Masturbasi...Mengapa mereka lakukan? Bagaimana dampak psikologis dan kesehatannya, adakah manfaatnya, simak kumpulan artikel berikut
Showing posts with label Masturbasi. Show all posts
Showing posts with label Masturbasi. Show all posts
Thursday, November 18, 2010
Tuesday, November 16, 2010
Adakah Cara Hentikan Masturbasi?
T: Saya pertama kali masturbasi di usia 16 tahun, dan hingga kini saya tak bisa menghentikan kebiasaan tersebut. Apa ada cara, dok, untuk berhenti?
J: Masturbasi adalah jenis ekspresi fisik akan gairah seksual dan merupakan cara untuk mencapai ejakulasi secara proaktif. Mimpi basah merupakan cara alami untuk mencapai ejakulasi. Normal bagi kamu untuk memiliki gairah seks karena hormon bergejolak di usia puber, namun penting untuk selalu menjaga keseimbangan. Selain mimpi basah dan masturbasi, kamu juga bisa lakukan hobi lain seperti olahraga sehingga energi kamu bisa dilampiaskan. Jika ini seimbang, kamu tidak akan kecanduan masturbasi dan masturbasi tidak menjadi satu-satunya cara untuk melampiaskan energi.(kompas,Selasa, 20/5/2008)
Adakah Efek Buruk Masturbasi?
TANYA : Dok, saya ingin berkonsultasi soal kebiasaan saya hingga usia 24 ini masih melakukan Onani. Alasan saya yang pertama saya tak mau lagi berhubungan dengan PSK karena takut terkena HIV. Kedua, saya punya pacar tapi terpisah jarak yang jauh. Saya sayang padanya dan walaupun ada kesempatan untuk melakukan hubungan intim, kami mengurungkan niat karena sadar akan tanggung jawab untuk menjaga perasaan dan psikis.
Bagaimana caranya melawan hasrat terpendam ini Dok? Saya bekerja di bidang perbankan dengan beban cukup berat dan butuh stress out yang tepat, olahraga pun tak ada waktu dan pulang kantor biasanya jam 9 -10 malam. Kalaupun onani, hasilnya keesokan hari pinggang ini terasa ngilu dan terasa lemas. Adakah rotasi waktu yang tepat untuk melakukan Onani, apa saja efek buruknya ?
(Reynard 24)
JAWAB : Sebenarnya masturbasi atau yang sering disebut onani bukanlah aktivitas seksual yang aneh atau menakutkan. Tidak ada akibat apapun karena melakukan masturbasi. Bahkan tanpa disadari dan direncanakan, masturbasi sudah dilakukan oleh anak-anak pada masa perkembangan psikoseksualnya. Pada masa itu, sebagian anak bahkan sudah merasakan orgasme melalui masturbasi.
Dalam kaitan dengan orgasme, sebenarnya masturbasi sama dengan hubungan seksual. Bedanya, tenyu saja dalam rangsangan seksual yang diterima. Rangsangan seksual secara fisik pada masturbasi diberikan oleh diri sendiri, ditambah rangsangan psikis berupa khayalan yang erotis. Selain itu, pada masturbasi tidak disertai keterlibatan emosional. Akibatnya kepuasan seksual acapkali tidak dirasakan, walaupun dapat merasakan orgasme.
Melakukan kegiatan fisik dan mental merupakan cara yang sering dianjurkan untuk menekan dorongan seksual sehingga tidak melakukan masturbasi. Tetapi tentu tidak semua orang dapat merasakan manfaat ini, khususnya bagi yang memang ingin merasakan orgasme. Sekali lagi, tidak ada akibat buruk secara fisik karena melakukan masturbasi. Akibat psikis mungkin muncul pada sebagian orang yang menganggap masturbasi adalah perbuatan yang salah atau dosa.(Kompas,Kamis, 26/8/2010)
Anak Masturbasi Setiap Hari, Normalkah?
T. Saya baru saja mengetahui bahwa anak laki-laki saya yang berusia 15 tahun melakukan masturbasi setiap hari. Saya tahu mastubarsi itu normal bagi anak remaja, tetapi kalau setiap hari apakah normal? Apakah sebaiknya saja anjurkan agar dia kurangi frekuensinya?
J. Tidak ada frekuensi yang benar dan salah dalam masturbasi. Remaja bisa melakukan aktivitas ini mulai dari sekali hingga tujuh kali per harinya dan ini pun normal bagi gelora hormon di usia ini. Meski begitu, perlu diingat bahwa masturbasi bisa menyebabkan ketagihan sebagai bentuk pemuasan biologis diri sendiri.
Coba Anda perhatikan keseimbangan kehidupan biologis, sosial dan emosional anak Anda. Bisa jadi kurang seimbang atau salah satu terlalu berlebihan atau kurang porsinya. Cari tahu dengan melihat prestasinya di sekolah, pergaulannya dengan teman-teman dan bagaimana cara dirinya mengatasi stres. Ini sangat penting.(Kompas, Sabtu, 3/5/2008)
J. Tidak ada frekuensi yang benar dan salah dalam masturbasi. Remaja bisa melakukan aktivitas ini mulai dari sekali hingga tujuh kali per harinya dan ini pun normal bagi gelora hormon di usia ini. Meski begitu, perlu diingat bahwa masturbasi bisa menyebabkan ketagihan sebagai bentuk pemuasan biologis diri sendiri.
Coba Anda perhatikan keseimbangan kehidupan biologis, sosial dan emosional anak Anda. Bisa jadi kurang seimbang atau salah satu terlalu berlebihan atau kurang porsinya. Cari tahu dengan melihat prestasinya di sekolah, pergaulannya dengan teman-teman dan bagaimana cara dirinya mengatasi stres. Ini sangat penting.(Kompas, Sabtu, 3/5/2008)
Cuma Puas dengan Masturbasi
Seorang suami kaget ketika mengetahui sang istri lebih puas melakukan masturbasi hingga mengalami orgasme. Ia pun merasa tidak senang dan mengatakan istrinya bisa sakit, tulang keropos, dan cepat tua. Adakah hubungan antara masturbasi dan semua kondisi tersebut?
Saya seorang istri (39) sudah menikah 10 tahun dan punya dua anak. Suami umur 45 tahun. Sejak perkawinan, hubungan intim tak pernah memuaskan dan tak pernah bisa orgasme. Suami tidak pernah melakukan pemanasan sebelumnya, maunya langsung saja. Sudah berkali-kali saya bilang jangan begitu, tetap saja tidak berubah. Saya pernah ajak suami nonton film BF, malah dia bilang untuk apa nonton begituan.
Akhirnya saya coba-coba merangsang kelamin dengan jari, ternyata saya bisa orgasme dalam waktu tidak lama. Saya lalu terbiasa melakukannya. Mulanya tanpa sepengetahuan suami, tapi akhirnya saya tak bisa sembunyi. Waktu hubungan intim, saya teruskan dengan melakukan sendiri. Suami kaget. Bahkan waktu orgasme suami juga kaget. Sepertinya tidak tahu kalau waktu orgasme wanita bisa teriak. Suami tidak senang saya lakukan itu. Dia bilang lama-lama saya bisa sakit, tidak normal, cepat tua, tulang keropos, dll.
Mohon dijelaskan, apa benar kata suami? Mengapa saya tidak bisa orgasme kalau melakukan hubungan intim dengan suami? Bagaimana caranya agar saya bisa orgasme kalau berhubungan intim?
WS, Jakarta
Tak paham seksualitas
Dari uraian Anda, tampak bahwa suami kurang mendapat informasi yang benar tentang seksualitas wanita. Terbukti, suami tak pernah melakukan rangsangan pendahuluan. Padahal, saat itu Anda belum terangsang dan belum siap melakukan seks. Tak benar masturbasi dapat menimbulkan akibat buruk seperti yang dikatakan suami. Oleh karena itu, kekagetan suami ketika mengetahui Anda masturbasi dapat dimengerti.
Pada dasarnya, karena tak cukup menerima rangsangan, Anda tak mengalami orgasme. Dengan melakukan masturbasi, Anda dapat menerima rangsangan fisik yang cukup karena Anda sendiri yang melakukan dan merasakan. Kalau Anda ingin merasakan orgasme melalui hubungan seks, ada syaratnya. Pertama, suami harus mendapat informasi memadai soal seksualitas. Kedua, fungsi seksual suami harus baik, terutama fungsi ereksi dan mampu mengontrol ejakulasi. Ketiga, tidak ada hambatan psikis terhadap suami.(Kompas,Kamis, 8/7/2010)
Lebih Puas Masturbasi daripada dengan Suami
SEORANG wanita, usia 27 tahun, sudah menikah dua tahun lamanya tetapi belum hamil. Wanita aktif, sebut saja X ini mengeluh tidak pernah merasa kenikmatan setiap kali melakukan hubungan seks dengan suami. Padahal, nafsu seksnya besar sekali, katanya.
Tiga hari tidak melakukan hubungan seks, gairahnya sudah menggebu, walaupun akhirnya tidak merasakan apa-apa. Sebaliknya hanya kejengkelan dan kekecewaan saja yang dirasakan, setiap melakukan hubungan seks, rasanya cukup lama, tetapi anehnya tidak pernah merasakan kenikmatan.
Sebaliknya, kalau melakukan masturbasi, wanita ini justru bisa merasakan nikmat luar biasa. Dia mengaku sudah melakukan masturbasi sejak sebelum menikah, tetapi tidak pernah melakukan hubungan seks dengan siapa pun sebelumnya. Saat sudah menikah, kebiasaan ini masih sering dilakukannya dan kerap pula muncul rasa kecewa. Untuk apa punya suami? Si wanita bertanya, kelainan apa yang dialamibya ini? Apa yang harus dilakukan agar dapat mencapai kenikmatan dengan hubungan seks, dan juga dapat hamil?
Prof. Wimpie Pangkahila, Sp.And pun menjawab. Keluhan si wanita ini, kata pakar seks dan androlog dari Universitas Udayana Bali ini menunjukkan bahwa dia mengalami suatu gangguan fungsi seksual, yaitu hambatan orgasme atau yang disebut juga disfungsi orgasme.
Gangguan ini dialami oleh banyak wanita, termasuk yang sudah lama menikah. Ada beberapa faktor yang dapat mengakibatkan hambatan orgasme. Pertama, hambatan komunikasi dengan suami. Kedua, mengalami hambatan psikis setiap melakukan hubungan seksual. Ketiga, rangsangan seksual tidak cukup diterima. Keempat, posisi hubungan seksual tidak efektif bagi wanita. Kelima, gangguan fungsi seksual di pihak pria.
Dengan melihat faktor penyebab tersebut, ternyata tidak selalu penyebabnya ada di pihak wanita sendiri, walaupun yang mengalami masalah pihak wanita. Justru cukup banyak penyebabnya terletak di pihak pria, berupa gangguan fungsi seksual, khususnya ejakulasi dini dan gangguan ereksi. Jadi, kalau pihak pria mengalami gangguan fungsi seksual tersebut, hubungan seksual tidak dapat berlangsung seperti yang diharapkan.
Kalau si wanita dapat mencapai orgasme melalui masturbasi, lanjut Wimpie, itu menunjukkan bahwa penyebab hambatan orgasme bukan terletak pada diri Anda. Paling sedikit ada dua hal yang dapat menjelaskan mengapa dengan melakukan masturbasi si wanita dapat mencapai orgasme. Pertama, dengan melakukan masturbasi si wanita dapat menerima rangsangan seksual yang efektif, mungkin pada klitoris atau G-spot, karena si wanita sendiri yang mengatur dan melakukannya. Kedua, tanpa melakukan hubungan seksual, berarti tidak ada hambatan psikis yang dialami, khususnya yang berkaitan dengan keberadaan pihak suami.
Perasaan kecewa yang dialami melalui kalimat ¨Untuk apa punya suami¨ dapat dimengerti. Tentu saja dengan melakukan hubungan seksual, diharapkan dapat merasakan kepuasan seksual, tidak sekadar kenikmatan seksual, seperti yang dirasakan ketika melakukan masturbasi. Dengan melakukan hubungan seksual, diharapkan merasakan juga keterlibatan emosional yang memberikan kepuasan seksual.
Namun, tak ada hubungan antara tidak pernah merasakan orgasme dengan belum hamil. Untuk terjadinya kehamilan, diperlukan kesuburan yang baik pada kedua pihak, dan hubungan seksual yang berlangsung pada saat subur wanita. Jadi, walaupun si wanita tidak pernah mencapai orgasme, kehamilan dapat saja terjadi asal kesuburan si wanita dan suami baik.
Untuk mengatasi masalah, perlu konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut, sehingga dapat diketahui apa penyebab dasar hambatan orgasme yang dialami. Setelah itu barulah dapat dilakukan cara atau pengobatan yang tepat. Ada cara latihan bagi wanita yang mengalami hambatan orgasme seperti si wanita ini. Hasilnya pun cukup menggembirakan, dalam arti kemudian dapat mencapai orgasme melalui hubungan seksual.
Di sisi lain, kesuburan si wanita dan suami juga perlu diperiksa mengingat belum hamil, padahal sudah dua tahun menikah. Sebenarnya kalau telah setahun melakukan hubungan seksual secara teratur tetapi belum hamil, pasangan itu dianggap sebagai pasangan tidak subur. Jadi, si wanita dan suami sebenarnya tergolong pasangan yang tidak subur atau infertil. Si wanita dan suami perlu konsultasi dan pemeriksaan yang benar.
Source: Gaya Hidup Sehat, Kompas,Kamis, 28/2/2008
Masturbasikah Ini?
Mengapa Suami Masturbasi?
"Saya berumur 44, suami 51, menikah sudah 17 tahun. Selama ini tidak ada masalah dalam hubungan seks. Cuma dalam beberapa bulan ini kami jarang melakukannya karena suami semakin jarang memulai.
Dulu biasanya suami yang meminta atau memulai. Jadi saya tidak sampai meminta atau memulai. Bagi saya tidak jadi soal kalau harus memulai duluan. Semula saya curiga suami selingkuh. Yang mengejutkan, dua hari lalu saya melihat suami onani di kamar mandi.
Waktu itu saya terbangun sekitar pukul dua pagi. Saya melihat dia di kamar mandi sedang onani. Dia terkejut waktu saya lihat. Waktu saya tanya, dia menjawab, 'Ingin saja'. Sewaktu saya tanya mengapa tidak dengan saya, dia jawab, 'Enggak apa-apa'.
Apakah dia mengalami kelainan seks? Adakah orang yang merasa lebih enak melakukan onani daripada berhubungan seks dengan istri? Apakah seterusnya suami akan begitu? Bagaimana membuat suami agar mau berhubungan seks lagi dengan saya?"
NP, Jakarta
Empat kemungkinan
Sebenarnya masturbasi bukan aktivitas seksual yang aneh. Bahkan, anak-anak pun melakukan masturbasi walaupun tanpa disadari. Masturbasi bukan hanya dilakukan orang yang belum menikah. Orang yang sudah menikah pun melakukannya dalam keadaan tertentu. Inilah mungkin yang perlu diketahui.
Kalau seseorang yang sudah menikah masih masturbasi, muncul pertanyaan mengapa. Ada empat kemungkinan. Pertama, pasangannya sedang tidak ada di tempat. Kedua, hubungan seksual tidak memberikan kepuasan. Ketiga, hanya untuk variasi. Keempat, terikat kepada masturbasi akibat pengalaman sebelumnya.
Keempat kemungkinan penyebab ini mungkin saja dialami suami Anda. Walaupun saat itu Anda ada di rumah, karena Anda sudah tidur, suami masturbasi. Mengenai kemungkinan kedua, suamilah yang tahu pasti apakah merasa cukup puas dengan hubungan seksual yang dia lakukan bersama Anda.
Demikian juga kemungkinan ketiga dan keempat. Hanya suami yang tahu pasti apakah dia merasa bergantung atau terikat pada masturbasi akibat pengalaman masa lalunya.
Namun, apa pun penyebabnya, masturbasi bukan petunjuk seseorang mengalami kelainan seksual. Apa pun kemungkinan penyebab yang dialami suami, selama ini dia melakukan hubungan seksual dengan Anda.
Ada juga orang yang merasa lebih nikmat melakukan masturbasi daripada hubungan seks. Keadaan ini dialami antara lain oleh orang yang gagal mencapai orgasme melalui hubungan seksual.
Tidak sedikit perempuan yang melanjutkan hubungan seksual dengan masturbasi karena suaminya sudah tidak dapat melanjutkan hubungan seks. Pada pria, mungkin saja terjadi keadaan yang sama. Misalnya, reaksi pasangannya tidak seperti yang diharapkan. Dengan masturbasi, dialah yang mengatur, sebagai pengganti reaksi pasangannya.
Untuk memastikan penyebab suami masturbasi, lakukan komunikasi langsung. Melalui komunikasi yang baik dan terbuka, Anda akan mendapat jawaban mengapa dia memilih masturbasi. Berdasarkan jawaban itulah, jalan keluar kemudian dicari.
Konsultasi seksologi dengan Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, Sp And (Kompas,Senin, 15/2/2010)
Mitos tentang Masturbasi
"Saya mahasiswa 22 tahun, ingin menanyakan beberapa hal tentang aktivitas seksual yang sehat. Teman satu kos saya sering kali melakukan masturbasi, hampir setiap hari.
Saya benar-benar tidak mengerti apakah tindakannya ini sehat atau tidak. Menurut dia, malahan menambah semangat dan menghilangkan stres dan tidak memiliki efek samping. Apakah benar demikian?
Apakah melakukan masturbasi setiap hari dapat mengganggu alat kelamin di kemudian hari dan menyebabkan ejakulasi dini, seperti rumor yang ada di masyarakat?
Saya benar-benar tidak mengerti apakah tindakannya ini sehat atau tidak. Menurut dia, malahan menambah semangat dan menghilangkan stres dan tidak memiliki efek samping. Apakah benar demikian?
Apakah melakukan masturbasi setiap hari dapat mengganggu alat kelamin di kemudian hari dan menyebabkan ejakulasi dini, seperti rumor yang ada di masyarakat?
Jika di kemudian hari menikah, apakah tidak berpengaruh terhadap kehidupan seksual? Apakah mungkin ada frekuensinya dalam sehari, misalnya 2 kali sehari atau seminggu sekali atau sebulan sekali?
Menurut teman saya yang lainnya, masturbasi dapat menyebabkan sakit tulang belakang, sakit pada tempurung kaki, dan di daerah sekitar tempurung kaki terlihat seperti peyot atau kulit tempurung masuk ke dalam tulang, seperti orang kurang gizi, padahal keadaannya sehat. Benarkah?
Apakah masturbasi dapat mengurangi kemampuan otak dalam berpikir dan terkesan lebih lambat?"
E, Jakarta
Aktivitas wajar
Mitos tentang masturbasi memang masih banyak beredar luas di masyarakat, sama seperti mitos tentang seks yang lainnya. Beberapa mitos dapat menimbulkan akibat buruk bagi sebagian orang karena memengaruhi perilakunya. Tidak sedikit korban yang mengalami akibat serius hanya karena informasi yang salah berdasarkan mitos tentang seks.
Masturbasi merupakan aktivitas seksual yang umum dilakukan, bahkan sudah dilakukan pada masa anak-anak. Dalam perkembangan psikoseksual anak, salah satu fasenya adalah fase genital.
Pada fase ini, anak mulai menyadari bahwa kelaminnya merupakan bagian yang menyenangkan. Karena itu, anak, baik laki-laki maupun perempuan, senang memegang kelaminnya. Bahkan, sebagian anak dapat mencapai orgasme pada saat itu.
Perhatian terhadap kelamin semakin besar ketika manusia memasuki masa remaja. Karena itu, pada masa ini masturbasi kemudian merupakan aktivitas seksual yang umum dilakukan.
Sebagian orang yang telah menikah pun masih melakukan masturbasi karena alasan dan untuk tujuan tertentu. Lebih jauh, masturbasi bagi sebagian orang justru diperlukan sebagai bagian dari cara mengatasi gangguan fungsi seksual.
Sebagai contoh, wanita yang mengalami hambatan orgasme oleh penyebab tertentu memerlukan latihan masturbasi sebagai bagian cara mengatasinya. Namun, bagi pria, masturbasi yang dilakukan tergesa-gesa agar cepat mencapai orgasme dan ejakulasi dikhawatirkan dapat menjadi kebiasaan sehingga mengakibatkan ejakulasi dini. Kekhawatiran ini tampaknya cukup beralasan.
Informasi abad ke-18
Tidak ada akibat buruk apa pun karena melakukan masturbasi, termasuk informasi yang Anda dengar dari teman itu. Pada abad ke-18 memang pernah beredar buku yang menyatakan bahwa masturbasi dapat menimbulkan berbagai akibat buruk secara fisik, tetapi kemudian terbukti anggapan itu tidak benar karena hanya berdasarkan mitos belaka.
Sayangnya, sampai sekarang masih ada orang yang memberikan informasi berdasarkan mitos, seperti yang Anda dengar itu. Bahkan, tidak sedikit orang yang dianggap mengerti, acap kali terpengaruh oleh mitos tentang seks. @
Konsultasi Dijawab Prof Dr dr Wimpie Pangkahila Sp.And (Kompas,Jumat, 19/3/2010)
Menurut teman saya yang lainnya, masturbasi dapat menyebabkan sakit tulang belakang, sakit pada tempurung kaki, dan di daerah sekitar tempurung kaki terlihat seperti peyot atau kulit tempurung masuk ke dalam tulang, seperti orang kurang gizi, padahal keadaannya sehat. Benarkah?
Apakah masturbasi dapat mengurangi kemampuan otak dalam berpikir dan terkesan lebih lambat?"
E, Jakarta
Aktivitas wajar
Mitos tentang masturbasi memang masih banyak beredar luas di masyarakat, sama seperti mitos tentang seks yang lainnya. Beberapa mitos dapat menimbulkan akibat buruk bagi sebagian orang karena memengaruhi perilakunya. Tidak sedikit korban yang mengalami akibat serius hanya karena informasi yang salah berdasarkan mitos tentang seks.
Masturbasi merupakan aktivitas seksual yang umum dilakukan, bahkan sudah dilakukan pada masa anak-anak. Dalam perkembangan psikoseksual anak, salah satu fasenya adalah fase genital.
Pada fase ini, anak mulai menyadari bahwa kelaminnya merupakan bagian yang menyenangkan. Karena itu, anak, baik laki-laki maupun perempuan, senang memegang kelaminnya. Bahkan, sebagian anak dapat mencapai orgasme pada saat itu.
Perhatian terhadap kelamin semakin besar ketika manusia memasuki masa remaja. Karena itu, pada masa ini masturbasi kemudian merupakan aktivitas seksual yang umum dilakukan.
Sebagian orang yang telah menikah pun masih melakukan masturbasi karena alasan dan untuk tujuan tertentu. Lebih jauh, masturbasi bagi sebagian orang justru diperlukan sebagai bagian dari cara mengatasi gangguan fungsi seksual.
Sebagai contoh, wanita yang mengalami hambatan orgasme oleh penyebab tertentu memerlukan latihan masturbasi sebagai bagian cara mengatasinya. Namun, bagi pria, masturbasi yang dilakukan tergesa-gesa agar cepat mencapai orgasme dan ejakulasi dikhawatirkan dapat menjadi kebiasaan sehingga mengakibatkan ejakulasi dini. Kekhawatiran ini tampaknya cukup beralasan.
Informasi abad ke-18
Tidak ada akibat buruk apa pun karena melakukan masturbasi, termasuk informasi yang Anda dengar dari teman itu. Pada abad ke-18 memang pernah beredar buku yang menyatakan bahwa masturbasi dapat menimbulkan berbagai akibat buruk secara fisik, tetapi kemudian terbukti anggapan itu tidak benar karena hanya berdasarkan mitos belaka.
Sayangnya, sampai sekarang masih ada orang yang memberikan informasi berdasarkan mitos, seperti yang Anda dengar itu. Bahkan, tidak sedikit orang yang dianggap mengerti, acap kali terpengaruh oleh mitos tentang seks. @
Konsultasi Dijawab Prof Dr dr Wimpie Pangkahila Sp.And (Kompas,Jumat, 19/3/2010)
Suami Malas Bercinta, Masturbasi Jadi Solusi
"Saya berumur 50 tahun, sudah tidak haid lagi setahun ini. Saya masih bergairah dan sering ingin berhubungan intim. Sayangnya, hubungan dengan suami tidak baik. Kami tidak berhubungan intim sejak dua tahun terakhir. Kalau saya meminta, suami tidak mau dengan alasan klasik, yaitu capek.
Kemudian saya belajar masturbasi, dan bisa orgasme. Lama-lama saya merasa tidak bergantung pada suami. Saya juga menghadapi godaan dari teman sekerja, terutama kalau lagi ke luar kota, tapi sampai saat ini saya tidak pernah selingkuh.
Saya merasa suami sudah selingkuh karena sekian lama tidak pernah meminta berhubungan seksual. Saya tidak pernah bertanya karena saya anggap percuma, pasti jawabannya tidak jujur. Saya biarkan saja. Namun, dalam hal lain suami masih peduli.
Apakah di usia setengah abad, wajar kalau saya masih sering bergairah? Sekarang saya cepat orgasme kalau masturbasi. Apakah ini normal untuk orang seusia saya?
Saya pernah membaca di rubrik ini, kalau menopause katanya vagina kering. Lalu, mengapa saya tidak kering kalau sudah bergairah? Apakah saya harus berhubungan intim dan tidak hanya masturbasi agar tetap sehat?
W.W.Jakarta
Tanpa risiko
Sebenarnya Anda harus tahu mengapa suami tidak mau lagi berhubungan seksual. Melalui komunikasi yang baik akan dapat diketahui alasannya. Mungkin dia mengalami gangguan fungsi seksual sehingga cenderung menghindar daripada gagal.
Mungkin juga memang terlalu lelah bekerja pada usia yang bertambah, apalagi kalau mengidap penyakit tertentu. Namun, bukan tak mungkin kecurigaan Anda benar, dia selingkuh.
Karena sudah berlangsung lama, Anda beradaptasi dengan tidak berhubungan seksual. Sebagai gantinya, Anda masturbasi. Tidak ada yang salah kalau Anda masih bergairah pada usia menopause. Memang menopause bukan berarti kehilangan gairah seksual.
Kalau tetap sehat, apalagi mendapatkan pengobatan, gairah seksual Anda tetap ada. Anda juga akan bisa berhubungan seksual dengan baik.
Reaksi perlendiran vagina yang Anda alami menunjukkan bahwa reaksi seksual masih baik. Terjadinya reaksi perlendiran vagina menunjukkan bahwa fungsi pembuluh darah pada dinding vagina masih baik.
Ini, antara lain, dipengaruhi oleh hormon estrogen. Boleh jadi penurunan hormon estrogen Anda belum berpengaruh banyak terhadap pembuluh darah di vagina.
Secara fisik, sebenarnya masturbasi sama dengan hubungan seksual. Perbedaannya tidak ada keterlibatan emosional dengan pasangan. Karena itu, banyak orang yang melakukan masturbasi tidak merasakan kepuasan yang sama dengan ketika melakukan hubungan seksual. Meski demikian, bagi sebagain lain, mereka merasakan sama saja karena juga orgasme.
Jadi, selama Anda merasa nyaman dengan masturbasi, silakan saja karena tanpa risiko. Bandingkan kalau Anda berhubungan seks dengan orang lain, sedikit banyak mengandung risiko.(Kompas,Sabtu, 27/2/2010)
Tuesday, November 9, 2010
4 Alasan Anda Perlu Masturbasi
Masturbasi sering dikonotasikan dengan sesuatu yang bersifat negatif. Orang menjadikannya alat yang ideal untuk mendapatkan kesenangan diri. Hal ini tak dapat dilepaskan dari fungsi masturbasi itu sendiri.
Pada dasarnya, masturbasi adalah aktivitas merangsang diri sendiri. Bila hal ini dilakukan perempuan, maka ia akan menstimulasi area genitalnya, seperti vagina dan klitoris. Perempuan yang sudah terbiasa mengeksplorasi area vulva-nya, bahkan mampu menemukan area G-spot. Kerap kali perempuan berhasil mencapai orgasme melalui rangsangan ini.
Tak banyak orang yang membicarakan teknik ini, meskipun kenyataannya tak sedikit orang yang bermasturbasi. Hasil studi bahkan menunjukkan bahwa perempuan yang rutin bermasturbasi berpeluang mengalami kehidupan seksual yang lebih memuaskan. Lebih dari itu, mereka juga akan memiliki kesehatan yang lebih baik, termasuk hubungan perkawinan yang lebih bahagia.
Ada poin penting yang juga perlu Anda ketahui mengenai masturbasi. Dengan masturbasi, Anda akan lebih memahami kebutuhan seksual Anda sendiri. Ketika Anda tak mampu berkomunikasi dengan pasangan mengenai hubungan seks yang memuaskan kedua belah pihak, masturbasi menjadi salah satu cara bagi Anda untuk mengeksplorasi seksualitas Anda. Ketika Anda mampu menikmati masturbasi, kepercayaan diri Anda juga akan meningkat.
Manfaat kesehatan
Seperti telah disebutkan di atas, ada sejumlah manfaat kesehatan yang bisa diperoleh dari masturbasi, di antaranya:
Mencegah infeksi saluran kemih dan infeksi serviks
Dalam berbagai studi pernah diungkapkan bahwa perempuan akan terlindung dari infeksi serviks dan infeksi saluran kemih (ISK) jika mereka masturbasi secara rutin. Ketika seorang perempuan mengalami orgasme, terjadi pembukaan pada leher rahimnya, yang kemudian akan menimbulkan proses peningkatan jumlah bakteri baik di dalam leher rahim. Masturbasi juga menghasilkan pelumas alami vagina, yang akan membantu membilas organisme yang menyebabkan infeksi.
Memperbaiki fungsi kardiovaskuler dan menurunkan risiko diabetes tipe 2
Perempuan yang mendapatkan orgasme secara teratur, melalui hubungan seks dengan pasangan maupun masturbasi, juga menunjukkan peningkatan kesehatan kardiovaskuler (yang berkaitan dengan jantung) dan mengembangkan daya tahan yang lebih besar terhadap diabetes tipe 2.
Obat alami untuk insomnia
Masturbasi akan membuat Anda mampu melupakan stres yang dihasilkan oleh kesibukan kerja. Seusai sesi masturbasi, Anda juga bisa tidur lebih lelap. Apa pun jenis aktivitas seksual yang Anda lakukan, akan memperbaiki kadar dopamin, hormon yang memberikan rasa senang. Ketika Anda baru mencapai klimaks, hormon yang memberikan efek menenangkan (endorfin dan oksitosin) akan dilepaskan. Perasaan senang dan nyaman ditambah dengan rasa hangat setelah orgasme yang intens inilah yang akan membantu Anda tidur lebih nyenyak.
Dasar panggul yang lebih kuat
Tidak perlu diragukan lagi bahwa masturbasi akan membantu memperbaiki kekuatan dasar panggul. Dasar panggul yang sehat akan meningkatkan fungsi-fungsi seksual secara keseluruhan, dan membantu Anda menikmati sesi bercinta dengan lebih baik.
(Sumber: Divine Caroline , Kompas,Jumat, 24/9/2010)
5 Hal Penting soal Masturbasi
Para ahli mengatakan, sebagian besar lelaki pernah melakukan masturbasi, entah untuk mengurangi stres, membantu tidur nyenyak, dan lain sebagainya.
Meskipun begitu, ada hal-hal medis yang mungkin belum pernah diketahui tentang masturbasi. Inilah 5 hal penting tentang masturbasi yang perlu diketahui para pria:
Meskipun begitu, ada hal-hal medis yang mungkin belum pernah diketahui tentang masturbasi. Inilah 5 hal penting tentang masturbasi yang perlu diketahui para pria:
1. Tak ada istilah "masturbasi abnormal"
Pria kerap kali bertanya apakah ada sesuatu yang abnormal dengan cara mereka masturbasi. Para ahli sendiri enggan mendefinisikannya dalam kata "normal" atau "abnormal", tetapi mereka menyatakan bahwa pria melakukannya dengan frekuensi dan teknik yang sangat bervariasi.
"Sebagai manusia, kita terlalu beragam untuk menerapkan sebuah norma tertentu mengenai masturbasi yang normal atau tidak," kata Betty Dodson, PhD, seksolog dari New York sekaligus penulis buku Sex for One.
"Setiap orang melakukan masturbasi dengan caranya sendiri. Apakah ia menggunakan tangannya, menggosokkan pada sesuatu, menggunakan mainan seks atau obyek rumah tangga, mengenakan pakaian khusus, berfantasi, melihat sebuah buku atau majalah, mencoba posisi yang berbeda, atau melihat dari cermin," kata Martha Cornog, penulis The Big Book of Masturbation.
2. Masturbasi tak sepenuhnya aman.
Tidak seperti seks dengan pasangan, masturbasi tidak menularkan penyakit seksual. Anda juga tidak akan mengalami ketegangan otot, kantung mata akibat kelelahan, dan rasa canggung yang sering dihadapi ketika berhubungan intim dengan pasangan.
Namun, masturbasi pun tak sepenuhnya dijamin aman. "Masturbasi hanyalah aktivitas seks paling aman yang pernah ada. Tapi, hukum fisika dan biologi tidak akan berhenti mengatakan bahwa masturbasi aman hanya karena masturbasi biasa dilakukan," kata Cornog.
Rata-rata pria mengetahui, apabila mereka keseringan melakukan masturbasi atau terlalu kuat saat melakukannya, maka hal itu dapat mengiritasi kulit penis. Di sisi lain, pria kurang mengetahui bahwa kebiasaan melakukan onani dengan keadaan telungkup, misalnya dengan menekan pada bantal atau bahkan karpet lantai, bisa melukai uretra. Oleh sebab itu, pengeluaran urine dari penis tidak seperti biasanya, tetapi menyemprot dengan keras sehingga sulit dikendalikan.
Barbara Bartlik, MD, psikiater dan terapis seks di New York, mengatakan, dia melihat pria yang menderita trauma uretra yang parah karena masturbasi dengan cara telungkup sehingga ia tidak lagi dapat menggunakan toilet berdiri tapi harus buang air kecil sambil duduk.
Dalam kasus tertentu yang sangat langka, masturbasi atau berhubungan seks dengan pasangan juga dapat menyebabkan fraktur penis. Kondisi yang menyakitkan ini terjadi karena sobekan di bagian albuginea tunika (jaringan putih yang mengelilingi lapisan spons penis) akibat penis yang sedang ereksi mengenai benda keras atau dipaksa menekuk ke bawah. Dalam keadaan darurat, hal ini sering kali berakhir dalam kondisi harus dioperasi.
3. Seks sendiri mengubah kehidupan seks Anda atau sebaliknya.
Untuk berbagai alasan, seks kala sendiri dapat memberi manfaat. Masturbasi dapat membantu mengenali respons seksual Anda sendiri—apa yang dirasakan baik bagi Anda dan apa yang tidak—sehingga Anda akan lebih mampu menjelaskan kepada pasangan mengenai sentuhan yang tepat.
Ini juga membantu Anda belajar untuk mengenali saat "yang tak bisa dihindari" tepat sebelum orgasme dan membantu mengajari pasangan bagaimana menghindari ejakulasi dini.
Mungkin yang paling signifikan, masturbasi adalah mekanisme atau solusi terbaik bagi pria yang tidak dapat melakukan hubungan seks sementara di saat pasangannya sakit, atau sedang menstruasi, atau memeliki dorongan seks yang tak sesuai dengan dirinya sendiri.
Bagi sebagian pria, "seks solo" dapat menjadi sebuah obsesi sehingga mereka mulai kehilangan gairah bercinta dengan pasangan mereka. Perasaan sakit hati dan keterasingan pasangan akibat obsesi "seks solo" akan membuat Anda sulit mempertahankan hubungan.
Para ahli menekankan, masturbasi sah-sah saja bahkan untuk para pria yang sudah berkomitmen. "Kita tidak dapat berasumsi bahwa hanya karena seorang pria masturbasi, maka itu akan menuai masalah terhadap hubungan primernya," kata Bartlik.
4. Beberapa teknik masturbasi memicu disfungsi seksual.
Para ahli memperingatkan, pria yang sering merangsang dirinya dengan cara yang tidak mensimulasikan seks dengan pasangan (misalnya, membelai sangat cepat atau dengan tekanan besar atau gesekan) bisa mengidap gangguan ejakulasi. Dengan disfungsi seks tersebut, seseorang akan kesulitan atau bahkan tidak mungkin mencapai klimaks selama berhubungan seks dengan pasangan.
"Siapa pun yang mengalami disfungsi seksual harus bertanya kepada dirinya sendiri apakah ia melakukan masturbasi dengan cara-cara yang menimbulkan sensasi berbeda dari yang diperoleh dari tangan, mulut, atau vagina pasangannya. Lalu ia harus memperhitungkan apa yang dapat merangsang pasangan Anda dan mengubah cara masturbasi Anda untuk membuatnya seperti yang diinginkan pasangan," kata Michael A Perelman, PhD, profesor psikiatri dan urologi dari Weill Cornell Medical College di New York.
5. Masturbasi memengaruhi risiko kanker prostat
Sebuah studi yang dilakukan di Australia tahun 2003 dan dipublikasikan BJU International menyatakan, ejakulasi terkait dengan penurunan risiko kanker prostat di kemudian hari.
Namun, dalam studi tahun 2004 yang diterbitkan dalam The Journal of American Medical Association, seorang peneliti melaporkan bahwa "frekuensi ejakulasi tidak berkaitan dengan peningkatan risiko kanker prostat." Dalam kedua studi ini, frekuensi ejakulasi termasuk berhubungan seksual dengan pasangan dan masturbasi.
Sementara itu, dalam sebuah penelitian yang diterbitkan Januari lalu dalam BJU International menunjukkan bahwa pria muda yang sering masturbasi berisiko lebih tinggi mengidap kanker prostat. Namun, apabila pria lebih tua sering masturbasi, hal itu akan menurunkan risiko kanker prostat. Adapun berhubungan seksual dengan pasangan tidak menjadi faktor terhadap risiko terkena kanker prostat.
Para peneliti berasumsi bahwa masturbasi bukan satu-satunya yang dapat memicu risiko kanker prostat pada pria yang sering masturbasi di usia 20-an dan 30-an. Pria sering melakukan masturbasi karena memiliki kadar hormon seks yang tinggi. Pria muda yang secara genetis cenderung memiliki hormon yang sensitif pada kanker prostat tentu berisiko tinggi bila hormon seks mereka berlebih.
Sementara itu, pria berusia di atas usia 50 tahun dan sering melakukan masturbasi ternyata membantu mengeringkan cairan prostat yang mungkin mengandung zat-zat pemicu kanker.(Kompas,Jumat, 6/8/2010)
Anak Masturbasi Jadi Serius, Bila...
MASTURBASI merupakan bagian dari perkembangan normal anak. Akan menjadi aktivitas yang memerlukan perhatian khusus jika terjadi hal-hal seperti berikut ini, seperti dipaparkan para ahli dari University Of Michigan Health System:
Bila Anda menemui hal-hal seperti ini, segeralah konsultasikan ke dokter. (Kompas,Jumat, 23/5/2008)
- Jika anak terlihat mempunyai pemahaman awal atas kegiatan seksual.
- Jika aktivitas menjadi berlebihan dan menghambat aktivitas normal lainnya, atau anak tidak bisa dialihkan perhatiannya secara mudah dari masturbasinya.
- Jika anak melakukan penetrasi alat kelamin dengan anak lainnya.
- Jika aktivitas tersebut menyakitkan buat anak.
- Jika aktivitas tersebut meningkat lebih banyak dari biasanya, mengindikasikan anak mengalami stres terhadap sesuatu dan ia mencoba membuat dirinya nyaman.
- Jika ada kontak antara mulut dengan alat kelamin antara anak Anda dengan anak lainnya.
- Jika Anda merasa anak tidak bahagia atau sedih.
- Jika kemudian dibarengi dengan luka pada wilayah alat genital anak akibat digaruk atau digosok. Luka yang terjadi bisa menimbulkan infeksi pada alat genital atau infeksi saluran kemih.
Bila Anda menemui hal-hal seperti ini, segeralah konsultasikan ke dokter. (Kompas,Jumat, 23/5/2008)
Masturbasi, Cukup Dua Kali Seminggu
Pertanyaan mengenai sejauhmanakah kegiatan masturbasi tergolong normal, merupakan salah satu topik yang paling sering diperbincangkan. Pakar seks terkemuka Dr Boyke Dian Nugraha Sp.OG, MARS, menyatakan masturbasi merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan seksual seseorang. Tidak ada batas-batasan khusus bahwa masturbasi kelewat sering bisa menimbulkan efek negatif.
"Dari segi medis, masturbasi atau onani itu sesuatu yang lumrah dan wajar. Tidak ada dampak medisnya, dari penelitian juga tidak ada yang menyebutkan bahwa masturbasi itu buruk," kata Dr Boyke saat meluncurkan buku terbarunya dan menggelar talkshow bertema "It's All About Seks", di toko buku Gramedia, Matraman, Jakarta Timur, Minggu (18/4/2010).
Namun demikian, Dr Boyke mengatakan, dirinya tetap sering dihujani pertanyaan oleh para pasien seberapa sering kegiatan masturbasi tergolong masih aman dan normal. Mengenai hal ini, Dr Boyke menjawan diplomatis. Ia menyebutkan masturbasi baik dan normal dilakukan jika dilakukan tanpa diliputi perasaan berdosa. Seringkali, kata Boyke, dampak negatif dari masturbasi timbul karena seseorang merasa ada dosa yang diperbuatnya dengan melakukan masturbasi.
"Nah, masalah psikologis seperti ini yang bisa memberikan permasalahan. Ada masalah psikologis di sini," kata dia.
Untuk itu, bagi yang bertanya-tanya seberapa sering masturbasi dikatakan normal dan aman, Dr Boyke menyebutkan, secukupnya masturbasi bisa dilakukan dua kali dalam seminggu. Frekuensi tersebut, kata Boyke sudah mencukupi dan normal memenuhi hasrat seksual seseorang.
Dokter Boyke juga menjelaskan, masturbasi tidak melulu dikategorikan sebagai perbuatan seks menyimpang. Malah, masturbasi bisa menjadi solusi dan alternatif dari permasalahan seks seseorang. "Misalnya seorang suami yang berdinas di luar kota terpisah dengan istrinya. Sebagai solusi dia lebih baik melakukan masturbasi," katanya.
(Kompas,Minggu, 18/4/2010 )
"Dari segi medis, masturbasi atau onani itu sesuatu yang lumrah dan wajar. Tidak ada dampak medisnya, dari penelitian juga tidak ada yang menyebutkan bahwa masturbasi itu buruk," kata Dr Boyke saat meluncurkan buku terbarunya dan menggelar talkshow bertema "It's All About Seks", di toko buku Gramedia, Matraman, Jakarta Timur, Minggu (18/4/2010).
Namun demikian, Dr Boyke mengatakan, dirinya tetap sering dihujani pertanyaan oleh para pasien seberapa sering kegiatan masturbasi tergolong masih aman dan normal. Mengenai hal ini, Dr Boyke menjawan diplomatis. Ia menyebutkan masturbasi baik dan normal dilakukan jika dilakukan tanpa diliputi perasaan berdosa. Seringkali, kata Boyke, dampak negatif dari masturbasi timbul karena seseorang merasa ada dosa yang diperbuatnya dengan melakukan masturbasi.
"Nah, masalah psikologis seperti ini yang bisa memberikan permasalahan. Ada masalah psikologis di sini," kata dia.
Untuk itu, bagi yang bertanya-tanya seberapa sering masturbasi dikatakan normal dan aman, Dr Boyke menyebutkan, secukupnya masturbasi bisa dilakukan dua kali dalam seminggu. Frekuensi tersebut, kata Boyke sudah mencukupi dan normal memenuhi hasrat seksual seseorang.
Dokter Boyke juga menjelaskan, masturbasi tidak melulu dikategorikan sebagai perbuatan seks menyimpang. Malah, masturbasi bisa menjadi solusi dan alternatif dari permasalahan seks seseorang. "Misalnya seorang suami yang berdinas di luar kota terpisah dengan istrinya. Sebagai solusi dia lebih baik melakukan masturbasi," katanya.
(Kompas,Minggu, 18/4/2010 )
Monday, November 8, 2010
Aduh, Anakku Masturbasi!
BANYAK orangtua terkejut saat mengetahui anaknya memainkan alat kelaminnya sendiri. “Apakah anak saya normal? Apakah dia mengalami kelainan seksual?” Begitu biasanya yang terbersit dalam benak para orangtua. Bagi anak, memegang atau menyentuh alat kelamin merupakan eksplorasi terhadap tubuhnya. Sama seperti saat ia menyentuh tangan dan anggota tubuh lainnya.
Selain memegang, kadang juga ada beberapa gerakan seperti kaki yang dijepitkan satu sama lain saat anak sedang duduk atau telentang yang mengarah pada masturbasi. Masturbasi merupakan aktivitas yang lazim terjadi pada anak, sebagai bagian dari proses perkembangannya. Biasanya anak laki-laki maupun perempuan bermain dengan alat genitalnya pada usia 5-6 tahun. Di usia batita, hal ini juga bisa terjadi.
Kekhawatiran orangtua menyangkut masturbasi bisa dipahami karena mereka umumnya menyamakannya dengan perbuatan orang dewasa. Konsep seksual tidak ada dalam otak anak. Hanya rasa enak dan nyaman yang dirasakan oleh anak saat melakukan masturbasi. “Masturbasi merupakan bagian normal dari tingkah laku seksual manusia,” ungkap Dr. Jimmy Passat, Sp.A(K), Staf Divisi Saraf Anak FKUI/RSCM.
“Masturbasi atau merangsang alat genital diri sendiri merupakan tingkah laku manusia yang umum dan dapat ditemukan mulai usia 2 bulan. Bahkan, pernah dilaporkan masturbasi terjadi pada janin,” kata dokter spesialis anak lulusan FKUI ini. Aktivitas masturbasi pada bayi dan anak, menurut Dr. Jimmy sulit dikenali. Ini karena masturbasi sering dilakukan tanpa merangsang genital, sehingga sering dianggap sakit perut atau epilepsi saat anak merasakan enak. Namun, bila diamati lebih lanjut, akan terlihat aktivitas masturbasi.
Dalam gambar hasil rekaman yang ditunjukkan oleh Dr. Hardiono D. Pusponegoro, Sp.A(K), anak yang sedang tidur telentang, terlihat wajar saja. Namun, jika diamati lebih lanjut, kaki anak itu bersilangan seperti menjepit. “Itu adalah masturbasi yang dilakukan anak. Saat merapatkan dan menyilangkan paha, anak menggerak-gerakkan paha ke depan dan belakang hingga berkeringat,” ujar Dr. Hardiono.
Bentuk lain masturbasi bisa terlihat dari perilaku anak menempelkan kelamin di sisi meja dengan posisi menggantung. Anak terlihat sangat menikmati aktivitas tersebut.
Alihkan Perhatian
Apa yang sebaiknya dilakukan orangtua jika menyaksikan anaknya masturbasi? Yang jelas, anak dapat dihentikan dari aktivitasnya itu dengan cara mengalihkan perhatiannya. Boleh jadi anak akan merasa tidak senang atau marah bila aktivitasnya diganggu, tetapi itu tidak jadi soal. “Orangtua bisa menghentikan kegiatan tersebut dengan mengatakan bahwa hal itu dapat membuat kelamin kemasukan kotoran dan terjadi infeksi,” ujar Dra. Diennaryati Tjokro, MPsi., psikolog dari UI.
Yang perlu dipahami orangtua adalah bahwa jika anak dimarahi akibat perilakunya itu, ia akan mengalami trauma seksual yang akan berdampak hingga dewasa. Akan terbentuk dalam pikirannya bahwa alat kelamin adalah sesuatu yang tidak baik dan harus dihindari. Akibatnya, kelak bisa terjadi anak mengalami gangguan fungsi seksual.
Masturbasi tidak membahayakan tubuh. Demikian yang sering dikatakan oleh pakar seksologi, Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And. Masturbasi juga bukan tindakan abnormal atau berlebihan, kecuali bila dilakukan secara sengaja di depan umum setelah usia 5 atau 6 tahun.
Orangtua tidak perlu khawatir bahwa masturbasi akan membuat anak kelebihan aktivitas seksual. Anak melakukannya beberapa kali sehari atau bahkan hanya satu kali dalam seminggu. Biasanya aktivitas itu terjadi saat anak sedang tidur, bosan, menonton televisi, atau stres.(Kompas,Jumat, 23/5/2008)
Bila Anak Masturbasi
ADA beberapa cara agar anak tidak melakukan masturbasi di tempat umum.
1. Tetapkan batasan.
Jelaskan kepada anak bahwa aktivitas yang dilakukannya sangat pribadi, sama seperti mandi di kamar mandi atau pipis di toilet. Aktivitas tersebut sebaiknya hanya dilakukan di kamar tidur atau kamar mandi.
2. Alihkan.
Cobalah mengalihkan perhatian anak dengan aktivitas lain yang juga melibatkan tangannya. Jika belum berhasil, jelaskan kepada anak kalau aktivitas itu boleh dilakukan di kamar dan kamar mandi, dan jangan melakukannya saat orang sedang berada di sekelilingnya. Bila masih sulit, segera bawa anak ke kamarnya.
1. Tetapkan batasan.
Jelaskan kepada anak bahwa aktivitas yang dilakukannya sangat pribadi, sama seperti mandi di kamar mandi atau pipis di toilet. Aktivitas tersebut sebaiknya hanya dilakukan di kamar tidur atau kamar mandi.
2. Alihkan.
Cobalah mengalihkan perhatian anak dengan aktivitas lain yang juga melibatkan tangannya. Jika belum berhasil, jelaskan kepada anak kalau aktivitas itu boleh dilakukan di kamar dan kamar mandi, dan jangan melakukannya saat orang sedang berada di sekelilingnya. Bila masih sulit, segera bawa anak ke kamarnya.
3. Abaikan masturbasi saat waktu tidur.
Mintalah pengasuh anak untuk bersikap sama dengan Anda. Minta pengasuh untuk merespon masturbasi yang dilakukan anak dengan mengalihkan perhatiannya. Sebaliknya, jika masturbasi dilakukan saat tidur, Anda tak perlu menghiraukannya.
4. Jelaskan hal yang bersifat pribadi.
Anak usia dua tahun sudah bisa diberitahu bahwa sebagian tubuhnya adalah bersifat pribadi. Tidak ada seorang pun kecuali dirinya, orangtua, dan dokter yang boleh menyentuhnya.
5. Beri perhatian lebih.
Perbanyak pelukan dan bentuk perhatian lainnya dari orangtua terhadap anak. Bisa jadi, anak melakukan masturbasi karena kurang perhatian dan kasih sayang dari orangtua. Merangkul anak setiap saat dapat menghindarkan anak dari masturbasi.
6. Berikan mainan.
Berikan anak benda yang aman seperti boneka dan selimut yang bisa dibawa ke tempat umum. Sebab, bisa saja ia melakukan masturbasi untuk membuat dirinya nyaman dalam situasi yang tidak dikenali.
7. Beri reward.
Untuk anak yang mengalami keterlambatan perkembangan atau cacat mental yang mungkin tidak mudah memahami pentingnya alasan, tindakan positif bisa membantu. Contohnya, memberi “hadiah” berupa perlakuan khusus kepada anak jika tidak bermain dengan alat kelaminnya.
8. Jangan menghukum.
Anak sebaiknya tidak dihukum secara fisik, dibentak, maupun dimarahi karena melakukan masturbasi. Jangan pula menyebut masturbasi itu buruk, kotor, berdosa, apalagi sampai mengikat tangan anak. Semua hal itu justru akan membuat anak melawan dan mengalami hambatan seksual di kemudian hari(Kompas,Jumat, 23/5/2008)
Ketagihan Masturbasi, Apa Efeknya?
Bukan rahasia lagi bila dorongan seks yang tidak tersalurkan bisa mengganggu kesehatan. Karena itu, masturbasi merupakan jalan keluar yang dianggap aman untuk meredakan gairah dan stres.
Sebenarnya kegiatan merangsang tubuh, khususnya organ intim, untuk memberi kepuasan seksual pada diri sendiri ini tidak berbahaya. Akan tetapi, kegiatan yang populer dengan sebutan seks swalayan ini juga punya efek samping yang buruk, mulai dari efek psikologis hingga menyebabkan ketagihan.
Salah satu dampak buruk masturbasi, menurut Dr Hernano Chavez, konsultan seks, adalah sulit mencapai klimaks saat berhubungan seks atau justru mempercepat ejakulasi atau ejakulasi dini.
"Dengan masturbasi, kita bisa mencapai orgasme sendiri. Lama-kelamaan otak akan terlatih untuk merespons sentuhan-sentuhan tangan sendiri dan mengurangi sensitivitas sentuhan yang berasal dari orang lain. Akibatnya, akan lebih sulit mencapai klimaks," kata Chavez, seperti dikutip situs askmen.com
Secara biologis, ketagihan masturbasi bisa memengaruhi otak dan zat-zat kimia dalam tubuh sehingga berpengaruh pada diproduksinya seks hormon secara berlebihan. Meski dampaknya pada tiap orang berbeda, masturbasi kronik ini bisa menyebabkan rasa lelah, sakit di bagian pelvic, sakit punggung, sakit di bagian testis, hingga rambut rontok.
Karena terbiasa memuaskan diri sendiri tanpa melibatkan orang lain, dikhawatirkan seseorang akan lebih menyukai aktivitas seks sendiri dibandingkan dengan pasangan. Padahal, hubungan seks yang sehat seharusnya bisa memuaskan kedua belah pihak.
Pada orang yang belum menikah, masturbasi yang terlalu sering akan menyebabkan kompulsif masturbasi yang bisa mengganggu kehidupan sehari-hari. Ketidakseimbangan antara hasrat dan kebutuhan pribadi ini bisa menimbulkan rasa pusing dan ingin marah bila belum onani. Pada akhirnya ini akan mengganggu pekerjaan serta hubungan sosial dengan orang lain.
(Sumber: askmen ,Kompas,Senin, 12/4/2010)
Manfaat Masturbasi
BEBERAPA tahun terakhir ini, para dokter mulai meyakini bahwa kegiatan masturbasi ternyata tidak memberi efek buruk bagi pelakunya. Pandangan ini tentu saja tidak begitu saja muncul.
Pada abad 18 dan 19, ada pandangan yang menyatakan bahwa masturbasi terkait dengan menurunnya kemampuan tubuh secara umum. Masturbasi juga dikatakan menurunkan daya penglihatan, mengganggu sistem saraf, dan sebagainya.
Alex McKay, koordinator riset pada Sex Information and Education Council, Kanada memberi komentar bahwa banyak orang merasa bersalah gara-gara melakukan masturbasi: "Alasannya, seks itu harus dilakukan demi reproduksi dan masturbasi melenceng dari tujuan itu...memang ada perbedaan pandangan di antara para profesional dari berbagai disiplin mengenai masturbasi."
Dan memang benar, ada psikolog yang mengatakan bahwa masturbasi itu bentuk egoisme. Sementara ahli yang lain mengatakan, masturbasi itu tidak sesuai dengan ajaran agama. Sex terapis Bill dan Carolyn Chernenkoff justru menyarankan stimulasi/rangsangan pribadi atau berpasangan ini.
Mereka bilang "Tidak ada yang lebih baik terutama bagi anak-anak muda untuk melakukan masturbasi saat hormon mereka mulai berkembang.Biasanya hal ini bakal mencegah mereka untuk melakukan aktivitas seksual yang justru dilarang dan mencegah kehamilan tak dikehendaki."
Tentu saja, kata mereka, bagi pasangan yang sudah menikah, kegiatan ini bermanfaat. Terutama bagi mereka yang sedang berjauhan dari pasangan karena masalah tertentu karena pekerjaan misalnya.
Berikut beberapa manfaat masturbasi:
- Merangsang kemampuan fantasi
- Membuat seseorang menjadi makin nyaman dengan seksualitas mereka.
- Bakal luar biasa bila dilakukan bersama pasangan
- Membantu kita memahami reaksi-reaksi tubuh sendiri yang berguna bagi kegiatan seksual bersama pasangan
- Memelihara aliran darah di pelvic dan memperkuat otot kelamin.
- Membantu melepas stres
- Kadang-kadang dapat melepaskan ketegangan bagi wanita yang sedang mengalami menstruasi
- Yang jelas tidak menyebabkan kehamilan, aman.
- Gairah seksual yang menggelegak dan berlangsung lama pada pria biasanya menyebabkan nyeri yang biasa disebut "blue balls". Karena itu masturbasi membantu melepaskannya.
Sebaliknya, ada beberapa masalah yang bisa timbul gara-gara masturbasi, antara lain:
- Bagi para lelaki, keseringan masturbasi menyebabkan abrasi kulit. Dapat diatasi dengan menggunakan pelicin atau pelumas seperti jeli
- Tentu saja menghabiskan waktu. Beberapa anak muda bahkan melakukan masturbasi beberapa kali sehari.(Kompas,Rabu, 15/10/2008)
Masturbasi, Justru Disarankan!
MESKI tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa masturbasi membuat fisik dan mental kita tidak sehat, tetap saja banyak orang menganggap bahkan yakin bahwa hal ini membahayakan. Tidak jelas apanya yang membuatnya bahaya. Mungkin hanya sekedar takut saja.
Ada yang menganggap masturbasi menyebabkan kegilaan, epilepsi,memunculkan akne, kebutaan, kehidupan seks yang amburadul, sakit kepala, perdarahan hidung, bahkan dianggap egois..
Masturbasi sebenarnya merupakan ekspresi seksual yang alamiah. Banyak orang dengan berbagai latar budaya melakukan masturbasi. Bahkan banyak juga spesies binatang melakukannya. Namun, beberapa orang ragu untuk melakukannya.
Padahal sebenarnya masturbasi merupakan bonus tambahan yang semestinya bisa diberikan oleh pasangan masing-masing. Para ahli di bidang seksologi justru menyarankan teknik saling memberi masturbasi untuk pasangan masing-masing demi menghangatkan ranjang. Sehingga pada akhirnya masturbasi bisa dikatakan sebagai kegiatan yang saling menguntungkan satu sama lain.
Masturbasi sebenarnya dapat menjadi alat yang sangat baik untuk bisa mengenal tubuh kita sendiri, bahkan juga menjadi cara kita untuk bisa berkomunikasi dengan pasangan. Banyak wanita mengalami orgasme pertama kalinya gara-gara masturbasi. Karena itu, masturbasi bisa dikatakan sebagai aktivitas yang supportif atau mendukung demi meningkatkan keharmonisan kehidupan seksual Anda dan pasangan.
Dengan demikian salah bila masturbasi dikatakan aktivitas yang antisosial, kurang dewasa dan egois. Ini sesuatu yang wajar dan semestinya bila dilakukan terutama oleh mereka yang sudah lepas dari usia remaja. Aktivitas ini bahkan dapat melipatgandakan kemampuan seksual kita.
Banyak orang memberi perhatian soal masturbasi ini terutama bila hal ini dirasa berlebihan. Sebenarnya tidak masalah karena masturbasi tidak membuat kita menjadi sakit. Pada dasarnya seperti orang minum, bila kita merasa kekenyangan biasanya kita akan berhenti dan saat lapar lagi kita akan makan lagi. Hal yang terjadi pada masturbasi ya juga seperti itu.
Ada banyak sarana yang bisa digunakan orang untuk membantu mencapai masturbasi seperti internet atau film dewasa. Dan yang jelas, masturbasi menyelamatkan mereka yang jauh dari pasangan untuk berbuat selingkuh. Juga menyelamatkan para remaja untuk melakukan hubungan seksual yang semestinya tidak mereka lakukan lebih dahulu sebelum resmi sebagai suami istri.(Kompas,Senin, 26/5/2008)
Masturbasi Juga Dilakukan Perempuan Menikah
Menghabiskan waktu selama delapan jam setiap hari memikirkan dan membicarakan seks? Ini bukan sesuatu yang tidak normal karena memang itulah tugas Debby Herbenick sebagai profesor dan pengajar bidang seks di Kinsey Institute dan Indiana University di Bloomington. Apa hasil penemuannya yang amat mengejutkan? Berapa banyak kesalahpahaman seksual yang ada dalam benak rata-rata perempuan? Inilah empat di antaranya:
Mitos 1: Pria tidak bisa berbuat orgasme palsu. ''Tentu saja mereka bisa dan mereka melakukan hal itu,'' tuturnya. Penelitian dari Kansas University menunjukkan, 25 persen pria mengaku bahwa mereka sering berpura-pura orgasme, bahkan sebagian saat melakukan seks oral. Memang tidak ada pria yang bisa memalsukan cairan sperma hasil ejakulasi. Namun, mereka bisa menirukan desahan dan gerakan-gerakan tubuh mereka saat berhubungan intim. Tapi, ngomong-ngomong, kenapa ya mereka melakukan itu?
Mereka juga seperti kita. Terkadang mereka merasa lelah, tertekan, dan memiliki kesulitan dalam mencapai klimaks. Namun, mereka juga ingin pasangan mereka bahagia dan mendapatkan kepuasan.
Mitos 2: Seks oral 100 persen aman. ''Penyebaran virus HIV lewat seks oral memang jarang. Namun, lewat mulut inilah penyakit kelamin lainnya bisa menulari Anda, seperti penyakit kencing nanah (gonorrhea) dan herpes,'' jelas Herbenick. Penelitian juga membuktikan bahwa perempuan yang sudah melakukan seks oral terhadap lebih dari 6 pria (pasangannya) amat rentan terkena penyakit menular seksual. Mereka juga bisa terkena penyakit kanker mulut yang disebabkan oleh infeksi dari human papilloma virus (HPV, virus yang menyebabkan kanker leher rahim). Adakah cara yang aman untuk melakukannya?
Minta pasangan mengenakan kondom (itu gunanya kondom aneka rasa, bukan?).
Mitos 3: Anda tidak bisa berhubungan seks saat hamil besar. ''Kecuali saat dokter Anda mengatakan kehamilan Anda berisiko,'' kata Herbenick, "Anda tetap bisa melakukan hubungan intim hingga menjelang kelahiran." Faktanya, penelitian membuktikan bahwa seks rutin bisa menurunkan angka risiko kelahiran prematur. Beberapa perempuan bahkan bisa mencapai orgasme saat hamil. Posisi adalah kuncinya. Cara yang aman dan nyaman adalah posisi sendok garpu ataupun perempuan di atas.
Mitos 4: Perempuan hanya bermasturbasi saat masih lajang. Tidak benar! Penelitian terakhir membuktikan bahwa lebih dari 40 persen perempuan yang sudah menikah melakukan masturbasi minimal satu kali dalam sebulan. Dan, ini berita baiknya: perempuan yang suka bermasturbasi lebih puas melakukan hubungan seks dengan pasangan ketimbang yang tidak melakukan.
(Sumber: Glamour , Kompas,Senin, 25/1/2010)
Subscribe to:
Posts (Atom)



















