Wednesday, December 2, 2009

Tumor Medula Spinalis

Tumor Medula Spinalis adalah massa dari pertumbuhan jaringan yang baru di dalam medula spinalis, bisa bersifat jinak (benigna) atau ganas (maligna).

Tumor yang berasal dari medula spinalis disebut tumor primer, sedangkan tumor yang berasal dari kanker di bagian tubuh lainnya disebut tumor sekunder.
Tumor medula spinalis lebih jarang ditemukan dan jarang terjadi pada anak-anak.


Hanya sekitar 10% tumor medula spinalis primer yang berasal dari sel-sel saraf di dalam medula spinalis.

Duapertiga merupakan meningioma (berasal dari sel-sel meningen yang melapisi otak dan medula spinalis) dan schwannoma (berasal dari sel Schwann, yang membungkus persarafan); keduanya adalah tumor jinak.

Yang merupakan tumor ganas adalah:
- Glioma (berasal dari sel-sel di dalam medula spinalis)
- Sarkoma (berasal dari jaringan ikat di dalam medula spinalis).

Neurofibroma merupakan sejenis schwannoma dimana sel Schwann berkembang menjadi tumor, juga bisa berasal dari medula spinalis yang merupakan bagian dari penyakit von Recklinghausen.

Tumor di bagian tubuh lainnya yang bisa menyebar ke medula spinalis atau struktur di sekitarnya adalah dari paru-paru, payudara, kelenjar prostat, ginjal atau tiroid.
Limfoma juga bisa menyebar ke medula spinalis.

GEJALA
Tumor medula spinalis biasanya menyebabkan gejala karena menekan saraf-saraf.
Penekanan pada akar saraf (bagian saraf yang keluar dari medula spinalis) bisa menyebabkan nyeri, mati rasa, kesemutan dan kelemahan.

Penekanan pada medula spinalisnya sendiri bisa menyebabkan kekakuan, kelemahan, gangguan koordinasi dan berkurangnya rasa atau rasa yang abnormal.

Tumor juga bisa menyebabkan kesulitan berkemih, hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih atau sembelit.

DIAGNOSA
Orang-orang yang memiliki kemungkinan menderita tumor medula spinalis adalah:
- penderita kanker di bagian tubuh lainnya
- mengeluhkan nyeri di daerah kolumna spinalis tertentu
- mengalami kelemahan, kesemutan atau gangguan koordinasi.

Untuk menilai struktur dari medula dan kolumna spinalis dilakukan pemeriksaan MRI.

Untuk menentukan jenis tumornya harus dilakukan biopsi (pengambilan contoh tumor untuk diperiksa dibawah mikroskop).

PENGOBATAN
Beberapa tumor medula dan kolumna spinalis dapat diangkat melalui pembedahan.
Tumor lainnya diobati dengan terapi penyinaran atau kombinasi pembedahan dengan penyinaran.

Jika sebuah tumor menekan medula spinalis atau struktur di sekitarnya, maka diberikan kortikosteroid untuk mengurangi pembengkakan dan mempertahankan fungsi saraf.

PROGNOSIS

Penyembuhan biasanya tergantung kepada besarnya kerusakan yang terjadi dan kedalaman pertumbuhan tumor ke dalam medula spinalis.

Pada sekitar 50% penderita, setelah pengobatan gejalanya tetap ada. (medicastore)

Neurofibromatosis : Benjolan di kulit dari jaringan saraf

Neurofibromatosis (penyakit von Recklinghausen) adalah penyakit yang ditularkan secara genetik, dimana neurofibroma muncul pada kulit dan bagian tubuh lainnya.

Neurofibroma adalah benjolan seperti daging yang lembut, yang berasal dari jaringan saraf.

Neurofibroma merupakan pertumbuhan dari sel Schwann (penghasil selubung saraf atau mielin) dan sel lainnya yang mengelilingi dan menyokong saraf-saraf tepi (saraf perifer, saraf yang berada diluar otak dan medula spinalis).
Pertumbuhan ini biasanya mulai muncul setelah masa pubertas dan bisa dirasakan dibawah kulit sebagai benjolan kecil.


GEJALA

Sekitar sepertiga penderita tidak mengeluhkan adanya gejala dan penyakit ini pertama kali terdiagnosis ketika pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya benjolan dibawah kulit, di dekat saraf.

Pada sepertiga penderita lainnya penyakit ini terdiagnosis ketika penderitanya berobat untuk masalah kosmetik.
Tampak bintik-bintik kulit yang berwarna coklat (bintik caf? au lait) di dada, punggung, pinggul, sikut dan lutut.
Bintik-bintik ini bisa ditemukan pada saat anak lahir atau baru timbul pada masa bayi.
Pada usia 10-15 tahun mulai muncul berbagai ukuran dan bentuk neurofibromatosis di kulit.
Jumlahnya bisa kurang dari 10 atau bisa mencapai ribuan.

Bintik caf?-au lait berukuran besar

Pada beberapa penderita, pertumbuhan ini menimbulkan masalah dalam kerangka tubuh, seperti kelainan lengkung tulang belakang (kifoskoliosis), kelainan bentuk tulang iga, pembesaran tulang panjang pada lengan dan tungkai serta kelainan tulang tengkorak dan di sekitar mata.

Sepertiga sisanya memiliki kelainan neurologis.

Neurofibromatosis bisa mengenai setiap saraf tubuh tetapi sering tumbuh di akar saraf spinalis.
Neurofibroma menekan saraf tepi sehingga mengganggu fungsinya yang normal.

Neurofibroma yang mengenai saraf-saraf di kepala bisa menyebabkan kebutaan, pusing, tuli dan gangguan koordinasi.
Semakin banyak neurofibroma yang tumbuh, maka semakin kompleks kelainan saraf yang ditimbulkannya.

Jenis neurofibromatosis yang lebih jarang adalah neurofibromatosis jenis 2, dimana terjadi pertumbuhan tumor di telingan bagian dalam (neuroma akustik).
Tumor ini bisa menyebabkan tuli dan kadang pusing pada usia 20 tahun.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan hasil pemeriksaan fisik.

PENGOBATAN
Belum ada pengobatan yang dapat menghentikan perkembangan neurofibromatosis maupun menyembuhkannya.

Benjolan biasanya dapat dibuang melalui pembedahan atau diperkecil dengan terapi penyinaran.
Jika tumbuh mendekati saraf, maka sarafnya juga harus diangkat.

PENCEGAHAN
Neurofibromatosis merupakan penyakit keturunan, karena itu dianjurkan untuk melakukan konsultasi genetik pada penderita yang merencanakan untuk memiliki keturunan.(medicastore)

Sindroma Paraneoplastik

Sindroma Paraneoplastik adalah efek pada berbagai fungsi tubuh yang timbul di tempat yang jauh dari kanker (paling sering pada kanker paru-paru dan indung telur), seringkali menyerang sistem saraf.


PENYEBAB


Seberapa jauh tepatnya kanker bisa mempengaruhi sistem saraf, masih belum dimengerti sepenuhnya.

Beberapa kanker melepaskan zat-zat ke dalam aliran darah yang menyebabkan kerusakan jaringan melalui terjadinya reaksi autoimun.

Kanker lainnya melepaskan zat-zat yang secara langsung mempengaruhi fungsi sistem saraf atau menghancurkan beberapa bagian dari sistem saraf.

GEJALA

Sindroma paraneoplastik bisa menyebabkan sejumlah gejala neurologis, seperti pikun, perubahan suasana hati, kejang, kelemahan angota gerak atau seluruh tubuh, mati rasa, kesemutan, gangguan koordinasi, pusing, penglihatan ganda dan kelainan gerakan mata.

Efek yang paling sering terjadi adalah polineuropati, yaitu kelainan fungsi pada saraf tepi (saraf perifer, saraf yang berada di luar otak dan medula spinalis).
Penderita merasakan kelemahan, hilangnya rasa dan refleksnya menurun.
Dengan mengobati kanker, kadang polineuropati bisa mengalami perbaikan.

Bentuk polineuropati yang jarang terjadi adalah neuropati sensorik subakut, yang kadang timbul sebelum kankernya terdiagnosis.
Penderita merasakan hilangnya rasa dan gangguan koordinasi, disertai kelemahan yang ringan.

Zat-zat yang dihasilkan oleh kanker bisa menimbulkan efek yang berbeda.
Kanker payudara dan indung telur kadang menghasilkan zat yang tampaknya merangsang suatu autoantibodi untuk menghancurkan otak kecil (serebelum) dan menyebabkan degenerasi sereberal subakut.
Gejalanya berupa langkah goyah, gangguan koordinasi lengan dan tungkai, kesulitan dalam berbicara, pusing dan penglihatan ganda; yang bisa muncul beberapa minggu, bulan bahkan tahun sebelum kankernya terdiagnosis.
Degenerasi serebelar subakut biasanya akan bertambah parah dalam waktu beberapa minggu atau bulan.
Sebelum kankernya ditemukan, penyakit ini sulit terdiagnosis, walaupun hasil pemeriksaan CT scan dan MRI menunjukkan hilangnya jaringan otak di serebelum.
Kadang penyakit ini menunjukkan perbaikan, setelah kankernya terobati.

Neuroblastoma (kanker pada masa kanak-kanak) kadang menyebabkan gejala yang ditandai dengan pergerakan mata yang tak terkendali dan terjadi secara tiba-tiba.
Juga terjadi gangguan koordinasi disertai kekakuan, kejang dan kontraksi otot di seluruh tubuh, lengan dan tungkai.
Gejala tersebut seringkali berkurang jika kankernya diobati atau jika diberikan kortikosteroid (misalnya prednison).

Penyakit Hodgkin kadang secara tidak langsung mempengaruhi sel-sel saraf di medula spinalis dan menyebabkan kelemahan lengan dan tungkai dengan pola yang menyerupai polineuropati akut.
Keadaan ini biasanya diatasi dengan pemberian kortikosteroid.

Sindroma Eaton Lambert adalah sindroma paraneoplastik yang menyerupai miastenia gravis, yang bisa terjadi pada penderita kanker paru-paru.
Sindroma ini melibatkan antibodi yang mempengaruhi neurotransmiter (zat yang menghubungkan saraf dan otot).
Kelemahan bisa terjadi sebelum, selama atau setelah kankernya terdiagnosis. Kadang tidak ditemukan kanker sama sekali.
Penderita juga bisa merasakan kelelahan, nyeri dan kesemutan di lengan dan tungkai, mulut kering, kelopak mata menutup dan impotensi.
Refleks normal (misalnya refleks KPR) bisa menurun atau bahkan tidak ada sama sekali.

Gejala sindroma Eaton-Lambert akan menghilang jika kankernya diobati.
Kelemahan bisa berkurang dengan pemberian guanidin (obat yang merangsang saraf untuk menghasilkan zat-zat yang merangsang otot). Tetapi guanidin memiliki efek sampng yang serius, yaitu kerusakan pada sumsum tulang dan hati.
Pengobatan lainnya adalah plasmaferesis (pembuangan bahan-bahan racun dari dalam darah) dan pemberian kortikosteroid.

Kanker juga bisa menyebabkan kelemahan secara langsung pada otot.
Dermatomiositis dan polimiositis merupakan kelemahan otot pada batang tubuh.
Pada hidung dan pipi penderita tampak ruam keunguan dan terjadi pembengkakan di sekitar mata (ruam heliotrop).
Penyakit ini paling sering terjadi pada usia diatas 50 tahun, tetapi kadang menyerang orang-orang yang tidak menderita kanker.
Pengobatan dengan kortikosteroid (misalnya prednison) kadang efektif. (medicastore)


Kerusakan Sistem Saraf Karena Penyinaran

Meskipun telah dilakukan pencegahan terhadap kerusakan saraf karena penyinaran selama pengobatan kanker, tetapi kadang kerusakan saraf tidak dapat dihindari.

Gejala-gejala karena penyinaran bisa timbul secara mendadak atau secara perlahan, bisa tetap atau semakin parah dan bisa bersifat sementara ataupun menetap.

Kadang gejala tersebut baru timbul beberapa bulan atau tahun setelah terapi penyinaran selesai dilakukan.

Penyinaran otak bisa menyebabkan ensefalopati akut, dengan gejala berupa sakit kepala, mual dan muntah, rasa mengantuk, linglung dan gejala neurologis lainnya.

Ensefalopati akut biasanya timbul segera setelah dosis penyinaran pertama atau kedua, tetapi kadang baru muncul dalam waktu 2-4 bulan setelah penyinaran selesai.

Gejala biasanya akan menghilang selama terapi penyinaran dijalankan dan proses perbaikan ini bisa dipercepat dengan pemberian kortikosteroid (misalnya prednison).

Kadang gejala kerusakan otak baru timbul beberapa bulan atau beberapa tahun setelah terapi penyinara, keadaan ini disebut kerusakan yang tertunda akibat penyinaran).

Gejalanya bisa berupa demensia (pikun), hilang ingatan, kesulitan dalam berfikir, persepsi yang salah, perubahan kepribadian dan langkah yang goyah.

Penyinaran pada leher atau dada bisa menyebabkan mielopati radiasi.
Penderita menunjukkan tanda-tanda Lhermitte, dimana penderita merasakan seperti tersengat listrik, yang dimulai di leher atau punggung (biasanya ketika leher ditekuk ke depan) dan menjalar ke tungkai.
Keadaan ini biasanya akan membaik dengan sendirinya.

Jenis mielopati radiasi lainnya bisa terjadi beberapa bulan atau tahun setelah penyinaran.
Terjadi kelemahan, hilangnya rasa dan kadang sindroma Brown-S?quard, dengan kelemahan pada satu sisi tubuh dan hilangnya rasa dan sensasi tubuh di sisi tubuh yang berlawanan.
Pada sisi tubuh yang mengalami kelemahan, penderita bisa mengalami hilangnya sensasi posisi (kemampuan untuk menentukan letak tangan dan kaki tanpa harus melihatnya).
Kelainan ini biasanya tidak dapat mereda dan menyebabkan penderita mengalami kelumpuhan.

Saraf di dekat daerah yang disinari juga bisa mengalami kerusakan.
Penyinaran pada payudara atau paru-paru bisa merusak saraf di lengan, sehingga terjadi kelemahan atau hilangnya rasa.

Penyinaran pada selangakangan bisa mempengaruhi saraf di tungkai dan menyebabkan gejala yang serupa. (medicastore)

Stupor & Koma : Gangguan Kesadaran

Tingkat aktivitas di dalam otak yang normal bervariasi secara konstan.

Aktivitas pada saat terjaga sangat berbeda dengan aktivitas ketika tertidur.

Aktivitas otak ketika mengikuti ujian sangat berbeda dengan aktivitas otak ketika bersantai di pantai.





Semua perbedaan tersebut merupakan keadaan yang normal dan otak bisa berubah dengan cepat dari satu tingkat kesiagaan ke tingkat lainnya.


Selama keadaan siaga yang abnormal (perubahan tingkat kesadaran), otak tidak mampu berubah dan berfungsi sebagaimana mestinya.



Salah satu bagian otak yang terletak jauh di dalam batang otak berfungsi mengendalikan tingkat kesadaran dan secara ritmis merangsang otak untuk terjaga dan siaga.



Dalam keadaan normal, rangsangan kesadaran menerima masukan visual dari mata, suara dari telinga, sentuhan dari kulit dan masukan dari setiap organ sensorik lainnya untuk melengkapi tingkat kesiagaan yang tepat.



Jika sistem rangsangan atau hubungannya dengan bagian otak yang lain tidak bekerja sebagaimana mestinya, maka sensasi tidak lagi mempengaruhi tingkat rangsangan dan kesiagaan otak secara tepat.



Jika hal ini terjadi, maka akan timbul gangguan kesadaran.

Gangguan kesadaran ini bisa berlangsung singkat atau lama dan bisa bersifat ringan atau sama sekali tidak memberikan respon.



PENYEBAB

Berbagai penyakit, cedera atau kelainan yang serius bisa mempengaruhi otak dan menyebabkan stupor atau koma.



Penurunan kesadaran sekejap bisa terjadi karena cedera kepala ringan, kejang atau berkurangnya aliran darah ke otak, seperti yang terjadi pada saat pingsan atau stroke.



Keadaan tidak sadar yang berlangsung lama bisa disebabkan oleh cedera kepala yang lebih berat, penyakit yang berat (misalnya ensefalitis), reaksi racun terhadap obat tertentu atau pemakaian obat penenang atau zat lainnya secara sengaja.



Metabolisme tubuh yang mengatur kadar garam, gula dan bahan kimia lainnya dalam darah, juga bisa mempengaruhi fungsi otak.





Keadaan Yang Berhubungan Dengan Gangguan Kesadaran



Keadaan

Akibat Yang Mungkin Terjadi

Stroke

Penderita bisa masuk ke dalam keadaan koma, segera setelah terjadinya stroke atau beberapa jam kemudian

Cedera kepala, perdarahan otak

Penderita bisa masuk ke dalam keadaan koma segera atau beberapa jam kemudian

Penyebab koma bisa berupa cedera langsung pada otak atau perdarahan di dalam tengkorak

Infeksi

(meningitis, ensefalitis, sepsis)

Infeksi otak atau infeksi berat di luar otak bisa menyebabkan demam tinggi, adanya zat racun dalam darah & tekanan darah rendah, yg bisa mempengaruhi fungsi otak & menyebabkan koma

Kekurangan oksigen

Hanya beberapa menit setelah kekurangan oksigen, otak bisa mengalami kerusakan menetap

Kekurangan oksigen paling sering terjadi pada cardiac arrest akut & agak sering terjadi pada penyakit paru yg berat

Menghirup karbonmonoksida konsentrasi tinggi

(misalnya dari asap mobil atau sistem pemanas ruangan)

Karbonmonoksida menempel pada hemoglobin sel darah merah dan mempengaruhi kemampuan sel darah merah dalam mengangkut oksigen

Keracunan karbonmonoksida yg berat dapat menyebabkan koma atau kerusakan otak menetap karena kekurangan oksigen

Kejang epileptik

Jarang terjadi koma setelah kejang, tetapi kalaupun terjadi, biasanya berlangsung selama beberapa menit

Efek racun dari obat yg diresepkan, obat terlarang atau alkohol

Keracunan alkohol bisa menyebabkan keadaan stupor atau koma, terutama jika kadar alkohol dalam darah lebih dari 0,2%

Banyak obat-obatan, baik yg diresepkan maupun obat terlarang, yg bisa menyebabkan koma

Gagal ginjal atau gagal hati

Koma merupakan pertanda buruk dari gagal hati

Gagal ginjal jarang menyebabkan koma karena darah bisa dibersihkan melalui dialis

Kadar gula darah yg rendah atau tinggi

Kadar gula darah yg rendah (hipoglikemia) bisa menyebabkan koma. Segera diberikan glukosa intravena untuk mencegah kerusakan otak yg permanen

Kadar gula darah yg tinggi (hiperglikemia) juga bisa menyebabkan koma, tetapi lebih jarang terjadi dan tidak seberat hipoglikemia

Suhu tubuh yg rendah atau tinggi

Demam yg sangat tinggi (diatas 42? Celsius) bisa merusak otak & menyebabkan koma

Suhu dibawah 31?
Celsius (hipotermia) bisa menyebabkan stupor atau koma

Pingsan (sinkop)

Koma karena pingsan hanya berlangsung selama beberapa detik, kecuali ketika terjatuh penderita mengalami cedera kepala

Kelainan psikis

Malingering (pura-pura sakit atau terluka), histeria dan kataton (keadaan skizofrenik dimana penderita tampak berada dalam keadaan stupor) bisa menyerupai keadaan kehilangan kesadaran



GEJALA

# Beberapa istilah kedokteran digunakan untuk menggambarkan tingkat kesadaran yang abnormal: Delirium dan status konfusional menunjukkan keadaan terjaga penuh tetapi terjadi kebingungan; penderita merasa bingung akan kejadian di masa lalu dan sekarang, agitasi dan seringkali tidak mampu mengartikan dan memahami secara tepat.

# Obtundasi adalah berkurangnya rangsangan.

# Hipersomnia merupakan tidur yang sangat lama dan sangat dalam, dimana penderita hanya dapat dibangunkan dengan rangsangan yang sangat kuat.

# Stupor adalah keadaan tidak responsif yang dalam, dimana penderita terbangun hanya jika diguncang secara berulang, dengan suara yang keras, dicubit, ditusuk dengan jarum atau dirangsang dengan rangsangan yang serupa.

# Koma adalah suatu keadaan seperti terbius atau tidur dalam, dimana penderita tidak dapat dibangunkan sama sekali. Dalam keadaan koma bahkan terjadi gangguan respon yang paling primitif (misalnya menghindari nyeri).



DIAGNOSA



Dilakukan pemeriksaan terhadap saluran udara dan pernafasan, tekanan darah serta denyut jantung.

Suhu yang tinggi bisa merupakan pertanda adanya infeksi; suhu yang sangat rendah menunjukkan bahwa penderita telah terpapar oleh dingin dalam wakatu yang cukup lama.

Pada kulit dicari tanda-tanda cedera, suntikan obat atau reaksi alergi; pada kulit kepala dicari tanda-tanda luka robek dan memar.



Pemeriksaan neurologis dilakukan meskipun tanpa kerjasama dari penderita yang sedang dalam keadaan tidak sadar.



Pernafasan Cheyne-Stokes merupakan pertanda dari adanya kerusakan otak; suatu pola pernafasan yang tidak biasa, dimana penderita bernafas sangat cepat, lalu lebih lambat dan kemudian tidak bernafas sama sekali selama beberapa detik.



Sikap tubuh yang tidak biasa, terutama kekakuan deserebrasi, dimana rahang terkatup dan leher, punggung, lengan serta tungkai kaku dan tegang, juga merupakan pertanda khusus dari kerusakan otak.



Kelemahan menyeluruh di seluruh tubuh menunjukkan hilangnya aktivitas secara total di bagian penting tertentu dari sistem saraf pusat.



Pemeriksaan mata dilakukan untuk menilai posisi pupil, kemampuan gerak, ukuran, kemampuan untuk mengikuti benda yang bergerak, reaksi terhadap cahaya serta gambaran retina.

Ukuran pupil yang tidak sama besar bisa merupakan pertanda adanya tekanan di otak.



Pemeriksaan darah dilakukan untuk mengukur kadar gula darah, sel darah merah (untuk anemia), sel darah putih (untuk infeksi), garam, alkohol (untuk keracunan) dan oksigen serta karbondioksida.

Pemeriksan air kemih dilakukan untuk mengetahui adanya gula dan zat racun.



Pemeriksaan tambahan lainnya adalah CT scan atau MRI kepala, untuk menyingkirkan kemungkinan adanya cedera otak atau perdarahan.

Jika diduga suatu infeksi maka dilakukan pungsi lumbal untuk menilai cairan serebrospinal.



PENGOBATAN

Penderita segera dirawat di unit perawatan intensif (ICU) dan denyut jantung, tekanan darah, suhu serta jumlah oksigen dalam darahnya dipantau secara ketat.



Diberikan oksigen dan dipasang infus untuk memasukkan obat.

Biasanya segera diberikan glukosa secara intravena.



Jika diduga penyebabnya adalah narkotika, maka diberikan nalokson sebagai penawar.

Jika diduga telah menelan zat racun, segera dilakukan kuras lambung untuk menentukan isi lambung dan untuk mencegah semakin banyaknya zat yang terserap.



Untuk mempertahankan denyut jantung dan tekanan darah yang normal, diberikan darah, cairan dan obat-obatan.



Jika koma sangat dalam, biasanya otak mengalami kerusakan sehingga tidak dapat menjalankan fungsi yang sangat penting, seperti bernafas. Karena itu untuk membantu fungsi paru-paru, biasanya digunakan respirator.



PROGNOSIS



Kemungkinan penyembuhan dari koma yang dalam selama lebih dari beberapa jam sulit diramalkan.

Jika penyebabnya adalah cedera kepala, bisa terjadi penyembuhan, bahkan jika koma berlangsung selama beberapa minggu (tetapi tidak lebih dari 3 bulan).



Penyembuhan total setelah mengalami koma selama 1 bulan karena jantung berhenti atau karena kekurangan oksigen, jarang terjadi.



Kadang setelah mengalami cedera kepala, kekurangan oksigen atau kerusakan otak yang berat, penderita bisa masuk ke dalam status vegetatif.



Pola tidur dan terjaga relatif normal, penderita bisa bernafas dan menelan secara spontan dan bahkan bisa memberikan reaksi yang mengejutkan terhadap suara keras. Tetapi penderita kehilangan seluruh kemampuan berfikir dan perilaku sadarnya, baik untuk sementara waktu maupun selamanya.



Sebagian besar penderita memiliki refleks abnormal yang khas, seperti kekakuan atau sentakan pada lengan dan tungkainya.



Status locked-in adalah suatu keadaan yang jarang terjadi, dimana penderita sadar dan mampu berfikir tetapi mengalami kelumpuhan hebat, sehingga hanya bisa berkomunikasi dengan cara membuka atau menutup matanya.

Hal ini bisa terjadi bersamaan dengan kelumpuhan saraf tepi yang berat atau dengan stroke akut.



Kehilangan kesadaran yang paling berat adalah kematian otak.

Pada keadaan ini secara permanen otak telah kehilangan seluruh fungsi vitalnya, termasuk kesadaran dan kemampuan mempertahankan pernafasan.



Tanpa bantuan respirator dan obat-obatan, penderita akan segera meninggal.

Secara hukum seseorang dikatakan meninggal jika otaknya telah berhenti berfungsi, meskipun jantungnya masih berdenyut. Dokter dapat menyatakan kematian otak dalam waktu 12 jam setelah berusaha memperbaiki semua kelainan medis, tetapi otak masih tidak memberikan respon, mata tidak bereaksi terhadap cahaya dan penderita tanpa bantuan respirator penderita tidak bernafas. EEG (elektroensefalogram) tidak menunjukkan adanya fungsi otak.



Penderita kematian otak yang mendapatkan bantuan respirator bisa memiliki beberapa refleks jika medula spinalisnya masih berfungsi.(medicastrore)



Wednesday, November 11, 2009

Misteri Keguguran Berulang

Maya (32), salah seorang karyawati di Jakarta Pusat, berbahagia ketika mengetahui dirinya tengah mengandung. Setelah menikah lima tahun kehadiran seorang bayi sudah dinanti-nantikan. Namun, baru tiga bulan usia kandungan, kebahagiaannya pudar. Pada suatu hari muncul flek.

"Tidak terasa sakit apa pun. Kata orang, sih, kecapekan saja. Tetapi, saya pergi juga ke dokter kandungan. Saya hanya diminta beristirahat dan diberi obat penguat kandungan,” ujarnya.

Kondisi Maya tak kunjung membaik. Seminggu kemudian perempuan itu malah mengalami pendarahan. Akhirnya, dokter mengatakan, janin sudah tidak ada dan rahimnya dikuret.


Lebih dari enam bulan setelah pengalaman itu, Maya kembali hamil. Kali ini tidak sampai tiga bulan kandungannya mengalami nasib sama. Maya dan suaminya kemudian memutuskan berkonsultasi ke klinik fertilitas. ”Saya ditanyai dengan detail riwayat kedua kandungan dan menjalani berbagai pemeriksaan, mulai dari tes darah umum hingga imunitas,” ujarnya.


Dari rangkaian pemeriksaan diketahui, darah Maya cenderung mudah mengental sehingga mengganggu kehamilannya.

Maya kemudian kembali mengandung dan kali ini dikawal dengan ketat dengan berbagai tes darah dan terapi. Setiap hari sang suami menyuntikkan obat ke perutnya.

Semakin dekat waktu persalinan hatinya harap-harap cemas. Betapa leganya hati Maya ketika sang bayi lahir dengan selamat. ”Itu benar-benar pengalaman yang sangat melelahkan secara fisik dan mental. Setiap kali menidurkan anak, saya suka bergumam, ’Aduh, susah sekali mendapatkan kamu, Nak’,” ujar Maya berbagi.

Keguguran juga dialami oleh Nia, teman sekantor Maya. Nia mengatakan tidak pernah tahu penyebab pasti keguguran yang dialaminya. ”Baru sekali saya mengalaminya. Dokter bilang, saya terlalu capek saja dan tidak ada penjelasan pastinya,” kata Nia, yang belum berniat mengandung lagi.

Investigasi keguguran

Gugurnya kandungan sering kali terkesan misterius, tidak terjelaskan. Bahkan, kerap dianggap hanya kebetulan. Padahal tidak selalu demikian. Menurut dr Kanadi Sumapraja, SpOG, MSc dari Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI RSCM, angka kejadian keguguran spontan di populasi berkisar 15-20 persen untuk seluruh kehamilan.

Keguguran berulang dapat menimbulkan tekanan mental dan trauma bagi pasangan yang mendambakan anak. Bagi perempuan, keguguran berulang memicu timbulnya rasa bersalah lantaran menganggap dirinya tidak mampu mempertahankan kehamilannya.

Kanadi mengatakan, seorang perempuan dapat disebut mengalami keguguran berulang jika mengalami keguguran sebanyak tiga kali atau lebih secara berturut-turut pada usia kehamilan kurang dari 24 minggu.

Namun, bagi Kanadi, investigasi penyebab keguguran sebetulnya dapat saja dilakukan setelah perempuan itu mengalami satu kali keguguran. Apalagi kalau pasangan itu mendambakan segera hadirnya keturunan.

”Kesannya baru setelah tiga kali mengalami baru boleh diinvestigasi. Padahal bisa sewaktu-waktu timbul masalah karena yang dipersalahkan kemudian perempuan,” ujarnya.

Jika dilihat dari usia kehamilan saat kejadian keguguran, keguguran dapat digolongkan menjadi keguguran preembrionik (terjadi di bawah usia kehamilan 6 minggu), keguguran embrionik (usia kehamilan 6-8 minggu), keguguran janin (usia kehamilan 8-12 minggu), keguguran janin lanjut (usia kehamilan 12-24 minggu).

Keguguran preembrionik dan embrionik banyak dihubungkan dengan kejadian kelainan kromosom, kelainan hormonal, gangguan endometrium, dan faktor imunologi. Adapun keguguran janin awal dan lanjut banyak dikaitkan dengan kelainan sindrom antifosfolipid dan trombofilia.

”Oleh karena itu, sangat penting mengetahui usia kehamilan saat keguguran terjadi, hasil USG sebelumnya, hingga struktur janin, misalnya, sudah kelihatan detak jantungnya atau belum,” ujarnya. Berbekal pengetahuan awal tersebut dapat diketahui kategori keguguran dan bisa membantu arah investigasi atau pemeriksaan dokter.

Pengentalan darah

Terdapat berbagai kemungkinan penyebab keguguran. Bahkan, terdapat keguguran yang tidak dapat dijelaskan. Untuk mengetahui secara pasti diperlukan pemeriksaan intensif.

Sejauh ini dr Karnadi mengatakan, hasil studi sejumlah peneliti memperlihatkan bahwa kelainan genetik, anatomi pada rahim, sindrom antifosfolipid, serta trombofilia memiliki hubungan yang kuat dengan keguguran.

Diperkirakan 7 persen-25 persen penderita keguguran berulang memiliki asosiasi dengan sindrom antifosfolipid. Antibodi antifosfolipid mempercepat pembekuan darah dan memicu bekuan darah.

Keguguran karena sindrom fosfolipid diakibatkan oleh adanya trombosis atau pembentukan bekuan darah yang akan menyumbat aliran darah plasenta. Akibatnya, bayi tidak mendapatkan nutrisi dari darah, kurang bertumbuh atau kecil, dan kemudian meninggal.

Pada kasus keguguran berulang yang demikian penggunaan heparin, senyawa untuk mencegah terjadinya bekuan darah, telah lama dikenal.

Efek terapeutik heparin pada kasus keguguran berulang yang diakibatkan sindrom antifosfolipid tidak hanya disebabkan efek antikoagulan atau pengenceran darah. Namun, juga karena adanya efek lain. Ternyata, heparin juga memiliki efek menghambat pengikatan antibodi fosfolipid, memicu terjadinya efek antiradang, dan memfasilitasi proses implantasi plasenta.

”Pengalaman traumatik keguguran tak perlu terulang,” ujar Kanadi. Jika diinvestigasi dan diketahui penyebabnya lalu diberikan terapi yang tepat, perempuan yang kerap mengalami keguguran dapat melahirkan bayi dengan selamat dan sehat. (sumber artikel : Kompas, Kamis, 12 November 2009 , sumber gambar : thepregnacyzone)

Baca Artikel Terkait Disini (Kekentalan Darah)

Wednesday, November 4, 2009

Fibromyalgia, Penderita di Indonesia Tertinggi, Bagaimana Mengatasinya?

Sejumlah ahli saraf di Asia Tenggara selama lima tahun terakhir ini menaruh perhatian serius terhadap gejala fibromyalgia atau gejala nyeri kronis yang menyebar di seluruh bagian tubuh. Hal itu karena dampak munculnya rasa nyeri kronis ini dapat mengganggu kualitas hidup manusia hingga produktivitasnya menurun.

Dalam konferensi South East Asia Fibromyalgia Awarness Concerns and Trends Survey (SE Asia Facts) pertama kali di Asia Tenggara yang diselenggarakan di Thailand, Selasa (27/10), terungkap pula bahwa fibromyalgia merupakan suatu gejala penyakit tersendiri yang berbeda dengan gejala nyeri lainnya yang muncul pada penderita rematik maupun psikosomatik.


Rasa nyeri yang timbul pada penderita fibromyalgia umumnya di luar rasa nyeri pada umumnya. Bahkan, seorang penderita bisa mengeluh kesakitan meski hanya disentuh tubuhnya. Rasa nyeri itu menjalar di beberapa bagian tubuh, seperti pundak, dada, dan kaki, dan terjadi terus-menerus.


Rasa nyeri itu juga diikuti rasa lelah sehingga si penderita merasa tak bergairah. Umumnya, mereka juga sulit tidur pada malam hari dan mengalami kelelahan pada pagi hari. Gejala itu menyebabkan sebagian besar penderita fibromyalgia menurun kualitas hidupnya.

Tak banyak dipahami

Dalam konferensi yang disponsori produsen obat Pfizer itu, President Thailand Association for the Study of Pain Profesor Pradit Prateepavanich menunjukkan hasil surveinya bahwa gejala fibromyalgia ini juga baru dipahami oleh sebagian kecil kalangan kedokteran, baik dokter umum maupun ahli saraf. Itulah yang menyebabkan gejala rasa nyeri yang dideklarasikan oleh kalangan kedokteran di Amerika sekitar tahun 1980-an itu jarang terdiagnosa dengan baik.

Seorang pasien fibromyalgia, katanya, biasanya baru dapat memperoleh diagnosa yang tepat setelah berpindah-pindah memeriksakan kesehatannya ke beberapa dokter hingga menemukan dokter yang paham betul gejala rasa sakit tersebut.

”Seorang penderita bisa mengalami gejala rasa nyeri ini sampai bertahun-tahun hingga dia menemukan dokter yang dapat memberikan terapi yang tepat,” katanya.

Seorang pasien fibromyalgia asal Thailand, Angela Chiarapurk (33), mengaku, dia menderita rasa nyeri kronis meluas sejak usia 24 tahun. Setelah berobat ke sembilan dokter dan sejumlah terapis selama delapan tahun, dia didiagnosa fibromyalgia setelah menemui Pradit.

Selama itu, dia mengaku setiap hari menderita rasa nyeri pada kepala, leher, hingga kaki secara terus-menerus. Untuk mengurangi rasa sakitnya itu, dia harus menambal kursi kerjanya dengan bantal.

Diderita perempuan

Hasil survei SE Asia Facts yang dijalankan Pradit dengan melibatkan 506 penderita fibromyalgia di lima negara Asia Tenggara menunjukkan, gejala rasa nyeri itu sebagian besar dialami perempuan dengan perbandingan sembilan perempuan berbanding satu orang laki-laki.

Responden dari Indonesia dalam survei itu merupakan yang terbanyak mengaku mengalami rasa nyeri kronis meluas sebagai karakteristik menonjol pada fibromyalgia.

Kendati demikian, Pradit mengaku belum dapat mengetahui apa penyebab hingga fibromyalgia banyak diderita perempuan. Begitu pula dengan kecenderungan banyaknya penderita fibromyalgia di Indonesia.

Bahkan, untuk mendiagnosa fibromyalgia, menurut Pradit, dibutuhkan empati maupun kesabaran seorang dokter untuk mengurai sejarah kesehatan si pasien. Hanya dengan cara itu fibromyalgia dapat didiagnosa. ”Diagnosa yang mendalam ini sangat dibutuhkan karena faktor penyebab fibromyalgia sangat kompleks, baik dipengaruhi oleh biologis, mental, dan sosial kultural pasien,” kata Pradit.

Untuk mengurangi rasa nyeri kronis itu, menurut Kepala Makati Pain Control Clinic, Philippines Henry Lu, seorang penderita fibromyalgia dapat menjalankan olahraga maupun yoga secara teratur. Dengan berolahraga, otot yang bergerak dapat menstimulus otak untuk membangun keseimbangan tubuh.

Namun, itu pun, lanjutnya, baru sebatas bukti klinis. Pihaknya mengaku masih belum dapat mengetahui faktor apa yang menyebabkan olahraga dapat mengurangi rasa nyeri pada penderita fibromyalgia. Fibromyalgia memang masih mengandung misteri....sumber : (MADINA NUSRAT), Kompas, Selasa, 3 November 2009 |

Produk Untuk Membantu Mengatasi Fibromyalgia, KLIK DISINI