Thursday, December 11, 2008

Bahaya Kegemukan Mengancam Siapa Saja


Jangan buru-buru tenang meskipun Anda tidak mengalami kelebihan berat badan dan obesitas (kegemukan) sekarang. Awasi terus ukuran lingkar pinggang sekalipun tubuh Anda proporsional dan bebas dari kelebihan berat badan.

Mengapa demikian? Hasil penelitian terhadap penduduk di AS selama 30 tahun menunjukkan bahwa 9 dari 10 pria dan 7 dari 10 wanita akhirnya mengalami kelebihan berat badan.

Setengah dari pria dan wanita yang tidak memiliki masalah berat badan ketika muda, bahkan hingga paruh baya, ujung-ujungnya tetap mengalami kelebihan berat. Sepertiga dari wanita dan seperempat prianya bahkan bertambah terus beratnya hingga mengalami kegemukan.

Semua orang tahu bahwa kelebihan berat badan dan kegemukan dapat menyebabkan berbagai penyakit. Kegemukan meningkatkan resiko penyakit hati, kanker, diabetes, dan arthritis. Selain itu, orang yang memiliki kelebihan berat badan beresiko terkena darah tinggi dan kolesterol yang meningkatkan potensi penyakit hati.

"Anda tidak bisa tenang sebab resiko kegemukan selalu datang menghantui," kata Ramachandran Vasan, associate professor ilmu pengobatan di Boston University yang merupakan penulis utama makalah penelitian ini.

Ia dan para peneliti lainnya mempelajari data 4.000 penduduk kulit putih dewasa berusia di atas 30 tahun. Saat pertama kali diamati, para sukarelawan penelitian ini berusia antara 30 hingga 59 tahun. Kondisi mereka kemudian diperiksa kembali setiap 4 tahun. Dalam akhir penelitian, lebih dari sepertiganya ternyata mengalami kegemukan.

Kegemukan dalam penelitian ini didefinisikan sebagai indeks berat badan yang bernilai lebih dari 30. Untuk mengukurnya biasanya digunakan perbandingan antara tinggi dan berat bedan.
Penemuan yang dipublikasikan dalam majalah Annals of Internal Medicine, Selasa (4/10), memperlihatkan bahwa kegemukan adalah masalah jangka panjang dan jumlahnya penderitanya lebih banyak daripada hasil pendataan dalam populasi yang diukur pada saat tertentu.

"Jika dipetakan, 6 dari 10 orang mengalami kelebihan berat badan dan 1 dari 3 orang mengalami kegemukan," kata Vasan. Penemuan tersebut menekankan kembali pentingnya memantau berat badan.

Dr. Elizabeth G. Nabel, Direktur National Heart, Lung, and Blood Institute yang mendukung penelitian ini menyatakan bahwa penemuan tersebut memperlihatkan bahwa kita bisa terkena masalah kelebihan berat badan yang serius dan kegemukan dalam beberapa dekade ke depan. Jika tidak memerangi secara terus menerus, akan menimbulkan berbagai dampak kesehatan.
Jumlah kematian yang berhubungan dengan kegemukan sendiri masih diperdebatkan. Misalnya saja di AS. Pada awal tahun ini, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDCP) AS menyatakan bahwa obesitas hanya menyebabkan 25.814 kematian setiap tahun atau jauh lebih kecil dari catatan lembaga pemerintah yang mencapai 365 ribu.

Di sisi lain, sebagian peneliti tidak setuju dengan kesimpulan organisasi yang mewakili industri makanan dan restoran, yang menyebutkan bahwa penyakit yang berhubungan oleh berat terlalu dilebih-lebihkan.

Menanggapi penelitian Framingham, Mark Vander Weg, seorang peneliti dari Mayo Clinic yang meneliti kegemukan mengatakan bahwa penelitian tersebut merupakan salah satu cara untuk melacak kelompok individu dalam jangka panjang.

Sayangnya penelitian ini tidak melibatkan sejumlah kecil orang-orang yang memiliki resiko kegemukan sangat tinggi. Selain itu, kebanyakan orang berusia menengah sekarang telah memiliki berat badan dan kegemukan tidak seperti sampel yang digunakan dalam penelitian tersebut.

Meskipun lebih banyak penelitian yang harus dilakukan agar dapat mewakili populasi secara keseluruhan, paling tidak hasil penelitian ini menjadi bukti-bukti awal yang jelas untuk mengembangkan strategi pencegahan dan pengobatan yang dibutuhkan. /Kompas

Wednesday, December 10, 2008

Obesitas Berisiko Kanker


Tak banyak wanita yang mengetahui bahwa obesitas dapat meningkatkan risiko untuk terkena berbagai macam kanker. Setidaknya itulah kesimpulan studi yang dipublikasikan dalam sebuah jurnal kebidanan dan kandungan, baru-baru ini.

"Banyak wanita yang kurang mengetahui informasi perihal kelebihan berat badan dan risikonya.Terkait kanker, hal yang mengkhawatirkan adalah keganasan kandungan dan kanker endometrium (selaput rahim)," ujar salah seorang tim peneliti studi tersebut, Dr Pamela T Soliman, dari Anderson Cancer Center di Houston. "Kita harus mengedukasi pasien dengan lebih baik lagi," sebutnya.

Soliman dan timnya menyimpulkan, wanita yang kelebihan berat badan (overweight) berpotensi empat kali lebih besar terkena kanker di saluran rahim, sementara wanita obesitas berisiko enam kali lipat. Mereka juga berisiko tinggi terkena kanker payudara dan kanker usus.

Kelebihan berat badan rupanya juga dapat meningkatkan risiko kematian pada pasien kanker, terutama kanker endometrium. Pasien wanita pengidap kanker yang kelebihan berat badan akan berisiko 6,25 kali lebih tinggi untuk meninggal akibat penyakitnya itu.

Dalam studi tersebut, Soliman dan timnya melibatkan partisipan sebanyak 1.545 wanita. Sebanyak 28 persen partisipan memiliki berat badan ideal, 24 persen kelebihan berat badan (overweight), dan 45 persen obesitas. Mayoritas partisipan (91 persen) juga merupakan peserta asuransi kesehatan. Setelah dilakukan studi, hanya 42 persen partisipan yang tahu bahwa obesitas meningkatkan risiko kanker endometrium, dan 53 persen yang paham bahwa kanker usus dapat terkait obesitas. Sementara partisipan yang sadar bahwa berat badan berlebih dapat meningkatkan risiko kanker payudara hanya sekitar 54 persen.

Para wanita yang terlibat dalam penelitian tersebut berasal dari kalangan terdidik lulusan universitas, bahkan program spesialis, mereka juga ikut asuransi. "Bahkan, pasien yang secara rutin kontrol ke dokter juga tidak sadar bahwa obesitas dapat meningkatkan risiko mereka untuk terkena beragam kanker," katanya prihatin. (Okezone)

Si Gemuk Rentan Kanker Payudara

Wanita yang rutin mamografi tidak berarti terbebas dari risiko terkena kanker payudara stadium lanjut. Apalagi jika ia kelebihan berat badan atau obesitas.

Kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas menjadi epidemi dunia yang kian mengkhawatirkan. Data pemerintah Amerika menyebutkan, sekitar 2/3 penduduk Amerika usia dewasa saat ini mengalami kelebihan berat badan maupun obesitas. Padahal, obesitas adalah biang dari beragam penyakit.

Sebuah penelitian tentang pengaruh obesitas terhadap risiko kanker payudara baru-baru ini diharapkan juga dapat membuka mata kaum wanita. Artinya, tidak ada manfaat positif memiliki badan kelewat subur. Penelitian yang digagas Dr Karla Kerlikowske dan timnya dari the Women Veterans' Comprehensive Health Center di San Francisco Veterans Affairs (VA) Medical Center, tersebut berupaya mencari tahu hubungan antara bobot badan berlebih dengan peningkatan risiko kanker payudara pada wanita pascamenopause.

Selama kurun 9 tahun (1996-2005), Kerlikoswke dan timnya menganalisis 614.562 data mamografi (skrining payudara) dari 287.115 wanita pascamenopause yang tidak menjalani terapi sulih hormon (TSH). Berdasarkan data tersebut, diketahui hanya dalam jangka 12 bulan uji mamografi, sebanyak 4.446 wanita terdiagnosis kanker payudara.

Dulu, peneliti menduga peningkatan risiko kanker payudara pada wanita obesitas disebabkan mereka tidak melakukan skrining secara adekuat, atau dikarenakan sel tumor yang sulit dideteksi saat mamografi akibat timbunan lemak yang banyak. Namun, nyatanya hal tersebut tidak terbukti.

"Kami dapat menunjukkan bahwa tumor payudara pada wanita overweight dan obesitas itu mudah dideteksi. Karena itu, berkembangnya penyakit pada dua kelompok wanita tersebut bukan disebabkan tumor yang luput terdeteksi saat tes mammogram," sebut Kerlikowske yang menjabat ketua tim penulis dalam laporan penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the National Cancer Institute bulan ini.

Dia mengungkapkan, kendati para wanita dengan bobot berlebih itu telah melakukan skrining dengan baik, risiko terkena kanker payudara tetap lebih tinggi. "Dibandingkan populasi wanita dengan berat badan normal, risiko kanker payudara stadium lanjut meningkat 10 persen-35 persen pada wanita overweight dan 56 persen-82 persen pada wanita obesitas, " sebutnya.
Mengenai peran kegemukan dalam memicu kanker payudara, peneliti menduga hal ini terkait aspek hormon estrogen yang merupakan hormon terpenting wanita. "Penjelasannya adalah bahwa bobot badan berlebih dapat meningkatkan sirkulasi estrogen, yang juga dapat memicu pertumbuhan tumor," ujar Kerlikowske yang pernah melakukan penelitian terhadap wanita pascamenopause yang menjalani TSH dan menemukan adanya peningkatan risiko kanker payudara.

Lebih lanjut dia menegaskan, temuan ini sekaligus menyimpulkan makin obesitas seorang wanita, makin tinggi pula risiko terkena kanker payudara. Artinya, kelebihan berat badan itu sendiri dianggap sebagai faktor risiko yang dapat menaikkan risiko seorang wanita terkena kanker payudara.

Meski demikian, kabar baiknya adalah kegemukan merupakan faktor risiko yang bisa diubah atau dimodifikasi. Caranya seperti melakukan mamografi rutin, dan menjaga berat badan tetap ideal. "Hal tersebut penting dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan seorang wanita terdiagnosis kanker payudara stadium lanjut," sebutnya.

Sementara itu, ahli epidemiologi dari Harborview Medical Center di Seattle, Dr Joann Elmore, juga mengatakan pada dasarnya terdapat efek biologis tertentu dari kondisi obesitas, bisa memengaruhi perkembangan tumor atau kanker payudara.

Dr Joann Elmore mengatakan, hasil studi tersebut harus menginspirasi wanita yang kelebihan berat badan agar berupaya menurunkannya menjadi lebih ideal. "Manakala faktor lainnya, seperti pertambahan umur dan mutasi genetik, tidak bisa dicegah, maka menjaga berat badan agar senantiasa ideal adalah langkah pencegahan yang bisa dikontrol sendiri oleh wanita yang bersangkutan," katanya. (Okezone)

Masalah Kesehatan Wanita


Sistem Reproduksi Wanita
  1. Hormon & Reproduksi
  2. Sistem Reproduksi Wanita
Kehamilan
  1. Seluk Beluk Kehamilan
  2. Kehamilan Resiko Tinggi
  3. Penyakit-penyakit Yg Bisa Mempersulit Kehamilan
  4. Obat-obatan Yg Digunakan Selama Kehamilan
  5. Kehamilan Resiko Tinggi
  6. Penyakit-penyakit Yg Bisa Mempersulit Kehamilan
  7. Obat-obatan Yg Digunakan Selama Kehamilan
Keluarga Berencana
  1. Keluarga Berencana : Cara mengontrol Jarak & jumla...
Kemandulan
  1. Seluk Beluk Kemandulan
Melahirkan dan Komplikasinya
  1. Komplikasi Persalinan
  2. Kontraksi & Persalinan : Kapan Saatnya Melahirkan ...
  3. Pasca Persalinan
Menopause
  1. Seluk Beluk Menopause
  2. Menopause Dini : Berhenti mens sebelum usia 40 tah...
Gangguan Sistem Reproduksi Wanita
  1. Mola Hidatidosa : Apakah hamil anggur itu?
  2. Nyeri Panggul
  3. Penyakit Radang Panggul
  4. Perdarahan Rahim Akibat Kelainan Fisik
  5. Perdarahan Rahim Disfungsional
  6. Sindroma Ovarium Polikista
  7. Sindroma Premenstruasi
  8. Sistosarkoma Filodes : Tumor jinak payudara
  9. Vaginitis & Vulvitis : Peradangan lapisan Vagina &...
Kanker Pada Sistem Reproduksi Wanita
  1. Kanker Vulva
  2. Kanker Saluran Telur
  3. Kanker Rahim : tumor ganas pada endometrium
  4. Kanker Vagina : tumor ganas pada vagina
  5. Kanker Indung Telur
  6. Kanker Leher Rahim, serang wanita usia 35-55 tahun...
  7. Waspadai Fibroid (Mioma) pada wanita
  8. Endometriosis
  9. Kanker Payudara
Gangguan Payudara
  1. Penyakit Payudara Fibrokista
  2. Penyakit Paget Pada Puting Susu
  3. Mastalgia : Payudara nyeri sekali..
  4. Kista Payudara
  5. Infeksi & Abses Payudara (Mastitis)
  6. Fibroadenoma : benjolan pada payudara
  7. Nipple Discharge : cairan keluar dari puting susu
Gangguan Menstruasi dan Pendarahan
  1. Dismenore : kram rahim & nyeri selama mens, kenapa...
  2. Amenore, mengapa wanita bisa tidak menstruasi?

Informasi Penyakit


  1. Masalah Kesehatan Wanita
  2. Penyakit Hati & Empedu
  3. Penyakit Sistem Pencernaan
  4. Jantung & Pembuluh Darah
  5. Darah & Kelainan Darah
  6. Penyakit Otak & Syaraf
  7. Penyakit Sendi , Otot, & Tulang
  8. Penyakit Paru & Pernafasan
  9. Penyakit Kanker
  10. Gangguan Hormon
  11. Kelainan Imunitas
  12. Penyakit Infeksi & Menular
  13. Kesehatan Anak
  14. Ginjal & Saluran Kemih
  15. Kecelakaan & Cedera
  16. Penyakit Jiwa
  17. Penyakit Mata
  18. Penyakit Mulut & Gigi
  19. Penyakit THT
  20. Penyakit Kulit
  21. Kesehatan Pria
  22. Nutrisi & Metabolisme