Showing posts with label Kanker serviks. Show all posts
Showing posts with label Kanker serviks. Show all posts

Tuesday, December 23, 2008

Kanker Leher Rahim, serang wanita usia 35-55 tahun

Kanker Leher Rahim (Kanker Serviks) adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim/serviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina.

Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun.90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke dalam rahim.


PENYEBAB


Kanker serviks terjadi jika sel-sel serviks menjadi abnormal dan membelah secara tak terkendali.Jika sel serviks terus membelah maka akan terbentuk suatu massa jaringan yang disebut tumor yang bisa bersifat jinak atau ganas. Jika tumor tersebut ganas, maka keadaannya disebut kanker serviks.

Penyebab terjadinya kelainan pada sel-sel serviks tidak diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa faktor resiko yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker serviks:

1. HPV (human papillomavirus) HPV adalah virus penyebab kutil genitalis (kondiloma akuminata) yang ditularkan melalui hubungan seksual. Varian yang sangat berbahaya adalah HPV tipe 16, 18, 45 dan 56.

2. Merokok Tembakau merusak sistem kekebalan dan mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi HPV pada serviks.

3. Hubungan seksual pertama dilakukan pada usia dini

4. Berganti-ganti pasangan seksual

5. Suami/pasangan seksualnya melakukan hubungan seksual pertama pada usia di bawah 18 tahun, berganti-ganti pasangan dan pernah menikah dengan wanita yang menderita kanker serviks

6. Pemakaian DES (dietilstilbestrol) pada wanita hamil untuk mencegah keguguran (banyak digunakan pada tahun 1940-1970)

7. Gangguan sistem kekebalan

8. Pemakaian pil KB

9. Infeksi herpes genitalis atau infeksi klamidia menahun

10. Golongan ekonomi lemah (karena tidak mampu melakukan Pap smear secara rutin)


Keadaan Prekanker Pada Serviks


Sel-sel pada permukaan serviks kadang tampak abnormal tetapi tidak ganas.Para ilmuwan yakin bahwa beberapa perubahan abnormal pada sel-sel serviks merupakan langkah awal dari serangkaian perubahan yang berjalan lambat, yang beberapa tahun kemudian bisa menyebabkan kanker.Karena itu beberapa perubahan abnormal merupakan keadaan prekanker, yang bisa berubah menjadi kanker.


Saat ini telah digunakan istilah yang berbeda untuk perubahan abnormal pada sel-sel di permukaan serviks, salah satu diantaranya adalah lesi skuamosa intraepitel (lesi artinya kelainan jaringan, intraepitel artinya sel-sel yang abnormal hanya ditemukan di lapisan permukaan).

Perubahan pada sel-sel ini bisa dibagi ke dalam 2 kelompok:

1. Lesi tingkat rendah : merupakan perubahan dini pada ukuran, bentuk dan jumlah sel yang membentuk permukaan serviks. Beberapa lesi tingkat rendah menghilang dengan sendirinya. Tetapi yang lainnya tumbuh menjadi lebih besar dan lebih abnormal, membentuk lesi tingkat tinggi. Lesi tingkat rendah juga disebut displasia ringan atau neoplasia intraepitel servikal 1 (NIS 1). Lesi tingkat rendah paling sering ditemukan pada wanita yang berusia 25-35 tahun, tetapi juga bisa terjadi pada semua kelompok umur.


2. Lesi tingkat tinggi : ditemukan sejumlah besar sel prekanker yang tampak sangat berbeda dari sel yang normal. Perubahan prekanker ini hanya terjadi pada sel di permukaan serviks. Selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, sel-sel tersebut tidak akan menjadi ganas dan tidak akan menyusup ke lapisan serviks yang lebih dalam. Lesi tingkat tinggi juga disebut displasia menengah atau displasia berat, NIS 2 atau 3, atau karsinoma in situ. Lesi tingkat tinggi paling sering ditemukan pada wanita yang berusia 30-40 tahun.

Jika sel-sel abnormal menyebar lebih dalam ke dalam serviks atau ke jaringan maupun organ lainnya, mada keadaannya disebut kanker serviks atau kanker serviks invasif.Kanker serviks paling sering ditemukan pada usia diatas 40 tahun.


GEJALA

Perubahan prekanker pada serviks biasanya tidak menimbulkan gejala dan perubahan ini tidak terdeteksi kecuali jika wanita tersebut menjalani pemeriksaan panggul dan Pap smear.

Gejala biasanya baru muncul ketika sel serviks yang abnormal berubah menjadi keganasan dan menyusup ke jaringan di sekitarnya. Pada saat ini akan timbul gejala berikut:

- Perdarahan vagina yang abnormal, terutama diantara 2 menstruasi, setelah melakukan hubungan seksual dan setelah menopause

- Menstruasi abnormal (lebih lama dan lebih banyak)

- Keputihan yang menetap, dengan cairan yang encer, berwarna pink, coklat, mengandung darah atau hitam serta berbau busuk.

Gejala dari kanker serviks stadium lanjut:-

-Nafsu makan berkurang, penurunan berat badan, kelelahan

- Nyeri panggul, punggung atau tungkai

- Dari vagina keluar air kemih atau tinja- Patah tulang (fraktur).


DIAGNOSA

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan berikut:


1. Pap smear : Pap smear dapat mendeteksi sampai 90% kasus kanker serviks secara akurat dan dengan biaya yang tidak terlalu mahal. Akibatnya angka kematian akibat kanker servikspun menurun sampai lebih dari 50%. Setiap wanita yang telah aktif secara seksual atau usianya telah mencapai 18 tahun, sebaiknya menjalani Pap smear secara teratur yaitu 1 kali/tahun.

Jika selama 3 kali berturut-turut menunjukkan hasil yang normal, Pap smear bisa dilakukan 1 kali/2-3tahun. Hasil pemeriksaan Pap smear menunjukkan stadium dari kanker serviks:

- Normal

- Displasia ringan (perubahan dini yang belum bersifat ganas)

- Displasia berat (perubahan lanjut yang belum bersifat ganas)

- Karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling luar)

- Kanker invasif (kanker telah menyebar ke lapisan serviks yang lebih dalam atau ke organ tubuh lainnya).


2. Biopsi

Biopsi dilakukan jika pada pemeriksaan panggul tampak suatu pertumbuhan atau luka pada serviks, atau jika Pap smear menunjukkan suatu abnormalitas atau kanker.

3. Kolposkopi (pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar)

4. Tes Schiller

Serviks diolesi dengan lauran yodium, sel yang sehat warnanya akan berubah menjadi coklat, sedangkan sel yang abnormal warnanya menjadi putih atau kuning.

Untuk membantu menentukan stadium kanker, dilakukan beberapa pemeriksan berikut:

- Sistoskopi

- Rontgen dada

- Urografi intravena

- Sigmoidoskopi

- Skening tulang dan hati

- Barium enema.


PENGOBATAN


Pengobatan lesi prekanker


Pengobatan lesi prekanker pada serviks tergantung kepada beberapa faktor berikut:

- tingkatan lesi (apakah tingkat rendah atau tingkat tinggi)

- rencana penderita untuk hamil lagi

- usia dan keadaan umum penderita.


Lesi tingkat rendah biasanya tidak memerlukan pengobatan lebih lanjut, terutama jika daerah yang abnormal seluruhnya telah diangkat pada waktu pemeriksaan biopsi. Tetapi penderita harus menjalani pemeriksaan Pap smear dan pemeriksaan panggul secara rutin.


Pengobatan pada lesi prekanker bisa berupa:

# Kriosurgeri (pembekuan)

# Kauterisasi (pembakaran, juga disebut diatermi)

# Pembedahan laser untuk menghancurkan sel-sel yang abnormal tanpa melukai jaringan yang sehat di sekitarnya

# LEEP (loop electrosurgical excision procedure) atau konisasi.Setelah menjalani pengobatan, penderita mungkin akan merasakan kram atau nyeri lainnya, perdarahan maupun keluarnya cairan encer dari vagina.

Pada beberapa kasus, mungkin perlu dilakukan histerektomi (pengangkatan rahim), terutama jika sel-sel abnormal ditemukan di dalam lubang serviks. Histerektomi dilakukan jika penderita tidak memiliki rencana untuk hamil lagi.


Pengobatan untuk kanker serviks

Pemilihan pengobatan untuk kanker serviks tergantung kepada lokasi dan ukuran tumor, stadium penyakit, usia, keadaan umum penderita dan rencana penderita untuk hamil lagi.

1. Pembedahan
Pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling luar), seluruh kanker seringkali dapat diangkat dengan bantuan pisau bedah ataupun melalui LEEP. Dengan pengobatan tersebut, penderita masih bisa memiliki anak. Karena kanker bisa kembali kambuh, dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan ulang dan Pap smear setiap 3 bulan selama 1 tahun pertama dan selanjutnya setiap 6 bulan. Jika penderita tidak memiliki rencana untuk hamil lagi, dianjurkan untuk menjalani histerektomi.

Pada kanker invasif, dilakukan histerektomi dan pengangkatan struktur di sekitarnya (prosedur ini disebut histerektomi radikal) serta kelenjar getah bening. Pada wanita muda, ovarium (indung telur) yang normal dan masih berfungsi tidak diangkat.

2. Terapi penyinaran

Terapi penyinaran (radioterapi) efektif untuk mengobati kanker invasif yang masih terbatas pada daerah panggul. Pada radioterapi digunakan sinar berenergi tinggi untuk merusak sel-sel kanker dan menghentikan pertumbuhannya.

Ada 2 macam radioterapi:

- Radiasi eksternal : sinar berasar dari sebuah mesin besar Penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit, penyinaran biasanya dilakukan sebanyak 5 hari/minggu selama 5-6 minggu.

- Radiasi internal : zat radioaktif terdapat di dalam sebuah kapsul dimasukkan langsung ke dalam serviks. Kapsul ini dibiarkan selama 1-3 hari dan selama itu penderita dirawat di rumah sakit. Pengobatan ini bisa diulang beberapa kali selama 1-2 minggu.

Efek samping dari terapi penyinaran adalah:

- iritasi rektum dan vagina

- kerusakan kandung kemih dan rektum - ovarium berhenti berfungsi.

3. Kemoterapi

Jika kanker telah menyebar ke luar panggul, kadang dianjurkan untuk menjalani kemoterapi. Pada kemoterapi digunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Obat anti-kanker bisa diberikan melalui suntikan intravena atau melalui mulut.
Kemoterapi diberikan dalam suatu siklus, artinya suatu periode pengobatan diselingi dengan periode pemulihan, lalu dilakukan pengobatan, diselingi denga pemulihan, begitu seterusnya.


4. Terapi biologis

Pada terapi biologis digunakan zat-zat untuk memperbaiki sistem kekebalan tubuh dalam melawan penyakit. Terapi biologis dilakukan pada kanker yang telah menyebar ke bagian tubuh lainnya. Yang paling sering digunakan adalah interferon, yang bisa dikombinasikan dengan kemoterapi.

Efek samping pengobatan


Selain membunuh sel-sel kanker, pengobatan juga menyebabkan kerusakan pada sel-sel yang sehat sehingga seringkali menimbulkan efek samping yang tidak menyenangkan.Efek samping dari pengobatankanker sangat tergantung kepada jenis dan luasnya pengobatan. Selain itu, reaksi dari setiap penderita juga berbeda-beda.

Metoda untuk membuang atau menghancurkan sel-sel kanker pada permukaan serviks sama dengan metode yang digunakan untuk mengobati lesi prekanker.Efek samping yang timbul berupa kram atau nyeri lainnya, perdarahan atau keluar cairan encer dari vagina.

Beberapa hari setelah menjalani histerektomi, penderita bisa mengalami nyeri di perut bagian bawah. Untuk mengatasinya bisa diberikan obat pereda nyeri.Penderita juga mungkin akan mengalami kesulitan dalam berkemih dan buang air besar. Untuk membantu pembuangan air kemih bisa dipasang kateter.Beberapa saat setealh pembedahan, aktivitas penderita harus dibatasi agar penyembuhan berjalan lancar. Aktivitas normal (termasuk hubungan seksual) biasanya bisa kembali dilakukan dalam waktu 4-8 minggu.

Setelah menjalani histerektomi, penderita tidak akan mengalami menstruasi lagi. Histerektomi biasanya tidak mempengaruhi gairah seksual dan kemampuan untuk melakukan hubungan seksual.Tetapi banyak penderita yang mengalami gangguan emosional setelah histerektomi. Pandangan penderita terhadap seksualitasnya bisa berubah dan penderita merasakan kehilangan karena dia tidak dapat hamil lagi.

Selama menjalani radioterap, penderita mudah mengalami kelelahan yang luar biasa, terutama seminggu sesudahnya.Istirahat yang cukup merupakan hal yang penting, tetapi dokter biasanya menganjurkan agar penderita sebisa mungkin tetap aktif.

Pada radiasi eksternal, sering terjadi kerontokan rambut di daerah yang disinari dan kulit menjadi merah, kering serta gatal-gatal. Mungkin kulit akan menjadi lebih gelap.Daerah yang disinari sebaiknya mendapatkan udara yang cukup, tetapi harus terlindung dari sinar matahari dan penderita sebaiknya tidak menggunakan pakaian yang bisa mengiritasi daerah yang disinari.
Biasanya, selama menjalani radioterapi penderita tidak boleh melakukan hubungan seksual.Kadang setelah radiasi internal, vagina menjadi lebh sempit dan kurang lentur, sehingga bisa menyebabkan nyeri ketika melakukan hubungan seksual. Untuk mengatasi hal ini, penderita diajari untuk menggunakan dilator dan pelumas dengan bahan dasar air.Pada radioterapi juga bisa timbul diare dan sering berkemih.

Efek samping dari kemoterapi sangat tergantung kepada jenis dan dosis obat yang digunakan. Selain itu, efek sampingnya pada setiap penderita berlainan.Biasanya obat anti-kanker akan mempengaruhi sel-sel yang membelah dengan cepat, termasuk sel darah (yang berfungsi melawan infeksi, membantu pembekuan darah atau mengangkut oksigen ke seluruh tubuh).Jika sel darah terkena pengaruh obat anti-kanker, penderita akan lebih mudah mengalami infeksi, mudah memar dan mengalami perdarahan serta kekurangan tenaga.

Sel-sel pada akar rambut dan sel-sel yang melapisi saluran pencernaan juga membelah dengan cepat.Jika sel-sel tersebut terpengaruh oleh kemoterapi, penderita akan mengalami kerontokan rambut, nafsu makannya berkurang, mual, muntah atau luka terbuka di mulut.

Terapi biologis bisa menyebabkan gejala yang menyerupai flu, yaitu menggigil, demam, nyeri otot, lemah, nafsu makan berkurang, mual, muntah dan diare.Kadang timbul ruam, selain itu penderita juga bisa mudah memar dan mengalami perdarahan.

PENCEGAHAN

Ada 2 cara untuk mencegah kanker serviks:

1. Mencegah terjadinya infeksi HPV

2. Melakukan pemeriksaan Pap smear secara teratur .


Pap smear (tes Papanicolau) adalah suatu pemeriksaan mikroskopik terhadap sel-sel yang diperoleh dari apusan serviks.Pada pemeriksaan Pap smear, contoh sel serviks diperoleh dengan bantuan sebuah spatula yang terbuat dari kayu atau plastik (yang dioleskan bagian luar serviks) dan sebuah sikat kecil (yang dimasukkan ke dalam saluran servikal).Sel-sel serviks lalu dioleskan pada kaca obyek lalu diberi pengawet dan dikirimkan ke laboratorium untuk diperiksa.24 jam sebelum menjalani Pap smear, sebaiknya tidak melakukan pencucian atau pembilasan vagina, tidak melakukan hubungan seksual, tidak berendam dan tidak menggunakan tampon.Pap smear sangat efektif dalam mendeteksi perubahan prekanker pada serviks.Jika hasil Pap smear menunjukkan displasia atau serviks tampak abnormal, biasanya dilakukan kolposkopi dan biopsi


Anjuran untuk melakukan Pap smear secara teratur:

#Setiap tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun

# Setiap tahun untuk wanita yang berganti-ganti pasangan seksual atau pernah menderita infeksi HPV atau kutil kelamin

# Setiap tahun untuk wanita yang memakai pil KB

# Setiap 2-3 tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun jika 3 kali Pap smear berturut-turut menunjukkan hasil negatif atau untuk wanita yang telah menjalani histerektomi bukan karena kanker# Sesering mungkin jika hasil Pap smear menunjukkan abnormal

# Sesering mungkin setelah penilaian dan pengobatan prekanker maupun kanker serviks.


Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kanker serviks sebaiknya:

- Anak perempuan yang berusia dibawah 18 tahun tidak melakukan hubungan seksual.

- Jangan melakukan hubungan seksual dengan penderita kutil kelamin atau gunakan kondom untuk mencegah penularan kutil kelamin

- Jangan berganti-ganti pasangan seksual

- Berhenti merokok.

Pemeriksaan panggul setiap tahun (termasuk Pap smear) harus dimulai ketika seorang wanita mulai aktif melakukan hubungan seksual atau pada usia 20 tahun. Setiap hasil yang abnormal harus diikuti dengan pemeriksaan kolposkopi dan biopsi.

Beberapa peneliti telah membuktikan bahwa vitamin A berpertan dalam menghentikan atau mencegah perubahan keganasan pada sel-sel, seperti yang terjadi pada permukaan serviks. (medicastore)

Wednesday, September 3, 2008

Sering Berhubungan Seksual Memicu Kanker Mulut Rahim

Semua perempuan tahu bahwa kanker mulut rahim (serviks) adalah momok. Selain ada obatnya, kanker ini berujung pada kematian. Masalahnya, banyak yang belum tahu dan sadar bahwa kanker jenis ini disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu faktor ini disebabkan sering berhubungan seksual dengan pasangan yang berbeda.

Menurut dr Ivan R Sini, SpOG, MD, FRANZCOG GDRM, Spesialis Kebidanan dan Kandungnan dari Bunda International Clinic, Jakarta, kanker mulut rahim belum diketahui penyebabnya. Menurut penelitian terbaru, virus HPV adalah salah satu pemicunya. Virus ini menjangkiti wanita jika pasangannya mengidap virus itu.

Wanita perokok juga rawan terkena kanker ini karena nikotin mempengaruhi selaput lendir. "Pengidap kanker ini biasanya perempuan usia produktif, aktif berhubungan seksual, sering berganti pasangan seksual, kawin dalam usia relatif muda (kurang dari 17 tahun) dan sering melahirkan," terangnya.
Gejala kanker mulut rahim adalah keputihan yang lama dan tidak diobati dengan baik, keputihan yang berbau, terjadi pendarahan (contact bleeding) pada saat berhubungan seksual. Pada tahap displasia sampai stadium 1, praktis tanpa keluhan. Baru menginjak stadium 1A-3B terdapat keluhan. Pada stadium 4B sel kanker sudah menjalar ke otak dan paru-paru.

Menurut Ivan, hampir 90 persen kasusnya berasal dari epitel permukaan (epitel skuamosa), di mana ditemukan keadaan yang disebut pembakal kanker atau prakanker, mulai dari yang ringan sampai menjadi karsinoma in situ (stadium 0) yang semuanya dapat didiagnosa dengan screening. Dalam perkembangannya, terjadi perubahan atau perpindahan dari satu tingkat ke tingkat yang lain.

Untuk berubah, diperlukan keadaan yang "cocok". Sehingga untuk menjadi kanker diperlukan waktu 10-20 tahun. Namun, jika sudah menjadi kanker stadium awal, penyakit ini dapat menyebar ke daerah di sekitar mulut rahim. Kondisi prakanker sampai karsinoma in situ sering tak menunjukkan gejala karena proses penyakitnya berada di dalam lapisan epitel dan belum menimbulkan perubahan yang nyata. Gejala yang kemudian timbul adalah keputihan, pendarahan pascasanggama dan pengeluaran cairan encer dari vagina. Jika sudah invasif, akan ditemukan gejala seperti pendarahan spontan, pendarahan pascasanggama, keluarnya cairan (keputihan) dan rasa tak nyaman saat berhubungan seksual.

Penyakit kanker mulut rahim membutuhkan waktu yang cukup lama dari kondisi normal sampai menjadi kanker. Ada beberapa faktor yang langsung maupun tak langsung. Pertama, screening atau penapisan. Displasia sering ditemukan pada usia 20 tahun. Karsinoma in situ pada usia 25-35 tahun dan kanker serviks invasif pada usia 40 tahun.

Kedua, penularan melalui hubungan seksual. Penelitian menunjukkan tingginya kanker serviks pada perempuan lajang dan menikah pada usia muda dan meningkatan dua kali lipat pada perempuan yang berhubungan seksual sebelum usia 16 tahun. "Juga meningkat pada perempuan dengan seksual partner yang multiple," katanya.

Ketiga, peran pasangan pria. Perempuan yang menikah dengan laki-laki yang pernah mempunyai istri menderita kanker mulut rahim, akan tertular juga. Keempat, karakteristik reproduksi dan menstruasi, dan faktor rokok.

Pencegahan efektif adalah pendeteksian dini dengan pemeriksaan pap smear. Semakin dini sel-sel abnormal terdeteksi, semakin rendah risiko kanker mulut rahim. Sebaiknya kaum wanita melakukan pemeriksaan pap smear setahun sekali setelah berhubungan seks, atau tiga bulan setelah melahirkan.

Pencegahan kanker serviks, tegas Ivan, merupakan langkah yang mesti dilakukkan. Caranya adalah mencegah hubungan seksual pada usia dini, menghindari hubungan seksual dengan pria yang pernah menikah dengan perempuan yang menderita kanker mulut rahim, tidak berhubungan seksual dengan pasangan yang berbeda-beda dan tidak merokok, makan sayuran berwarna hijau tua dan kuning, yaitu sayuran yang banyak mengandung betakaroten, Vitamin C dan Vitamin E, dan vaksinasi terhadap virus papiloma. "Pemberian vaksin dilakukan sedini mungkin sebelum seseorang aktif melakukan hubungan seksual," tegas Ivan.

Pengobatan ditentukan oleh berat-ringan atau stadiumnya. Umumnya, operasi menjadi pilihan pertama pada stadium awal. Penyinaran dan pemberian sitostatika (kemoterapi), untuk kasus yang lanjut atau khusus. Ada juga gabungan dari operasi dan radiasi, operasi dan kemoterapi, atau operasi, radiasi dan kemoterapi.

Masing-masing terapi dilakukan menurut stadium kanker dan dengan pertimbangan kaidah dan risiko bagi pasien. Stadium O atau disebut juga lesi prakanker sangat mudah diobati dengan tindakan lokal. Pada stadium 1 (A dan B), pilihan pengobatan adalah operasi. Tetapi stadium 2B tidak lagi dioperasi, tetapi dilakukan radiasi dan kemoterapi. Stadium 3 dan 4 adalah stadium lanjut (A dan B). Pada stadium ini pun biasanya dilakuan radiasi dan kemoterapi

Sumber: Okezone

Sering Berhubungan Seksual Memicu Kanker Mulut Rahim

Semua perempuan tahu bahwa kanker mulut rahim (serviks) adalah momok. Selain ada obatnya, kanker ini berujung pada kematian. Masalahnya, banyak yang belum tahu dan sadar bahwa kanker jenis ini disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu faktor ini disebabkan sering berhubungan seksual dengan pasangan yang berbeda.

Menurut dr Ivan R Sini, SpOG, MD, FRANZCOG GDRM, Spesialis Kebidanan dan Kandungnan dari Bunda International Clinic, Jakarta, kanker mulut rahim belum diketahui penyebabnya. Menurut penelitian terbaru, virus HPV adalah salah satu pemicunya. Virus ini menjangkiti wanita jika pasangannya mengidap virus itu.

Wanita perokok juga rawan terkena kanker ini karena nikotin mempengaruhi selaput lendir. "Pengidap kanker ini biasanya perempuan usia produktif, aktif berhubungan seksual, sering berganti pasangan seksual, kawin dalam usia relatif muda (kurang dari 17 tahun) dan sering melahirkan," terangnya.
Gejala kanker mulut rahim adalah keputihan yang lama dan tidak diobati dengan baik, keputihan yang berbau, terjadi pendarahan (contact bleeding) pada saat berhubungan seksual. Pada tahap displasia sampai stadium 1, praktis tanpa keluhan. Baru menginjak stadium 1A-3B terdapat keluhan. Pada stadium 4B sel kanker sudah menjalar ke otak dan paru-paru.

Menurut Ivan, hampir 90 persen kasusnya berasal dari epitel permukaan (epitel skuamosa), di mana ditemukan keadaan yang disebut pembakal kanker atau prakanker, mulai dari yang ringan sampai menjadi karsinoma in situ (stadium 0) yang semuanya dapat didiagnosa dengan screening. Dalam perkembangannya, terjadi perubahan atau perpindahan dari satu tingkat ke tingkat yang lain.

Untuk berubah, diperlukan keadaan yang "cocok". Sehingga untuk menjadi kanker diperlukan waktu 10-20 tahun. Namun, jika sudah menjadi kanker stadium awal, penyakit ini dapat menyebar ke daerah di sekitar mulut rahim. Kondisi prakanker sampai karsinoma in situ sering tak menunjukkan gejala karena proses penyakitnya berada di dalam lapisan epitel dan belum menimbulkan perubahan yang nyata. Gejala yang kemudian timbul adalah keputihan, pendarahan pascasanggama dan pengeluaran cairan encer dari vagina. Jika sudah invasif, akan ditemukan gejala seperti pendarahan spontan, pendarahan pascasanggama, keluarnya cairan (keputihan) dan rasa tak nyaman saat berhubungan seksual.

Penyakit kanker mulut rahim membutuhkan waktu yang cukup lama dari kondisi normal sampai menjadi kanker. Ada beberapa faktor yang langsung maupun tak langsung. Pertama, screening atau penapisan. Displasia sering ditemukan pada usia 20 tahun. Karsinoma in situ pada usia 25-35 tahun dan kanker serviks invasif pada usia 40 tahun.

Kedua, penularan melalui hubungan seksual. Penelitian menunjukkan tingginya kanker serviks pada perempuan lajang dan menikah pada usia muda dan meningkatan dua kali lipat pada perempuan yang berhubungan seksual sebelum usia 16 tahun. "Juga meningkat pada perempuan dengan seksual partner yang multiple," katanya.

Ketiga, peran pasangan pria. Perempuan yang menikah dengan laki-laki yang pernah mempunyai istri menderita kanker mulut rahim, akan tertular juga. Keempat, karakteristik reproduksi dan menstruasi, dan faktor rokok.

Pencegahan efektif adalah pendeteksian dini dengan pemeriksaan pap smear. Semakin dini sel-sel abnormal terdeteksi, semakin rendah risiko kanker mulut rahim. Sebaiknya kaum wanita melakukan pemeriksaan pap smear setahun sekali setelah berhubungan seks, atau tiga bulan setelah melahirkan.

Pencegahan kanker serviks, tegas Ivan, merupakan langkah yang mesti dilakukkan. Caranya adalah mencegah hubungan seksual pada usia dini, menghindari hubungan seksual dengan pria yang pernah menikah dengan perempuan yang menderita kanker mulut rahim, tidak berhubungan seksual dengan pasangan yang berbeda-beda dan tidak merokok, makan sayuran berwarna hijau tua dan kuning, yaitu sayuran yang banyak mengandung betakaroten, Vitamin C dan Vitamin E, dan vaksinasi terhadap virus papiloma. "Pemberian vaksin dilakukan sedini mungkin sebelum seseorang aktif melakukan hubungan seksual," tegas Ivan.

Pengobatan ditentukan oleh berat-ringan atau stadiumnya. Umumnya, operasi menjadi pilihan pertama pada stadium awal. Penyinaran dan pemberian sitostatika (kemoterapi), untuk kasus yang lanjut atau khusus. Ada juga gabungan dari operasi dan radiasi, operasi dan kemoterapi, atau operasi, radiasi dan kemoterapi.

Masing-masing terapi dilakukan menurut stadium kanker dan dengan pertimbangan kaidah dan risiko bagi pasien. Stadium O atau disebut juga lesi prakanker sangat mudah diobati dengan tindakan lokal. Pada stadium 1 (A dan B), pilihan pengobatan adalah operasi. Tetapi stadium 2B tidak lagi dioperasi, tetapi dilakukan radiasi dan kemoterapi. Stadium 3 dan 4 adalah stadium lanjut (A dan B). Pada stadium ini pun biasanya dilakuan radiasi dan kemoterapi

Sumber: Okezone