Showing posts with label Penyakit Jantung. Show all posts
Showing posts with label Penyakit Jantung. Show all posts

Tuesday, December 16, 2008

Jangan Remehkan Kolesterol

Kegemaran makan enak ternyata bisa membuat hidup seseorang menjadi tidak enak. Konsumsi makanan dengan kadar lemak tinggi secara berlebihan ternyata bisa memicu kegemukan dan meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Padahal, kolesterol tinggi bisa meningkatkan risiko terkena serangan jantung.

Pola hidup tidak sehat yakni kebiasaan merokok, diet buruk, dan kurang aktivitas fisik meningkatkan risiko terkena kanker, diabetes, serangan jantung, dan penyakit menahun lain, tutur staf pengajar Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr Saptawati Bardosono. Kondisi ini bisa terjadi pada usia produktif dan menurunkan kualitas hidup penderita serta keluarganya.

Hasil dari survei kesehatan dan gizi di Amerika Serikat menunjukkan, ada tiga faktor pola hidup berisiko, yakni merokok, kegemukan, dan minum alkohol berlebihan yang masing-masing dikaitkan dengan 10 kasus per 1.000 kematian per tahun. "Ada dua faktor risiko biologis yang terkait dengan pola hidup berisiko, yakni tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol tinggi," ujarnya.

Menurut tren perubahan pola hidup dalam 30 tahun terakhir ini, kebiasaan merokok turun dari 40 persen menjadi 25 persen dan minum alkohol berlebihan turun dari 7 persen menjadi 4 persen. Namun, kegemukan meningkat dari 49 persen menjadi 68 persen. "Kebiasaan merokok meningkatkan risiko kematian dua kali lipat dalam sepuluh tahun, sedangkan kegemukan meningkatkan risiko kematian 50 persen, kecuali bila tekanan darah dan kadar kolesterol terkontrol," kata Saptawati.

Kolesterol

Kolesterol merupakan molekul sejenis lipid dalam aliran darah. Kolesterol diproduksi hati dan dibutuhkan untuk proses metabolisme tubuh. Namun, kelebihan kolesterol dapat mengakibatkan penumpukan lemak yang menyumbat pembuluh darah. "Ini membuat jantung dan otak kekurangan pasokan darah sehingga bisa menimbulkan serangan jantung dan stroke," ujar dr Leilani Lestarina, Kepala Departemen Pelayanan Medis dan Nutrisi Nestle Indonesia.

Ada beberapa jenis kolesterol, yakni low-density lipoproteins (LDL) yang dikenal sebagai kolesterol jahat. LDL mengandung 75 persen kolesterol dan hanya sedikit protein, serta berfungsi mengalirkan kolesterol ke seluruh tubuh. Kelebihan LDL menyebabkan penumpukan lemak di dinding arteri. Jenis kolesterol lain adalah high-density lipoproteins (HDL). HDL dikenal sebagai kolesterol baik karena mengandung banyak protein dan mengalirkan hingga 30 persen kolesterol ke tubuh.

"HDL berfungsi membuang kelebihan kolesterol dari sel dan dinding arteri serta membawa kolesterol kembali ke hati untuk dibuang," kata Leilani. Jenis kolesterol lain adalah trigliserida, yang berperan dalam penyimpanan lemak dan turut membentuk lipoprotein kaya kolesterol yang menyebabkan kolesterol tinggi serta meningkatkan pembentukan gumpalan darah.
Menurut data Persatuan Endokrinologi Indonesia tahun 1995, kadar kolesterol dalam darah yang normal adalah kurang dari 200 miligram per dL, kolesterol LDL kurang dari 130 mg/dL, kolesterol HDL lebih dari 45 mg/dL, dan trigliserida kurang dari 200 mg/dL. Seseorang dinyatakan kelebihan kadar kolesterol dalam darah atau kolesterol tinggi jika total kadar kolesterol mencapai lebih dari 240 mg/dL.

Ada beberapa faktor risiko penyebab kolesterol yang tidak bisa diubah, yakni proses menua, ada riwayat kolesterol tinggi dalam keluarga, dan jenis kelamin. "Sebelum menopause, perempuan memiliki risiko terkena kolesterol lebih rendah dibandingkan dengan pria. Tetapi setelah menopause, kadar LDL dalam tubuh wanita cenderung meningkat," tuturnya.

Gaya hidup merupakan faktor risiko penyebab kolesterol yang dapat diubah. Orang dengan obesitas memiliki kandungan trigliserida tinggi, sementara kadar HDL rendah. Selain itu, konsumsi makanan berkadar lemak tinggi dan kurang aktivitas fisik memicu naiknya kadar kolesterol. "Merokok juga dapat membantu penumpukan lemak pada dinding arteri," ujarnya.
Penumpukan kolesterol di lapisan dalam arteri dan membentuk plak dapat mempersempit arteri dan menyumbat aliran darah sehingga membentuk proses pengerasan pembuluh darah (atherosclerosis). Ketika plak pecah, retakan juga akan memicu pembekuan darah. "Kadar kolesterol tinggi dalam darah merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular, terutama serangan jantung," kata Leilani.

Ketua Departemen Ilmu Gizi FKUI Sri Sukmaniah menyatakan, hiperkolesterolemia (peningkatan kadar kolesterol) merupakan faktor risiko utama penyakit jantung koroner. Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004, prevalensi hiperkolesterolemia di Indonesia pada usia 25 hingga 34 tahun sebesar 9,3, sementara pada usia 55 hingga 64 tahun sekitar 15,5 persen.

Fitosterol

Maka dari itu, faktor risiko penyebab kolesterol tinggi dan penyakit lain perlu diturunkan dengan cara menghentikan kebiasaan merokok, mengurangi kegemukan, kontrol kadar kolesterol tinggi dan tekanan darah tinggi, skrining kesehatan berkala, dan pengobatan seawal mungkin. "Makanan yang dikonsumsi harus mengandung asam lemak jenuh ganda," kata Saptawati.

"Agar terhindar dari penyakit pembuluh darah, sebaiknya hindari beberapa rasa makanan dan minuman. Rasa gurih yang diperoleh dari lemak atau daging dengan penyakit penyertanya dislipidemia (kolesterol tinggi)," ujarnya. Selain itu, perlu dihindari rasa manis yang diperoleh dari gula dan terkait dengan diabetes melitus, serta rasa asin dari garam dengan penyakit penyertanya hipertensi.

Untuk menjaga dan menurunkan kadar kolesterol darah, Sri Sukmaniah menganjurkan agar menjalani pola hidup sehat dengan mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol, mengurangi berat badan, meningkatkan aktivitas fisik, menjaga tekanan darah, serta berhenti merokok. "Penurunan kadar kolesterol jahat (LDL) bisa dilakukan dengan mengonsumsi fitosterol," ujarnya.

Fitosterol adalah minyak nabati yang mempunyai struktur yang menyerupai kolesterol sehingga mencegah kolesterol dari makanan diserap saluran cerna. "Bahan makanan sumber fitosterol antara lain makanan kaya lemak dan serat, minyak berwarna kekuningan, serta tidak berbau. Fitosterol juga ada dalam sayuran, kacang-kacangan, dan gandum," kata Sri Sukmaniah.

Fitosterol dalam makanan mampu menurunkan penyerapan kolesterol, menurunkan pembentukan kolesterol, maupun konsentrasi kolesterol darah. Asupan fitosterol juga berhubungan terbalik dengan konsentrasi kolesterol darah. Peningkatan asupan fitosterol akan meningkatkan penggunaan betakaroten untuk membentuk protein yang diperlukan pada proses metabolisme tubuh serta menurunkan kolesterol LDL.

Leilani menambahkan, fitosterol dapat menghambat penyerapan kolesterol di usus sehingga membantu menurunkan jumlah kolesterol dalam darah. "Yogurt dan keju rendah lemak bisa mengurangi kadar kolesterol pada penderita hiperkolesterolemia. Konsumsi susu rendah lemak yang mengandung sterol tiga kali lebih efektif menurunkan kadar kolesterol dibandingkan dengan sereal, termasuk pada penderita diabetes," ujarnya.

Tentunya, asupan fitosterol untuk menurunkan kolesterol tersebut sebaiknya disertai diet terkontrol, yakni dengan menurunkan asupan lemak, meningkatkan asupan sayur dan buah sebagai sumber serat dan betakaroten.

"Yang tidak kalah penting adalah meningkatkan aktivitas fisik untuk mempertahankan kadar betakaroten dan meningkatkan kadar kolesterol HDL," tutur Sri Sukmaniah. oleh :Evy Rachmawati, Kompas

"Golden Period" Serangan Jantung Enam Jam


Jika Anda tiba-tiba merasa nyeri dada di sebelah kiri, seperti ditusuk-tusuk, diperas, atau ditindih beban berat, kemudian rasa itu menjalar ke dagu, punggung, pundak, sampai jari tangan disertai keringat dingin, berhati-hatilah. Bisa jadi itu merupakan gejala serangan jantung koroner, meski Anda tidak pernah merasakan kelainan sebelumnya. Segera pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, karena waktu emas (golden period) penanganan adalah enam jam. Jika terlambat mendapat pertolongan, penderita bisa meninggal dunia.
Hal itu dikemukakan Dr dr Fadilah Supari SpJP dari Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta, dalam seminar "Kiat Hidup Sehat Bersama Penyakit Jantung dan Diabetes", hari Sabtu (5/5).

"Banyak penderita serangan jantung yang sebenarnya bisa tertolong, tetapi meninggal dunia karena tidak tahu atau terlambat datang ke rumah sakit," ujar Fadilah.

Hal itu terutama harus diwaspadai pada laki-laki berusia di atas 40 tahun dan perokok. "Apalagi jika orang tersebut kegemukan, mempunyai tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, atau menderita diabetes. Hal-hal itu merupakan faktor risiko penyakit jantung koroner," tambahnya. Pada perempuan harus diwaspadai pada usia di atas 50 tahun atau pascamenopause.

Penyakit jantung koroner adalah penyakit jantung akibat penyempitan pembuluh darah koroner. Biasanya disebabkan aterosklerosis, yaitu penumpukan plak di pembuluh darah yang terjadi secara perlahan, dipengaruhi beberapa faktor risiko di atas.

Untuk ukuran Indonesia, seseorang disebut kegemukan jika berat badannya dalam kg dibagi tinggi badan kuadrat dalam meter, lebih dari 27. Kegemukan yang paling berbahaya adalah penumpukan lemak di perut, yaitu jika lingkar perut pada laki-laki lebih dari 102 cm dan pada wanita lebih dari 88 cm.

Tekanan darah tinggi atau hipertensi meningkatkan risiko penyakit jantung koroner enam kali. Jika disertai kolesterol tinggi dan merokok, risiko melonjak jadi 16 kali. Tekanan darah yang ideal bagi orang di bawah 75 tahun adalah 140/90 mmHg. Kadar kolesterol total sebaiknya tidak lebih dari 200 mg persen.

"Pengaturan makan, olahraga, serta pengendalian tekanan darah dan kadar gula darah pada diabetes sangat penting untuk mencegah penyakit jantung koroner," saran Fadilah.
Pada mereka yang sudah kena penyakit jantung koroner, untuk mencegah serangan jantung berikutnya atau komplikasi bisa dilakukan bedah pintas koroner, Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty/PTCA. Atau bisa juga dengan penggunaan balon untuk melonggarkan pembuluh darah, pemberian obat penghambat beta atau pemberian aspirin dosis rendah.

Terus meningkat

Menurut dr Imam Subekti SpPD-KE dari Pusat Diabetes dan Lipid/Subbagian Metabolik Endokrinologi, Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM), kasus diabetes meningkat dari tahun ke tahun. Kalau tahun 1983 dari survei di Jakarta didapat angka kekerapan 1,7 persen. Tahun 1993 telah menjadi 5,7 persen. Salah satu penyebabnya adalah perubahan gaya hidup.

Diabetes adalah kelainan akibat tingginya kadar gula darah, karena kurang insulin -hormon yang berfungsi mengatur kadar gula darah agar dalam jumlah normal-atau kerja insulin kurang baik.
Komplikasi pada diabetes umumnya tidak bisa diperbaiki, bisa menimbulkan kecacatan, bahkan kematian. Organ yang kena komplikasi, antara lain pembuluh darah jantung dalam bentuk penyakit jantung koroner, pembuluh darah otak (stroke), pembuluh darah kaki (gangren/luka kaki sukar sembuh), pembuluh darah ginjal (gagal ginjal), pembuluh darah mata (buta), dan saraf (mati rasa, kesemutan).

Faktor risiko diabetes sama dengan penyakit jantung koroner. Jadi, cara pencegahannya pun sama. Faktor risiko itu adalah usia di atas 40 tahun, ada riwayat keluarga menderita diabetes, kegemukan, tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, serta riwayat melahirkan bayi di atas 4 kg.

Oleh karena itu, untuk mengobati penderita diabetes tidak hanya dilakukan dengan menurunkan kadar gula darah. Tapi juga dilakukan dengan mengendalikan tekanan darah, kadar lemak darah, dan berat badan.

Gejala diabetes antara lain, banyak kencing (beser), haus dan lapar terus-menerus, berat badan turun meski banyak makan, penglihatan kabur, kesemutan. Selain juga cepat lelah, gatal pada kulit atau sekitar kemaluan, dan impoten pada laki-laki.

Olahraga ideal bagi penderita penyakit jantung koroner maupun diabetes. Menurut dr Sadoso Sumosardjuno SpKO, paling sedikit 30 menit sekali latihan dengan intensitas sedang, tiga sampai empat kali seminggu. Jenisnya seperti jalan cepat, jogging, atau bersepeda.

Urutan latihan olahraga adalah pemanasan dan peregangan, masing-masing lima menit, baru melakukan olahraga dan latihan kekuatan, diakhiri pendinginan dan peregangan kembali. (atk)-Kompas, Mei 2001

Resiko Pengerasan Arteri pada Wanita Kegemukan


IOWA, -Wanita usia muda yang mengalami kegemukan (obesitas) dan sindrom ovarian polisistik (polycistic ovarian syndrome) memiliki resiko tinggi terserang pengerasan arteri yang tidak terkait dengan faktor-faktor penyebab penyakit jantung lainnya. Demikian hasil riset yang dilakukan oleh Dr. Rupal Shroff dan koleganya dari Unversity of Iowa, Iowa City.

Sindrom ovarian polisistik adalah gangguan hormon yang biasanya ditemukan pada wanita berusia 20 sampai 30 tahun. Gangguan ini ditandai oleh adanya sejumlah kista (cyst) pada rahim. Gejala penyakit ini bisa dilihat pada perioda menstruasi yang tidak teratur, pertumbuhan rambut yang berlebih, dan ketidaksuburan.

Para peneliti melakukan penelitian terhadap 24 wanita yang mengalami kegemukan, berusia antara 21 sampai 50 tahun, dan mengalami sindrom ovarian polisistik serta 24 wanita sehat dengan renang usia dan bobot yang sama tetapi tidak mengalami sindrom ovarian polisistik.

Dr. Shroff dan koleganya menemukan adanya kalsium arteri koroner, sebuah indikasi tahap awal pengerasan arteri, pada 8 dari 24 wanita yang mengalami sindrop ovarian polisistik. Sementara pada grup pembanding hanya ditemukan pada 2 dari 24 wanita.(Kompas)

Sudah Olahraga, Tetap Jantungan?


OLAHRAGA tidak bakal menghindarkan seseorang dari serangan jantung. Bernarkah? Ternyata hal ini berlaku pada mereka yang sudah terlalu gemuk atau kegemukan. Kecuali, bila orang tersebut sudah langsing atau kurus, olahraga bisa bermanfaat menghindarkannya dari serangan jantung. Demikian sebuah penelitian atas jutaan wanita penduduk Amerika Serikat mengungkap.

"Sekeras apapun olahraga yang dilakukan, bahkan sampai keringatan sekalipun, bila berat badan tidak diturunkan, serangan jantung bakal tidak bisa dihindari," ungkap Dr. Amy Weinsten dan koleganya di Boston Beth Israel Deaconess Medical Center.

"Karena itu, para wanita (dan tentu saja pria) disarankan agar konsultasi dengan dokter dan mengikuti program penurunan berat badan yang mengikut sertakan olahraga sebagai salah satu metodenya secara teratur untuk menghindari diri dari serangan jantung," jelas para dokter ini menyimpulkan.

Penelitian yang dipublikasikan di Archives of Internal Medicine ini dibuat berdasar informasi dari sebuah penelitian atas 39.000 wanita yang mulai tahun 1992 dan terekam jejak penyakitnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa 34 persen wanita secara fisik aktif, 31 persen kegemukan dan 81 persen gemuk.

Di akhir penelitian, 948 wanita terdiagnosa mengidap penyakit jantung. Para wanita yang aktif dengan berat badan normal jauh lebih ringan risikonya menderita penyakit jantung. Sementara para wanita yang berat badannya normal namun tidak aktif, risiko terkena serangan jantung justru lebih besar.

Risiko ini jauh lebih tinggi pada mereka yang mengalami kegemukan atau obesitas dan gemuk saja. Dan tentu saja lebih tinggi lagi risikonya bila si obesitas tadi tidak pernah bergerak sama sekali.

Sel-sel lemak memproduksi zat-zat kimia yang dapat mempercepat pengerasan pembuluh darah arteri dan meningkatkan peradangan, ujar para peneliti, sehingga membahayakan pembuluh darah. Aktivitas fisik atau olahraga dalam hal ini akan membuat pembuluh darah menjadi lentur atau lebih sehat sehingga risiko terjadinya penggumpalan darah bisa terhindarkan.(Kompas)