendok madu

SESENDOK gula mungkin bakal menolong Anda menggelontorkan obat yang Anda makan namun tidak memberi apa-apa selain kalori. Sebaliknya, madu akan meningkatkan kadar antioksidan endogen dalam tubuh Anda.

Antioksidan endogen merupakan unsur yang diproduksi tubuh untuk menghalau radikal bebas penyebab munculnya penyakit jantung, kanker dan penyakit lainnya lagi.

Dalam sebuah penelitian kecil, setelah sebulan empat sendok makan madu setiap hari—yng cukup untuk memaniskan secangkir teh—25 relawan mengalami peningkatan kadar antioksidan hingga 5 sampai 12 persen dalam darah mereka.

Jadi, pastikan agar Anda menggunakan madu sebagai pengganti gula. Jangan gunakan dua-duanya, karena Anda hanya akan melipatgandakan asupan kalori. (KCM)

Tangkal kanker prostat dengan brokoli


MENGONSUMSI sayuran hijau seperti brokoli bukan saja memberi nutrisi dan vitamin penting bagi tubuh Anda. Kebiasaan memakan beberapa porsi brokoli setiap minggu ternyata dapat melindungi pria dari kenker prostat.

Seperti dilaporkan ilmuwan dari Inggris, Rabu (2/7), brokoli berpotensi besar menjadi makanan pencegah kanker karena kandungan alaminya memiliki mekanisme unik melawan kanker.
Richard Mithen, ahli biologi dari Institute of Food Research, menjelaskan, senyawa dalam brokoli dapat memicu perubahan genetik dalam tubuh hingga mencapai ratusan. Selain itu, zat-zat dalam brokoli juga mengaktifkan gen-gen yang mampu melawan kanker serta menonaktikan gen-gen yang menyuplai perkembangan tumor.

Sebelumnya memang banyak sekali bukti penelitian yang mendukung pentingnya diet buah dan sayuran untuk menekan risiko kanker. Namun, Mithen mengklaim bahwa risetnya, yang juga dipublikasi dalam Public Library of Science journal PLoS One, adalah penelitian pertama pada manusia yang menyelidiki potensi dan proses mekanismenya secara biologis. "Setiap orang menyarankan untuk mengonsumsi sayuran, tetapi tak satu pun yang bisa menjelaskan mengapa. Penelitian kami mampu menjelaskan mengapa sayuran sangat baik," ungkap Mithen yang memimpin riset ini.

Kanker prostat kini tercatat sebagai penyakit pembunuh kedua tertinggi pada pria setelah kanker paru-paru. Setiap tahun, sekitar 680.000 pria di seluruh dunia didiagnosa menderita penyakit ini dan sekitar 220.000 di antaranya meninggal.

Dalam risetnya, Mithen beserta timnya melibatkan puluhan pria yang mengidap lesi prakanker yang berisiko menjadi kanker prostat. Partisipan dibagi dalam dua kelompok, yakni yang mendapat asupan brokoli dan grup kacang polong. Setiap minggu selama satu tahun kelompok ini diberi empat porsi makanan ekstra brokoli atau kacang polong.

Para ahli juga mengambil contoh jaringan selama berjalannya penelitian dan mereka menemukan bahwa pria yang makan brokoli menunjukkan perubahan gen yang berperan penting dalam melawan kanker. Menurut peneliti, manfaat yang sama juga kemungkinan akan didapat dari sayuran dari jenis Cruciferae atau Brassicaceae yang mengandung senyawa isothiocyanate, seperti kubis kailan, kembang kol, kubis, arugula, selada air, dan horse radish (sejenis lobak).

Namun begitu, lanjut Mithen, brokoli memiliki sejenis bahan khusus yang sangat kuat bernama sulforaphane, yang diyakini membuat sayuran-sayuran hijau memiliki senjata ekstra penangkal kanker. "Ketika orang mengidap kanker, sejumlah gen dinonaktifkan dan beberapa lain diaktifkan. Apa yang dilakukan oleh senyawa dalam brokoli tampaknya mengaktifkan gen-gen yang mencegah pertumbuhan kanker dan mematikan gel lainnya yang membuat tumor menyebar," papar Mithen.

Ia menambahkan, pemakan brokoli menunjukkan 400 hingga 500 perubahan genetik positif dalam tubuhnya, di mana pria yang memiliki sejenis gen bernama GSTM1 mendapatkan manfaat maksimal dari brokoli. Tercatat setengah dari seluruh populasi membawa gen jenis ini.

Peneliti memang tidak memantau lebih jauh para partisipan untuk mengetahui siapa yang akhirnya menderita kanker. Namun, penemuan ini mendukung ide bahwa dengan mengonsumsi lebih banyak sayuran setiap minggu dapat memberikan perubahan besar bagi kesehatan.

Mithen mengindikasikan bahwa senyawa penting dalam sayuran ini juga kemungkinan besar akan memberi faedah yang sama bagi bagian organ lainnya dan bahkan dapat melindungi dari berbagai jenis kanker. "Anda tidak perlu mengubah diet, hanya butuh lebih banyak porsi sayuran untuk membuat perubahan besar," tagasnya. (KCM)

Buah tin bisa mencegah kanker


Buah Tin, yang namanya tercantum dalam Al-Qur`an disamping buah zaitun, disebut-sebut oleh hasil penelitian medis terbaru sebagai buah yang bermanfaat untuk mencegah kanker. Menurut hasil penelitian medis yang disiarkan oleh harian Al-Raya, Qatar, Sabtu (5/1), buah yang besarnya seperti buah kelengkeng itu selain kaya akan kalsium dan potasium juga mengandung zat benzaldehyde yang bermanfaat melawan sel-sel kanker.

Di dalam buah tin yang rasanya manis itu juga mengandung zat yang sangat penting bagi tubuh manusia karena dapat mengurangi kolesterol jahat, menguatkan jantung dan menormalkan pernafasan bagi penderitasesak nafas.

Buah yang juga dikenal dengan nama Ara atau Figs itu banyak dijumpai di negara-negara Arab. Buah ini mudah dicerna oleh alat pencernaan, bermanfaat untuk mengobati sulit buang air besar, bermanfaat untuk hati dan limpa. Buah yang rasanya manis seperti korma ini juga lebih mirip sebagai makanan biasa karena mengenyangkan seperti buah korma sehingga warga Arab jarang memasukkannya dalam daftar buah-buahan. Penelitian tentang kandungan benzaldehyde dalam buah Tin sebenarnya telah diungkap dalam jurnal yang dimuat website Cancer Cure Foundation. Website ini menyebutkan bahwa riset yang dilakukan para ahli dari Institute of Physical and Chemical Research di Tokyo menunjukkan benzaldehyde terbukti efektif dalam menghambat tumor.

Selain itu, Departemen Pertanian Amerika Serikat mengungkapkan bahwa buah Tin mengandung beragam nutrisi mulai dari vitamin A, C, kalsium, magnesium hingga potasium. Buah ini juga baik untuk mengendalikan nafsu makan dan membantu usaha penurunan berat badan. Jus buah Tin pun merupakan minuman yang baik untuk membunuh bakteri merugikan dalam sebuah peneltian. (KCM)

Buah tin bisa mencegah kanker


Buah Tin, yang namanya tercantum dalam Al-Qur`an disamping buah zaitun, disebut-sebut oleh hasil penelitian medis terbaru sebagai buah yang bermanfaat untuk mencegah kanker. Menurut hasil penelitian medis yang disiarkan oleh harian Al-Raya, Qatar, Sabtu (5/1), buah yang besarnya seperti buah kelengkeng itu selain kaya akan kalsium dan potasium juga mengandung zat benzaldehyde yang bermanfaat melawan sel-sel kanker.

Di dalam buah tin yang rasanya manis itu juga mengandung zat yang sangat penting bagi tubuh manusia karena dapat mengurangi kolesterol jahat, menguatkan jantung dan menormalkan pernafasan bagi penderitasesak nafas.

Buah yang juga dikenal dengan nama Ara atau Figs itu banyak dijumpai di negara-negara Arab. Buah ini mudah dicerna oleh alat pencernaan, bermanfaat untuk mengobati sulit buang air besar, bermanfaat untuk hati dan limpa. Buah yang rasanya manis seperti korma ini juga lebih mirip sebagai makanan biasa karena mengenyangkan seperti buah korma sehingga warga Arab jarang memasukkannya dalam daftar buah-buahan. Penelitian tentang kandungan benzaldehyde dalam buah Tin sebenarnya telah diungkap dalam jurnal yang dimuat website Cancer Cure Foundation. Website ini menyebutkan bahwa riset yang dilakukan para ahli dari Institute of Physical and Chemical Research di Tokyo menunjukkan benzaldehyde terbukti efektif dalam menghambat tumor.

Selain itu, Departemen Pertanian Amerika Serikat mengungkapkan bahwa buah Tin mengandung beragam nutrisi mulai dari vitamin A, C, kalsium, magnesium hingga potasium. Buah ini juga baik untuk mengendalikan nafsu makan dan membantu usaha penurunan berat badan. Jus buah Tin pun merupakan minuman yang baik untuk membunuh bakteri merugikan dalam sebuah peneltian. (KCM)

Hati-hati depresi pada pasien kanker

Menderita penyakit kanker merupakan trauma bagi pasien. Kondisi ini dapat memberi dampak negatif pada pasien sendiri maupun keluarganya. Perasaan yang dialami pasien antara lain kekhawatiran akan masa depan, ketakutan menghadapi kematian, rasa nyeri dan penderitaan.
Sayangnya, penatalaksanaan kanker selama ini cenderung hanya memfokuskan pada pengobatan fisik pasien. Depresi ditandai dengan adanya perasaan sedih, murung dan iritabilitas. Pasien mengalami distorsi kognitif seperti mengeritik diri sendiri, timbul rasa bersalah, perasaan tidak berharga, kepercayaan diri turun, pesimis dan putus asa. Terdapat rasa malas, tidak bertenaga, retardasi psikomotor dan menarik diri dari hubungan sosial. Pasien juga mengalami gangguan tidur seperti sulit masuk tidur atau terbangun dini hari. ”Nafsu makan berkurang, begitu pula dengan gairah seksual,” kata spesialis kesehatan jiwa Slamet Iman Santoso saat mempertahankan desertasinya untuk meraih gelar doktor bidang kesehatan jiwa pada Universitas Indonesia di hadapan tim penguji yang diketuai Guru Besar Tetap Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Rabu (9/1), di ruang senat FKUI, Jakarta.
Menurut Slamet, depresi bukan gangguan yang homogen, melainkan merupakan fenomena yang kompleks. Bentuknya sangat bervariasi, sehingga kita mengenal depresi dengan gejala yang ringan, berat dengan atau tanpa ciri-ciri psikotik, berkomorbiditas dengan gangguan psikiatrik lain atau dengan gangguan fisik lain. Keanekaragaman gejala depresi itu diduga karena adanya perbedaan etiologi yang mendasarinya.
Pada penelitian mengenai prevalensi psikiatri di antara pasien-pasien keganasan, diperkirakan sekitar 50 persen pasien-pasien keganasan akan memiliki diagnosis psikiatri. Dari jumlah itu, 85 persen di antaranya memiliki gejala-gejala depresi dan atau ansietas. Kebanyakan diagnosis atau sekitar 68 persen diklasifikasikan sebagai gangguan penyesuaian, suatu reaksi emosional yang gagal beradaptasi terhadap tekanan hidup. Data objektif jenis dan frekuensi masalah psikis pada pasien kanker dari bidang psikoonkologi adalah data dari psichosocial collaborative oncology groups (psycog) yang meneliti 215 pasien kanker yang dirawat dan berobat jalan di tiga pusat RS kanker.
Ternyata, 53 persen pasien dapat menyesuaikan diri terhadap stres, 47 persen sisanya menunjukkan gangguan psikiatri secara klinis. Dari yang 47 persen ini, sebanyak 68 persen menderita gangguan penyesuaian dengan depresi dan cemas, 13 persen depresi berat, 8 persen gangguan mental kronik, 7 persen gangguan kepribadian dan 4 persen cenderung cemas. Pada penelitian terhadap 83 wanita dengan keganasan ginekologis, Evans dkk melaporkan bahwa 23 persen memenuhi kriteria psikiatri untuk depresi mayor, 24 persen pasien memenuhi kriteria untuk gangguan penyesuaian dengan suasana perasaan yang berupa depresi, dan 14 persen pasien memiliki diagnosis psikiatri lain. ”Tekanan emosional adalah reaksi normal pada saat ditegakkan diagnosis kanker. Ini harus segera diatasi sejak awal penegakan diagnosis,” ujar Slamet.
Meski ketakutan itu sama pada tiap pasien, tetapi punya tingkat tekanan psikologis berbeda terkait dengan kondisi medis, aspek psikologis dan aspek sosial. Wallen dkk (1987) mengambil data dari 263.000 pasien rawat inap di 327 RS Umum melaporkan, sekitar 24 persen pasien yang membutuhkan rujukan psikiatri didiagnosis mengalami depresi, sedangkan dari rumah sakit-rumah sakit kanker menunjukkan frekuensi lebih tinggi jumlah diagnosis depresi yang dibuat konsultan psikiater.(KCM)

Hati-hati depresi pada pasien kanker

Menderita penyakit kanker merupakan trauma bagi pasien. Kondisi ini dapat memberi dampak negatif pada pasien sendiri maupun keluarganya. Perasaan yang dialami pasien antara lain kekhawatiran akan masa depan, ketakutan menghadapi kematian, rasa nyeri dan penderitaan.
Sayangnya, penatalaksanaan kanker selama ini cenderung hanya memfokuskan pada pengobatan fisik pasien. Depresi ditandai dengan adanya perasaan sedih, murung dan iritabilitas. Pasien mengalami distorsi kognitif seperti mengeritik diri sendiri, timbul rasa bersalah, perasaan tidak berharga, kepercayaan diri turun, pesimis dan putus asa. Terdapat rasa malas, tidak bertenaga, retardasi psikomotor dan menarik diri dari hubungan sosial. Pasien juga mengalami gangguan tidur seperti sulit masuk tidur atau terbangun dini hari. ”Nafsu makan berkurang, begitu pula dengan gairah seksual,” kata spesialis kesehatan jiwa Slamet Iman Santoso saat mempertahankan desertasinya untuk meraih gelar doktor bidang kesehatan jiwa pada Universitas Indonesia di hadapan tim penguji yang diketuai Guru Besar Tetap Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Rabu (9/1), di ruang senat FKUI, Jakarta.
Menurut Slamet, depresi bukan gangguan yang homogen, melainkan merupakan fenomena yang kompleks. Bentuknya sangat bervariasi, sehingga kita mengenal depresi dengan gejala yang ringan, berat dengan atau tanpa ciri-ciri psikotik, berkomorbiditas dengan gangguan psikiatrik lain atau dengan gangguan fisik lain. Keanekaragaman gejala depresi itu diduga karena adanya perbedaan etiologi yang mendasarinya.
Pada penelitian mengenai prevalensi psikiatri di antara pasien-pasien keganasan, diperkirakan sekitar 50 persen pasien-pasien keganasan akan memiliki diagnosis psikiatri. Dari jumlah itu, 85 persen di antaranya memiliki gejala-gejala depresi dan atau ansietas. Kebanyakan diagnosis atau sekitar 68 persen diklasifikasikan sebagai gangguan penyesuaian, suatu reaksi emosional yang gagal beradaptasi terhadap tekanan hidup. Data objektif jenis dan frekuensi masalah psikis pada pasien kanker dari bidang psikoonkologi adalah data dari psichosocial collaborative oncology groups (psycog) yang meneliti 215 pasien kanker yang dirawat dan berobat jalan di tiga pusat RS kanker.
Ternyata, 53 persen pasien dapat menyesuaikan diri terhadap stres, 47 persen sisanya menunjukkan gangguan psikiatri secara klinis. Dari yang 47 persen ini, sebanyak 68 persen menderita gangguan penyesuaian dengan depresi dan cemas, 13 persen depresi berat, 8 persen gangguan mental kronik, 7 persen gangguan kepribadian dan 4 persen cenderung cemas. Pada penelitian terhadap 83 wanita dengan keganasan ginekologis, Evans dkk melaporkan bahwa 23 persen memenuhi kriteria psikiatri untuk depresi mayor, 24 persen pasien memenuhi kriteria untuk gangguan penyesuaian dengan suasana perasaan yang berupa depresi, dan 14 persen pasien memiliki diagnosis psikiatri lain. ”Tekanan emosional adalah reaksi normal pada saat ditegakkan diagnosis kanker. Ini harus segera diatasi sejak awal penegakan diagnosis,” ujar Slamet.
Meski ketakutan itu sama pada tiap pasien, tetapi punya tingkat tekanan psikologis berbeda terkait dengan kondisi medis, aspek psikologis dan aspek sosial. Wallen dkk (1987) mengambil data dari 263.000 pasien rawat inap di 327 RS Umum melaporkan, sekitar 24 persen pasien yang membutuhkan rujukan psikiatri didiagnosis mengalami depresi, sedangkan dari rumah sakit-rumah sakit kanker menunjukkan frekuensi lebih tinggi jumlah diagnosis depresi yang dibuat konsultan psikiater.(KCM)

Sayur mentah tangkal kanker

Jangan remehkan para petani. Karena dari merekalah kita mendapatkan obat murah. Penelitian terbaru yang dipublikasikan di American Association for Cancer Research’s Sixth Annual International Conference on Frontiers di Cancer Prevention, Philadelphia Amerika Serikat menyebutkan, bahwa buah beri hitam dan brokoli muda serta beberapa sayuran segar dapat mengurangi risiko kanker esophagus dan saluran empedu.

Sayur dan buah telah lama diketahui mampu mengurangi risiko munculnya kanker tertentu. Berdasar riset sebelumnya, American Cancer Society merekomendasikan agar kita mengonsumsi lima jenis buah dan sayur setiap hari.

Dalam penelitian awal, para peneliti dari Ohio State University menemukan, beri hitam melindungi kita dari kanker esophagus dengan cara mengurangi proses stres oksidatif yang dihasilkan oleh Barret esophagus, sebuah kondisi pra kanker yang biasa disebut penyakit gastroesopagus refluks. Esophagus merupakan terowongan panjang yang menghubungkan kerongkongan dengan perut. Penyakit refluks menyebabkan asam perut secara terus menerus melonjak ke atas ke arah kerongkongan. Dan menyebabkan rasa panas di mulut.

“Khusus pada pasien penderita Barret, refluks pada perut dan asam empedu menyumbang terjadinya kerusakan oksidatif. Jadi, hipotesis kami adalah bahwa makanan yang mengandung bahan-bahan pelindung seperti antioksidan, vitamin, mineral dan fitokimia lain mungkin akan merestorasi keseimbangan oksidatif,” ungkap Laura Kresty, peneliti utama.

Orang dengan penyakit Esophagus Barret biasanya 30 sampai 40 kali biasanya bakal berisiko menderita kanker esophagus. Angka harapan hidupnya sampai lima tahun hanya 15 persen.
Tim peneliti ini memberi 32 sampai 45 gram beri hitam setiap hari selama enam bulan kepada 20 pasien penderita esophagus Barret. Mereka menganalisa perubahan dalam darah, urin, dan jaringan sebelum, selama, dan setelah perawatan dan menemukan kadar penanda adanya stres oksidatif yang lebih rendah baik pada urin maupun contoh jaringan.

Pada penelitian sebelumnya, beri hitam memang mampu menurunkan risiko munculnya kanker mulut, esophagus, dan kolon. Ahli diet, Wendy Demark-Wahnefried, professor ilmu perilaku pada M.D Anderson Cancer Center di Universitas Texas, Huoston, mengatakan bahwa dia merasa lebih cocok menasihati penderita Barret untuk mengonsumsi beri hitam. “Ini tidak akan menyakitkan,” ungkap Wendy.

Sementara itu, penelitian yang dilakukan di Roswell Park Cancer Institute di Buffalo, New York, Amerika Serikat menemukan bahwa brokoli dan beberapa sayuran segar dapat digunakan untuk melawan kanker kandung kemih.

Dengan menggunakan tikus, tim yang diketuai Dr. Yuesheng Zhang, professor ahli kanker ini mendemonstrasikan bahwa ekstrak brokoli dapat mengngari munculnya kanker kandung kemih sampai 70 persen.

“Penelitian kami yang terkini menunjukkan bahwa ekstrak brokoli dapat menghambat berkembangnya kanker kandung kemih. Kami belum tahu, apakah ekstrak yang sama dapat menghambat kanker kandung kemih bila sudah tumbuh,” ujar Zhang yang juga mengungkapkan bahwa kandungan sulforaphane pada brokoli inilah yang mampu mencegah kanker.
“Selanjutnya kami berencana meneliti ekstrak brokoli untuk melawan kanker pada manusia,” jelas Zhang.

Tim kedua pada institute yang sama menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi tiga porsi atau lebih sayuran mentah segar setiap bulan mengurangi risiko terkena kanker kandung kemih sebanyak 40 persen. Sayuran segar ini antara lain brokoli, kobis, dan bunga kol.

Tim ini menganalisa kebiasaan diet pada 275 orang yang menderita kanker kandung kemih tahap awal dan 825 orang yang sehat. Para peneliti ini secara khusus menanyai seberapa banyak orang-orang ini mengonsumsi sayuran matang dan mentah yang mereka konsumsi sebelum terdiagnosis penyakit dan apakah mereka merokok.

Analisa ini menunjukkan bahwa makin mentah dan segar sayuran yang dikonsumsi, makin rendah risiko orang-orang ini menderita kanker kandung kemih. Sebagai perbandingan pada perokok dan mereka yang hanya mengonsumsi sayuran mentah kurang tiga porsi setiap hari, mereka yang bukan perokok dan mengonsumsi tiga porsi sayur mentah setiap hari, 73 persen lebih rendah risikonya menderita kanker kandung kemih.

“Dalam penelitian kami, ditemukan konsumsi sayuran segar dan mentah menurunkan risiko kanker kandung kemih pada perokok ringan dan berat,” ujar Li tang, ketua peneliti. Para peneliti ini menegaskan bahwa manfaat ini datang dari sayuran mentah dan segar.
“Ini juga menegaskan bahwa ada banyak ragam komponen dalam sayur dan buah yang bermanfaat menurunkan risiko kanker. Riset seperti ini membantu membantu kita memahami pengaruh nutrisi spesifik untuk tipe kanker tertentu,” jelas Colleen Doyle, Direktur Gisi dan Aktivitas Fisik pada American Cancer Society.

“Masaklah sayur secepat mungkin atau kalau mungkin konsumsilah sayuran segar setiap hari sekurangnya lima porsi, lima jenis warna. Makanan-makanan ini banyak mengandung antioksidan dan fitokimia. Kanker pasti enggan mampir di tubuh Anda,” jelas Doyle. (gayahidupsehat)

Sayur mentah tangkal kanker

Jangan remehkan para petani. Karena dari merekalah kita mendapatkan obat murah. Penelitian terbaru yang dipublikasikan di American Association for Cancer Research’s Sixth Annual International Conference on Frontiers di Cancer Prevention, Philadelphia Amerika Serikat menyebutkan, bahwa buah beri hitam dan brokoli muda serta beberapa sayuran segar dapat mengurangi risiko kanker esophagus dan saluran empedu.

Sayur dan buah telah lama diketahui mampu mengurangi risiko munculnya kanker tertentu. Berdasar riset sebelumnya, American Cancer Society merekomendasikan agar kita mengonsumsi lima jenis buah dan sayur setiap hari.

Dalam penelitian awal, para peneliti dari Ohio State University menemukan, beri hitam melindungi kita dari kanker esophagus dengan cara mengurangi proses stres oksidatif yang dihasilkan oleh Barret esophagus, sebuah kondisi pra kanker yang biasa disebut penyakit gastroesopagus refluks. Esophagus merupakan terowongan panjang yang menghubungkan kerongkongan dengan perut. Penyakit refluks menyebabkan asam perut secara terus menerus melonjak ke atas ke arah kerongkongan. Dan menyebabkan rasa panas di mulut.

“Khusus pada pasien penderita Barret, refluks pada perut dan asam empedu menyumbang terjadinya kerusakan oksidatif. Jadi, hipotesis kami adalah bahwa makanan yang mengandung bahan-bahan pelindung seperti antioksidan, vitamin, mineral dan fitokimia lain mungkin akan merestorasi keseimbangan oksidatif,” ungkap Laura Kresty, peneliti utama.

Orang dengan penyakit Esophagus Barret biasanya 30 sampai 40 kali biasanya bakal berisiko menderita kanker esophagus. Angka harapan hidupnya sampai lima tahun hanya 15 persen.
Tim peneliti ini memberi 32 sampai 45 gram beri hitam setiap hari selama enam bulan kepada 20 pasien penderita esophagus Barret. Mereka menganalisa perubahan dalam darah, urin, dan jaringan sebelum, selama, dan setelah perawatan dan menemukan kadar penanda adanya stres oksidatif yang lebih rendah baik pada urin maupun contoh jaringan.

Pada penelitian sebelumnya, beri hitam memang mampu menurunkan risiko munculnya kanker mulut, esophagus, dan kolon. Ahli diet, Wendy Demark-Wahnefried, professor ilmu perilaku pada M.D Anderson Cancer Center di Universitas Texas, Huoston, mengatakan bahwa dia merasa lebih cocok menasihati penderita Barret untuk mengonsumsi beri hitam. “Ini tidak akan menyakitkan,” ungkap Wendy.

Sementara itu, penelitian yang dilakukan di Roswell Park Cancer Institute di Buffalo, New York, Amerika Serikat menemukan bahwa brokoli dan beberapa sayuran segar dapat digunakan untuk melawan kanker kandung kemih.

Dengan menggunakan tikus, tim yang diketuai Dr. Yuesheng Zhang, professor ahli kanker ini mendemonstrasikan bahwa ekstrak brokoli dapat mengngari munculnya kanker kandung kemih sampai 70 persen.

“Penelitian kami yang terkini menunjukkan bahwa ekstrak brokoli dapat menghambat berkembangnya kanker kandung kemih. Kami belum tahu, apakah ekstrak yang sama dapat menghambat kanker kandung kemih bila sudah tumbuh,” ujar Zhang yang juga mengungkapkan bahwa kandungan sulforaphane pada brokoli inilah yang mampu mencegah kanker.
“Selanjutnya kami berencana meneliti ekstrak brokoli untuk melawan kanker pada manusia,” jelas Zhang.

Tim kedua pada institute yang sama menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi tiga porsi atau lebih sayuran mentah segar setiap bulan mengurangi risiko terkena kanker kandung kemih sebanyak 40 persen. Sayuran segar ini antara lain brokoli, kobis, dan bunga kol.

Tim ini menganalisa kebiasaan diet pada 275 orang yang menderita kanker kandung kemih tahap awal dan 825 orang yang sehat. Para peneliti ini secara khusus menanyai seberapa banyak orang-orang ini mengonsumsi sayuran matang dan mentah yang mereka konsumsi sebelum terdiagnosis penyakit dan apakah mereka merokok.

Analisa ini menunjukkan bahwa makin mentah dan segar sayuran yang dikonsumsi, makin rendah risiko orang-orang ini menderita kanker kandung kemih. Sebagai perbandingan pada perokok dan mereka yang hanya mengonsumsi sayuran mentah kurang tiga porsi setiap hari, mereka yang bukan perokok dan mengonsumsi tiga porsi sayur mentah setiap hari, 73 persen lebih rendah risikonya menderita kanker kandung kemih.

“Dalam penelitian kami, ditemukan konsumsi sayuran segar dan mentah menurunkan risiko kanker kandung kemih pada perokok ringan dan berat,” ujar Li tang, ketua peneliti. Para peneliti ini menegaskan bahwa manfaat ini datang dari sayuran mentah dan segar.
“Ini juga menegaskan bahwa ada banyak ragam komponen dalam sayur dan buah yang bermanfaat menurunkan risiko kanker. Riset seperti ini membantu membantu kita memahami pengaruh nutrisi spesifik untuk tipe kanker tertentu,” jelas Colleen Doyle, Direktur Gisi dan Aktivitas Fisik pada American Cancer Society.

“Masaklah sayur secepat mungkin atau kalau mungkin konsumsilah sayuran segar setiap hari sekurangnya lima porsi, lima jenis warna. Makanan-makanan ini banyak mengandung antioksidan dan fitokimia. Kanker pasti enggan mampir di tubuh Anda,” jelas Doyle. (gayahidupsehat)

Pemakaian Formalin Jangka Panjang Picu Kanker

Siapa sangka permen manis rasa susu yang selama ini menjadi favorit para ibu dan anak-anak ternyata mengandung racun berbahaya, formalin. Hal ini tentu membuat kita miris. Bagaimana tidak, formalin adalah pengawet berbahaya yang tidak boleh ada dalam makanan dan minuman karena dalam jangka panjang formalin di dalam tubuh akan memicu timbulnya kanker.

Menurut penjelasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sejumlah merek permen yang diimpor dari China mengandung formalin. Merek yang dimaksud antara lain White Rabbit Creamy Candy, Kimboy, Classic Candy, Blackcurrant, White Rabbit dan plum yang semuanya tak memiliki izin edar, serta permen White Rabbit bernomor Depkes RI SP No.231/10.09/96.
Humas Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) Dr.Ari Fahrial Syam, SpPD, mengatakan dampak kesehatan formalin pada seseorang dapat terjadi akibat paparan akut atau paparan kronis.

"Terpapar langsung (akut) pada formalin akan menyebabkan napas sesak, mata merah, atau iritasi kulit. Jika tertelan akan menyebabkan luka hebat di bagian pencernaan," katanya ketika dihubungi KCM lewat telepon, Rabu (1/8).

Sedangkan formalin dalam makanan yang sering dikonsumsi akan menyebabkan paparan berlangsung kronik. Pada jangka panjang, formalin akan menyebabkan perubahan struktur jaringan dan mutasi gen sehingga fungsi sel-sel berubah dan pada akhirnya dapat memicu kanker.

"Formalin pada permen memang dosisnya kecil dan setelah dimakan lalu kontak dengan jaringan akan hilang. Tetapi jika dikonsumsi terus menerus akan menyebabkan perubahan jaringan dan sel menjadi cepat. Puluhan tahun kemudian akan dijumpai kasus-kasus kanker pada usia muda," ujar Ari Syam panjang lebar.

Selain itu formalin juga menyebabkan gangguan pada syaraf, manifestasinya berupa kemampuan daya pikir menurun, sulit tidur, mudah lupa, dan gangguan konsentrasi. Pada kaum perempuan formalin diduga juga menyebabkan kemandulan (infertilitas).

"Penelitian pada binatang menunjukkan formalin menyebabkan kanker, karenanya pemerintah harus dilakukan razia besar-besaran pada produk makanan dan minuman lalu hasilnya disampaikan kepada publik mana produk yang aman dan yang tidak berdasarkan penelitian BPOM," kata Ari Syam.

Ditambahkan oleh Ari Syam, masyarakat kurang mendapat informasi tentang keamanan suatu produk makanan. Oleh sebab itu ia menganjurkan agar konsumsi sayur dan buah ditingkatkan. "Selain sebagai antioksidan, sumber serat dan gizi, sayuran dan buah juga untuk menetralkan racun-racun yang tanpa kita sadari masuk ke dalam tubuh," katanya.

Produk makanan yang perlu dicurigai mengandung formalin antara lain mie basah, tahu, tempe, bakso, dan produk perikanan. Selain itu konsumen juga perlu waspada dengan pemakaian bahan kimia lain, seperti boraks, asam salisilat, kalium bomat, kalium klorat, Dietilpirokarbonat (DEP), dan Brominated Vegetable Oil (BVO). Untuk itu konsumen sebaiknya waspada dalam membeli makanan, terutama produk industri rumah tangga yang hingga kini pengawasannya masih sulit dilakukan.(Kompas)